Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 34



Khaizan mengumpat kesal dalam hati merasa risih dengan tatapan iblis seseorang disebelahnya. Sejak ia pergi dari rumah Sean, sejak itu pula Galen tak henti-henti memandangnya penuh misterius. "Mau gue patahkan tuh leher huh?" ancamnya menoleh kesamping.


Galen berdigik ngeri, sedikit menjauhkan dirinya dari Khaizan. "Cemen main ngancam, Lo pasti malu kan? Ngaku ajalah!"


"Cih, apanya yang malu?"


"Lo rela turun tangan nyelesain masalah demi istri lo, udah cinta ya?" ledeknya lagi langsung dilempar pena tepat diwajahnya.


"Ssh sakit woi, astaga sensian amat nih anak!" gerutunya mengambil pena itu dan mengembalikannya pada Khaizan.


Khaizan tidak mengacuhkan ocehan sahabatnya, ia lebih memilih bekerja dengan tablet ditangannya.


Suka dengan dia? Tidak akan pernah!


"Alasan sebenarnya lo nikah sama dia, karena apa?" tanya Galen sukses menarik perhatian pria tampan itu.


Tidak mungkin gue bilang nikah karena surat Algha. Anak bodoh itu seakan-akan sudah tau kejadian yang akan terjadi kayak gini. Kalau bukan surat sialan itu mungkin gue nggak bakalan nikahin Azza.


"Privasi, sudah sana kerja!" usirnya membuat Galen menggerutu kesal keluar dari ruangannya.


Galen menyunggingkan senyumnya. "Lo yakin nggak suka dia? Coba liat dia ada nggak perasaan lo deg-degan gitu?" serunya menyembulkan kepalanya dibalik pintu setelah itu langsung kabur dari ruangan.


Ucapan Galen sukses membuatnya kepikiran, namun ia langsung menepis pikiran itu. "Galen monyet, gue jadi nggak fokus kerja!" umpatnya.


***


Azza bersiul menikmati udara segar dipagi hari sambil membersihkan senar gitarnya. Tiba-tiba pikirannya terlintas dengan kejadian Sean hampir mirip dengan kejadian Algha waktu itu. Ia dapat merasakan betapa hancurnya ketika melihat orang yang disayang pergi begitu saja tanpa pamit. Karena itulah ia sering bolak-balik mengunjungi Lulu di Apartemen.


"Azza!" panggil Haura dari luar kamar, Azza buru-buru menghampiri Mamanya.


"Ya Ma?"


"Itu ada kawan kamu diluar," seru Haura menunjuk kearah seseorang yang tengah duduk membelakanginya. Azza mengernyit, tetapi ia tetap menghampirinya.


"Maaf, apa kita saling ke—" Mata Azza membulat sempurna saat melihat sosok Ansel duduk santai sambil menikmati teh hangat buatan Haura.


"Hai Azza," sapanya dengan senyum manis, Azza terdiam, pria ini sungguh berbahaya berada disini terlebih ada mamanya.


Kenapa dia bisa ada disini anjiir?!


Ansel berdiri lalu menundukkan kepalanya sambil berbisik. "Lo takut?" tanyanya remeh membuat Azza melangkah mundur.


"Si-siapa yang takut, maaf ya...gue nggak kenal Lo siapa, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya pura-pura saat melihat Haura berjalan kearah mereka.


"Eh tawarin dia biskuit nak!" serunya pada Azza.


"Nggak papa tante, saya hanya mampir melihat sahabat saya disini." ucapnya tersenyum miring tanpa sepengetahuan Haura. Azza berdigik ngeri dalam hatinya, pria ini sungguh licik. Ia heran bagaimana bisa dulu begitu akrab dengan iblis sialan ini.


"Nggak usah sungkan nak, nih makan dulu. Ya ampun Azza, kamu kok nggak bilang sih punya sahabat cowok. Dulu Mama ya banyak sahabat cowok, mereka kayak bodyguard Ma...." Oceh Haura panjang lebar, sedangkan Azza hanya diam sambil memikirkan sesuatu.


Ya ampun Ma, kenapa Mama malah cerita sama dia sih? Huft, jangan gegabah Azza, jangan sampai mama dalam bahaya juga. Apa mau dia sebenarnya sekarang?


"Azza kenapa bengong, sini duduk dekat gue." seru Ansel menepuk sofa disebelahnya. Azza begitu enggan duduk disamping Ansel. Sampai suara Haura yang membuatnya terpaksa patuh menuruti perintah mamanya. Baru saja ia hendak duduk, Khaizan tiba-tiba muncul dan mengambil tempat duduk disamping Ansel.


