
Khaizan memainkan rubiknya menunggu gadis itu bangun. Seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam, ia hanya duduk disamping gadis itu. Tangannya sibuk memutar bolak-balik rubik 7x7 itu dengan santai, tetapi pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan rumit tentang tadi malam.
Khaizan tersentak saat tangan Azza menyentuh tangannya, ia kira gadis itu sudah bangun namun nyatanya Azza masih dalam mimpinya. Tanpa gadis itu sadari, ia memeluk lengan Khaizan dengan erat.
"Hangat." gumamnya.
Khaizan berdeham pelan. "Cih, singkirin tangan lo!" Pria itu dengan tega menepis tangan Azza hingga membuat tidur gadis cantik itu terganggu.
Azza mengucek matanya lalu terkejut melihat Khaizan begitu dekat dengannya. "Akh kenapa lo disini?!" teriaknya membuat beberapa pasien menoleh kearahnya. Khaizan tersenyum kikuk dengan orang yang ada di sana lalu menatap tajam kearah Azza.
"Bodoh, ngapain lo teriak huh? Huft cepat siap-siap, lo harus balek pulang!" serunya meletakkan rubiknya diatas nakas, ia menarik selimut itu dari Azza, agar gadis itu beranjak dari tempatnya.
"Wah romantis ya pasangan itu."
"Iya, iri deh."
Azza tersenyum miring, ia megerjai pria itu mengikuti alur yang sudah ada. Azza memeluk lengan Khaizan tiba-tiba. "Sayang!"
Khaizan hanya diam, ia sibuk mengotak-atik ponselnya, Azza mencebik tidak dihiraukan oleh pria itu. Gadis itu dengan sengaja menjijit agar dahinya tepat didepan bibir pria itu. "Hihihi jangan ma—"
Cup.
Azza membeku ditempat, bukan seperti ini ekspektasi yang ia bayangkan. Pria menyebalkan ini baru saja mencium dahinya? Sedangkan Khaizan tersenyum tipis lalu berjalan meninggalkan Azza yang masih termenung disana. Sebelum Khaizan membuka pintu, ia melirik tirai yang tertutup disana. Hanya ia yang tahu siapa orang dibalik tirai itu, ia tersenyum miring meninggalkan ruangan itu.
Azza menggeleng-geleng pelan, ia celingak-celinguk mencari keberadaan Khaizan. "Eh, dimana dia?"
"Suami mbak udah keluar, hehehe."
"Ya ampun dia baper suaminya cium kening dia."
Aduh ibuk-ibuk ini kepo betul. gerutunya dalam hati, ia pun membawa tasnya lalu keluar menyusul pria itu. "Khaizan wait for me!"
Khaizan yang menunggu pintu lift terbuka, hanya menoleh sekilas kearah gadis itu. Azza berdiri disamping Khaizan, mereka berdua hanya diam sibuk dengan pikiran sendiri. Kejadian tadi cukup membuat Azza canggung dengan pria itu. Bekas kecupan didahinya masih terasa sampai sekarang.
"Kyaaak!"
Azza langsung menoleh kebelakang, suara pekikan itu berasal dari ruangannya tadi. Terlihat beberapa perawat langsung masuk kedalam ruangan itu. Azza hendak pergi kesana, namun pria itu menahannya bertepatan pintu lift terbuka. Tanpa basa-basi pria itu menariknya masuk kedalam lift.
"Khai mereka..."
"Jangan pikirkan orang lain!" sanggahnya membuat Azza terdiam. Keduanya kembali bungkam tanpa berniat memecahkan keheningan. Azza memilin ujung bajunya menunggu lift segera terbuka.
"Lo punya musuh?" tanya pria itu tiba-tiba membuat Azza menoleh kearahnya.
"Hah? Maksud lo?"
"Sudahlah lupakan saja." Keduanya kembali hening, setelah pintu terbuka Khaizan berjalan keluar terlebih dahulu meninggalkan Azza yang masih berdiam diri didalam lift. Pria itu berjalan kearah kasir dan membayar tagihan pengobatannya menggunakan kartu.
"Buset, pakai kartu legend ndak tuh. Baguslah, duit gue nggak keluar." gumamnya mendekati pria itu.
"Urusan kita cukup sampai sini, gue udah bayar tagihan lo. Jangan pernah bertemu lagi!" ucapnya dingin membuat Azza hanya melongo mendengarnya.
Huh? Dia pergi begitu saja? Nggak minta maaf soal tadi? Wah benar-benar pria brengsek! umpatnya dalam hati mengejar pria itu.
Khaizan berjalan sambil menelpon seseorang, ia pun memberhentikan taksi dan masuk kedalamnya. Azza belum sempat mengatakan apapun pada pria itu, ia hanya bisa melihat taksi itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Sial!"
