Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 28



Azza mengetuk-ngetuk dasbor mobil sambil menunggu Khaizan keluar dari restoran. "Ck, lama kali dia, ngapain sih? Berak dia?" gerutunya kesal.


Azza kembali ingat tentang pertanyaan yang selalu menghantui pikirannya saat ini, nyatanya mengungkapkan apa yang ia mau tidak semudah yang ia bayangkan. Lihatlah betapa keluh bibirnya mengobrol dengan pria yang jelas-jelas adalah suaminya sendiri. Matanya membulat sempurna saat melihat sosok Khaizan akhirnya keluar dari restoran, namun pandangan langsung beralih kearah kotak yang ada ditangan suaminya itu.


"Dia bawa apa emangnya?" gumamnya bingung. Saat Khaizan masuk dan duduk dikursi kemudi, pria itu langsung memberikan kotak itu pada Azza.


"Lo belum makan tadi kan? Tuh isi cacing dalam perut lo sekarang, daripada nanti lo merengek ganggu gue kerja!" serunya memasang seltbelt-nya.


Azza tertegun, perhatian tapi mulutnya kasar. Ingin rasanya ia memukul bibir Khaizan sekarang juga. Khaizan menoleh kearah Azza lagi, kali ini pria itu diam tanpa mengatakan apapun membuat Azza risih dengan tatapannya.


"Kenapa?" tanyanya memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


"Apa yang mau lo omongin sampai-sampai lo nggak nyentuh makanan lo tadi huh? Penting?"


Khaizan sialan, lo jangan ungkit lagi lah!


"Ehem, gue mungkin lagi nggak selera makan. Btw, kita mau kemana?" tanyanya mengalihkan topik. Khaizan mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Azza.


"Ya balik lah," sahutnya sambil melajukan mobil keluar dari parkiran. Azza memberengut menatap suaminya.


"Membosankan sekali."


***


Khaizan merenggangkan ototnya setelah berkutat dengan banyak dokumen yang ia urus dimejanya. Lalu pandangannya tertuju pada istrinya yang tertidur pulas di sofa miliknya. Pria itu langsung mendekatinya dan diam memandang wajah istrinya.


"Kalau lagi tidur, nih anak kalem." gumamnya menghela napas. Khaizan berjalan kearah lemari dan mengambil selimut untuk istrinya, setelah itu ia duduk diseberang sambil merebahkan tubuhnya.


Khaizan melirik ponsel istrinya itu, terbesit di pikirannya mengutak-atik benda pipih itu. Matanya membulat saat melihat nomor kontaknya dengan sebutan 'Suami Iblis'.


"Cih, macam dia yang paling suci disini." Cibirnya menoleh kesal kearah Azza yang sedang tertidur pulas. Ia langsung tersenyum seringai, dan mengganti nomor dikontak istrinya.


Khaizan langsung meletakkan ponsel Azza semula saat menyadari Azza mulai terbangun. Pria itu berdeham pelan pura-pura membaca buku didekatnya.


"Hm, jam berapa sekarang?" gumam Azza sambil mengucek matanya. Khaizan berdecak pelan lalu menoleh kearah jam dinding.


"Hah?! Seriusan dah jam segitu? Gila gue nggak pernah tidur selama itu!" Hebohnya lagi.


"Berisik, sudahlah kita pulang sekarang!"


"Cih marah-marah trus." gerutunya pelan.


"Apa lo bilang tadi?"


"Nggak ada, itu angin baru lewat!" jawab Azza asal sambil menyandang ranselnya. Ia berjalan mendahului suaminya dan memencet tombol lift.


Kruyuuk.


Mata Azza membulat sempurna, sedetik kemudian ia langsung tertawa terbahak-bahak memegang perutnya. "Buahaha lo lapar?"


Khaizan memalingkan wajahnya malu, salah sendiri tidak membangunkan Azza lebih cepat. "Kenapa? Suka-suka perut gue lah mau berbunyi dia, mau eek, mau kentut, terserah dia lah. Ngapain juga lo yang ngurus."


"Ya elah, sensian amat bos! Gue lagi baik nih, kita pergi makan dulu sebelum pulang. Gue tau tempat favorit yang cocok buat perut lo!"