"Khaizan?!" serunya terkejut kedatangan suaminya. Khaizan menunjukkan senyum tampannya yang membuat siapapun pasti akan jatuh cinta padanya.


"Eh Khaizan, kamu udah pulang? Bukannya sekarang belum jam pulang ya?" tanya Haura melirik jam tangannya lalu menoleh kearah memantunya, Khaizan dengan sopan menyalami sang mertua.


"Wah baguslah, kita makan disini aja, kebetulan Mama masak banyak tadi dirumah, oiya... ngomong -ngomong pembantu kalian mana?" tanya Haura menoleh kearah keduanya.


"Bibi pulang kampung Ma, katanya saudara Bibi sakit."


"Ooo, ya sudah yok kita makan. Azza bantu Mama didapur nak!" seru Haura berjalan ke dapur disusul Azza. Tinggallah dua manusia yang saling menatap permusuhan.


"Gue nggak akan segan-segan buat lo menderita Khaizan, tunggu saja pembalasan gue." tekannya remeh.


Khaizan tersenyum miring. "Silahkan, kalau lo bisa." Beruntung tadi Khaizan melihat cctv rumahnya, tak disangka tamu tidak diundang berkunjung kerumahnya dan hampir membahayakan keluarganya.


Sial, dia harus ada yang jaga.


Khaizan melirik istrinya yang sibuk membantu mertuanya menyiapkan makan siang. Begitu juga dengan Ansel yang tersenyum penuh makna.


"Jaga mata lo sialan, she is mine." gerutu Khaizan jengkel melempar bantal sofa kearah Ansel


"Hanya sementara, gue bakalan jadi suami seutuhnya buat Azza." jawabnya santai.


Rasanya Khaizan ingin meninju wajah sombong pria brengsek ini, tetapi mengingat ada mertuanya ia harus menjaga image yang baik."Jangan harap!"


"Kita liat saja nanti, tidak ada yang tau kedepannya akan seperti apa bisa jadi tante Haura jadi mertua gue, ya kan Tan?" serunya menoleh kearah Haura yang berjalan kearah mereka. Napas Khaizan berhenti sejenak, ia melayangkan tatapan tajam pada pria itu.


Anak anj—Sabar...sabar, jangan marah. Fyuuh, Khaizan tenang...tenang. Sial, napas gue sesak anjir, moga Mama nggak dengar.


"Apanya nak?" tanya Haura seketika membuat Khaizan bernapas lega lantaran mertuanya tidak mendengar ucapan Ansel.


Mampus! Kasian dikacangin mertua gue. ledeknya dalam hati.


Khaizan menyunggingkan senyum kemenangannya, membuat Ansel menatap tajam.


"Lo yakin nggak suka dia? Coba liat dia ada nggak perasaan lo deg-degan gitu?" ucapan Galen kembali terngiang dikepalanya, sontak ia melirik kearah dapur.


Deg.


Mata Khaizan tidak berhenti berkedip, ia terlena dengan kecantikan istrinya yang selama ini ia jarang perhatikan sampai-sampai ia tidak mendengar panggilan mertuanya.


"Khaizan!" seru Haura membuat Khaizan tersentak menoleh kearahnya.


"Kenapa Nak? Kamu mikirin apa sampai Mama panggil nggak dengar?"


"I-itu kepikiran pe-pekerjaanku Ma,"


Bego, ngapain gue gugup woi?!


"Ooo, udah nggak usah dipikirkan dulu. Mending kita makan sekarang!"


Khaizan langsung mengambil tempat disebelah Azza, gadis itu bingung dengan tingkah suaminya. "Ngapa?" tanyanya berbisik.


"Nggak ada." jawab Khaizan ketus, ia memasukkan nasinya kedalam mulut cepat-cepat. Ia tidak ingin Azza mendengar suara detak jantungnya yang bodoh ini terus berdegup kencang.


Sialan, ngapain gue deg-degan. Galen awas lo, gue potong gaji lo! gerutu Khaizan dalam hati.


Azza terdiam memandang Ansel tersenyum padanya, tetapi ia tahu pria itu mempunyai banyak rencana dalam otaknya. Ia melirik kearah Haura yang tengah menikmati makanannya dengan tenang. Ingin melaporkan pihak berwajib tetapi dirinya belum ada bukti kuat yang mengarahkan pada Ansel. Azza tertegun saat merasakan tangannya digenggam Khaizan.


"Jangan takut, gue disini." ucap pria itu tersenyum samar padanya.