
Suasana semakin menegang sejak Ansel menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Entah kenapa pria itu merasa dendam melirik kearah Azza, hanya isi hati pria itu sendiri yang tahu. Tatapan hangat yang sering ditunjukkan Ansel kini menghilang menjadi tatapan dingin. Azza tidak mengerti apa yang membuat pria itu membencinya?
"Ck, Azza...Azza, lo ngapa sih berurusan dengan cowok brengsek nih?" bentaknya menunjuk kearah Khaizan.
Oh jadi bukan sama gue dendamnya toh, tapi apa hubungannya dengan Khaizan? Mereka saling kenal?
Khaizan tersenyum miring, ia tidak memperdulikan ocehan pria yang kini menatapnya dingin. Pria itu langsung mengambil tempat disamping Azza dan merangkul bahu gadis itu. Sontak membuat Azza terkejut bukan main melirik tajam kearahnya. "Apa-apaan ini?!" bisiknya kesal.
Khaizan mencondongkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Azza, ia pun berbisik tepat ditelinga Azza. "Diam aja dulu, kalau lo mau selamat." bisiknya lalu menatap pria itu sambil tersenyum puas.
"Brengsek, lepaskan Azza!" cerca Ansel berjalan kearah mereka. Namun, belum langkah kaki pria itu sampai, Khaizan langsung menembak kaki kiri pria itu hingga ia tersungkur.
"Aakhh! Sialan! Brengsek!" umpatan terus dilontarkan Ansel sambil meringis memegang kakinya. Khaizan terkekeh pelan sedangkan Azza lagi-lagi harus melihat tembakan itu didepan matanya sendiri. Oh Tuhan selamatkan hambamu ini dari situasi gila ini, aku mau pulang!
Khaizan melirik tangan Azza yang terlihat menggigil, pria itu melepaskan rangkulannya dan berjalan mendekati Ansel. Pria itu menyamakan tingginya dengan Ansel sambil memegang kuat kaki Ansel yang terluka tadi.
"Akhhhh sakiit sialan!"
"Huh, akhirnya lo tau juga rasa sakit itu bodoh. Dengan gampangnya lo bunuh saudara gue sialan!" geramnya menampar kuat wajah Ansel hingga ujung bibir pria itu mengeluarkan darah.
"Khaizan cukup!" cegah Azza sebelum pria itu semakin brutal. Melihat amarah Khaizan yang tiba-tiba membuncah membuatnya ia sulit mempercayai fakta yang baru saja ia dengar. Fakta bahwa Ansel yang membunuh Algha.
***
Lulu menggeleng-geleng kepala melihat sahabatnya akhir-akhir ini banyak termenung. Ia membawa jus jeruk kesukaan Azza dan memberikan pada gadis itu.
"Nih buat lo."
"Eh? Gue nggak ada mesan." Azza menatap bingung, Lulu hanya menghela napas sejenak lalu menatap serius kearah Azza.
"Lo ada masalah lagi hm? Akhir-akhir ini lo banyak melamun bestie, kalau memang ada masalah lagi cerita ke gue, gue siap dengarin curhatan lo kok." Lulu berusaha meyakinkan Azza agar keluar dari zona keterpurukannya. Lulu merasa kasihan melihat semua masalah datang bertubi-tubi pada Azza.
Azza terdiam, sebenarnya ia juga tidak ingin merahasiakan masalahnya dari Lulu, hanya saja ia bingung mau cerita dari mana. Tiba-tiba ingatan Azza terlintas kejadian di rumah tua itu, sungguh ia begitu ketakutan melihat dua lelaki saling menghajar babi buta satu sama lain. Ia pun waktu itu tidak bisa meleraikan mereka berdua, Azza cukup tahu diri karena badannya kurus.
Beruntung, polisi datang menghentikan aksi mereka, entah dari mana polisi ini mendapatkan laporan, tetapi ia sangat bersyukur semuanya terselesaikan. Hanya saja hukum tetaplah hukum, Khaizan mendapat sangsi begitu juga dengan Ansel. Azza menghela napas sejenak sambil mengusap wajahnya kasar. "Sialan, kenapa harus dia?!"
"Hah? Dia siapa?" tanya Lulu heran, tidak ada angin tidak ada hujan gadis itu tiba-tiba mengumpat.
"Huft, ck Ansel." jawabnya ketus, seolah-olah enggan menyembutkan nama pria brengsek itu.
"Ansel? Kenapa bocah tuh?"
"Jangan pernah dekatin dia, dia udah buat kehidupan gue kacau dari dulu." ucap Azza dingin. Tetapi, dirinya sedikit lega karena penduduk di kampusnya ini sudah tidak lagi memperdulikan beritanya, walaupun masih ada segelintiran orang masih membahasnya. Entah kenapa Azza kembali mengingat sosok Khaizan yang menolongnya saat keja—
Braak.
"Azza!" pekik Lulu membuat seisi kantin menoleh kearah mereka. Azza tersenyum kikuk sambil meminta maaf pada mereka semua, barulah duduk ditempatnya.
"Bego, ngapain lo hentak mej?" gemasnya menatap kearah Azza.
Azza langsung duduk mendekat dengan Lulu. "Ck, lo aja yang teriak-teriak woi bukan gue."
