
"Sial, apa sih yang diketawainnya huh? Pulanglah gue nggak waras nih cewek!" gerutunya merampas jas dan kunci mobilnya. Pria itu tergesa-gesa pulang dengan perasaan jengkel, bahkan semua orang di perusahaannya tidak ada yang berani menatap ataupun menyapanya. Mereka takut akan menjadi samsak pelampiasan emosi Khaizan, lihatlah tidak hanya berlaku untuk manusia, benda pun ikut menjadi korban. Khaizan berkali-kali memencet tombol lift agar segera terbuka.
"Sial, nih besok lift ganti aja!" bentaknya sambil menendang pintu lift.
Galen hanya diam menatap dari kejauhan, mendekati Khaizan akan sama saja mengantarkan nyawa dihadapan pria itu. Ia pun hanya bisa menghela napas melihat mood Khaizan.
"Pak, nggak ikut Pak Khaizan?" tanya salah satu karyawannya menatap Galen. Galen tertawa sumbang.
"Masih sayang nyawa," jawabnya santai berjalan menuju ruangannya.
Khaizan menghentakkan kakinya kesal, lift nya ini memang memancing emosinya. Ia sudah begitu penasaran apa yang dilihat Azza hingga membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak. "Emang file gue ada yang lucu?" gumamnya lagi.
Akhirnya pintu lift terbuka, Khaizan langsung berlari menuju mobilnya dan melaju menuju rumah.
***
Azza baru saja sampai di rumah ini, gadis itu berjalan kearah dapur dan mengambil air mineral didalam kulkas.
"Eh, non dah pulang? Mau Bibi buatkan teh?" tawar Bibi.
"Nggak usah Bi, makasih. Aku langsung ke kamar ya Bi," pamitnya berjalan menuju kamarnya. Azza merebahkan dirinya dikasur. Azza tiba-tiba teringat dengan file suaminya tadi yang sudah ia salin. Dengan cepat ia membuka laptop dan membuka file itu. Awalnya data-data formal seputar identitasnya saja, namun ada satu folder yang membuatnya tertarik untuk membukanya.
"Buahaha anjir aib dia nih woi?!" gelaknya cekikikan, ia semakin tertawa terbahak-bahak melihat begitu banyak foto-foto aib Khaizan ada disini.
"Ya Allah ampuni dosa hamba mu ini, buahaha ngakak cowok yang sok cool gitu ternyata pernah pakai dasteran?!"
"Ini lagi, ya ampun dia pernah jatuh di parit Mall. Eh ada video juga nih." serunya semangat memutar video itu.
"Anjiir buahahaha, dia ke sekolah lupa pakai celana?!" Sampai-sampai Azza menitikkan air mata. Mata Azza membulat saat mendengar suara mobil diluar.
"Jangan bilang itu Khaizan, eh tapi jam segini kok udah pulang?" gumamnya bingung tetapi, firasatnya mengatakan harus segera mematikan laptopnya segera dan benar saja suara decitan sepatu mulai terdengar mendekati kamarnya, Azza menyimpan flashdisknya didalam ranselnya dan pura-pura menonton film komedi.
"Buahahah lucu!" serunya melihat adegan kartun yang ditayangkan, padahal yang sebenarnya ia tertawakan adalah video Khaizan tadi.
Braak.
"Eh kaget!" seru Azza pura-pura tapi sialnya ia sulit menahan senyum setiap melihat Khaizan, ia akan teringat kembali dengan foto-foto aib suaminya itu.
"Apa yang lucu huh?" kesalnya mendekati istrinya, cepat-cepat pulang hanya ingin tahu istrinya ternyata menonton film kartun?! Wah, Khaizan seperti merasa dikerjai oleh gadis ini.
"Kenapa?" tanya Azza lagi.
Azza bego, tahan...tahan jangan ketawa. Buahaha anjir ngakak kali liat mukanya.
"Lo ngapain senyam-senyum gitu? Dah gila?" tanyanya jengkel.
Azza tergelak pelan. "Kartunnya lucu tuh iya gue ketawa. Kalau gue nggak ketawa entar dibilang ada kelainan lagi."
"Apasih masih nonton kartun, dah besar juga." ledeknya sambil membuka jam tangannya.
"Suka-suka gue lah." gerutunya.
Khaizan pun langsung merebahkan dirinya disamping Azza.
"Kenapa lo baring disini?" tanya Azza bingung sekaligus menahan senyum.
"Ya suka-suka gue lah, lagian lo ngapa sih aneh banget dari tadi? Ada yang salah dimuka gue?" tanya Khaizan merasa istrinya ini bukan senyam-senyum dengan film kartunnya melainkan dirinya. Khaizan menelisik tubuhnya tidak ada yang aneh lalu mendongak kearah Azza.
"Nggak ada hehehe," cengir gadis itu lagi membuat Khaizan semakin jengkel. Tetapi, ia tidak ingin membuang tenaga meladeni istri gilanya ini, lebih baik ia membersihkan diri dan segera tidur siang.
Azza baru melepaskan tawanya saat Khaizan masuk kedalam kamar mandi. Ia begitu cekikikan melihat raut Khaizan. "Mampus lo, gue punya kelemahan terbesar elo," serunya tersenyum seringai.
