
Semuanya mendadak hening duduk ditempat mereka masing-masing. Sejak Azza memekikkan nama Khaizan, semuanya langsung menatap kearah Azza dengan penuh tanda tanya. Terutama para kakak-kakaknya yang kini sudah tidak lagi menatap Khaizan dengan rekan bisnis Papanya.
"Sini Azza, kenapa kamu malah bengong sih?" gerutu Haura menarik putrinya mendekat. Azza mengumpat dalam hatinya memandang sinis kearah Khaizan. Apa maksud dia datang kesini huh? Udah cukup dengan kejadian kemarin!
Khaizan tidak memperdulikan tatapan gadis itu, yang penting tujuannya datang kesini susah payah karena satu hal. Ya, tentu saja gadis itu. Lain halnya dengan mereka berdua, Sam dan Alze tampak tidak menyukai kehadiran Khaizan, ditambah lagi orang tua mereka mengatakan jika adiknya berpacaran dengan rekan bisnis Daren.
"Lo Khaizan?" tanya Alze membuka topik setelah mereka semua sudah berkumpul disini. Khaizan menoleh kearah Alze sambil mengangguk pelan.
"Salam kenal,"
"Idih, siapa juga yang mau kenalan sama lo." Sam langsung mengeluarkan uneg-uneg kesalnya. Pokoknya kalau dimatanya pria ini jelek sampai kapanpun akan jelek, kecuali ada faktor yang dapat mengubah pikirannya tentang orang itu.
"Lo pacaran sama adek gue? Kenapa? Apa alasannya? Lo ada niat jahat kan?"
Azza diam-diam tersenyum penuh kemenangan, ternyata memiliki kakak-kakak posesif seperti mereka sangat menguntungkannya saat ini. Yup, setelah hari itu, Azza memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Khaizan, ia dan pria itu akan menjadi orang yang tidak saling kenal kedepannya.
"Alze, Sam kenapa kalian ngomong kayak gitu, huh?"
"Mama, jangan bilang Mama mau jodohin Khaizan dengan Azza?" tebak Alze menatap wajah Haura. Haura mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Khaizan kemarin sudah nemui Papa dikantor mengenai ini, jarang banget kan, cowok kayak Khaizan berani berhadapan dengan Papa kamu. Menurut Mama, Azza sangat cocok dengan Khaizan."
Gila, Mama nggak salahkan menjodohkanku dengan orang aneh ini? Ma, dia udah pernah bunuh orang! pekiknya hanya bisa dalam hati, tidak mungkin ia beberkan langsung tanpa membawa bukti yang valid. Kalau ada mungkin sudah dari awal ia beberkan dengan cepat.
"Maaf kedatangan saya ternyata tidak disambut dengan baik oleh keluarga ini. Jadi, saya akan langsung mengutarakan niat saya datang kesini, karena ingin menikah dengan Azza." Ucapan Khaizan sontak membuat seluruh keluarga itu terkejut, kecuali orang tua mereka yang tersenyum lebar mendengarnya.
"Nggak...nggak, apa-apaan ini?!" gerutu Sam menolak lamaran Khaizan. Baginya sudah cukup Algha menyakiti hati Azza yang meninggalkannya di hari pernikahan, walaupun itu sebenarnya bukan kehendak Algha sendiri.
Khaizan tersenyum tipis. "Tapi Azza setuju kok, nyatanya kami pacaran."
Mata Azza melotot, ini tidak bisa dibiarkan terlalu jauh atau keluarganya akan semakin salah paham dengannya. Azza menarik paksa tangan Khaizan menjauh dari keluarganya.
"Azza lo mau kemana?" tanya Alze menatap tajam kearah keduanya.
"Ada yang harus gue bicarakan kak," serunya.
Sampai di tempat yang sepi barulah Azza melepaskan tangannya dan menatap tajam pada manusia didepannya ini. "Lo apa-apaan huh? Apalagi mau lo? Bukannya gue udah pernah bilang kalau kita tidak akan pernah bertemu lagi sejak hari itu!"
Khaizan tersenyum miring, menatap gadis yang membuatnya kacau sejak bertemu dengan gadis yang harusnya menjadi iparnya kini ia harus mengklaim gadis itu sebagai calon istrinya.
