
Khaizan berguling kesana-kemari, ia tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Pikirannya terus tertuju pada istrinya yang kini berada dirumah mertuanya. Kalau saja Alze tidak datang mungkin Azza sudah berada disampingnya saat ini.
"Sialan." umpatnya melompat dari kasur. Ia berjalan menuju dapur untuk melepaskan dahaganya. Perasaannya resah, bingung mau harus melakukan apa yang pastinya ia sangat-sangat bosan.
Khaizan mondar-mandir layaknya setrika membuat bibinya menggeleng-geleng melihat kelakuan majikannya yang sangat abstrud itu. "Tuan anda tidak lelah?"
Pria itu tersentak, lalu tersenyum menatap bibinya. "Nggak Bi, aku lagi gabut aja."
"Karna nggak ada nona ya tuan?" tebaknya sukses membuat Khaizan salah tingkah.
"Saya nggak nyangka ada seseorang yang membuat anda jatuh cinta, memutuskan pernikahan ini adalah pilihan yang terbaik tuan putuskan. Saya harap pernikahan ini tetap langgeng sampai ajal menjemput." terangnya menatap Khaizan. Bocah remaja nakal itu akhirnya sudah beranjak dewasa. Ia sendiri tahu bagaimana lika-liku kehidupan Khaizan semasa itu, pada masa dimana tuan Algha masih hidup dan sebelum tuan Khaizan diusir dari rumah.
Khaizan hanya tersenyum tipis, ia sendiri bingung mengutarakan perasaannya saat ini. Seketika ingat dengan surat sialan adeknya itu, seolah-olah Azza bukan jodoh Algha melainkan Khaizan sendiri. Aneh bukan? Tidak ada saling kenal, tapi bisa-bisa menikah. Apalagi ia dan Azza sudah....Arggh tidak perlu dibahas lagi.
"Ini gila sih, gue nggak nyangka banget." gumamnya pergi ke kamarnya. Ia menutup pintu dan bersandar sambil melihat sekeliling kamar, namun lagi-lagi matanya tertuju kearah kasur. Kasur yang menjadi saksi mereka tadi malam.
"Anjiir!!!" umpatnya mengusap wajahnya kasar, siapapun pasti akan tertawa terbahak-bahak tidak menyangka jika wajah Khaizan memerah seperti kepeting rebus.
***
"Buahahaha tuh muka ngapa kek kaleng penyok??" ledek Galen saat mendapati sahabatnya masuk kedalam ruangan dengan lesu. Khaizan menatap tajam sambil melempar kotak tisu kearahnya. Lebih tepatnya dikepala Galen.
Bugh.
"Aw, sakit anjir pagi-pagi dah lempar barang. Lo sama aja kayak nyokap gue, tadi pagi dia lempar panci ke gue." gerutunya mendekati Khaizan.
"Tulah jadi anak durhaka juga. Itu sih derita lo, gue bodo amat."
"Hiks gitu ya, masa sahabat sendiri nggak dibelaiiiin..."
"Sialan, lo jangan gelay gitu lah, jijik gue! Ck, udahlah lo buat emosi aja pagi, cepat apa kerjaan gue hari ini?!"
"Ck, nggak asik banget. Iya...iya, nih kerjaan lo!" serunya melempar tablet kearah Khaizan tanpa merasa berdosa. Bodo amatlah kalau dipecat, ia paling lanjut menggeluti pekerjaan sebagai hacker nya lagi.
"Galen mo—" umpat Khaizan, baru saja pria itu ingin melempar barang lagi kearah sahabatnya, matanya tertuju pada satu nama yang membuatnya naik darah.
"Siapa nama rekan bisnis kita yang baru?" tanya Khaizan memastikan jika nama itu bukan nama si brengsek itu.
"Alman Dareandra, usianya dibawah lo satu tahun. Tapi sudah menjabat CEO diperusahaan ayahnya baru-baru ini."
Khaizan langsung tersenyum smirk, seolah-olah ada rencana diotaknya. "Baguslah, kalau gitu siapkan ruang rapat. Kita akan nyambut tuan muda itu." ucapnya membuat Galen merinding melihat senyuman smirk Khaizan.
Usai Galen menghilang dari pandangan Khaizan, pria itu mengetik sesuatu di ponselnya dan meletakkan kembali benda pipih tersebut diatas meja. Khaizan memutar-mutar kursinya sambil menandatangani berkas-berkas yang perlu ia tandatangani.
