Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 10



"Sssh perih." lirihnya memegang lututnya yang terluka. Ia mendelik kesal, pria itu bukannya. membantu malah melempar tisu kearahnya, menyuruhnya membersihkan lukanya sendiri.


"Ya sabar, nggak nampak nih depan tuh macet?" kesalnya terus diganggu oleh gadis disebelahnya ini.


"Ya jangan ngengas woi, telinga gue disini nggak disana!"


"Siapa juga yang bilang telinga lo disana, ck lebih baik lo diam aja!"


"Ya lo yang banyak ngomong, gue daritadi diam aja!"


"Gue daritadi diam aja lo, lo aja yang rese!"


Khaizan mengumpat dalam hatinya, perempuan benar-benar menyusahkan saja. Ini semua karena catatan gila adiknya itu, kalau saja ia tidak terlalu penasaran dengan kehidupan gadis yang disukai adiknya mungkin saat ini ia sedang bersenang-senang sekarang. Sial, ngapain juga gue ngorek kehidupan gadis pecicilan nih?!


"Apa liat-liat?! Fokus woi!" sentaknya membuat Khaizan tersadar, mobil didepannya sudah berjalan sekitar satu meter dari mobilnya.


"Lo kok bisa disana?" tanya Azza menatap curiga kearahnya. Menurutnya ini bukanlah kebetulan, ia dan pria itu tidak terlihat dekat, hanya bertemu dua kali itupun pertemuan yang berakhir buruk. Ia bahkan tidak menyangka sekian banyak orang kenapa pria ini yang muncul dihadapannya.


"Mall tuh milik lo? Nggak kan, suka-suka hati guelah, mau pergi kemana aja. Itu bukan urusan lo." sarkasnya membuat Azza memutar bola matanya malas. Kakinya masih terasa perih tetapi masih bisa ia tahan sampai ke rumah sakit nanti.


"Lo ngapa tadi kayak orang ketakutan gitu?"


"Hm? Maksud lo?" tanya Azza menatap kearah pria itu. Khaizan meliriknya sebentar lalu fokus mengemudi.


"Lo lagi dikejar orang?" tanyanya lagi.


"Gue? Ya nggaklah."


"Trus tadi tuh, ngapain?"


Azza mengelak. "itu bukan urusan lo. Jangan ikut campur," ucapnya menekan. Ia tidak ingin pria ini mengetahui jika ia kabur dari kerumunan karena video kurang ajar itu yang tersebar luas di sosial media. Liat aja nanti, gue buat orang yang ngedit muka gue itu menderita, gue sumpahin tuh orang!"


Tak terasa rumah sakit sudah didepan mata, Khaizan membuka seltbelt-nya lalu keluar dari mobil. Pria itu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuknya. "Cepat keluar!" serunya membuat Azza yang tadinya terharu mendadak kesal.


"Ya sabarlah, bantuin gue berdiri woi!"


"Cih manja kali, Lo nyusahin aja," kesalnya tetapi tetap memapah gadis itu menuju ruangan IGD. Sambil menunggu gadis itu diobati tenaga medis disana, Khaizan sibuk memainkan ponselnya, sesekali ia melirik Azza yang terus memejamkan mata menahan nyeri lukanya.


"Tolong bantu saya!" seru seseorang membuka pintu dengan cepat dan mendorong brankar ke IGD. Keadaan begitu panik ditambah lagi mereka harus cepat menyelamatkan nyawa seorang wanita paruh baya terbaring dengan banyak luka ditubuhnya.


Azza melirik kasihan pada wanita itu, ia bisa membayangkan jika tadi pria itu tidak menarik tangannya mungkin keadaannya akan sama dengan ibu itu. Sejenak Azza bersyukur masih diberi kesempatan hidup walaupun melalui Khaizan. Ia mendongak menatap pria itu yang tengah asyik memainkan ponselnya.


"Pasien membutuhkan golongan darah O rhesus negatif!" seru perawat itu pada rekan kerjanya.


"Astaga stok darah tidak ada!"


Azza menghela napas pelan, ia tidak bisa membantu ibu itu karena golongan darahnya berbeda, lalu ia melirik pria itu berharap memiliki golongan darah yang sama dengan ibu itu. "Khai! Khaizan!" serunya pada Khaizan.


Khaizan mendongak dengan raut wajahnya mengerut menatapnya. "Apa?"


"Golongan darah lo apa?" tanyanya membuat Khaizan bingung.


"Kenapa nanyain golongan darah gue?"


"Ya jangan banyak tanya, cepat jawab!"


"O."


"O? Bisa tuh. Suster!" panggilnya pada perawat yang hanya dua meter dari tempatnya duduk, perawat tadi menoleh dan menghampirinya.


"Ada apa mbak?".


"Golongan darah dia O, bisa donorkan darah ke ibuk itu kan sus?"


"What? Are you kidding me?" Khaizan terkejut menatap tajam kearah Azza, seenaknya gadis itu menyuruhnya untuk mendonorkan darah untuk orang yang tidak ia kenal.


"Maaf mbak, jika masnya tidak mau, tidak dipaksa. Terimakasih atas perhatiannya mbak, apakah nyeri luka mbak udah berkurang?" tanyanya lagi, Azza menggeleng pelan.


Azza mencubit lengan Khaizan. "Cepatan!"