"Kenapa? Apa lo masih teringat dengan kejadian hari itu? Takut ketemu gue karena pasti terbayang hal itu kan?" tebaknya membuat gadis ini menggeleng-gelengkan kepalanya Apa pria ini sadar dengan ucapannya barusan?
"Sudahlah, gue nggak ngerti lagi dengan Lo. Pokoknya sekarang silahkan pergi dari rumah gue, gue nggak mau lagi liat wajah lo!"
"Lo takut sama gue?" tanya Khaizan lagi, Azza menghela napas dan menatap pria itu dengan tatapan yang susah diartikan. "Iya, karena dunia kita berbeda. Lo terlalu brutal dengan kehidupan lo, menembak orang seolah-olah udah sering lo lakuin Khai, sedangkan gue hanya orang biasa yang ingin ketenangan. Kalau lo membuat gue terjebak dalam kehidupan brutal lo, gue nggak bakalan bertahan Khai. Menjauh lah selagi bisa, jangan pernah membuat gue baper." terangnya panjang lebar, setelah mengatakan hal itu ia pun berlari kedalam kamarnya dan menutup pintu cukup keras.
Sam dan Alze saling pandang membuat kedua kakak Azza yang posesif itu bergerak ketempat adiknya. Alze langsung mencegat Khaizan yang hendak menemui adiknya. "Adek gue nggak mau ketemu lo, sebaiknya lo keluar dari sini sebelum gue usir lo dengan kasar!" ancamnya tetapi tidak membuat Khaizan takut, malah ia tertawa pelan.
"Sorry calon kakak ipar, gue mau ngomong sama calon gue."
"Lo nggak waras?! Adek gue nggak mau nikah sama lo titik!"
"Nggak bisa kak, dia tetap nikah dengan gue."
Sam jengkel langsung mencekal baju Khaizan. "Lo nggak pantas buat adek gue!" bentaknya membuat kedua orang tuanya langsung berlari kearah mereka.
"Sam kamu apa-apaan nak?! Lepaskan Khaizan!"
Sam tidak menghiraukan ucapannya Mamanya, ia terus menatap tajam kearah pria yang berani melamar adiknya.
"Sayang, udah jangan buat keributan." ucao Anggi menenangkan suaminya, ia yakin kalau dibiarkan akan semakin panjang masalahnya.
"Lebih baik kita tanyakan sama Azza, apa dia bersedia menikah atau nggak. Dan lo Khaizan, apa yang membuat lo ngebet nikah sama Azza? Kalian benaran pacaran apa bukan? Jelaskan semuanya tanpa tertinggal sedikitpun dengan kami!" tegas Bita berjalan kearah Khaizan.
Khaizan melirik pintu Azza lalu melirik kearah keluarga calon istrinya itu. Khaizan menepis tangan Sam dan merapikan kaosnya, ia menghela napas menatap datar semuanya. "Nyawa Azza dalam bahaya kalau dia tidak nikah denganku."
Semuanya membelalak, ucapannya terdengar tidak masuk akal. Emosi Sam semakin membludak menatap benci kearahnya. "Lo pikir kami bodoh?! Maksud lo apa huh?!"
"Terserah mau percaya atau nggak. Gue bakalan datang lagi kesini setelah Azza mau bicara. Permisi," ucapnya meninggalkan semuanya dengan tatapan penuh tanya.
"Sialan, besok-besok jangan biarkan dia masuk!" Alze langsung melenggang ke kamarnya. Bita ikut menyusul suaminya sedangkan Sam duduk disofa sambil memijit keningnya. Haura dan Deon hanya saling pandang dan diam melihat perseteruan mereka. Keduanya sudah tahu alasan yang sebenarnya Khaizan ingin menikahi Azza, tetapi pria itu mengatakan jangan memberitahu kepada kakak-kakak Azza atau rencananya bisa kacau dan keluarganya dalam bahaya.
"Huft kenapa kita terlihat lemah seperti ini Ma?" tanya Deon menatap istrinya. Haura hanya menggeleng lemah sambil menitik air mata.
"Apa tidak ada cara lain Pa? Kenapa Azza selalu berada dalam pilihan yang sulit? Kenapa dunia begitu sempit mempertemukan putri kita dengan keluarga Algha. Kalau tau keluarga Algha berurusan dengan orang berbahaya mungkin mama nggak bakalan setuju saat mereka mau menikah waktu itu."