***
Azza melempar tasnya sembarangan, hari ini cukup lelah baginya memikirkan banyaknya tugas menumpuk ditambah lagi beban pikirannya perihal Khaizan. Bisa-bisanya ia kagum dengan pria yang merupakan mantan calon kakak iparnya itu.
"Huwah sialan, dia nyeret gue dalam masalah masa iya gue kagum?! Gila nih otak, nggak beres!"
"Otak siapa yang nggak beres?" tanya seseorang membuat Azza tersentak berbalik menatap orang itu tengah duduk santai dikursinya. Mata Azza membulat mendapati kakak iparnya berada disana.
"Kak Anggi lo disini? Sejak kapan?"
Anggi terkekeh. "Sejak lo ngomel-ngomel nggak jelas pas datang tadi."
"Ih gue malu kak!"
"Ahaha santai...santai, btw siapa sih cowok yang buat lo kepikiran? Penasaran gue." Anggi menampilkan senyum jailnya.
"Bukan siapa-siapa kak, hanya orang asing dan gue terlibat disana."
Azza mencebik, kakak iparnya ini sudah menikah dengan kakaknya. Bisa-bisanya ibu dua anak itu masih memikirkan pria lain. "Jangan banyak halu kak, Kak Sam udah tampan gitu lo anggurin."
"Idih, suami gue memang tampan yaa...tapi kalau buat cuci mata gue butuh cowok-cowok muda."
"Dasar sialan, cepat ngomong lo kesini mau apa kak? Gue yakin lo nggak cuma duduk manis doang."
"That's right! Ulululu adik ipar gue makin pinter aja baca situasi. Nih sini dekat gue!" serunya sambil menepuk kasur disamping kursi yang ia duduki. Azza berjalan mendekati Anggi dan duduk disampingnya.
"Kenapa?"
"Loh kok nanya kenapa sih, ini gue mau bilang sesuatu, tapi kayaknya lo udah dapat duluan."
"Dapat apa nih?"
"Itu loh laki!"
"Laki?"
"Cih, calon beb...calon suami lo." kesalnya tetapi ia harus sabar menghadapi Azza.
"Ooo ya trus kenapa lo bilangin gue udah dapat?" tanyanya sambil makan kacang-kacangan.
"Gue kesini mau ngomongin soal perjodohan lo, mau tak mau lo harus ada pilihan Za."
Azza menghela napas sejenak. "Huft, gue aja belum ada niatan mau nikah dulu kak."
"Coba aja dulu, siapa tau kalian cocok."
"Cih kak, jangan ikutan juga dong jodoh-jodohin gue. Gue masih butuh waktu."
Anggi mendekap tangannya, menatap lurus kearah adik iparnya itu. "Sampai kapan?"
"Entahlah."
"Huft...gue tantang lo!"
Dahi Azza mengerut, apalagi yang direncanakan kakak iparnya yang satu ini? Perasaannya tiba-tiba tidak enak melihat raut sumringah Anggi. "Jangan aneh-aneh kak!" gerutunya sambil menghempaskan dirinya dikasur.
"Temuin gue dong sama cowok yang ada dipikiran lo!" serunya membuat Azza membelalak.
"Hah? Gue nggak salah dengar kak? Lo mau temuin Khaizan?!" pekiknya tanpa sadar keceplosan menyebut nama Khaizan. Sontak hal itu membuat senyuman Anggi semakin mengembang.
"Oh jadi namanya Khaizan, gila keren banget namanya."
Azza mengumpat dalam hatinya. Dasar mulut nggak tau diri, bisa-bisanya lo nyebut nama pria brengsek itu. Lihat? Kakaknya ini pasti bakalan heboh membeberkannya pada seisi rumah. Dan benar saja, belum sempat Azza mengklarifikasi ucapannya, Anggi dengan cepat keluar dari kamarnya. Mau tak mau Azza harus mengejar kakak iparnya itu.
"Kak Anggi tunggu!"
"Nggak, bleeh...." Anggi tertawa riang berlari menjauh, namun langkahnya mendadak berhenti saat melihat sesuatu didepan matanya. Azza yang terkejut melihat kakak iparnya mendadak berhenti, ia pun tidak sempat berhenti dan menubruk kakaknya.
"Azza!"
Azza menyengir pelan. "Sorry...sorry, ya lo sih pakai dadakan berhenti. Kenapa sih?"
Anggi tersadar, lalu menunjuk kearah depan. "Ada cowok tampan woi!" pekiknya pelan sambil memukul pundak Azza pelan berkali-kali.
"Ih sakit kak, ingat loh lo udah ada suami. Manalagi udah punya anak!"
"Iya... iya, aman tuh, kan gue cuma bilang doang."
"Btw, siapa yang lo maksud kak?" tanya Azza bingung karena Azza sama sekai belum ada melihat orang yang disebut tampan oleh Anggi. Anggi berdecak pelan, lalu menggeser posisinya dibelakang Azza.
"Nih liat!"
Deg.
Mata Azza melebar sempurna melihat orang itu tengah tersenyum tipis padanya. Sialan, dunia sepertinya tidak berpihak padanya hari ini. "Khaizan?!" pekiknya spontan.