Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 14



Khaizan mengetuk mejanya beberapa kali. Pria itu seperti biasanya, tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Bahkan sekretarisnya itu merasa jengkel melihatnya seperti cacing kepanasan. "Lo kesambet apa sih? Bisa diam nggak? Gue pusing liat lo kayak lintah!" cercanya membuat Khaizan menoleh tajam.


"Ck, diamlah. Gue lagi berpikir sekarang."


Raut kesal Galen tadi berubah sambil tersenyum miring melirik Khaizan. Tanpa pria itu bicara, ia tahu apa yang sedang dipikirkan bosnya yang satu ini. "Ooo, bilang kek daritadi. Kenapa dia?"


"Dia itu ce..." Khaizan terdiam, ia mengumpat kasar termakan pancingan Galen. "Sialan, lo mau gue pecat huh?!"


"Ya sudah pecat aja, lagian ini bukan bidang gue pun. Lo sendiri yang narik gue jadi sekretaris abal-abal." ucapnya acuh tak acuh.


"Oh jadi lo ngancam gue huh?!" gertaknya sambil menghentakkan meja.


"Woi...woi kalem. Astaga kenapa lo sensitif amat sih? Emang lo tau maksud gue 'dia' itu siapa huh?"


"Pasti gadis itu kan."


"Elah kegeeran banget si babang tamvan ini. Yang gue maksud tuh lo sekretaris lama bokap lo, dia baru aja cuti melahirkan."


"Cih, ngapain juga gue peduli dengan istri orang. Udahlah ngomong sama lo emang nggak ada nyambungnya. Kepala gue makin sakit!"


"Hoh...hoh mau kemana lagi bos muda? Lo nggak ingat kita ada rapat siang ini huh? Jangan bilang lo mau kabur."


Khaizan melempar kembali jas kantornya ke arah kursinya. Ia jengkel menatap pria yang tengah meledeknya saat ini. "Huft, mana file untuk rapat nanti?"


Galen menggeleng-geleng melihat tingkah childish Khaizan sambil menyerahkan berkas itu padanya, ia yakin ini semua karena gadis cantik itu.


***


"Kelar woi!" serunya menepuk meja berkali-kali, untuk pertama kalinya Azza bangga bisa menyelesaikan tugasnya dalam waktu singkat. Usahanya bergadang, memaki kasar tugasnya, dan hal lainnya akhirnya terbayar sudah dengan hasil yang memuaskan. Hati dan pikirannya terasa lebih ringan, untuk itu Azza berlari kencang menuju kantin tercintanya.


"Buk, pangsit satu, seperti biasa!" serunya langsung dianggukan ibu kantin itu. Sambil menunggu Azza asyik memainkan game online dalam ponselnya. Akhir-akhir ini Lulu jarang bertemu dengannya, sejak gadis itu pacaran. Komunikasi mereka jadi lebih jarang, membuat Azza hanya bisa menghela napas.


"Sendiri?" tanya seseorang membuat Azza mendongak kearah orang itu.


"Ansel? Lo bukannya masih ada kelas?"


"Dosennya nggak jadi masuk. Btw, lo mesan apa huh?"


"Pangsit, seperti biasanya. Lo pesan juga sana, hari ini biar gue yang traktir deh."


"Huh, dalam rangka apa lo traktir gue? Tumben banget Azza yang orangnya pelit sekarang mau berbagi. Lo nggak kesentrum listrik tadi pagi kan?" ledeknya.


"Ck, udah sana pesan! Atau nggak gue nggak jadi traktir nih,"


"Iya...iya, gue bercanda doang kok. Bentar gue pesan dulu!"


Azza hanya menghela napas sejenak. Matanya melirik kearah punggung Ansel dengan tatapan yang sulit diartikan, gadis itu sibuk melahap pangsit miliknya. Ponsel Azza tiba-tiba berbunyi, jantungnya berdetak tidak karuan saat melihat nama Mamanya terpampang disana. "Halo Ma, ada apa?" tanya Azza pelan.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu ada pacar huh?"


"Tunggu...Pacar?"


"Iyaa, manalagi ganteng buangat sayang. Mama suka, Dah cepat pulang, hati-hati dijalan sayang!" seru Haura dari seberang sana.


Azza mengerut keningnya menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Siapa yang datang ke rumah gue? Kok tuh orang ngaku-ngaku jadi pacar gue sih?! Gumamnya bingung.


