
Huh? Telinga gue nggak salah dengar tadi kan?
Azza masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Lihatlah, saat ini mereka semua berkumpul untuk makan siang bersama dengan berbagai eskpresi yang berbeda-beda. Ada yang senang dan ada yang juga terkejut sekaligus curiga setelah mendengar ucapan pria disebelahnya ini.
Ck...ck lihatlah dia makan dengan begitu tenang setelah ngomong itu ke Mama? Luar biasa sekali nih orang. jengkelnya dalam hati.
"Kenapa lo liatin gue trus, hm? Baper ya?" bisiknya membuat Azza langsung melotot kearahnya.
"Kegeeran banget nih orang. Usah dekat-dekat gue!" Azza memalingkan wajahnya dari Khaizan. Pria itu menoleh sekilas kearahnya dengan tatapan datar. Usai makan siang bersama, Khaizan dan Galen langsung bergegas pergi. Namun, lagi-lagi langkah mereka terhenti oleh Haura yang berlari kearahnya. Azza sampai berdecak pelan melihat sang Mama begitu memuja pria sialan itu.
"Ini untuk kamu!" ucapnya sambil menyerahkan cemilan yang sudah dibungkus cantik.
Khaizan terdiam, lalu menatap wanita paruh baya itu. "Kenapa anda memberikannya pada saya?"
"Tenang, ambil aja Nak. Untuk cemilan kamu dijalan, manatau sore lapar. Dah jangan sungkan, ambil aja!"
"Ta—"
"Udah nurut aja bro, lagian kapan lagi dapat cemilan kayak gini. Makasih ya tante." seru Galen menerima pemberian Haura.
"Cih, mereka ngomong sama Mama kamu lebay banget." ucap Deon tiba-tiba berdiri disamping Azza. Azza menoleh kearah Papanya.
"Wow, calm down Pa...Lagian itu rekan bisnis Papa kok," ucapnya sambil memandang mereka bertiga dari jauh.
"Sejak kapan kalian pacaran?" Deon menatap curiga kearah putrinya.
"Azza dengan dia nggak pacaran Pa, Mama aja salah artiin."
"Tadi dia bilang..."
"Mama, Papa manggil!" seru Azza sambil tersenyum seringai menatap Papanya. Percuma menjelaskan semuanya, orang tuanya juga tidak akan percaya. Azza berlari mendekati Mamanya.
"Kenapa?" tanya Mama masih memandang mobil Khaizan sudah menjauh dari perkarangan rumah mereka.
"Itu Papa manggil, kayaknya Papa lagi cemburu." ledeknya sambil berbisik menatap Papanya dari jauh. Haura menggeleng-geleng melihat kelakuan suaminya.
"Ya ampun, Papa kamu manja betol. Udah sana, kamu mandi, kamu bau!"
"Hah? Azza masih wangi kok Ma," Azza mencium aroma tubuhnya, tetapi tidak bau. "Maa...nggak ada bau."
"Bau loh, cepat mandi sana!"
"Iyaa deh." jawabnya pasrah berjalan menuju kamarnya.
***
"Azek cemilan dari camer nich, bagi dong!" ledeknya sambil meraih kotak yang dipegang Khaizan. Khaizan mendelik lalu memberikannya pada Galen.
"Tuh, makan sampai kotaknya sekalian!" juteknya sambil melonggarkan dasinya. Galen hanya terkekeh pelan, dengan sukarela dia langsung merampas kotak itu dari tangan Khaizan.
"Yakin nih? Padahal lo tadi happy kiyowo banget loh ketemu sama dia. Ternyata liat langsung cantik loh dia, kalau lo nggak mau sama dia biar bu—" Galen cengegesan melihat raut masam Khaizan.
"Kalau suka bilang langsung bro, sebelum direbut yang lain."
Khaizan memutar bola matanya malas, ia lebih memilih melihat jalanan dibandingkan meladeni sahabatnya yang satu itu. Lirikan pria itu sekilas menatap kotak yang diberikan Haura tadi, entah apa yang dipikirkannya hanya dirinya yang tahu.
"Oiya, Khai ini." Galen menyerahkan sebuah flashdisk padanya, Khaizan mengernyit bingung menatap benda kecil itu.
"Apa nih?"
"Ini orang yang nyuruh perawat itu untuk bunuh Azza. Benar kata lo, ini ada sangkut pautnya sama Algha, tapi gue masih belum pasti kenapa adik lo berurusan dengan orang berbahaya seperti dia."
