Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 7



Khaizan menghajar habis-habisan hingga wajah pria itu babak belur. Tak tanggung-tanggung, ia pun menendang perutnya hingga tersungkur ke lantai. Galen hanya diam menatap sahabatnya terlihat murka melampiaskan semua emosinya. Khaizan melonggarkan dasinya dan melempar jasnya sembarangan.


"Kenapa kau tidak menggoda ibu tiriku saja? Kalian kan sama-sama ular, sangat cocok berdua." hinanya lalu menarik rambut pria itu hingg merintih kesakitan.


"Aku tidak suka ada orang yang tidak punya etika kerja disini, you are fu**** person i've met!" cercanya lagi.


"Woah kalem bro, kalem." ucap Galen menggeleng-geleng. Ia salut dengan pendirian Khaizan yang selalu menghormati wanita, dulu dia babak belur habis dihajar pria itu karena selalu menyakiti perasaan perempuan-perempuan yang pernah ia kencani. Pria itu tidak terima, dan tanpa basa-basi menghajarnya sampai diskors dari sekolah.


Huft, mengenang masa kelam nggak enak banget. Tapi gue beruntung dia menyadari gue untuk menghormati perempuan. gumamnya dalam hati, saat itu pula ia menjadi sahabatnya Khaizan.


"Gal, gue pergi keluar dulu. Sakit kepala gue lama-lama disini, nggak becus semua kerjanya!!" serunya menyambar kunci mobilnya yang berada diatas mejanya.


"Lah ini orang mau diapain?" tanyanya menunjuk kearah pria itu.


Khaizan menatap malas pria itu. "Bawa ke kantor polisi, biar dia dipenjara!" serunya melenggang keluar.


Khaizan memberhentikan mobilnya disebuah tempat. Ia tersenyum ketir lalu keluar membawa dua bungkus eskrim vanila ditangannya. Ia berjalan memasuki kawasan kuburan. Ia berhenti tepat disamping kuburan dua orang yang paling berharga baginya. Pandangannya tertegun melihat kuburan itu terlihat bersih dan terawat. "Siapa yang merawat kalian?" gumamnya bingung.


Khaizan langsung duduk bersila diantara dua kuburan itu. Khaizan mengusap papan nama keduanya dengan lembut. "Huft, aku kembali Ma, empat tahun kita berpisah, baru kali ini aku temui Mama, durhaka kan aku Ma?" lirihnya sambil membuka bungkus eskrimnya lalu melirik kearah sebelahnya.


"Hei bro, maaf gue baru datang." lirihnya lagi menatap makam adiknya. Tidak disangka adiknya ikut pergi, berita kecelakaan adiknya sungguh membuatnya terpukul. Padahal malam itu, adiknya video call dengannya sambil bersemangat berkoar-koar tidak sabar menikah dengan orang yang ia cintai besoknya. "Kalian berlomba-lomba ke akhirat, gue sendirian disini." ucapnya tersenyum ketir, ia menyeka air matanya.


"Ternyata lo orangnya," ucapnya menyadari jika dirinya tidak sendirian berada disini. Ia langsung berbalik menatap gadis yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit ia tebak.


Gadis itu melangkah mendekatinya, lalu melirik salah satu makam didekatnya. Ia meletakkan bunga tersebut diatas makam yang papan namanya bertulis Alghaisan. "Huh, gue nggak nyangka lo saudara dia." ucapnya lalu ikut duduk bersila disamping Khaizan.


"Ngapain lo disini?" tanyanya mendelik tajam. Azza tidak mempedulikan ocehan pria itu, ia tanpa sungkan mengambil bungkusan eskrim yang tergeletak ditanah dan membukanya.


"Woi itu eskrim gue!"


"Makasih," jawabnya acuh tak acuh. Khaizan berdecak pelan mengabaikan gadis disebelahnya ini. Azza hanya diam menyentuh makam Algha. Sulit melupakan pria ini dari kepalanya, peran Algha terlalu besar dalam hidup Azza.


"Kenapa juga adik gue suka sama lo? Lo ngasih dia pelet?"