Khaizan menatap dirinya dicermin sambil mencuci mukanya. "Tuh cewek rada-rada gila." gerutunya kesal.
"Cuih, makin dipikirkan makin stres. Dahlah, suka-suka dia aja." Khaizan berjalan keluar, ia heran tidak menemukan istrinya dikamar. Padahal gadis itu tertawa dengan wajah bodohnya. Pria itu berjalan mendekati balkon dan tidak menemukan gadis itu.
"Cariin ya?" seru Azza membuat Khaizan terkejut. Pria itu menatap tajam kearah gadis yang tengah bersandar di pintu balkon.
"Kegeeran, ngapain lo disini? Sanalah!"
Azza mencebik, bukannya pergi gadis itu justru duduk disebelah Khaizan sambil menahan senyum menatap kearahnya.
"Ngapain liatin gue kek gitu huh? Ngomong ajalah!" Jengkelnya menoyor kepala Azza.
"Woi sakit! Ngapa suka kali menjitak kepala orang, lo kira gue nih boneka yang bisa lo toyor sesuka hati?!"
Khaizan menyengir pelan, ia mengedik bahu tidak peduli. "Itu urusan lo bukan urusan gue."
Bodoh, ngapa pula nih mulut main ceplas-ceplos. Mampus gue, dia mulai curiga. gerutunya dalam hati.
Dahi Khaizan mengernyit, kenapa tiba-tiba gadis ini memanggilnya dasteran, padahal tidak ada kaitannya dengan perdebatan yang mere—Tunggu, Khaizan merasa ada yang janggal. Kepalanya mendongak menatap kearah Azza yang menyengir, sontak ia teringat sesuatu.
File sialan! Kenapa dia ada disana juga?!
Azza yang menyadari atmosfer mereka sudah berbeda, langsung berlari keluar kamar.
"Azza, sini lo!"
Azza tertawa terbahak-bahak, ia semakin mempercepat larinya saat melihat Khaizan mengejarnya.
Bruuk.
Pantat Azza sukses mencium lantai secara paksa, gadis itu meringis kesakitan membuat Khaizan langsung tertawa terbahak-bahak. "Buahaha rasain!" cercanya.
Mata Azza berair mendongak kearah Khaizan, membuat pria itu langsung terdiam menatapnya. "Ah, benaran sakit?" tanyanya cemas namun ia sengaja memeriksa dahi Azza.
"Ish goblok! Bukan kepala gue yang sakit, pantat gue woi huwaah."
"Ya makanya jangan nangis, diam!"
"Jahat!"
"Apasih, biar gue gendong." Khaizan langsung menggendong Azza kedalam kamarnya. Ia pun dengan sengaja melempar istrinya ke kasur.
"Khaizan sialan!" umpatnya.
Khaizan membungkam mulut Azza. "Ribut kali nih mulut, diamlah!"
Azza kesal langsung menggigit tangan Khaizan.
"Ih rabies woi!" ringis Khaizan menjauhkan tangannya dari mulut Azza.
"Gue manusia bego, bukan hewan!" serunya tidak terima disamain dengan hewan.
"Woi Azza, membekas loh. Lo kalau gigit pakai hati kek!" Khaizan berdecak melihat bekas gigitan Azza yang lumayan cukup dalam.
"Hati nggak punya gigi!"
Khaizan mengumpat dalam hatinya."Itu istilah doang bego, udahlah malas gue ngomong sama lo!"
"Lah lo sendiri yang koar-koar nggak jelas, bleeh dasar dasteran!"
"Diamlah, sini filenya!" Khaizan meminta file aib nya pada istrinya. Cukup harga dirinya sudah jatuh dimata gadis ini, jangan sampai foto-foto itu menyebar luas.
"File apanya?" Azza pura-pura tidak tahu, padahal dirinya sekarang ketar-ketir takut ketahuan suaminya.
"File yang lo salin tadi di ruangan gue! Lo pikir gue nggak tau huh?"
Deg.
Mampus, tamatlah riwayat lo za.
"Apasih ngomong yang jelas!"
Khaizan berdecak, ia tidak termasuk orang yang sabar. Kesabarannya hanyalah setipis tisu, pria itu dengan jengkel menggulung istrinya dengan selimut.
"Khaizan woi lepasin!"
"Bodo amat, gue nggak peduli. Mana filenya?"
"Nggak tau!" Mata Azza membelalak saat wajah Khaizan tiba-tiba sangat dengannya. Ia pun bisa merasakan napasnya.
"Astagfirullah, lo makan apasih bau kali?! Ueek."
Khaizan menyengir, ia pun terus memberikan hawa naganya. "Makan jengkol tadi dikasih nyokapnya Galen."
"Anjiir bau Khai!"
"Biarin, gue bakalan trus kek gini sampai lo nyerahin file tuh!"
"Khaizan menjauhlah!" Azza berusaha keluar dari gulungan selimut, tanpa sadar menyenggol tangan Khaizan yang saat itu menjadi tumpuan untuk menahan bebannya berakhir dengan kejadian yang tidak terduga.
Cup.