
"Kejar Sam!" seru Anggi cemas.
"Sabar sayang, astaga anak itu kenapa nih?" gerutunya terus mengklakson mobil yang menghalangi mobilnya. Sialnya, mereka malah kehilangan jejak Azza.
"Ck, telpon Khaizan sekarang!" Sam menyuruh istrinya menelpon adik iparnya. Mereka sama sekali tidak mengerti mengapa Azza buru-buru? Apa karena Khaizan?
***
Khaizan baru saja selesai rapat dengan rekan bisnisnya, ralat rival yang menggangu rumah tangganya. Tinggal lah mereka bertiga yang tersisa dalam ruang rapat tersebut. Khaizan mengernyit heran melihat wajah Alman tampak aneh. "Lo udah gila?"
Alman sontak tertawa pelan, lalu menatap lurus kearah Khaizan. "Suka hati gue," jawabnya ketus sambil tersenyum remeh kearahnya.
Khaizan mengumpat kesal, lalu beranjak dari tempat duduknya, baru beberapa langkah Alman kembali bersuara.
"Oh iya, sebentar lagi lo bakalan dapat kabar yang sangat bagus Khaizan." ucap Alman tersenyum penuh arti.
Khaizan mengepal tangannya kesal, pria itu berhasil memancing emosinya. Matanya langsung melirik ponselnya berdering, ia bingung melihat nomor yang tidak dikenal menelponnya. Tanpa pikir panjang, Khaizan langsung mengangkat telepon itu.
"Halo! Halo Khai!" seru seseorang diseberang sana membuat Khaizan bingung.
"Siapa nih? Lo tau nomor gue dari mana?" jengkelnya.
"Anjir nggak disave nomor gue sama anak nih. Gue kakak ipar lo, Anggi. Istri lo ada dekat lo nggak Khai?!"
Deg. Perasaan Khaizan tiba-tiba tidak enak, ia melirik tajam kearah Alman yang tampak santai menatapnya.
"Nggak, kenapa?"
"Istri lo kabur woi, gue nggak tau kenapa tiba-tiba Azza main pergi gitu aja tadi. Perasaan gue nggak enak Khai, dia pergi sambil nangis manalagi tuh bocah bawa mobilnya laju. Kami tadi udah ngejar dia Khai, cuma kehilangan jejak. Lo juga cepat cari dia!"
Khaizan menggertakkan rahangnya, dengan penuh emosi ia langsung mendorong meja rapat panjang itu menghimpit Alman yang duduk dekat dinding. Alman terkejut sekaligus meringis berusaha menahan meja agar tidak semakin menekan tubuhnya terhimpit ke dinding. "Ke-kenapa? Baru dengar berita buruk ya? Sayang sekali lo udah terlambat." ledeknya.
"Fu*k! Banci lo! Lo pikir gue takut huh? Kalau mau lawan gue, lawan gue langsung nggak usah bawa-bawa Azza!!" sentaknya, bahkan Galen yang melihat kemarahan Khaizan hanya bisa diam membisu menyaksikan perdebatan dua manusia didepannya. Ia tidak ingin ikut campur urusan Khaizan, karena baginya yang penting uang gajinya masuk dah itu saja.
Alman tertawa terbahak-bahak. "Terserah sih, lagian Azza bakalan jadi santapan yang lezat loh buat mereka disana." serunya semakin memancing emosi Khaizan.
"Gal, hack semua data yang dia punya! Kirim ke gue kalau hape Azza ada dimananya!" titahnya.
Khaizan mendorong meja kuat hingga Alman merasa sesak dan terbatuk-batuk. Pria itu langsung berlari menuju parkiran, tidak peduli lagi orang-orang disekitarnya yang mengganggap dirinya seperti kesetanan. Prioritas utama dia adalah menyelamatkan Azza dari kawanan brengsek itu. "Lo cowok brengsek yang pernah gue temuin. Dasar sampah!" umpatnya lagi sebelum pergi keluar.
Khaizan berharap dalam hatinya Azza tetap baik-baik saja. Ia ragu bisa tepat waktu untuk menyelamatkan Azza. "Please, you can do it Azza!" gumamnya pelan. Beruntung Galen berhasil mendapatkan lokasi Azza langsung mengirimkan alamat itu pada Khaizan. Satu lagi, ia juga menggerakkan bodyguard untuk membantunya nanti.
"Huft, lagi-lagi gue ditinggal. Dasar tuh bocah kampret!"
Mau tak mau, Galen langsung menyusul sahabatnya bersama para bodyguard dibelakangnya.
***
Byuur.
Azza meringis pelan, sialnya tidak ada yang mendengar jeritannya. Tangannya diikat kuat dibelakang kursi sedangkan bajunya habis basah oleh dua pria brengsek didepannya.
"Uhuuy, cantik juga body nya cuy!" siul salah satu dari mereka membuat Azza menatap tajam. Ia juga merutuki dirinya sendiri karena terlalu gegabah pergi tanpa ada yang menemaninya. Harusnya ia membawa Alze atau Sam tadi, tapi sayang otaknya tadi tidak berpikir jernih perihal suaminya. Alhasil ia terjebak ditempat sialan ini.
