Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 11



Drama pasutri terus berlanjut hingga malam. Walaupun kaki Azza tidak terluka cukup parah, ia tetap kekeh ingin menginap di rumah sakit. Entah apa alasannya tetapi hal itu membuat Khaizan semakin jengkel padanya, dan ingin segera pergi dari sana. Namun, nyatanya ia tidak bergerak juga dari tempat itu. Entahlah, ia pun sendiri bingung dengan dirinya sendiri.


"Lo tidur dibawah!" seru Khaizan menunjuk kearah kasur bawah.


Azza menggeleng keras. "Gue pasiennya, kenapa lo yang nyuruh gue tidur dibawah?!"


"Heh, lagian luka lo nggak terlalu parah. Kenapa lo nggak pulang?!"


"Gue mau disini, lagian biayanya gue yang bayar kok!"


"Cih, gue yang bayar bego."


Azza menatap lama kearah Khaizan membuat pria itu salah tingkah dan menjitak kepala Azza. "Jangan liatin gue, gue nggak tertarik liat lo."


"Idih kepedean, gue nggak tertarik liat lo ya, gue disini karna mau ngerasain gimana sih nginap di rumah sakit." jelas gadis itu sambil membersihkan tempat tidur untuknya. Padahal sebenarnya, ia tidak ingin pulang dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa ia tidak dibolehkan keluar rumah.


"Dahlah gue nggak paham dengan pikiran lo." Khaizan langsung mengambil tempat diatas dan menyelimuti badannya sampai dada. Ia melihat langit-langit kamar dengan tatapan kosong sampai matanya mulai tertutup memasuki mimpinya.


***


Sam mondar-mandir didepan keluarganya membuat semuanya bingung menatap ayah dari Ghazea, bahkan Anggi menatap jengah suaminya itu seperti cacing kepanasan. "Sam kenapa?" tanyanya jengkel.


"Azza belum pulang." gelisahnya terus menatap ponselnya. Mereka semua terkejut, bukannya tadi Alze mengatakan jika Azza menginap dirumah temannya.


"Lo nggak tau, tadi Alze bilang Azza nginap di rumah temannya," timpal Bita.


"Ck, dimana kak Al?" tanya Sam.


"Dia masih di kantornya, belum pulang," jawab Bita sambil menyuapi Arfa makan.


"Tadi gue liat dia dirumah sakit, katanya dia nyelamatin ibu-ibu kecelakaan,"


"Azza nggak ada bilang sama Mama,"


"Tuh kan, kak Al kayaknya nggak tau Azza tadi dimana,"


"Udah...udah, mungkin memang benar adik kamu itu nyelamatin orang. Lagian dia udah besar juga, kita percayakan saja pada dia,"


"Tidak bisa Pa, dia itu cewek. Sam nggak mau kenapa-kenapa, lagian Azza dulu udah kehilangan Algha,"


"Ya Papa tau, tapi kalau dikekang dia akan memberontak Nak, kita harus tau kondisi Azza saat ini. Kamu nggak liat, Azza udah mau bicara dengan kita, jadi kita pun harus mendukung dia." jelas Deon, ia tahu saat ini masa-masa Azza ingin menjadi dirinya sendiri tanpa dikekang oleh siapapun.


"Tapi Papa menjodohkan dia dengan pria-pria lain juga mengekang hidupnya kan?"


Sam mengeram kesal, tetapi tidak ingin membuat suasana disini suram ditambah lagi ada anak-anak membuatnya urung melanjutkan percakapan ini. Percuma berbicara sampai berbusa-busa pun, orang tuanya tetap kekeh dengan pendapat mereka. Sedangkan Bita dan Anggi saling melirik seolah-olah paham dengan situasi sekarang. Tetapi mereka lebih membungkam untuk tidak campur urusan Azza.


Sam melenggang keluar rumah, ia mengenakan jaket dan duduk di teras. Ia mengusap wajahnya kasar sambil menatap langit. Matanya mendongak saat merasakan keberadaan seseorang dibelakangnya. Anggi tersenyum lalu mengecup bibir suaminya.


"Tenang sayang, aku yakin Azza baik-baik saja saat ini. Jangan terlalu bawa emosi."


"Tapi, dia—" Anggi membungkam mulut Sam sambil tersenyum.


