Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 31



Deg.


Suara detakan jantung keduanya sama-sama terdengar. Baik Khaizan maupun Azza saling bertatapan satu sama lain, keduanya langsung beranjak saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Ck. Khaizan mengumpat, ia melangkah cepat membukakan pintu. Raut Khaizan mendadak lembut saat tahu jika yang mengetuk pintu adalah bibi nya. "Ya Bi ada apa?"


"Maaf ganggu waktunya non, tuan. Itu ada tamu dibawah, katanya mau ketemu sama tuan."


"Siapa?"


"Deya katanya tuan." ucap bibi membuat dahi Khaizan mengerut.


"Usir aja, aku nggak kenal Bi."


"Eh tapi tuan," seru Bibi cegah Khaizan menutup pintu kamarnya lagi.


"Ada apa lagi Bi?"


"Katanya benar-benar penting tuan, ini menyangkut bisnis."


"Cih, siapa sih sebenarnya tuh orang. Bentar lagi aku turun Bi,"


"Baik tuan." ucap Bibi buru-buru menghampiri tamunya.


Khaizan kembali menutup pintu dan menatap Azza yang sudah menghilang dari pandangannya. "Ck, bocah itu cepat sekali hilangnya," gerutunya mengambil ponselnya dalam laci meja rias, setelah itu ia keluar menemui tamu yang tidak diundangnya.


Mata Khaizan menajam saat melihat dua manusia berpakaian minim melirik kearahnya. "Apa mau kalian?" tanyanya dingin tidak peduli dengan tatapan mereka yang terlihat menggodanya. Bahkan dengan sengaja mereka mengekspos tubuhnya.


"Nggak usah ganjengan, gue nggak tertarik. Lebih baik pergi!"


"Eh, tunggu...jangan menyimpulkan cepat Khai." seru Deya mencegah Khaizan pergi.


"Khai? Jangan manggil nama gue dengan mulut kotor lo." sarkasnya, ia tetap berdiri dan enggan duduk berhadapan dengan gadis-gadis sialan itu. Lebih enak didengar ditelinga kalau Azza yang memanggilnya dengan panggilan itu.


Sementara Azza terlihat menguping mereka. Ia cekikikan pelan melihat kedua wanita itu ketakutan menatap wajah Khaizan. "Suami gue dilawan, bagus Khai. Jangan mau tergoda dengan wanita liar kayak mereka." gumamnya.


"Akhirnya gue diakui." sahut Khaizan tiba-tiba.


"Ayam copot! Hais, hampir jantung gue lepas dari tempatnya sialan!" gerutunya kesal memukul lengan pria itu.


"Aw, sakit woi!"


"Tunggu, kenapa lo ada disini? Bukannya tadi..." Azza melirik kearah sofa, terlihat dua wanita liar tadi masih duduk disana.


"Suka-suka guelah." serunya sambil membuka bungkus permennya.


"Bagi dong!" Khaizan mengeluarkan permennya yang lain dan memberikan pada Azza.


"Lah trus lo nggak ngusir mereka gitu?" tanyanya heran sambil mengemut permennya.


"Malas, ujung-ujungnya mereka tetap kukuh disini. Kalau lo bisa ngusir mereka bagus juga, gue mau kerja dulu bye!" seru Khaizan berjalan menjauhi Azza.


"What the—Arrgh Khaizan sialan!" gerutunya kesal menghampiri dua wanita tidak tau malu itu. Dengan sangat terpaksa ia menghampiri wanita yang berpakai mini.


Auto masuk neraka nih orang, eh astagfirullah jangan suuzon dulu. Ntar, gue ghibah dia pula yang dapat pahala. gumamnya berjalan kearah mereka.


"Hai!" sapa Azza duduk dihadapan mereka, kedua kakinya ia naikkan diatas meja sambil menyilangkan tangannya didepan dada.


Azza terkekeh pelan. "Gue? Lo nggak perlu tau urusan gue. Lebih baik kalian pergi dari sini, nggak malu kalian udah diusir masih juga duduk santuy disini." ledeknya.


Deya mengepal tangannya kuat. "Gue nggak akan pergi sebelum Khaizan menerima gue!"


"Buahahaha, bego banget lo!" ejeknya sambil memilin rambutnya. "Dengar ya kupu-kupu malam, kalian nggak pantas menemui Khaizan. Apalagi lo!!" celoteh Azza menunjuk kearah Deya.


