
Tanpa membuang-buang waktu, Azza berlari kencang ketempat Lulu. Ia mengumpat saat melihat Lulu melambai-lambaikan tangan kearahnya. "Awas saja lo nanti ya Lu!" geramnya gemas.
Azza terengah-engah dan ia langsung duduk sambil menyeka keringatnya. "Gila lo Lu!"
Lulu hanya menyengir lalu ia duduk disamping Azza. "Hehehe tak apa masih ada setengah jam lagi."
Azza mencebik. "Apanya yang tak apa, gue aja belum ada persiapan woi,"
"Hehehe gue yakin lo bisa Za, lagian lo udah pro banget kok soal ini. Tapi...lo ngapain bawa gitar sih?"
Azza tertegun, ia tidak sadar jika ia menyandang tas gitarnya selama lari tadi. Pantas saja, larinya terasa berat. "Sial."
"Ya letak ajalah dalam mobil lo kan bisa nggak sih?"
"Heh, enak kali ngomongnya. Tau nggak, gara-gara lo gue lupa pakai mobil kesini, dah kayak dikejar guguk gue lari kesini!" gerutunya kesal.
"Hehe janganlah marah beb, gue juga panik tadi ditelpon orang tuh. Nanti gue traktir deh boba kesukaan lo." bujuknya.
"Terserahlah, btw kok bisa diterima proposal kita? Isinya nggak menarik kali loh,"
"Ish, pesimis banget mbak. Kita tuh harus optimis, ya manatau dah rezeki kita dapat sponsor dari perusahaan besar kayak gini," serunya melihat sekeliling lobi besar. Tampak karyawan -karyawan disana terlihat begitu semangat dan tergesa-gesa.
"Hmm apa mereka serajin ini ya?" gumam Azza bingung melihat mereka terlihat begitu panik membawa beberapa dokumen mereka.
***
"Masa kerja kayak gini aja nggak bisa! Jadi kayak gini kerja kalian selama ini huh?!" bentaknya sambil membanting dokumen diatas meja. Semuanya hanya bisa menunduk dan diam mendengar cacian dari direktur barunya itu. Sejak kaki pria itu memasuki ruangannya, sejak saat itulah badai dalam perusahaan ini membeludak. Tak disangka pria tampan ini sangat dingin tidak berperasaan.
"You are really stupid! I don't believe a company of this size could suffer millions of dollars in losses!" bentaknya lagi sambil menghentakkan meja.
"Get out!" Semuanya langsung tergopoh-gopoh keluar dari ruangan Khaizan. Khaizan memijit pelipisnya sambil menghempaskan badannya duduk dikursi kebesarannya. Sekretarisnya hanya diam menatapnya dari samping.
"Kumpulkan semua data keuangan dua tahun belakangan ini, gue yakin semua uang itu sudah banyak campur tangannya!" titahnya langsung dianggukan oleh Galen—sekretaris Khaizan sekaligus kaki tangannya.
"Oke, ada lagi?" tanyanya.
"Itu aja dulu, tapi lo kenapa santai banget ngomongnya sama gue huh?" tanyanya mencebik.
Galen tersenyum sambil mengedik bahu. "Santai salah, formalpun salah. Lo sendiri pun yang nyeret gue kesini. Manalagi jadi sekretaris dadakan pula," gerutunya. Ia sangat ingat dengan jelas pria ini menawarkan pekerjaan ini dengannya, ralat lebih tepatnya dipaksa. Padahal Ia hanyalah seorang hacker yang selalu bekerja dibalik layar, dan juga merupakan sahabatnya Khaizan saat sekolah dulu.
"Ya gue bos lo sekarang,"
"Terserahlah...bodo amat gue. Gue cabut dulu, bye!" pamitnya berjalan sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah Khaizan.
"Cih, belagu benar tuh bocah." cibirnya lalu memutarkan kursinya kearah jendela besar dibelakangnya. Dapat ia lihat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi hampir menyamai perusahaannya. Khaizan tengah berpikir sejenak, namun ada suara berisik menganggu konsentrasinya.
"Ck, apa lagi sebenarnya diluar tuh?!" kesalnya beranjak dari tempatnya. Ia membuka pintu itu dengan kasar dan terdiam saat melihat dua aksi perempuan yang kini tengah saling menjambak rambut masing-masing.
