
Akhirnya Azza memilih tidur di sofa dibandingkan harus tidur bersama Khaizan yang akhir-akhir ini terlihat aneh dan menyebalkan. Entah karena faktor apa yang membuat sifat pria itu mendadak berubah 180 derajat. Gadis itu mengibas Sofanya dan meletakkan bantal-bantal untuk kenyamanan tidurnya nanti. Merasa sudah cukup, ia pun merebahkan badannya disofa dan menutup matanya untuk menyambut besok.
Deg.
Matanya melebar sempurna, tunggu...tunggu ini apa-apaan? Bagaimana dirinya bisa tidur satu tempat dengan Khaizan?! Bukannya semalam tidur disofa? Manalagi posisinya terlalu dekat dengan pria itu. Wah, apa pria itu memindahkannya saat terlelap? Lancang sekali! Melihat si pelaku masih terlelap dalam mimpinya membuat Azza tertegun melihat wajahnya yang begitu damai. Seketika amarahnya tadi meluap begitu saja.
Tangannya iseng menyentuh alis, bulu mata Khaizan yang lentik, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang merah mengalahkan warna lipstiknya Lulu. Jujur, ia merasa tidak percaya bisa menikah dengan pria setampan ini tapi sayang menyebalkan dan misterius. Walaupun Azza terpaksa menikah dengan pria ini bukan berarti pria itu bisa seenak kentutnya pada Azza, ia tidak lupa dengan tujuannya setuju menikah dengan Khaizan.
Sudah berkali-kali ia mencari data yang disembunyikan pria itu, hasilnya sampai sekarang nihil. Gara-gara itu ia sampai frustasi memikirkannya, tentang Algha.
"Sudah puas liatnya?" gumam Khaizan sontak membuat Azza terkejut bukan main. Ia bahkan refleks menampar pipi Khaizan keras hingga membuat pria itu menatapnya tajam.
"Sorry...sorry gue nggak sengaja, serius!" paniknya melihat Khaizan menatapnya tidak seperti biasanya. Namun, raut wajah Azza mendadak berubah, ada yang salah disini.
"Tunggu...tunggu, harusnya gue yang marah disini, kok lo pula yang melotot huh?!" cercanya melepaskan tangan Khaizan yang sempat memeluknya, gadis itu hendak beranjak dari tempatnya malah ditahan oleh suaminya.
"Kenapa? Sini aja bobok!" ucapnya manja membuat Azza merinding. Ia mengambil bantal dan memukul pria itu berkali-kali.
"Balek wujud lo semula woi! Merinding gue dengar nada lo alay!"
Khaizan mencebik tidak peduli. "Suka-suka gue, sinilah sayangnya gue."
"Iiih jijik gue dengarnya Khai, hentikan!" teriaknya keluar dari kamar, baru saja ia membuka pintu malah dikejutkan dengan sosok dua kakaknya yang tengah menatapnya khawatir.
"Lo diapain sama dia?!"
"Sini, sama gue aja. Biar gue kasih pelajaran tuh sama si brengsek!" cerca Sam hendak menerobos masuk. Azza langsung menghadang kakak-kakaknya.
"Woah jangan kak! I-ini tidak seperti yang kakak bayangkan. Di-dia hanya bercanda doang kok tadi." seru Azza berusaha menyakinkan kakaknya.
Sial, nih mulut kok malah menggeretek pula, astaga mampuslah.
"Yakin hanya bercanda doang?"
"Yakin serius kak, cuma bercanda doang kok, ya kan sayang?" tanyanya menoleh kearah Khaizan.
Anjir, nih mulut kok malah manggil sayang pula. Nih anak, pasti cengegesan liat gue.
Khaizan yang tertegun dengan panggilan istrinya langsung malu-malu kucing membuat Azza semakin ilfiil melihatnya.
Ya ampun nih anak makin nggak waras gue liat, makan apa sih semalam?!
Pria itu melangkah mendekati istrinya, dengan terang-terangan merangkul sambil mengecup pipi Azza dihadapan kedua kakak iparnya yang posesif itu. Sontak kedua manusia itu membelalak melihat adiknya dicium-cium oleh pria asing, eh ralat sudah jadi pria halal.
"Woi pipi adek gue ngapa lo cium-cium huh? Najis!" cerca Alze mengambil sapu tangannya dan mengelap pipi Azza.
Khaizan melongo. Apa-apaan dua manusia didepannya ini? Apa mereka tidak bisa membiarkan Azza bersamanya? Tau gitu, mending ia balik lagi kerumahnya daripada harus berdebat dengan mereka.
"Kak dia istri gue, ya wajar kan gue cium pipi dia."