"Lo liat aja sendiri nanti, gue yakin lo tau siapa orangnya. Gue hanya bisa sampai sini aja melacak datanya, nggak lengkap semua sih cuma bisa bantu lo tau tentang dia." jelasnya.
"Hm," Khaizan menggenggam flashdisk itu, persoalan adiknya masih menjadi tanda tanya besar untuknya. Terutama keselamatan nyawa gadis itu sekarang sudah jelas tidak aman. Ia yakin pasti akan terjadi sesuatu lagi pada gadis itu. Tapi, tunggu kenapa dia memperdulikannya?
"Fu**!" umpatnya membuat Galen menoleh heran kearahnya.
"Woi, calm down!"
Malamnya, Khaizan duduk dikursinya sambil menghidupkan laptopnya. Pria itu langsung memasukkan flashdisk tadi kedalam laptopnya dan membuka file itu. Matanya membulat sempurna saat mengetahui orang itu. "Lalu dia ada dimana sekarang sialan?!"
***
Azza menggosok bajunya yang tinggal sedikit, sambil menyeka keringatnya ia menonton drama yang ada diponselnya.
"Azza!"
Kepalanya menoleh kebelakang dan bingung melihat kakaknya berlari kearahnya. "Sini ikut gue!" ajak Alze serius. Azza kebingungan melihat raut kakaknya, ia pun mengikuti kakaknya ke teras rumah.
"Lo ada musuh?" tanya Alze membuat Azza terkejut.
"Hah? Gue nggak ada jahatin orang kak, kenapa Lo tiba-tiba ngomong gini?"
"Liat!" serunya sambil menunjukkan gambar yang ada didalam ponselnya. Azza terkejut bukan main, ruangan yang ada didalam foto diponsel Alze adalah ruangan ekskul gitarnya yang terlihat berantakan dan banyak darah dimana-mana.
"I-Ini dari siapa kak?"
"Gue nggak tau, tapi pokoknya lo jangan ke kampus dulu. Gue yakin lo bakalan disalahin karena itu ruangan milik lo kan?"
"Tapi sumpah kak, itu bukan gu—"
"Gue percaya kok, itu bukan lo Azza. Gue nggak bakalan biarin lo dalam masalah, jangan keluar dari rumah besok!" titahnya berjalan meninggalkan Azza yang terlihat linglung menatap langit.
"Apa maksudnya semua ini?"
Ponsel Azza bergetar, ada nomor yang tidak dikenal menelponnya. Tangan Azza menggigil bukan main, ia mematikan ponselnya dan masuk kedalam kamarnya.
Gadis itu langsung merebahkan dirinya dikasur dengan perasaan kalut dan cemas. Ia tidak tahu apa yang harus lakukan saat ini, tetapi ia juga tidak bisa diam mengurung dirumahnya. Bisa jadi adik-adik tingkatnya juga kena imbas dalam masalah itu.
"Siapa sih orang brengsek itu huh? Apa sih masalahnya sama gue?"
Tok...tok!
Azza terkejut, ia menoleh kearah jendela kamarnya. Awalnya ia mengira hanya halusinasi saja, namun ia kembali mendengar suara ketukan membuatnya semakin takut. Tetapi, Azza juga penasaran, dengan sedikit memberanikan diri mendekati jendela kamarnya sambil membawa gunting ditangannya. Ia langsung menyibak gorden dan tidak menemukan siapapun diluar.
Dengan memberanikan diri Azza membuka jendela kamarnya dan melirik sekitarnya sana. Tetapi, ia tidak menemukan apapun diluar sana. Azza kembali mengunci jendela kamarnya dan menutup gordennya. Azza perlahan-lahan menjauh dari jendela kamar itu.
"Hummmph!" Mulut Azza langsung dibungkam oleh seseorang dibelakangnya. Ia memberontak berusaha lepas agar bisa memanggil keluarganya. Namun, tenaganya kalah kuat oleh pria asing bermasker itu.
"Diam! Ini gue," ucap pria itu membuat Azza berhenti memberontak.
"Khaizan?"
"Hm, diam dulu." ucap pria itu melepaskan Azza dan berjalan mendekati jendela.
"Apa-apaan lo huh? Gue bakalan teriak kalau lo nggak keluar dari sini!"
Pria itu berbalik sambil membuka maskernya. "Nggak usah teriak bego, lo dalam bahaya bodoh!"
"Ck, apalagi ini? Kenapa semua orang bilang gue dalam bahaya sih? Emangnya ada apa?!" Azza frustrasi.