Khaizan memandang aneh. "Lo nggak kesentrum sesuatu kan?"


Azza memutar bola matanya malas, suaminya ini suka sekali curiga dengannya. "Bisa nggak sih percaya dulu sama gue sesekali? Gue nih lagi baik loh."


Khaizan dibuat bingung, pasalnya istrinya ini bukan melangkahkan kakinya menuju parkiran justru berbelok kearah yang lain. "Azza kita mau kemana? Mobil gue di—"


Gadis itu menggeleng-geleng, Khaizan tertegun saat melihat tangannya ditarik oleh Azza. Azza dengan senyum riangnya membawanya menuju suatu tempat yang tidak jauh darisana.


"Jreng...jreng ini dia!"


"Lo gila, kita makan ini??"


"Ya elah bro, biasa aja kali. Makan disini enak banget lo, beda banget vibesnya. Coba aja dulu, tuh nasi gorengnya baru masak!" ajak Azza tidak peduli dengan penolakan suaminya. Akhirnya mereka duduk ditempat yang kosong. Azza tertawa melihat raut masam suaminya.


"Mau pesan apa?" tanyanya melirik suaminya. Khaizan acuh tak acuh mengedik bahunya, Azza berdecak pelan lalu memesankan pria itu dengan menu yang disebutnya. "Gue jamin lo suka Khai."


"Cih, masa? Gue yakin ini masakannya nggak enak."


"Coba dulu, tidak boleh menilai dari cover. Lo harus coba dulu baru nilai," ucapnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya.


Khaizan hanya menghela napas, dirinya pun bingung kenapa tidak memarahi gadis ini karena membawanya ketempat seperti ini. "Berapa lama lagi makanannya datang?!"


"Ya sabar lah, lo pikir cuma kita aja pelanggannya disini? Sabar ajalah."


"Yang itu pasti makanannya," seru Khaizan berbinar melihat pelayan itu membawa beberapa piring ditangannya, namun wajah Khaizan mendadak murung lantaran pelayan itu bukan mengantarkan ke meja mereka melainkan ke meja orang lain. "Anjir kan kita yang luan tadi datang." serunya tidak terima.


"Ya tunggu ajalah dulu, nggak usah ribut!"


"Ngapain lo yang marah, kan kita udah daritadi di—"


"Ini pesanannya mbak," seru pelayan yang lain tiba-tiba meletakkan pesanan mereka diatas meja. Azza terkekeh pelan, melihat tatapan Khaizan tak lepas dari makanan di depan mereka.


Azza heran melihat suaminya belum menyentuh makanannya. "Apa yang lo tunggu lagi? Kan makanannya udah datang tuh,"


"Lo yakin nih enak?" tanyanya lagi membuat Azza menghela napas kasar. Tanpa babibu, gadis itu langsung menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya dengan cara sedikit kasar. Maklum, perut udah keroncongan tetapi harus meladeni pria menjengkelkan didepannya ini.


"Makan nih, makan!"


"Uhuk...uhuk sialan, bisa pelan-pelan nggak?!" sentaknya membuat tatapan orang-orang disekitarnya kearah mereka. Azza mengedik bahu tidak peduli, ia tersenyum miring menatap raut suaminya berubah sejenak setelah mencicipi nasi goreng itu.


"Gimana enak kan?"


"Lumayan." jawabnya singkat kembali menghabiskan nasi gorengnya membuat Azza mencibir pelan.


"Katanya nggak suka tempatnya, tapi dia sendiri yang lahap makannya."


"Apa lo bilang?"


"Nggak ada," sahutnya sambil menyeruput teh telurnya. Azza tertegun melihat pria bertopi hitam yang tampaknya tidak asing duduk tidak jauh dari mereka. Tatapan mereka bertemu, pria itu tersenyum miring lalu beranjak dari tempatnya.


"Liat apa?" tanya Khaizan langsung melirik apa yang dilihat istrinya. "Lo liat siapa?"


"Ha? Eh, nggak ada. Gue tadi ada liat orang yang gue kenal, tapi keknya salah orang." jawabnya.


Azza terus memikirkan tentang pria tadi, tiba-tiba ia teringat. Matanya membulat sempurna saat menyadari pria itu tak lain adalah Ansel.


Sial, bagaimana dia bisa ada disini?!