"Nggak ada...nggak ada. Kasian pipi adek gue Lo cium-cium, manatau lo bau jigong." ketus Sam membuat Azza menepuk jidatnya pelan.
Perasaan kakak-kakak gue nggak semenyebalkan inilah, kenapa mereka mendadak ikutan gesrek kayak Khai??
Tidak tau harus berbuat apa pada ketiga pria yang sefrekuensi tetapi tidak mau mengakui ini, matanya berbinar saat melihat Bita yang kebetulan berjalan kearahnya. Azza langsung menarik Bita dan pergi dengan cepat meninggalkan ketiga manusia gila itu.
"Eh Azza lo kemana?"
"Sayangnya gue!"
"Sayang, jangan dibawa Azza!" seru Alze pada istrinya. Bita yang bingung tidak tau apa yang terjadi hanya menoleh kearah adik iparnya.
"Tau ah, mereka aneh banget kak. Mending kita pergi dulu, makin sakit kepala gue ladenin mereka." gerutunya.
Bita tertawa pelan, ia pun melambaikan tangannya pada suaminya karena berpihak pada Azza.
"Cih, tuh liat istri lo aja nggak betah!" cerca Alze menatap malas kearah Khaizan. Khaizan memutar bola matanya malas, terserah mau bilang apa ia pun tidak peduli. Dengan rasa hormat ia menutup pintu dengan keras tepat dihadapan mereka.
Braak.
"Kurang ajar nih bocah, gue masukin lo kesumur baru tau rasa!" cerca Sam dari sana.
"Khaizan anj—Sabar...sabar...jangan marah. Mampus kalau kedengaran sama Bita." serunya sambil mengelus dadanya untuk bersabar.
***
"Za, mau sampai kapan kita duduk disini?" tanya Bita kesal, ia kerepotan mengurus Arfa yang semakin hari semakin aktif mengacak-acak kue didekatnya tetapi ia harus meladeni adik iparnya yang satu ini.
"Hmm...bentar lagi ya kak, aduh Arfa kamu menggemaskan sekali sayang. Kak Bit, nggak nyangka Arfa dah besar!" serunya menoel pipi tembam keponakannya.
Bita memutar bola matanya malas, ia jengah mendengar ucapan itu terus berulang sejak mereka menempati cafe yang baru buka ini. "Kita mau lumutan disini ya?" Sindirnya.
"Nggak kok, gue lagi malas dirumah."
"Ya udah pulang kerumah suami lo lah. Haduh, udah deh jangan meratapi nasib trus, kita pulang!"
"Bentar lagi lah kak." rengeknya tetapi tidak mengubah keputusan Bita.
"Nggak...nggak gue mau pulang Za, ini Arfa belum gue mandiin dah lo bawa kabur." gerutunya melangkah lebar keluar cafe.
"Cih, nggak asik banget. Dahlah gue ikutan pulang juga, tungguin kak!" serunya buru-buru membayar tagihan mereka dan menyusul kakak iparnya.
Azza celinguk-celinguk mencari kakak iparnya yang sudah menghilang dari pandangannya. "Astaga kak, cepat amat lo jalannya." gerutunya langsung memilih berlari kerumah.
"Kak Bita! Kak!"
"Apa teriak-teriak?" Bita muncul dibelakang Azza membuat gadis itu terkejut.
"Buset, lo darimana kak?"
"Dari Planet! Gue kan pergi sama lo. Lo malah ninggalin gue disana!"
"Eh iya ya? Tapi tadi gue nggak ada liat lo kak."
"Mata lo yang salah Za, tuh suami lo disana!" seru Bita menunjuk kearah pria tinggi sambil bersandar di pillar teras rumah.
Azza menoleh kearahnya, pria itu menampilkan senyum manisnya yang membuat pipi Azza merona. Manalagi sinar matahari menerpa wajah tampan itu membuatnya semakin salah tingkah.
"Mau mengheningkan cipta disini?" tanya Khaizan yang tiba-tiba sudah didepan Azza.
"Hah? Lo-lo kok udah disini aja? Mana kak Bi—" Wajahnya cemberut melihat sosok kakaknya sudah menghilang dari pandangannya. Kini tatapannya bertemu, mungkin karena cahaya matahari membuat Azza terpesona dengan warna mata hazel milik Khaizan.
"Kenapa?"
Azza terbengong, masih terpaku dengan wajah Khaizan. Pria itu terkekeh pelan, ia dengan iseng mencium kening gadis itu.
Deg.
"Jangan banyak bengong sayang, pagi-pagi harus senyum dong." seru pria itu mengacak rambutnya sebelum masuk berjalan masuk kedalam rumah.
"I-itu benaran Khaizan yang gue kenal kan?" ucapnya syok dengan perlakuan Khaizan barusan.