Azza memukul lengan pria itu. "Sembarangan aja ngomong. Gue memang tulus mencintai dia, jadi jangan anggap gue sama kayak cewek diluaran sana!" cercanya kesal. Padahal tujuannya datang kesini ia ingin curhat tentang kejadian ini didepan makam Algha, eh malah bertemu dengan orang yang membuatnya menangis sesenggukan tadi.


Azza bangkit dari tempatnya sambil mengibas celananya. Sebelum pergi ia menoleh kearah makam Algha lalu berjalan meninggalkan Khaizan.


"Ngapain lo ada diperusahaan gue? Kok bisa lo ketemu sama manajer tuh?" tanyanya membuat langkah Azza berhenti.


"Gue mau sponsor diperusahaan lo, ceritanya panjang. Tolong bilang sama manajer lo yang brengsek tuh jangan pernah menyentuh cewek!" tegasnya sebelum benar-benar pergi dari hadapan pria itu.


Khaizan hanya diam, tetapi pandangannya kembali kearah makam adiknya. "mantan lo rese Al,"


***


Azza menghempaskan badannya dikasur, hari ini cukup melelahkan baginya. Beruntung kejadian buruk tadi tidak jadi menimpanya. Azza melirik langit kamarnya. "Dunia begitu sempit ya, bisa-bisanya pria itu kakak kamu Al, ah... benar juga Algha tidak pernah cerita apapun tentang keluarganya selama ini." gumamnya lagi.


Matanya menatap tajam saat mendengar ada suara ketukan pintu kamarnya. Tanpa ia bertanya pun sudah pasti kakak-kakaknya yang suka mengganggunya. "Apa?" ketusnya sambil membuka pintu kasar.


"Gitar lo ketinggalan bego dibawah. Nanti hilang nangis-nangis nyari gue." gerutunya sambil memberikan tas gitar itu pada Azza.


"Hehehe, makasih kak!" serunya lalu menutup pintu cepat sebelum Sam kembali bersuara.


"Kurang ajar, woi!" geramnya dari luar, Azza cekikikan pelan lalu mengeluarkan gitar kesayangannya itu.


Rintikan hujan mulai membasahi daratan membuat hati Azza yang tadinya sendu semakin sendu. Azza mulai memainkan gitarnya sambil memainkan lagu kesukaannya One The Rock-Heartache.


So they say that time


Takes away the pain


But I'm still the same oh yeah


And they say that I


Will find another you


That can't be true oh


Why didn't I realize?


Why did I tell lies?


Yeah I wish that I could do it again


Ooh turnin' back the time


Back when you were mine (all mine)


So this is heartache?


So this is heartache?


Hiroi atsumeta koukai wa,


Namida e to kawari oh baby


So this is heartache?


So this is heartache?


Omoide ni kawaru


I miss you


Boku no kokoro o


Yuitsu mitashite satte yuku


Kimi ga


Boku no kokoro ni


Yuitsu furerareru koto ga dekita


Kimi wo


Oh baby


Mou inai yo mou nanimo nai yo


Yeah I wish that I could do it again


Ooh turnin' back the time


Back when you were mine (all mine)


So this is heartache?


So this is heartache?


Hiroi atsumeta koukai wa


Namida e to kawari oh baby


So this is heartache?


So this is heartache?


I miss you


It's so hard to forget


Kataku musunda sono musubime wa


Yeah, so hard to forget


Tsuyoku hikeba hiku hodo ni


You and all the regret


Hodokenaku natte hanare renaku natta


Ima wa tsurai yo, sore ga tsurai yo


Sugu wasuretai yo


Kimi wo


So this is heartache?


So this is heartache?


Hiroi atsumeta koukai wa


Namida e to kawari oh baby


So this is heartache?


So this is heartache?


I miss you


I miss you


I miss you


Azza tersenyum ketir sambil memainkan alunan lagu tersebut. Mulutnya berkata ikhlas dengan kepergian Algha, namun hatinya berkata lain. Entah ia terlalu egois menghadapi kenyataan pahit ini, tetapi ia juga tidak bisa mengelak takdir yang sudah ditetapkan Tuhan. Apalagi sudah berkali-kali perjodohan yang dilakukan orang tuanya membuatnya semakin bimbang, apa ia harus tetap menyukai Algha atau ia membuka lembaran baru bersama pria lain?