
Dua jam sebelum Khaizan sampai ditempat tadi, ia terus mengumpat kasar. Pria itu melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata, celingak-celinguk mencari tempat Azza berada. "Kenapa lo trus sasaran orang jahat Za? Kenapa?" lirihnya bingung. Ia baru menyadari jika istrinya selalu saja mendapatkan masalah sejak dekat dengannya, tidak lebih tepatnya Algha. Huft, sungguh melelahkan. Ia ingin hidup normal seperti umumnya, ia tidak ingin terlibat masalah seperti Algha yang harus mengorbankan nyawanya.
Tibalah Khaizan didepan gang jalan sesuai titik lokasi Azza berada. Diam-diam ia mengendap masuk kedalam semak agar tidak dicurigai penjaga yang ada di sana. Bisa dihitung jika jumlah mereka hanya lima orang yang berada disana. Khaizan tersenyum miring, ia sudah punya rencana untuk membekap mereka.
Khaizan mendekati salah satu penjaga yang terdekat untuk ia bekap dulu. Saat pria itu lengah membelakangi Khaizan, disitu Khaizan langsung memukul tengkuk lehernya hingga pingsan. Setelah itu menariknya masuk kedalam semak agar yang lainnya tidak curiga. "Okay, one done." ucapnya lalu melirik lagi situasi disana.
Terlihat ada tiga yang tengah bermain kartu dekat pintu masuk. Sedangkan yang duanya lagi tengah menikmati kopi duduk di dibawah pohon. Khaizan harus mengalihkan perhatian salah satu diantara dua orang itu tadi, ia mengambil botol kaca yang ada di dekatnya lalu melempar jauh dari tempat dua pria itu tadi.
Pyaar!
Keduanya langsung saling menoleh. "Suara apa itu tadi?" tanyanya.
"Nggak tau, coba kau cek!" pinta pria disebelahnya.
"Ck, kenapa nggak kau cek aja sendiri? Aku trus dari tadi."
"Cih, harus aku pula? Aku kan udah buat gadis itu kesini!"
"Cuih," Sesuai dugaan Khaizan, salah satu dari mereka berjalan kearah sumber suara pecahan botol tadi. Khaizan berjalan mendekati pria itu dan melakukan hal yang sama dengan pria sebelumnya.
"Ck, berat kali!" gerutunya memindahkan tubuh pria itu masuk kedalam semak. Sekarang ia menunggu pria yang masih duduk disana datang kemari. "Teman lo nggak balik-balik nih, lo pasti ngecek kesini kan?" ledeknya mengamati pria itu. Benar saja, merasa temannya lama sekali pergi membuatnya berjalan menuju tempat pecahan botol tadi.
Bruuk!
Khaizan lagi-lagi harus memindahkan pria itu masuk kedalam semak. "Huft, tinggal tiga orang lagi." serunya sambil merenggangkan ototnya. Tidak seperti tiga pria yang terkapar dibalik semak tadi, kini ia berjalan mendekati ketiganya. Ketiga pria itu terkejut dengan kedatangan Khaizan dan langsung menghadang jalannya.
"Kau siapa?!"
"Kenapa bisa sampai disini?!"
Tanpa basa-basi Khaizan langsung menghajar mereka dengan brutal tanpa memberikan aba-aba pada mereka. Semuanya kewalahan menghadapi serangan Khaizan hingga semuanya tidak sanggup lagi melawan Khaizan.
"Khai!" teriak seseorang membuat Khaizan menoleh kebelakang.
"Baguslah lo disini Gal, sisanya lo urus ya!" serunya langsung berlari masuk kedalam rumah itu.
"Huft, sialan tuh anak. Semuanya ikat mereka!" seru Galen menatap tajam kearah tiga pria itu.
***
Khaizan berlari mencari ruangan dimana Azza berada. Ia menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara merdu di ujung ruangan sana. Khaizan menyeka air matanya yang sempat jatuh tanpa seizinnya, pria itu langsung mendobrak pintu itu.
Kedua pria didalam terkejut dengan kedatangan Khaizan. Sedangkan Khaizan langsung melirik istrinya yang tengah memainkan gitar, tetapi ia langsung menggertakkan rahangnya saat menyadari jika baju yang dikenakan Azza tembus pandang karena basah. "Brengsek, beraninya kalian!" umpatnya langsung menghajar mereka habis-habisan hingga babak belur. Khaizan langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Untung aku belum terlambat, sayang." lirih Khaizan hampir menangis mengeratkan pelukannya.
Azza langsung berbalik badan dan memeluk pria itu erat. Setelah itu langsung memukul pelan dada pria itu. "Sialan, lo buat gue takut Khai!" gerutu Azza itu.
"Tenang...tenang aku udah disini sayang." Khaizan melepaskan jas nya dan membuka satu persatu kancing baju Azza. Sontak Azza melotot tajam sambil menepis tangan suaminya.
