Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 23



Suara lantang Khaizan mengucapkan ijab qabul membuat air mata Azza membasahi pipinya. Hanya mendengar kata sah sudah membuat jantungnya berdegup kencang. Ia terus mencubit tangannya seraya menyakinkan ini adalah nyata. Azza melihat dirinya di cermin dengan perasaan yang tidak menentu. "Huft, semoga gue baik-baik saja nanti."


"Lo akan baik-baik saja kok Za, selamat ya adikku yang imut menggemaskan ini sekarang sudah punya suami!" pekik Anggi haru memeluknya.


"Kak, aduh sesak napas gue!" gerutunya membuat Anggi terkekeh pelan.


"Zea mana kak?" tanya Azza tidak melihat keponakannya.


"Sama bapaknya lah, tuh anak sama suami gue dah macam perangko susah lepas."gerutunya.


"Ya ampun,"


"Udah yok, bentar lagi kita disuruh siap-siap keluar," serunya merangkul tangan Azza. "Tunjukkan kalau lo memang benar-benar bahagia dengan pernikahan ini, Azza."


***


Khaizan baru kali ini ia merasa gugup, tidak menyangka pernikahan yang ia sepelekan tadi ternyata segugup ini. Hanya berjabat tangan dengan ayah dari Azza dan mengucapkan kalimat sakral itu membuat jantung Khaizan berdegup kencang. Ia yakin saat ini wajahnya terlihat tegang dan kaku. Oke, tujuannya menikah dengan Azza bukan karena cinta, catat itu baik-baik dikepalanya ini hanya sekedar untuk membantu gadis itu dari bahaya. Tapi, kejadian waktu itu membuat pertahanan Khaizan goyah. Perasaan itu muncul begitu saja seiring berjalanannya waktu.


"Lo gugup?" tanya Galen menepuk pundak Khaizan. Pria itu tersentak dan menoleh kearahnya.


"Ngapain gue gugup bodoh?" kesalnya tetapi malah membuat Galen terkekeh pelan.


"Yakin nggak gugup? Astaga tangan lo dingin bro, Lo benaran gugup ya??" ledeknya langsung mendapat hadiah jitakan dari Khaizan.


"Sembarangan aja lo ngomong, ini karena AC sialan nih makanya tangan gue dingin!"


"Alasan..." cibirnya pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Khaizan.


"Ngomong apa lo barusan huh?"


"Nggak ada, gue cuma bilang semangat doang tadi." elaknya. Ia tidak ingin menjadi sasaran empuk Khaizan, apalagi ini adalah acara yang sangat penting bagi pria itu walaupun malu mengakuinya. Jujur, ia salut dengan Azza yang dapat membuat Khaizan memiliki sisi yang berbeda. Pria kulkas itu sering hanya menunjukkan sisi dingin, pemarah, dan tegasnya tidak seperti saat ini. Khaizan terlihat seperti kucing penakut.


"Idih, nanti handle perusahaan gue!"


"Apa? Perasaan? Kalau itu mah gue nggak bisa Khai,"


"Lo budeg banget sih, perusaahan bukan perasaan bego!" tekannya berbisik agar suaranya tidak terdengar yang lainnya.


"Mempelai perempuan sudah hadir!" seru pembawa acara sontak membuat jantung Khaizan berhenti seketika. Perasaannya campur aduk mendengar kedatangan Azza disini, ya istrinya yang baru saja ia nikahi. Dengan perlahan Khaizan berbalik dan terpesona dengan kecantikan Azza dengan balutan gaun pernikahan yang dikenakannya.


Bukan hanya Khaizan melainkan Galen yang ikut terdiam menatap istri dari bosnya itu. "Cantik,"


Sontak mengundang tatapan tajam dari Khaizan, pria itu langsung menginjak kaki pria itu. "Nggak usah muji istri gue!" seru Khaizan spontan.


"Aciee ngaku nih dah punya istri,"


"Diamlah!"