Matanya menyipit saat menyadari salah satu dari kedua perempuan itu sepertinya ia kenali. Tidak, bukan kenal lebih tepatnya kesialannya. Ya, perempuan di bioskop itu, walaupun saat itu samar-samar mengenali wajahnya, tetapi Khaizan yakin jika perempuan ini adalah perempuan yang waktu itu.
Bukan hanya Khaizan saja yang menyadari, Azza terdiam menatap pria itu sedangkan Lulu terkejut bukan main melihat orang yang ia incar berada disini. Matanya langsung melirik papan nama yang menempel dipintu, seketika matanya membulat sempurna menyadari sosok pria tampan yang mereka temui di bioskop waktu itu. Lulu langsung mendekat pada Azza. "Hmm Za, kayaknya kita salah alamat deh," ucap Lulu terbata-bata, pria yang ia sukai ternyata orang penting. Sungguh levelnya sangat berbeda dengannya.
"Apanya?"
"I-itu direkturnya."
"Siapa?" tanya Azza bingung. Lulu berdecak pelan, lalu menunjuk kearah Khaizan. "Dia." jawab Lulu pelan.
"Hm ternyata dia, baguslah kalau gitu kita bisa bicara santai kan?" serunya mendekat kearah Khaizan. Semuanya langsung syok tetapi tidak bisa berbuat banyak karena bos baru mereka masih diam ditempat.
Azza tersenyum paksa. "Bisa kita masuk? Ada yang perlu kita bicarakan berdua." ucapnya menekan kata berdua agar dapat didengar oleh seluruh orang yang berada disini.
Khaizan melotot kearahnya. "Jangan seenaknya ngomong! Panggil security, usir mereka dari tempat ini!" titahnya. Azza tidak terima langsung menghadang jalan Khaizan.
"Enak aja, gue nggak terima diperlakukan semena-mena!" geramnya menatap tajam kearah Khaizan. Pria itu bingung, mengapa gadis ini terlihat marah sekali, apalagi ia dibuat heran dengan gadis ini betah sekali menyandang tas gitarnya. Apa dia tidak berat membawanya?
"Lo bisa main gitar?" tanya Khaizan spontan membuat gadis itu langsung mendongak tidak suka.
"Tolong tuan Khaizan yang terhormat, jangan mengalihkan topik, dengarkan saya dulu!"
"Bagaimana lo tau nama gue?" tanya pria itu sambil mendorongnya mundur. Langkah kaki Azza semakin perlahan semakin kebelakang. Tetapi ia bukan gadis yang penakut, harus kuat.
Azza tersenyum miring. "Tuh!" tunjuknya kearah pintu yang ada tulisan namanya. "Apa perusahaan kalian sudah terbiasa menggoda cewek huh?"
Khaizan bersedekap dada, matanya tidak lepas dari pandangannya melihat wajah Azza. "Maksud lo apa?"
"Manajer kalian tuh kurang ajar. Gue nggak terima dia diperlakukan semena-mena disini! Gue hampir diperlakukan kurang ajar oleh pria itu!" gerutunya sambil menyeka air matanya. Tidak terbayang olehnya saat presentasi tadi, manajer itu hampir menyentuhnya. Beruntung, ia paham dengan situasi dan langsung berlari kencang keluar.
"Ada bukti?" tanyanya lagi, namun tidak ada jawaban dari Azza, membuat Khaizan menghela napas.
Azza terdiam, ingin rasanya ia menangis disaat itu juga. Tidak ingin lama-lama berada disana, Azza dengan perasaan kacau langsung menarik tangan sahabatnya menuju lift.
Khaizan tersenyum miring, lalu ia melirik karyawannya satu persatu. "Mana manajernya? Bawa dia ke ruangan ku sekarang!"
***
Lulu hanya diam ikut berjalan dengan Azza menuju satu tempat. Azza sambil membawa bunga ditangannya. Sebelum semakin jauh masuk kawasan kuburan, Azza memperingati Lulu untuk tetap tunggu sendiri. "Maaf Lu, gue lagi butuh sendiri sebentar," gumamnya pelan. Lulu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Gue tunggu lo dimobil." ucapnya pelan. Azza berjalan perlahan-lahan, namun matanya membulat sempurna melihat ada seseorang yang duduk diantara makam-makam tersebut.
"Siapa dia?"