"Apa yang lo lakuin?!" pekiknya.
"Baju kamu basah, cih apalagi nih baju tembus pandang. Udah berapa lama mereka liat hm?" gerutunya kesal.
Azza terkekeh pelan, ia mengelus kepala suaminya. "Gue lagi bertahan hidup tadi Khai, gue udah nggak peduli lagi orang tuh melototi tubuh gue. Untung lo cepat datang, kalau tidak gu—" Khaizan langsung membekap mulut istrinya.
"Udah...udah nggak usah dibahas lagi. Kamu buka baju dulu trus pakai jas aku." pinta pria itu langsung dituruti Azza.
"Lo jangan liatin gue kek gitu!" gerutunya melihat suaminya terus memandanginya tanpa kedip.
Plaak.
"Khaizan!!!"
***
Khaizan sibuk menyetir mobilnya sedangkan Azza sudah tertidur dari tadi. Pria itu mengelus kepala istrinya dengan sayang, lalu menggenggam tangan Azza. Namun tidak lama, karena ia harus menaikkan gigi mobil agar kecepatan mobilnya tetap stabil.
Khaizan melirik ada sebuah restoran didekat sana, langsung saja ia memutar stir mobilnya menuju restoran tersebut. Khaizan tidak tega membangunkannya istrinya, memutuskan untuk untuk take away. Setelah itu, ia melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Azza yang merasa terganggu tidurnya, ia membuka matanya perlahan dan melihat disekitarnya. "Hmm kita kemana Khai?" tanyanya saat melihat laut didepannya.
Khaizan melepaskan seltbelt-nya. "Yok turun!" ajaknya sambil membawa dua bungkus ditangannya. Azza menurut, ia duduk diatas karpet mobil yang sudah disediakan suaminya.
"Nggak ada karpet," ucap pria itu.
"Hahaha kreatif, it's okay." seru Azza langsung menyerobot kantong yang dibawa Khaizan tadi.
"Uhuuy, bistik daging dong!" pekiknya senang melihat isi kotak itu.
"Enak kan?" tanya Khaizan sambil mengelap sudut bibir istrinya.
"Hmm." Azza begitu lahap makan, entah karena lapar atau memang enak yang penting dirinya senang.
Azza mengambil ponsel Khaizan dan mengabadikan moment ini. Tak lupa ia mengajak suaminya foto bersama. "Iih lo lucu amat." serunya gemas memandang wajah suaminya.
Khaizan cemberut langsung mencium bibir istrinya singkat. "Aku nggak mau dengar kamu pakai 'gue lo' lagi."
Azza menoleh. "Lah kok gitu? Gu—" Khaizan lagi-lagi mencium bibirnya, membuat Azza langsung menjauh dari Khaizan.
"Astaga Khai, kok lo—" Azza langsung membukam mulutnya sendiri sebelum Khaizan mendekat. "Iya...iya aku bakalan pakai 'aku kamu'!"
"Nah bagus, kan enak dengarnya sayang."
Mendengar panggilan sayang membuat Azza semakin tersipu malu. Hal itu terlihat oleh Khaizan sendiri yang gemas melihat tingkah istrinya. "Cepat habiskan, bentar lagi mau malam."
"Ya trus kenapa? Kan nggak papa kalau kita agak lama disini Khai."
"Kamu mau main disini?" tanyanya ambigu membuat kening Azza mengerut.
"Main? Kamu mau main apa emangnya?"
"Ck, itu loooh... perlu aku jelaskan lagi hm?" serunya melihat kearah jas yang dikenakan istrinya. Seolah paham dengan maksud suaminya, Azza melotot tajam.
"Gilaa, aku kira main apa tadi. Ck, Khai ini bukan kamu banget! Kamu pasti salah makan kan?"
"Huh? Aku salah makan? Iyaa...ini bistiknya nggak seenak kamu. Aku mau makan kamu ajalah." ucapnya tentu membuat Azza syok.
"Astaga, ini bukan lo—Kamu banget Khai!" gerutunya masuk kedalam mobil, ia tidak bisa lagi mendengar gombalan suaminya yang sangat diluar nalarnya. Melihat hal itu sontak Khaizan tertawa terbahak-bahak.
"Gemasnya..." Senyumnya merekah, namun tidak lama karena mendengar suara dering ponselnya.
"Hm?"
"Buat dia masuk penjara, bagaimanapun juga. Gue nggak mau dia menganggu istri gue lagi!" serunya mematikan ponsel itu sepihak. Khaizan menghela napas pelan, lalu membereskan sisa makanan mereka tadi masuk kedalam kantong plastik dan membuangnya ditempat sampah. Setelah itu, barulah ia mengangkut karpet yang ia keluarkan tadi masuk kedalam mobil.
"Saya—Ck, baru bentar ditinggal dah tidur aja?!" gerutunya hanya bisa menghela napas pelan melihat Azza sudah tertidur pulas lagi.