Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 16



Azza meringkuk, ia bingung dengan situasinya sekarang. Apa maksudnya semua ini? Kenapa dia dalam bahaya? Siapa musuhnya?


Jika diingat kembali, ia sama sekali tidak pernah memusuhi orang-orang. Tetapi, kenapa dirinya berada dalam bahaya?


"Cih dasar menyusahkan. Lo jangan nangis, gue nggak bisa berpikir jernih!" kesalnya melihat gadis itu menangis sesunggukan. Ia juga paling tidak bisa berhadapan dengan manusia lemah, karena baginya ya begitulah sangat merepotkan.


"Kalau lo nggak suka ya udah pergi dari sini, hiks!" Khaizan menghela napas panjang, ia berjalan mendekati pintu kamar Azza dan menguncinya dari dalam.


"Kamar lo kedap suara, jadi gue bisa ngomong dengan jelas disini." ucapnya mengetahui kamar Azza. Azza mengumpat pelan dalam hatinya, ia baru menyadari sesuatu hal jika kamarnya kedap suara, lantaran ia ingin memainkan gitar tanpa menganggu keluarganya.


"Gue jelasin ringkas, lo dalam bahaya karna Algha."


"What? Ngapain lo bawa-bawa dia huh? Dia itu kan adik lo juga. Dia udah nggak ada disini Khai!" cercanya marah.


"Iya makanya dengarin gue dulu! Lo tau kehidupan Algha dulu gimana?"


"Tau, dia ditinggal semua keluarganya. Hidup sendiri di Apartemen, ditinggal kakak kayak lo!" ketusnya tidak suka nama Algha disangkut paut dengan masalahnya ini.


Khaizan mencebik, lalu mendekat kearah Azza. "Terserah lo mau percaya atau nggak. Sekarang lo harus ikut gue!"


"Hah? Kemana? Lo gila?!" Gadis itu menepis tangan Khaizan yang terus menariknya.


"Ya trus? Lo mau gimana? Lo mau keluarga lo dalam bahaya huh?"


"Jelaskan detail Khai! Apa sebenarnya yang terjadi huh? Gue pusing!" teriaknya kesal.


"Huft sialan. Makanya ikut gue, cepat!' ajaknya mau tak mau Azza harus ikut dengannya.


"Kita lewat mana?"


"Jendela." jawabnya sambil membuka jendela kamar Azza perlahan-lahan.


"Lo gila? Gue nggak mau!"


"Cih, jangan bawel!" Pandangan Khaizan tertuju pada pakaian yang dikenakan Azza saat ini, sontak ia langsung memalingkan wajahnya. "Sialan, pakai jaket lo bego!" kesalnya mendorong gadis itu kearah lemari.


Azza menggerutu kesal, lalu ia melirik baju yang dikenakannya sontak matanya membulat sempurna. Azza langsung mengambil jaket dalam lemarinya dan mengenakannya langsung. "Lo-lo tadi a-ada liat?"


Khaizan tidak memperdulikan ocehan gadis itu, ia sibuk memperhatikan luar agar mereka aman saat turun nanti. "Udah selesai?"


Azza mengangguk pelan mendekati Khaizan. "Hm,"


"Gue turun duluan, abis tuh lo!" serunya langsung turun dengan tangga yang ia pakai untuk panjat ke kamar Azza tadi.


Azza menghela napas kasar melihat pria itu dari atas, ia rasa semua yang ia lakukan ini akan membuat keluarganya marah besar. Terlebih, ia kabur lewat jendela bersama seorang lelaki yang ia sendiri belum terlalu mengenalnya. Tetapi, lebih dari itu ia penasaran akan satu hal yang terus menganggu pikirannya. Ruangan ekskulnya yang banyak berceceran darah dan juga ada orang yang ingin membunuhnya menjadi tanda tanya besar. Apalagi, saat pria itu menyebut Algha ada sangkut pautnya dengan ini semua.


"Cepatan!"


"Iya... iya sabar!" Azza perlahan-lahan turun kebawah, namun saat sudah sampai bawah ia malah terpelet.


Bruuuk.


Mata Azza memejam tetapi, ia tidak merasakan tubuhnya sakit. Perlahan ia membuka matanya dan terdiam saat matanyanya terus menatap wajah Khaizan.


Sialan nih orang nggak punya hati apa? Baik nggak usah ditangkap tadi.