"Mau diapain ya enaknya?" gumamnya membuat Azza mengumpat kasar dalam hati. Gadis itu celingak-celinguk melihat situasinya disini. Memilih melawan mereka sangatlah berisiko untuknya, apalagi bobot badan mereka bongsor-bongsor tentu Azza tidak sanggup melawannya dengan tubuh semungil ini.
Khai, gue kangen lo. Lo dimana?
Azza menghela napas, pikirannya berkecamuk. Jujur, ia benar-benar ketakutan saat ini. Tetapi, ia tidak boleh pasrah dengan keadaan. Mata Azza menangkap pisau yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya, sambil tersenyum samar ia langsung melihat dua pria itu yang tengah menelpon seseorang.
"Ya bos, ini kami sudah menangkapnya." ucap salah satu pria itu. Azza mengamati sudut ruangan lain, memastikan hanya dua pria ini disini.
Bagus, sepertinya hanya mereka berdua disini, huft...pikirkan jalan keluarnya Azza, gue yakin lo bisa!
Tiba-tiba terlintas dikepalanya ide yang cukup unik. Tetapi, ia tidak yakin apa ini bisa membantunya bebas dari dua pria itu atau tidak. Anjirlah, gas ajalah. Hasilnya belakangan!
Azza bersenandung pelan, suara merdunya sukses mengalihkan perhatian dua pria itu tadi.
"Aduhai suaranya bagus neng, makin suka aku!"
"Main yok neng!"
Deg.
"Tunggu! Tunggu!" serunya sebelum mereka menyentuh Azza. Astaga, ia harus tenang sekarang.
Astaghfirullah, nih mulut bahaya juga ngomongnya. Semoga...semoga, gue baik-baik aja. Ya Allah lindungilah hambamu ini. Khai please help me!
Keduanya tampak diam sejenak saling melirik. "Buahaha ya sudah, wah...wah baru kali ini mangsa menawarkan diri. Kau udah seperti wanita murahan sayang." ucapnya menoel pipi Azza.
Azza tersenyum paksa, dalam hatinya terus menyumpah serapah untuk pria itu karena menyentuhnya kurang ajar. Pipi gue ternodai anjir, gue pokoknya harus selamat abis tuh cuci muka sampai hilang bakteri bekas tangan dia tadi!
"Nyanyilah!"
Bodoh, gimana orang mau nyanyi kalau tangan diikat kayak gini?! Umpat Azza dalam hati. "Ehem, gimana caranya aku nyanyi kalau tangan aku diikat?"
"Hmm janji nggak kabur. Awas kalau kau berusaha kabur kami nggak akan segan-segan membuat kau menderita!"
Azza menelan saliva, mengangguk lemah. "I-Iya, tolong lepaskan tali ini dulu." pintanya langsung dituruti pria itu. Setelah tangan Azza lepas dari ikatan, ia memegang pergelangan tangannya yang terlihat sedikit memerah.
"Kau mau kemana huh?!" teriak baritonnya mencekal tangan Azza.
"Shhh aku mau ngambil gitar itu!" ringisnya sambil menunjuk kearah gitar diujung sana.
"Oh, ya sudah biar aku yang ambil!" ucapnya melepaskan tangan Azza.
Idih om-om nih sok gaul kali dia. Tampang kayak monyet. Umpatnya lagi dalam hati.
Pria itu langsung memberikan gitarnya pada Azza. "Cepat nyanyi!"
Azza menghela napas, menyetel ulang senar gitar tua itu. Ia hanya bisa berharap suaminya mengetahui keberadaannya saat ini, beruntung ia masih menghidupkan lokasi dalam ponselnya tadi. Huft, untung gitarnya masih bagus.
Oh-oh, ah
I'm starin' at the same four walls in a different hotel
It's an unfamiliar feelin' but I know it so well
Oh, but you know the truth, I'd rather hold you
Than this mobile in my hand
But I guess it'll do, 'cause for you
I would run up my phone bill
You say I'm always leavin'
You, when you need me the most
But the, the car's outside
But I don't wanna go tonight
You say I'm always leavin'
You, when you need me the most
But the, the car's outside
But I don't wanna go tonight
I'm not gettin' in the Addison Lee
Unless you pack your bags
You're comin' with me
I'm tired of lovin' from afar
And never being where you are
Close the windows, lock the doors
Don't wanna leave you anymore
Azza begitu menghayati lagu car's outside karya James Arthur. Sambil memejamkan mata sambil bernyanyi, ia tidak peduli suara kasak-kusuk yang menganggu ketenangannya. Sampai-sampai ia diam membeku saat merasakan ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Azza rasanya ingin menangis sekarang juga, ia tahu aroma ini, ia tahu tangan kekar ini milik siapa. Ia baru sadar dua pria bongsor tadi kini sudah tergeletak tidak berdaya dihadapannya.
"Untung aku belum terlambat, sayang." lirih Khaizan hampir menangis mengeratkan pelukannya.