Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 43



Azza menghambur pelukannya pada Lulu, membuat sahabatnya itu terheran-heran melihatnya. "Kenapa?" tanya Lulu bingung.


Azza baru menyadari, jika Lulu belum mengetahui kejadian yang menimpanya kemarin. Buru-buru wanita itu membawa Lulu duduk ditaman. Baru saja pantatnya mendarat dikursi, Lulu merengek memintanya dibelikan eskrim dekat mereka.


"Ya ampun Lu, bumil nih manja banget." gemasnya melangkahkan kaki mendekati gerobak eskrim itu. Sedangkan Lulu duduk manis menunggu sahabatnya membeli eskrim untuknya.


Setelah Azza membawa dua eskrim ditangannya, ia langsung menyerahkannya pada Lulu salah satunya. Satunya lagi, untuk dirinya. "Nah, ini buat lo."


"Uhuuy makacii Azza." serunya menikmati eskrimnya. Azza menggeleng heran melihat kelakuan sahabatnya sudah mulai berubah.


"Sumpah?! Wah lo kok nggak bilang gue, untung lo nggak kenapa-kenapa Za." lirihnya sedih setelah mendengarkan cerita Azza.


"Sans, udah berlalu juga kok. Lagian gue baik-baik aja kan sekarang? Lo jangan khawatir, lo harus jaga keponakan gue baik-baik."


"Aman tuh, tapi Za..." lirihnya lagi menunduk pelan.


"Kenapa?" tanyanya bingung, padahal tadi Lulu terlihat tenang, mengapa wanita itu malah terlihat sedih sekarang?


"Gue takut orang tua gue tau sumpah. Gue nggak bisa ngebayangkan mereka tau tentang anak in—"


"Lulu dengar gue baik-baik. Memang yang lo lakuin dengan Sean memang salah. Tapi, kehadiran anak kalian bukan kesalahan dia. Dia ada karena kalian, jadi tolong jangan berpikir untuk menggugurkan dia. Kasian dia, kalau gue jadi dia gue bakalan sedih karena tidak dinginkan. Apapun itu, karena kejadian ini sudah terlanjur, lo harus memperjuangkan anak ini, trus didik dia pas besar nanti agar tidak salah jalan." ucap Azza pelan, ia akan terus mengingatkan Lulu dengan nasehatnya agar hal yang tidak dinginkan tidak terjadi.


"Lo benar Za, huft...tetap dukung gue ya Za. Jangan tinggalin gue, please." mohonnya takut suatu hari Azza akan meninggalkannya juga.


"Nggak akan, trust me." ucap Azza menyakinkan sahabatnya. Azza merasa ponselnya berdering, ia pun langsung mengangkat telepon itu setelah tahu dari Khaizan.


"Halo sayang!" serunya membuat Lulu mengulum senyum pada Azza. Azza tersipu malu, sejak kejadian itu Khaizan semakin manja padanya, apalagi mereka akhir-akhir ini terus bermain setiap malam. Azza langsung menggeleng-gelenh kepalanya untuk tidak berpikir negatif lagi.


"Kamu dimana?" tanya Khaizan disebrang sana.


"Aku? Aku lagi sama Lulu nih di Taman."


"Oh, bisa kesini nggak? Aku kangen."


"Lah, barusan dua jam kita pisah Khai, masa iya kamu masih kangen."


"Aku kangen sayang, disini nggak seru. Masa iya aku liatin Galen mulu, ayo cepat sini sayang." rengeknya membuat Azza menggeleng heran. Hal yang satu ini yang tidak pernah ia duga adalah tingkah Khaizan sungguh diluar nalarnya.


"Iya...iya otw kesana, dah ya aku tutup telponnya dulu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam aku tunggu ya sayang disini."


"Iyaa.."


"Widih, makin romantis aja nih sahabat gue. Mana nih yang katanya nikah karena mau nyari sesuatu tentang Khaizan, udah nggak nyari lagi?" tanya Lulu penasaran. Ia pernah diberitahu oleh Azza perihal itu, tentu awalnya Lulu tidak setuju membiarkan Azza menikah dengan Khaizan. Namun, Azza terus membujuknya dengan berbagai cara hingga membuatnya terpaksa menyetujui pernikahan ini.


Azza terkekeh pelan. "Gue nggak nyari lagi data dia. Udah cukup gue kenal dia yang sekarang, mungkin dulu memang kehidupan susah gue tebak. Tapi, gue nggak mau mengorek lagi masa lalunya, biarin ajalah lagi. Gue udah bahagia dengan apa yang gue punya sekarang." ucapnya tersenyum menatap wallpaper pernikahannya di ponselnya.