"Kenapa?" tanya Ansel sambil membawa mangkuknya. Azza menggeleng lalu melahap habis pangsitnya, tak lupa ia mengeluarkan selembar uang merah pada Ansel. "Sel, gue Luan ya. Ini nyokap gue udah nyuruh gue pulang." ucapnya buru-buru. Sebelum Azza pergi, ia menoleh lagi kearah cowok itu.


"Oh ya, tolong bilangin sama anak-anak tuh ya. Kita latihan besok jam dua siang oke,"


"Kenapa dia sulit diraih?"


***


Azza memakirkan mobilnya sembarangan, tidak mempedulikan mobil Sam yang hendak keluar dari perkarangan rumah.


"Woi Azza, bisa nggak sih jangan makir dibelakang mobil gue?!" jengkelnya.


"Diamlah kak, nih kunci mobil gue, pindahin sendiri sana!" serunya sambil melempar kunci mobilnya kearah Sam.


"Dasar adek sialan! Ngapain sih lo buru-buru huh?!"


Langkah Azza berhenti, tumben sekali kakaknya yang satu itu tidak tahu informasi dari Mamanya. Biasanya dia paling heboh jika ir dibandingkan mereka bertiga.


Azza mendekat kearah kakaknya. "Kak, rumah kita ada tamu kan?"


"Hm, ada dia rekan bisnis Papa."


"Ooo, tapi lo tau rekan bisnis Papa kayak gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, ngapain lo kepo? Mau dekatin dia huh?"


Azza spontan memukul lengan Sam kuat. "Enak aja lo ngomong!"


"Anjir sakit woi! Lo bisa nggak sih, nggak pakai tenaga??" tanyanya jengkel.


"Ya elah kak, masa cuma dipukul gini doang sakit sih. Udah ah gue masuk aja kerumah, daripada ngeladenin lo, bakalan sampai magrib disini trus." ucapnya meninggalkan sang kakak yang terus mengumpat padanya.


"Yuhuu Azza pulang!" soraknya membuat Haura menatap tajam kearah putrinya.


"Aduh anak gadis Mama, bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak sayang. Malu, ada tamu diruang kerja Papa."


"Ops, sorry Ma. Lagian kok disini sih rapatnya?" tanyanya bingung, padahal yang ia tahu rata-rata orang kantoran akan lebih memilih kafe atau diperusahaannya sendiri untuk rapat.


"Entah si Papa, seenaknya aja. Ya udah kamu antar gih cemilan untuk mereka." seru Haura semangat.


"Eh...eh Ma, emang kita boleh main masuk aja? Orang lagi rapat nggak boleh diganggu."


"Tak apa, lagian siapa juga yang mau marah sama kamu sayang, tuh rekan kerja Papa kamu aja pacar kamu loh sayang."


Azza memutar bola matanya malas. "Sejak kapan aku punya pacar Ma? Itu yang Mama maksud si—" Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, orang-orang penting itu keluar dari ruang kerja Papanya. Saat melihat orang itu, Azza terkejut begitu juga dengan pria itu. Sedangkan yang dibelakangnya, malah memalingkan wajahnya seperti menahan tawa.


Kenapa dunia begitu sempit huh? Harus banget rekan kerja Papa pria itu?! Gumamnya jengkel. Pria bertubuh tegap itu lumayan lama menatap Azza lalu menoleh kearah pria dibelakangnya sambil menatap tajam.


"Gal, yang tadi kita bahas dengan Pak Deon, urus semuanya!" serunya langsung dianggukan Galen yang masih menahan tawanya. Yap, pria itu tak lain adalah Khaizan, samar-samar ia menginjak kaki Galen.


"Eh jangan pulang dulu, mari makan siang disini. Saya sudah membuat makan siang, yok Pa!" ajak Haura sembari memberi kode kearah Deon agar memaksa mereka juga ikut makan siang.


"Yok Pak Khaizan, mari ikut makan siang disini." ucap Deon pasrah mengikuti kemauan istrinya.


Khaizan melirik kearah Azza, dapat dilihat wajah gadis itu menggeleng-geleng cepat agar menolak tawaran kedua orang tuanya. Namun, ia terbesit ide licik, pria itu menoleh kearah Azza.


Azza terdiam berdiri menatap datar pria itu berjalan kearahnya sambil tersenyum seringai. Kakinya tidak bergerak dari tempatnya seolah-olah mati rasa. Ia hanya bisa menelan saliva saat pria itu benar-benar sudah berdiri dihadapannya.


"Pacarku yang imut." ucapnya lembut sontak membuat Azza melotot kearahnya.