Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 25



Azza mengumpat kesal mencium aroma tidak sedap yang menganggu tidurnya. Gadis itu membuka matanya perlahan dan terbatuk-batuk menghirup asap rokok yang ia hirup. Matanya menatap tajam pada si dalang yang menyebabkan asap di kamarnya, siapa lagi kalau bukan Khaizan, suaminya.


Azza merinding mengklaim pria itu sebagai suaminya. Ia menyibak selimutnya dan berjalan mendekati Khaizan yang kini tengah merokok di balkon kamarnya. Tanpa merasa berdosa, gadis itu mengambil gunting dan langsung memotong batang rokok tersebut.


Khaizan terkejut sekaligus kesal menatapnya. "Lo ngapain sih?!"


"Ya harusnya gue yang tanya lo, ngapain merokok disini, huh? Gue paling anti namanya rokok!"


"Kalau nggak suka, sana jauh-jauh!" usirnya.


"Ini kamar gue, asap rokok lo tuh menganggu pernapasan gue!"


"Cih ribet amat lo jadi orang." gerutunya merampas bungkus dan pemantiknya lalu keluar kamar. Azza menghela napas lega sekaligus ketakutan. Inilah dirinya, yang selalu plin-plan dalam membuat keputusan apapun.


Azza teringat tadi malam, ia merasa Khaizan yang tadi malam menunjukkan sisi lemahnya yang membuat Azza terharu. Tidak seperti Khaizan yang dipagi membuat dirinya terus-menerus mengabsen satu kebun binatang.


"Huft, sial gue telat!" gerutunya berlari sambil menyambar handuk ke kamar mandi. Gadis itu mandi ala bebek tanpa keramas rambutnya. Ia langsung memakai pakaiannya cepat dan memasukkan beberapa buku kedalam ranselnya.


Berdandan hanya sekedar liptin dan bedak, ia langsung berlari menuju dapur. Semua keluarga begitu terkejut dengan kedatangan Azza, gadis itu tanpa memperdulikan tatapan mereka buru-buru mengoleskan selai kacang di rotinya dan meneguk kandas segelas susu yang entah punya siapa diatas meja.


Huek, rasanya kok kayak susu bayi?!


"Azza!" gerutu seseorang membuat gadis itu tersedak, Azza menoleh tajam kearah orang yang memanggilnya tadi.


"Apa?" ketusnya sambil mengelap mulutnya.


"Lo ngapain minum susu Arfa?!" gerutu Bita berkacang pinggang menatapnya. Azza tertegun langsung menatap gelas yang ia pegang.


"Huek, pantas rasanya nggak enak." Azza langsung mencuci mulutnya di wastafel.


Semuanya tergelak menatap aksi kocak Azza, Azza menyengir pelan lalu melangkah mendekati kedua orang tuanya. "Ma, Pa Azza ke kampus dulu. Udah telat," pamitnya menyalami kedua orang tuanya.


Baru saja Azza beranjak dari tempatnya, Khaizan menghadang jalannya. Gadis itu mengumpat dalam hatinya menatap kesal kearah suaminya ini. Oh ya ampun, bau rokoknya terasa anjir. Nih orang gosok gigi dulu kek, atau cuci mulut kek, sekarang dia mau apa lagi?!


"Biar aku antar," ucapnya merampas ransel Azza dan berjalan terlebih dahulu setelah pamit dengan mereka. Azza menggaruk tengkuknya tidak gatal, tersenyum kikuk dengan keluarganya dengan suasana awkward barusan. Ia pun menyusul suaminya.


"Mereka terlihat kaku," ucap Alze yang daritadi hanya diam menatap interaksi mereka.


"Biarlah, kamu jangan ngekang lagi. Azza udah tanggung jawab Khaizan, biarkan mereka menangani masalah mereka sendiri."


"Tapi me—"


"Sayang, mereka bukan anak kecil lagi, oke? Aku harus buat susu untuk Arfa lagi. Dah kamu sana berangkat kerja," potong Bita meletakkan tas kerja suaminya diatas meja. Setelah itu ia melangkah ke dapur.


"Ehem, Papa setuju dengan Bita. Nggak harus kamu ngekang mereka." sahut Deon berjalan keluar rumah.


"Ya baiklah,"


***


"Khai kita mau kemana?" tanyanya gusar melihat pria disampingnya ini sangat lambat mengendari mobil. Apa pria ini tidak tahu kalau dirinya terlambat masuk kelas?


"Khai please cepat! Gue udah telat woi!" rengeknya tetapi tidak diacuhkan pria itu.


Azza jengkel sendiri, rasanya ingin memukul kepala pria ini. "Woi gue nggak bercanda Khai, please cepat!" mohonnya.


"What the—" Khaizan langsung membungkam mulut Azza.


"Cewek nggak boleh ngomong kasar, dosa tau!"


Azza menepis tangan Khaizan. "Huek, tangan lo bau rokok! semprot pakai handsanitizer sana!" Azza menghadap jendela agar bisa mendapatkan udara segar.


"Idih, biasa aja kali."


"Gue nggak suka, lo rokok jangan dekat-dekat gue!"


"Gue nggak ada rokok dekat lo, lo aja yang berlebihan."


"Masih ada bekas rokoknya!"


"Mana woi? Gue nggak kecium lagi baunya. Hidung lo sensitif banget."


"Biarin gue nggak peduli. Ck, turunin gue di halte sana!" tunjuknya kearah halte diujung sana. Namun, bukannya mendengat permintaan Azza, justru pria ini melewati halte yang dimaksud Azza.


"Ngapain kesana? Katanya telat." sindirnya.


"Cih, kalau tau gue telat ya laju lah!"


"Apasih,"


Keduanya terus berdebat dari perkara rokok sampai perkara yang lain. Sesampai di kamous, Azza langsung keluar tanpa mengatakan apapun pada Khaizan, gadis itu tidak ada sedikitpun menoleh kearahnya. Namun, Khaizan berubah pikiran, gadis itu kembali lagi dengan cepat dan memukul kap mobil dengan ranselnya.


"Woi Azza!"


***


Khaizan membenturkan kepalanya diatas meja, sungguh hari ini, hari melelahkan baginya. Pria itu tidak pernah mengalami hari melelahkan seperti ini sebelumnya, bahkan tenaganya banyak terkuras karena meladeni ocehan Azza, istrinya.


"Huft melelahkan,"


"Apanya? Lo tinggal duduk manis disini, nggak bakalan ada ngapa-ngapain. Kenapa?" tanya Galen menatap curiga kearah sahabatnya.


"Gal, tangan gue masih ada bau rokok?" tanyanya sambil mendekatkan tangannya pada hidung Khaizan.


"Nggak kok, malah bau handsanitizer.".


"Cih, kan baru dikasih bego!"


"Ya mana tau gue kalau lo baru makai, oh iya gimana istri lo?"


Mendengar nama Azza saja membuat sakit kepala, Ia hanya menikahi gadis itu senantiasa pesan terakhir sialan dari Algha.


"Hei pengantin baru kok lesu? Emangnya ka—"


"Diam!"


Galen tergelak, ia tidak menyangka wajah Khaizan sampai masam seperti itu. Tidak ingin menjadi sasaran pelampiasan bosnya, ia memilih pergi dari sana.


"Azza sialan awas aja lo, gue buat lo bertekuk lutut!" gumamnya tersenyum dalam hatinya.