Tangan Deya mengepal keras, ia langsung menjambak rambut Azza. "Berani banget lo ngatain gue huh?"


Azza kesal langsung memilin tangan Deya hingga gadis itu merintih kesakitan. "Aduh...aduh sakit woi!"


"Jangan ikut campur!" Azza menatap dingin kearah teman yang dibawa Deya.


"Gue bisa laporin lo ke polisi," ancam Farah sambil memegang ponselnya.


"Laporin aja, gue juga bakalan laporan kalian karena masuk kerumah orang tanpa permisi."


"Lo sok banget jadi orang, paling lo juga sama kayak kami. Dibayar berapa lo sama di—"


Plaak.


Deya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Azza. Bukan hanya sekali, malah gadis itu menampar pipinya disebelah lagi. Lalu Azza mencengkram baju Deya kuat. "Gue nggak sama kayak lo, kita beda lo bekas gue masih ori." ucapnya tersenyum sinis membuat Deya semakin membencinya.


"Pergi dari sini!" usirnya menghempaskan Deya jatuh ke sofa. Azza mengibas tangannya dan pergi menjauhi keduanya.


Deya tidak akan pernah melupakan hal ini, ia akan mengingat baik-baik wajah Azza yang membuatnya seperti ini. "Tunggu aja pembalasan gue!" geramnya pergi meninggalkan rumah Khaizan, Farah langsung menyusul sahabatnya yang sudah keluar terlebih dahulu.


Tanpa mereka sadari, jika Khaizan menelan saliva ya kuat menyaksikan mereka lewat layar latopnya. Ia tidak menyangka Azza bisa seberani itu membuat dua wanita liar tadi tidak berkutik didepannya. Wah, istrinya itu perlu diapresiasi atas keberaniannya.


"Lo udah gila ya Khai?" Khaizan terkejut langsung menoleh kearah sumber suara itu. Sejak kapan gadis itu ada disini?"


"Kapan lo disini?"


"Barusan, makanya fokus. Kata masih banyak tugasnya, tapi bisa melamun. Oh Khai, bagi hotspot dong," serunya tanpa persetujuan Khaizan, merampas ponsel pria itu dan menghidupkan hotspot.


"Cih, gue belum ngizinin. Lo kan ada kuota internet, pakailah."


"Kuota gue habis." jawabnya sambil mengutak-atik ponselnya. Khaizan menghendus kesal, ia membiarkan istrinya sesuka hati lalu melanjutkan aktivitas kerjanya.


"Buset, lo pakai kuota gue nggak ngotak banget. 6 GB dua jam? Lo ngapain huh?" tanyanya heran menatap istrinya yang sibuk ketawa-ketiwi dengan ponselnya.


Tidak dihiraukan membuat Khaizan jengkel, ia berjalan mendekati istrinya disofanya. "Azza!"


"Hm jangan ganggu, lagi seru woi! Mampus kau ketauan kan selingkuh! Tuh makanya jadi cowok nggak usah merasa sok paling ganteng, tampang muka kayak keripik sok-sok pula mau nikah lagi." Ocehnya serius menonton drama di ponselnya.


Khaizan menepuk jidatnya pelan. "Gini amat lah punya istri."


***


Pria memakai topi itu tengah duduk di motornya sambil memandang rumah besar yang ada diseberang tempat ia berhenti. Sambil menghisap rokoknya, ia tersenyum seringai merencanakan sesuatu pada penghuni rumah itu. "Azza hanya milik gue, bukan milik lo Khaizan." ucapnya dingin membuang puntung rokok kedalam parit. Jangan tanya bagaimana ia bisa menemukan alamat rumah mereka, karena ia akhir-akhir ini ia mengikuti Azza. Lebih tepatnya saat bertemu di tempat nasi goreng malam itu.


Pria itu adalah Ansel, ia waktu itu berhasil melarikan diri. Ia sangat marah saat melihat adegan langsung Azza dan Khaizan berciuman. Ansel frustasi sendiri, ia tidak akan gagal lagi untuk memperebut Azza. Ia tidak suka Azza bersanding dengan pria lain, bukan dirinya.


"Harus jadi milik gue, bagaimanapun caranya!"