
Galen dibuat merinding dengan sosok Khaizan yang menampilkan senyum hangat pada semua orang. Begitu juga dengan semua karyawan di kantor yang ikut syok melihat perubahan Khaizan. Awalnya mereka senang walaupun tidak tahu apa penyebab pria itu menebarkan pesona yang tidak biasa, namun sekejap langsung berubah seperti semula saat rapat kali ini tidak memuaskan hati sang bos besar.
Plaak.
"Presentasi apa ini? Bukannya udah dibilang dari kemarin saya mau cari yang baru bukan jadul kayak gini!" cercanya menatap tajam pad semua orang yang ada di ruangan.
Galen menghela napas, baru saja dirinya memuji eh balik lagi ke habitat semula.
Memang aneh nih orang, plin-plan betul. ucapnya hanya bisa ia ucapkan dalam hati.
Khaizan memijit dahinya, melihat hasil kinerja karyawannya yang tidak ada kemajuan dari sebelumnya membuatnya sakit kepala. "Kenapa kalian diam? Nggak ada yang mau nyanggah? Kayak gini kerja kalian?"
"Jawab saya! Saya ngomong sama dinding ya?!"
Semuanya menunduk ketakutan, tidak ada yang berani menjadi samsak amarah pria itu, berhadapan dengan Khaizan memang harus siapkan mental yang kuat. Tatapan pria itu mendadak melunak saat matanya tanpa sengaja melihat notif dari seseorang. Senyumnya sekilas terbit membaca chat tersebut dari Azza.
Azza
Tolong jemput gue ya di Kampus, soalnya mobil gue tadi mogok, udah gue telpon orang bengkelnya kesini, tapi kepala gue lagi pusing banget. Cepatan jemputnya ya.
"Ya udah kita cukupkan sampai disini, saya ada urusan. Kalian semua harus revisi lagi!" serunya sebelum meninggalkan rapat. Semuanya melongo mendengar cara bicara bosnya barusan, bahkan Galen gelagapan mengejar sahabatnya yang sudah terlebih dahulu menghilang dari ruangan itu.
"Khai tunggu!" serunya membuat siempunya nama menoleh kearahnya.
"Apa?"
"Lo mau kemana? Bentar lagi kita ada rapat dengan klien di Cafe."
"Nggak, batalin aja." jawabnya santai membuat Galen melotot.
"What? Seriusan?! Padahal gue udah capek-capek lo bujuk mereka biar mau negosiasi."
"Ya udah tinggal minta maaf trus ganti rugi, selesai kan?" serunya masuk kedalam lift meninggalkan Galen yang mencak-mencak sendiri.
"Cih, Khai ta—Akhh mau resign aja gue!" gerutunya terpaksa menghubungi klien untuk mengudurkan waktu rapatnya.
***
Azza memandang kearah dedaun yang berjatuhan, ia menikmati angin yang menerpa wajahnya. Tenang dan tidak ada suara kebisingan membuat kepalanya yang sempat pusing tadi kini sudah berkurang.
"Nggak biasanya mobil lo mogok Za." ucap Lulu sambil memakan eskrim ditangannya.
Azza menggeleng heran, ini sahabatnya kok makin hari makin doyan makan. Apa mungkin efek dari kehamilannya? "Ya Ampun Lu, duduk kalau makan tuh." ucapnya gemas menarik wanita itu agar duduk disampingnya.
"Iya...iya, eh btw kapan suami lo jemput Za?"
"Bentar lagi keknya, kenapa?"
"Itu, gue sebenarnya mau ngajak lo beli baju daster gitu. Sumpah ya sejak nih perut dah mulai keliatan besar, gue kesusahan milih baju yang longgar." Serunya sambil mengelus perutnya dengan sayang dibalik jaket hitamnya. Untuk saat ini, Lulu masih takut membiarkan orang mengetahui perihal kehamilannya.
Azza berdecak pelan, "Kenapa nggak bilang daritadi, kalau tau gitu gue nggak nelpon Khai."
"Ya maaf, gue ragu tadi mau bilang ke elo atau nggak. Eh itu suami lo Za!" serunya saat menyadari Khaizan berjalan menghampiri mereka. Azza terperanjat kaget, ia masih belum terbiasa dengan perubahan Khaizan yang tiba-tiba mendadak aneh.