Lulu tersenyum lebar. "Huft...Gue senang lo bahagia Za. Kan gini enak gue liat senyum lo trus, gue yakin Algha bahagia liat Lo senyum semanis ini." ucapnya langsung dianggukan Azza.


"Iya, mungkin aja Algha ngirim abangnya buat jagain gue selanjutnya." Lirihnya lagi.


"Lo benar Za. Yok keknya suami lo merengek deh minta lo datang." seru Lulu membuat Azza syok.


"Iyalah gue tau, orang lo hidupin speakernya pas kalian nelpon tadi." cerocosnya menyandang ransel kecilnya. Azza terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal.


"Hehehe maaf gue kira hanya gue aja yang dengar."


"Cih dasar bucin, dunia terasa milik berdua." ledeknya menarik tangan sahabatnya menuju parkiran mobil.


***


Azza dan Lulu berjalan masuk kedalam perusahaan Khaizan. Mereka tidak perlu repot-repot mencari ruangan Khaizan, karena seseorang sudah diutus untuk menuntun mereka menuju ruangan bos besar itu. Sampai dilantai paling atas, Azza dan Lulu berjalan mendekati pintu diujung sana.


"Besar juga perusahaan suami lo Za," seru Lulu berdecak kagum dengan interior perusahaan suami sahabatnya itu.


"Kak Galen!" seru Azza saat melihat seseorang yang ia kenal barusan keluar dari ruangan Khaizan. Orang itu langsung menoleh dan tersenyum tipis kearah Azza.


"Hai, lo udah datang. Itu suami lo merengek trus nungguin lo, langsung masuk aja." gerutunya menunjuk kearah pintu Khaizan


"Hihihi maaf ya kak, jadi repotin lo. Gue masuk duku, Oiya Lu." serunya pada Lulu, hampir saja ia melupakan sahabatnya yang satu ini. Namun, ia juga tidak bisa membawa sahabat masuk kedalam. Bisa-bisa Lulu jadi nyamuk diantara mereka nanti.


"Kenapa? Gue nggak papa kok nungguin disini. Lo masuk aja," seru Lulu seolah-olah tahu maksud Azza.


"Hmm maaf, atau gini aja. Kak Galen lo ada kerjaan nggak?" tanyanya menoleh kearah sahabat Khaizan.


Orang yang dipanggil malah diam membuat Azza menepuk pundaknya. Galen tersadar lalu menoleh kearah Azza. "Iya? Lo ngomong apa tadi?"


"Ck, makanya jangan melamun kak. Gue boleh nggak nitip sahabat gue sama lo dulu kak?"


"Cih, kalian pasti mau berduaan aja kan?" tebaknya langsung dianggukan Azza.


"Exactly, nggak papa ya kak? Sahabat gue baik kok, nggak menggigit."


Lulu langsung menatap horor kearahnya. "Azza sialan, dikiranya gue binatang buas apa??"


"Ulululu bumil jangan marah dong."


"Bumil? Dia lagi hamil?" tanya Galen terkejut. Padahal pria itu sempat terpesona dengan kecantikan Lulu, tetapi saat menyadari jika wanita yang disukai tengah berbadan dua sepertinya ia harus mengubur kembali perasaan yang belum sempat tumbuh.


"Iya, emangnya kenapa kak?" tanya Azza heran.


Galen menggeleng pelan. "Nggak ada, ya udah biar gue yang jagain sahabat lo. Lo masuk aja sana sebelum si singa tuh merengek lagi." ujarnya langsung dianggukan Azza.


"Thanks kak, gue masuk dulu ya Lu. Jangan nakal!" serunya langsung masuk kedalam ruangan Khaizan sebelum mendapat omelan dari sahabatnya.


"Azza kampret!" Lalu pandangan Lulu tertuju pada pria dihadapannya sekarang. Jika dilihat baik-baik pria ini tampan sekali menurutnya. Lulu berdeham pelan, "Gue duduk disana aja. Lo lanjut aja kerjanya ya." pamitnya hendak duduk di kursi besi dekat dinding.


"Dalam ruangan gue aja, ikut sini!" seru Galen berjalan menuju ruangannya.


Lulu gelagapan, tetapi wanita itu hanya menurut saja mengikuti langkah Galen. Ia terpesona dengan punggung tegap Galen yang telihat keren dimatanya.


"Astaga sadar Lu, sadar jangan cepat kali terpesona woi!" gerutunya pelan.