"Ih jangan gitu deh, ayolah darah lo berharga banget buat ibu disana. Gue nggak tega ntar anaknya gimana tanpa ibunya..."


"Huft, kan darah lo bisa,"


"Ya kalau sama mungkin gue udah ngasih tuh darah. Tapi golongan darah gue beda woi,"


Khaizan memijit keningnya pelan. Sekarang apa lagi kesialan yang akan menimpanya, tetapi langkah kakinya malah berjalan menuju tempat wanita paruh baya itu tengah mempertaruhkan nyawa. Pria itu mengulurkan tangannya kearah perawat disana. "Darah saya sama dengan ibu ini," ucapnya pelan.


"Anda? Apa anda yakin?" tanya perawat itu.


"Ck, jangan buat gue ngomong dua kali. Tolong lakukan saja tugas kalian!" jengkelnya, dengan sigap perawat itu mengetes tekanan darah Khaizan dan segala macam sebelum mendonorkan darah pada pasiennya.


Azza tersenyum manis menatap pria itu, beruntung pria itu tidak melirik kearahnya. "Huh, lain dimulut lain dihati tuh bocah." ledeknya lalu melirik ponselnya. Sudah ratusan pesan masuk dari kakak-kakaknya yang super protektif. Ia menghela napas kasar lalu mengangkat panggilan video call kakaknya.


"Wah gue kira lo udah hilang, dimana Lo se—Eh ngapain dirumah sakit huh? Siapa yang sakit?" tanya Sam heran melihat latar tempat Azza saat ini dirumah sakit.


Azza terpaksa bohong, ia tidak ingin membuat kehebohan karena kakaknya tahu kondisinya. "Itu gue nyelamatin ibu-ibu kak, dia abis kecelakaan, kondisinya parah."


"Sok malaikat banget lo," cibir Sam dari seberang sana.


"Anjir, gue tulus salah gue jahat juga salah. Cih, udah deh gue mau liat kondisi ibu tadi, bye!" Azza mematikan ponselnya sepihak sambil menghela napas pelan.


"Cih, yang nyelamatin nyawa ibu tuh gue. Ngapain lo sok-sok jadi pahlawan disini?" jengkel pria itu tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Azza. Azza memutar badannya menghadap pria itu dengan tatapan malas.


"Gue cuma bilangin gitu doang ke kakak gue, gue nggak mau mereka tau kondisi gue."


"Ribet banget dah pikiran cewek, ini nih yang sok-sok kuat padahal lemah. Berkat lo gue jadi ngeluarin darah berharga gue," ketusnya sambil mengambil jaketnya. Namun sebelum tangannya meraih jaketnya, Azza langsung merampas jaket itu dan memakainya.


"Nyaman, ternyata jaket lo tebal."


"What the f***! Hei gadis pembawa sial, cepat lepasjan jaket gue. Udah ah, gue nggak mau berurusan dengan lo cewek gila!" kesalnya dengan paksa membuka jaket itu dari Azza.


"Tolong pria ini mau apain saya!" teriaknya membuat penghuni pasien lainnya menoleh kearahnya dengan tatapan berbeda-beda. Khaizan mengumpat kasar menutup mulut gadis itu.


"Hmmmph!"


"Mas, istrinya jangan disekap gitu, kasian liatnya." ucap salah satu pasien yang berada disana membuat keduanya terdiam.


"Iya, masa kasar sama istri sih, udah tau istrinya sakit!" timpal pasien disebelahnya lagi.


"Dia bu—" Azza langsung menutup mulut Khaizan. Sepertinya akan seru jika melakukan permainan hari ini. Ia seperti mendapatkan ide berilian dari kejadian ini.


"Sayang, aku tau kamu lagi sedih, aku sayang kamu!" ucapnya cepat membuat Khaizan melotot kearahnya


Khaizan menepis tangan Azza yang membungkam mulutnya. "Idih, sayang?"


"Iya sayang, aduh kamu ini masih malu-malu didepan orang." ucapnya lagi dengan tampang tidak berdosa.


Khaizan berdecak kasar."Cih, terserahlah. Udah kan? Gue balik lagi." Cukup sudah berurusan dengan gadis ini, kepalanya saja sudah pusing menghadapinya ditambah lagi ia mendonorkan darah untuk orang asing. Wow, ini pertama kalinya ia menuruti permintaan orang lain, gadis ini sudah cukup membuat boomerang untuknya.


"Eh tungguin gue disini Khai!" lirihnya menahan lengan Khaizan agar tidak pergi dari tempat ini. Khaizan berdecak lagi.


"Apalagi? Kan luka lo udah diobatin." jengkelnya.


"Lah siapa yang bayarin tagihannya?"


"Bodo amat, itu urusan lo!" Khaizan meninggalkan Azza disana. Sedangkan gadis itu mengumpat dalam hatinya.


"Eh mas, masa istrinya ditinggal gitu aja sih, nggak sayang istri banget!" seru pasien disana lagi.


"Tulah, entar kena karma loh!"


Oh ya Tuhan, ini manusia-manusia nggak bisa diam apa?! Khaizan berjalan kembali ketempat Azza.


"Eh, tapi bukannya Lo mau pergi?" tanyanya terkejut pria itu kembali lagi.


"Huft, diamlah." ucapnya duduk disamping Azza.