"Yok!" ajak pria itu menatap Azza, sedangkan yang diajak hanya menunduk tidak ingin bertatapan langsung dengan Khaizan.
"Muka gue ditanah ya?" sindirnya langsung menyamakan tingginya dengan Azza. Napas Azza seketika berhenti, spontan ia mendongak menatap wajah Khaizan yang terlalu dekat dengannya.
"Ehem, gue masih ada disini, kalau kalian lupa." seru Lulu membuyarkan pandangan mereka. Azza langsung menjauh dan mendekati Lulu.
"Khai, lo mau bantuin gue nggak?"
"Bantuin apa?" tanyanya penasaran, jarang sekali istrinya ini meminta bantuan padanya.
"Azza, ini beneran lo kan?" tanya seseorang membuat pandangan Khaizan teralih kearahnya.
"Iya, ini siapa?"
"Masa lo nggak ingat? Gue Alman loh."
"Alman? Ooo Al?! Astaga lo makin ganteng woi!" seru Azza memekik senang sambil bertos ria dengan pria yang bernama Alman itu.
"Cih, kok lo bisa lupa gue sih? Mentang-mentang nggak satu kampus lo lupain aja."
Azza tersipu malu. "Hehehe maap Al, gue sibuk banget akhir-akhir ini. Eh iya lo sama siapa kesini? Mau beli apa?" tanyanya menyadari jika Alman sendirian disini.
"Sendiri dong, gue mah masih jomblo Za."
"Ya ampun, lo masih berpegang teguh nggak pacaran ya, ckckck kalau kek gitu kapan dapat jodohnya woi!" serunya memukul pelan lengan pria itu.
Alman meringis sambil mengelus lengannya yang habis dipukul Azza. "Sakit woi, ya gue udah ketemu sekarang."
Azza terdiam, menatap pria itu tidak percaya. "Sumpah?? Siapa Al?"
Alman menatap lurus kearah Azza sambil tersenyum samar ia menjawab dengan tenang. "Ra-ha-sia."
"Ck, Lo nggak asik banget. Btw kalau udah mau nikah undang gue ya, eh iya gue hampir lupa sekitar. Kenalin ini sahabat gue Lulu." serunya memperkenalkan Lulu pada Alman.
"Gue Alman," ucapnya sambim menjabat tangan Lulu.
"Lulu."
"Lo cantik banget ya kayak bidadari." pujinya membuat Azza mencebik menatapnya.
"Nggak usah menggombal sialan, dia udah ada pawang!"
"Yah, baru aja mau pdkt."
"Cih, katanya udah ketemu jodoh masa selingkuh juga lagi. Parah lo!"
Azza sepertinya melupakan seseorang yang tengah menatapnya tajam. Orang itu mencengkram kuat kantong belanjaan yang daritadi ia tenteng mengikuti kedua gadis itu.
Sialan nih orang sok akrab dengan istri gue!
Pria itu semakin jengkel melihat tawa Azza bukan untuk dirinya melainkan pria brengsek yang entah dari mana munculnya tadi. Kenapa semua perempuan sangat menyebalkan?! Apa mereka tidak bisa tersenyum hanya pada satu pria saja?
Woi lo udah nikah loh Azza, suami lo disini woi! Astaga tuh cewek nggak nyadar apa gue daritadi ngekori dia mulu?!.
Azza masih tertawa sambil menceritakan masa mereka sekolah dulu dengan Alman. Begitu juga dengan Lulu yang kini sudah mulai akrab dengan mereka.
Mata Khaizan membelalak saat melihat pria sialan itu dengan santai merangkul Azza. Lulu yang tidak sengaja melirik kebelakang langsung tersentak. Dirinya seketika pucat menyadari jika mereka bukan bertiga melainkan berempat. Lulu terlihat ketar-ketir melihat wajah seram suami Azza, tapi target yang dituju tidak peka sama sekali.
Lulu dengan sengaja menyenggol lengan Azza. "Za," bisiknya.
"Hm?" tanya Azza bingung mihat raut pucat sahabatnya. "Lu, lo pucat. Lo baik-baik aja kan?"
"Aha gue baik, tapi gue mau bisik ke elo bentar." Azza mendekatkan telinganya pada Lulu.
"Lo lupa kalau suami lo ngikutin dibelakang?"
Deg.
Mampuslah, kenapa bisa gue lupa kalau Khaizan ada disini??