***
Azza jengah mendengar ocehan kedua kakaknya karena ketahuan berbohong pada mereka. Ia berdecak pelan, Lulu tidak bisa diajak kerja sama. Gadis itu malah memberitahu yang sebenarnya pada Sam dan Alze.
"Azza lo dengar gue nggak?" tanya Sam gemas menatap adeknya. Sedangkan Alze melirik kearah kaki Azza.
"Kaki lo kenapa?" tanya Alze membuat Sam juga menoleh kearah kaki adiknya.
"Azza, ini kaki kenapa pula huh? Jadi yang masuk rumah sakit tuh siapa?"
"Lo abis jatuh dimana? Kenapa nggak bilang?"
"Lo kalau mau nangkap kodok ya hati-hati lah!"
"Azza gue belum selesai bicara!" seru Alze menatap tajam kearah adiknya.
"Ini semua karna lo bego, tuh si Azza membangkang dia!" cibir Sam menoleh kearah Alze.
"Kenapa? Salah gue gitu? Ya adik lo nginap di rumah sakit lo bego, ya kenapa nggak cari kerumah sakit kemarin huh? Udahlah, sayang yok kita pergi!" serunya menarik tangan Bita. Setelah itu mereka berdua menghilang dari pandangan Sam.
"Apa dirumah ini nggak ada orang normal? Apa cuma gue aja yang normal?"
"Heh, berkaca dulu Pak! Enak benar ngomongnya seolah-olah dia paling normal disini." ledek Anggi heran dengan sikap suaminya.
"Ya kan nyatanya benar kok, kamu mau kemana sayang?" tanyanya menyadari penampilan istrinya saat ini.
"Mau pergi ke suatu tempat."
Sam menaikkan alisnya satu, menatap penuh curiga dengan istrinya. "Dimana?"
"Ya dihatimu sayang hehehe,"
"Udah pandai gombal yaa, kasih tau dulu mau pergi kemana secara detail ya baru aku izinin!" pintanya.
"Hmm tempatnya tuh ada meja, kursi, trus ada kaca besar gitu dia. Nah disitu ada yang jual kopi, teh, sama makanan dessert gitu. Trus ada lam—"
"Kamu pikir aku nih anak TK? Yang jelaslah mau ke kafe ini kek, atau mau ke kafe ujung dunia kek. Ya nggak perabotan juga kamu sebutin sayangku, cintaku!" gemasnya mencubit pipi tembam istrinya.
"Lah tadi kan kamu bilang jelasin secara detail, ya udah aku jelasin tuh."
"Ya tapi nggak gitu juga sayang. Aduh mamanya Zea nih gemasin banget ya, rasanya mau gue tampol!"
"Hehehe nggak boleh kasar sama istrinya sendiri ya Papanya Zea. Diizinin atau nggak nih ceritanya? Cepat ya udah telat soalnya."
"Cih, kami aja belum kasih tau kemana kamu pergi."
"Itu loh kafe yang baru buka kemarin, entar aku sharelock."
"Ya udah pergilah. Tapi jangan larut malam woi, kamu udah punya anak."
"Siip bos, aku pergi dulu yaa bye!"
"Eh tunggu...tunggu!"
"Kenapa sayang?"
"Trus yang jagain Zea siapa?" tanya Sam melirik anaknya bermain didalam box bayi.
"Ya kamu sayang, ASI-nya udah aku masukin kedalam botol, tinggal kamu kasih aja nanti. Bye!" seru Anggi melenggang keluar rumah.
"Ya ampun!"
***
Khaizan melirik malas rapat yang diadakan saat ini. Penjelasan yang dipaparkan sungguh membosankan dan basi. "Hanya itu idenya? Itu basi." sarkasnya sambil memainkan rubik ditangannya.
"Cari ide baru, jangan tiru ide orang. Kalau mau perusahaan ini bangkit lagi, kerja keras!" sentaknya membuat semuanya hanya bisa menunduk. "Keluarlah, cari lagi!" titahnya.
"Lo terlalu keras sama mereka bro," seru Galen duduk diseberang Khaizan. Pria itu hanya melirik sekilas kearah sahabatnya, lalu kembali fokus dengan rubik ditangannya.
"Udah cari apa yang gue suruh?" tanya Khaizan lagi tidak menghiraukan pertanyaan Galen tadi.
"Dah, dia siapanya lo huh?" tanya Galen curiga, jelas dari wajah pria itu menampilkan senyum jahilnya.
"Huft, bukan siapa-siapa," Khaizan bangkit dari tempatnya. "Gue pulang dulu, nanti tentang gadis tuh kirim ke email gue."
"Cie...cie...Lo suka pas—" Galen mengatup mulutnya rapat-rapat melihat ekspresi Khaizan tidak bersahabat. "Hehehe canda doang, Iya...iya nanti gue kirim ke lo."
"Kalau ada rapat undur besok!" ucapnya setelah itu keluar ruangan.
"Huft, gue kurang tidur sialan, ini semua karna gadis bodoh itu!" keluhnya.