Azza berdiri dan mengejar pria itu, dengan cepat ia menginjak kaki Khaizan hingga pria itu meringis kesakitan. Azza tersenyum puas, gadis itu pergi mendahului Khaizan. Pria itu mendongak kearah Azza, ia menyadari sesuatu tidak beres disekitar mereka, ia pun langsung berlari kearah Azza dan membawa gadis itu bersembunyi dibalik pohon.


Azza memberontak berusaha melepaskan tangan Khaizan yang membungkam mulutnya. Khaizan menatap tajam kearah Azza. "Diamlah!" bisiknya menekan.


Gadis itu lebih memilih diam, berarti situasi mereka saat ini dalam bahaya. Tetapi, tetap saja ia tidak nyaman dengan posisi mereka yang terlalu dekat. Bisa dengan jelas lagi-lagi Azza gagal fokus melihat wajah Khaizan yang begitu tampan dimatanya. Azza menggeleng keras saat menyadari kenyataan. Algha tetap dihatinya, calon suaminya itu paling tampan baginya, Khaizan bukanlah tipenya.


Khaizan celingak-celinguk memastikan tempat mereka aman, barulah pria itu menjauhkan tangannya dari mulut Azza.


"Hoek, asin!" umpat gadis itu membuat Khaizan samar-samar tersenyum tipis. Namun, saat gadis itu menatapnya, ia kembali memasang eskpresi datarnya


"Sekarang jelasin apa sebenarnya terjadi Khai? Kenapa Algha ada sangkut pautnya, huh?".


"Dimobil gue ceritain." ucapnya menarik tangan Azza masuk kedalam mobilnya. Ia pun langsung melajukan mobilnya dari perkarangan rumah.


***


"Keluarga gue gimana Khai? Mereka dalam bahaya juga?!"


"Keluarga lo aman, gue udah ngirim bodyguard untuk keluarga lo." jawab Khaizan fokus mengemudikan mobilnya. Sial, kenapa gue suka banget terseret dengan gadis sialan ini!


"Lo yakin? Hei dengar ya Khaizan. Setiap penjahat kalau mau ngejar target, harus cari orang yang paling disayanginya untuk kerja sama menjatuhkan musuhnya." jelasnya panjang lebar.


Khaizan merasa jengkel dengan gadis disebelahnya ini yang tak henti-hentinya mengoceh panjang lebar. "Ck, percaya ajalah. Keluarga lo selamat, asalkan lo yang menjauh dari mereka."


"What? Apa maksud lo huh? Jadi gue tumbal gitu?"


"Kenapa? Takut?" ledeknya sambil tersenyum seringai.


"Gue lagi nggak bercanda sekarang Khai! Cepat balekkan gue kerumah!"


"Sudah terlambat, lo udah disini juga...udah duduk diam aja situ!"


"Nggak bisa...nggak bisa, gue harus keluar! Berhenti atau gue buka paksa nih pintu!" ancamnya tetapi tidak membuat pria itu takut, malah ia tertawa pelan setelah mendengar ucapan Azza.


"Ya udah silahkan, nih gue bukain pintunya." Khaizan menekam tombol agar mobilnya tidak terkunci lagi tetapi ia juga menambahkan kecepatan, Azza takut bukan main.


"Kun-kunci pintunya Khai!" serunya ketakutan. "Lo jangan bawa gue mati dulu, gue belum nikah!" teriaknya.


Khaizan tidak menggubrisnya, ia langsung membelokkan mobilnya ke suatu tempat yang pastinya bukanlah tempat aman bagi Azza. Azza melihat tempat itu sontak merinding, bangunan tua yang sudah tidak berbentuk lagi. Azza membulat matanya saat Khaizan benar-benar berhenti didepan rumah tua itu. "Wah, bercanda lo parah Khai, gue nggak mau kesini!"


Khaizan hanya melirik Azza sekilas, pria itu langsung keluar dari mobil dan memutari mobil untuk membuka pintu Azza. Azza langsung mengunci pintu dan berpindah ke kursi kemudi.


"Sial!" umpatnya saat menyadari kunci mobil itu ada ditangan pria itu. Oke cukup, gadis itu rasanya ingin menangis kencang berharap siapapun menolongnya. Namun, ia yakin tidak akan gunanya melakukan hal itu lantaran mereka saat ini berada ditengah hutan.


Tok...tok...


Khaizan terus menggedor kaca mobil Azza, Azza hanya bisa berdoa dalam hatinya, ia akan baik-baik saja. Sebenarnya dia nih baik apa nggak sih? Ya Tuhan selamatkan hamba dari kejahatan. Gila nih orang buat gue merinding. gumamnya dalam hati.