"Nggak asyik banget, dasar posesif. Coba ya nih kamu bayangkan, kucing dikurung dalam kandang pasti memberontak kan? Kalau aku jadi Azza juga nggak mau dikekang kali. Semua orang butuh ke kebabasan sendiri sayang, nggak semuanya berakhir buruk asalkan kita mempercayainya."


Sam terdiam, ia juga menyetujui apa yang dibilang istrinya. Namun, Azza tetaplah Azza, gadis itu masih belia dimatanya. Azza lebih dekat dengannya dibandingkan Alze, makanya ia lebih protektif dengan adik perempuannya itu. "Huft,"


***


Azza bukannya bisa terlelap malah terjaga. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua malam, tetapi kantuknya masih belum datang juga. Ia hanya diam, lalu melirik seseorang yang tengah tertidur pulas dikasur atas. Azza terkekeh memandang pria itu dengan mulut ternganga, sangat berbeda saat pria ini bangun. Lama Azza memandang pria itu, tanpa sadar ia tersenyum tipis. Wajah pria itu terlihat damai dan ia bisa melihat dengan jelas wajahnya yang begitu tampan.


"Huh, siapa sangka kalian bersaudara." lirihnya sambil memegang kalungnya. Azza tersenyum ketir, lalu kembali membaringkan dirinya dikasurnya. Ia pun menutup mata agar tertidur lelap. Tanpa ia sadari, jika pria itu terbangun karena suaranya. Ia hanya diam melirik kearah gadis itu.


"Huft..." Khaizan bangkit dari tempatnya, ia turun dari kasur lalu mengambil selimut dan menyelimuti Azza. Setelah itu, ia berjalan mendekati jendela dan memandang langit malam yang begitu tenang.


Khaizan melirik lagi kearah Azza, ia pun tersenyum miring. "Membosankan." ucapnya meninggalkan ruangan Azza. Pria itu berjalan mendekati lift, namun saat ia memencet tombol lift, ia melihat seseorang yang tampaknya mencurigakan berjalan kearah ruangan Azza. Pria itu menahan pintu lift agar tidak tertutup dan memperhatikan orang itu. Saat orang itu benar-benar masuk kedalam ruangan Azza, dengan cepat ia berlari kesana.


Khaizan membuka pintu perlahan-lahan, lalu mendekati wanita yang memakai seragam perawat itu. Sebelum wanita itu menyuntik tangan Azza, ia pun langsung mencekal tangan wanita itu. "Siapa lo?" sinisnya.


"A...ah saya perawat tuan, saya menjalankan tugas." ucapnya menggigil, bahkan sangking terkejut ia tidak sengaja menjatuhkan peralatan medisnya. Khaizan menghela napas lega, Azza tidak terbangun dari tidurnya. Lalu ia menatap tajam kearah wanita itu,


"Sejak kapan orang yang terluka dikaki pakai suntik huh? Dia nggak perlu pakai itu!" tekannya membuat wanita itu semakin takut.


"Tapi tuan, di-dia memerlukan obat ini."


"Tunjukkan padaku!" suruhnya, perawat tadi menelan saliva. Seolah terjebak, ia pun berusaha melarikan diri dengan menendang betis Khaizan. Khaizan mengumpat kasar, dengan cepat ia memukul tengkuk wanita itu hingga jatuh pingsan. Pria itu merenggangkan ototnya, ia mengumpat kasar menatap wanita itu. Sebelum ada yang tahu, Khaizan memindahkan wanita itu dikasur yang kosong disudut ruangan lalu mengikatnya dengan kain. Pria itu bahkan meminta Galen untuk meretas CCTV dirumah sakit ini agar tidak ada yang mengetahui kejadian ini.


"Lo gila ya Khai, lo kena—"


Tut...Tut...Tut...


Khaizan mematikan teleponnya sepihak, ia sama sekali tidak tertarik untuk menjelaskan semuanya, yang penting saat ini situasinya sudah aman. Lalu matanya melirik kearah obat-obat yang berserakan disana. Ia pun berjalan mendekati obat itu dan berjongkok mengambil obat itu, matanya membulat sempurna saat melihat nama obat itu sama persis seperti nama obat yang diberikan Papanya waktu itu, waktu ia membunuh Papanya dengan cara Euthanasia. Pria itu kembali melirik Azza yang masih nyenyak dengan tidurnya.


"Sial, sebenarnya siapa yang mau bunuh lo huh?"