Tak terasa waktu berjalan, sampailah waktu dimana ia akan bertemu dengan Alman. Bukan sebagai rival melainkan sebagai rekan bisnis, ini bukan kebetulan yang diinginkan Khaizan. Bagaimana pun juga pria itu bukanlah orang yang cocok untuk Azza. Sampai kapanpun Azza miliknya, hanya miliknya.
Alman yang baru saja datang memasuki ruangan rapat, terkejut melihat Khaizan juga berada disana. Banyak pasang mata yang bertanya-tanya mengenai keduanya, pasalnya muka-muka mereka banyak lebam seperti sehabis bertengkar. Apakah masalah mereka sama? Atau hanya kebetulan saja?
"Oh, apa ini tuan Khaizan?" serunya membuka suara sambil mengulurkan tangannya.
Khaizan menatap tangan Alman, lalu membalas uluran tangan Alman. "Iya, selamat datang." ucapnya menekan sambil tersenyum dipaksakan.
Alman terkekeh pelan, lalu melepas tangannya cepat dan duduk di kursi miliknya. Sedangkan Khaizan mengibas-ngibas tangannya, lalu ikut duduk bersama yang lainnya.
"Baiklah, kita mulai rapatnya sekarang." ucap Galen memulai rapat diruangan ini.
***
"Lo udah nggak nangis lagi?".
"Ck, udah kak. Nggak liat lo gue udah tenang kek gini. Udah deh, mending kalian kerja, tuh istri kalian pada diabaikan." cerocosnya melirik 2 kakak iparnya baru saja pulang dari pasar.
"Mereka nggak keberatan kok, ya kan sayang?" tanya Alze merangkul istrinya.
"Al, aku bau pasar loh!" gerutunya menepis tangan suaminya.
"Masih harum loh sayang!" gemasnya mencubit pipi istrinya.
"Jangan peluk dulu Al, seriusan aku bau ikan nih!" gerutunya enggan dipeluk suaminya. Mereka lupa jika ada 2 orang, eh ralat 3 orang tengah dadakan menjadi nyamuk dinatata mereka.
"Nggak do sayang, kamu masih harum."
Braak.
Azza melepaskan celemeknya jengkel, lalu berjalan kesal kearah kamarnya membuat semuanya syok saling menatap.
"Azza kenapa?" tanya Anggi bingung. Ia juga terkejut melihat Azza pulang kerumah, biasanya gadis imut itu selalu memberitahu jika mau pulang.
"Entah, dia daritadi bete mulu." balas Alze menatap pintu kamar adiknya.
"Liatin kue gue kak!" teriak Azza lagi dari dalam kamarnya.
"Ya ampun anak itu, dari semalam sensi amat. Ini nih karna kamu bawa dia paksa." tuduh Bita menoleh kearah suaminya.
"Loh kok jadi kamu nyalahin aku? Aku bawa dia karna kemarin bahaya."
"Justru itu, kami terlalu ikut campur urusan rumah tangganya. Lagian ngapain juga sih narik Azza keluar, aku yakin Khaizan bisa menjaganya," oceh Bita lagi.
"Ck, anak itu. Dia malah babak belur dengan Alman sialan. Huft, harusnya aku nggak perlu menjodohkan Alman waktu itu,"
"Nah iniii, banyak salah kamu. Udahlah, mending kamu urus sana Azza buat dia balik lagi kerumah Khaizan."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian sayangku, jangan memperkeruh suasana. Mungkin Khaizan mengizinkan istrinya pulang kesini tapi dengan terpaksa. Sudah balikkan Azza kerumahnya!"
"Ta..."
"Tidur diluar!" titah Bita tidak ingin dibantah membuat Alze ketar-ketir. Mana bisa ia tidur tanpa Bita yang selalu menjadi bantal guling kesayangannya.
"Woah, jangan ngancam gitu dong sayang. Iya...iya aku bakalan antar Azza pulang!" serunya mengejar istrinya yang berjalan menuju kamarnya.
Tersisalah satu pasangan yang daritadi menjadi penonton, Sam dan Anggi saling melirik dan mengedik bahu. "Kamu mau ku usir kayak bita juga?"
"Jangan woi, kan aku nggak ada ngomong apa-apa tadi." protesnya langsung membuat Anggi tertawa pelan menggandeng suaminya. Namun, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan Azza yang tiba-tiba menangis berlari keluar sambil mengambil kunci mobil.
"Azza mau kemana?!" tanya Sam berlari menyusul adiknya.
"Astaga, Sam kejar dia!" panik Anggi melihat Azza mengendarai mobil tidak seperti biasanya.