Azza berjalan diiringi dengan kakak-kakak iparnya. Perasaannya kembali gugup saat mata mereka bertemu, Azza menelan saliva, apa benar ini pernikahannya? Apa dia sudah menjadi istri dari pria didepannya ini?


Azza pun duduk disamping Khaizan, tidak ada sahutan diantara keduanya karena sibuk dengan pikiran masing-masing membuat Bita gemas menatap pengantin baru itu.


"Hei, kalian bukan patung, ayo dong saling liat!" serunya membuat tawa para tamu. Azza mengumpat dalam hatinya menatap kakak iparnya yang suka membuatnya kesal, sedangkan Khaizan hanya diam melirik kearahnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, ia pun tidak tahu.


Keduanya tersenyum manis didepan kamera yang terus menyorot kearah mereka. Tanpa semuanya menyadari jika mereka saling berdebat satu sama lain.


"Senyum kek, masa udah jadi istri gue masih manyun juga,"


"Diamlah, gue nggak mau berdebat dengan lo Khai,"


"Ckckck lo pikir gue mau bicara dengan lo? Masih baik gue nikahin lo,"


"Jadi lo ceritanya nggak ikhlas nikahin gue? Plin-plan banget jadi cowok, lo kemarin ngemis-ngemis nikahi gue."


"Ya kan alasannya nyelamatin lo bego!"


Azza tersenyum miring. "Dengan menikah? Lo pikir nyawa gue bakalan selamat gitu?"


"Terserah kalau lo nggak percaya, anjiir nih flashlight kapan matinya? Dah pedih mata gue,"


"Lemah banget lo, tuh resiko sendiri yang buat kejadian kemarin jadi viral!"


"Hello nona, lo sendiri yang datang ke gue trus cium bibir gue didepan semua orang, salah guenya dimana?" gemasnya kesal.


"Hei, harusnya lo menghindar bukan menerima pasrah doang." protesnya tidak terima disalahkan.


Khaizan dibuat jengkel oleh istrinya, pria itu merapatkan tubuhnya dengan Azza hingga gadis itu sampai tidak bisa berkata-kata menatapnya.


"Hoooo!!!"


"Ya ampun romantis sekali mereka!"


Jantung Azza berdegup kencang yang mungkin bisa terdengar oleh pria ini. Lihatlah, wajah pria itu menatapnya sambil tersenyum seringai. "Jantung lo terdengar,"


Azza mendorong Khaizan menjauh, ia mengipas-ngipas wajahnya. "Sialan," umpatnya pelan. Khaizan tertawa pelan, lalu ia menggenggam tangan istrinya dengan erat membuat Azza menoleh kearahnya.


"Terimakasih," ucap pria itu terdengar tulus ditelinga Azza, raut pria itu tiba-tiba serius membuatnya terdiam.


***


Disinilah mereka berada sekarang, disebuah kamar yang sudah dihiasi seperti kamar pengantin pada umumnya. Baik Khaizan maupun Azza tidak ada yang beranjak dari tempat mereka berdiri saat ini, Azza merasa aneh saat seorang pria asing masuk kedalam kamarnya.


"Gue tidur di sofa." ucap pria itu melepaskan tuxedo yang melekat ditubuhnya tadi, ia pun langsung membaringkan tubuhnya disofa sambil menutup matanya dengan lengannya.


Azza menghela napas, ia melepaskan semua perhiasan yang ia kenakan tadi, setelah itu mengambil baju tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Azza menghela napas memandang dirinya dipantulan cermin.


"Huft," Azza menatap cincin yang masih melingkar manis dijarinya. Ia tersenyum kecut, masih berharap jika pernikahan ini adalah pernikahannya dengan Algha bukan dengan Khaizan. Namun, sayang ia tidak bisa menggenggam tangan pria itu lagi.


Azza menghapus air matanya cepat, dan memperbaiki ekspresinya agar Suaminya tidak curiga terhadapnya. Azza tertegun melihat Khaizan tertidur pulas di sofa yang sempit, ia merasa kasihan dengan pria itu. Azza mengambik selimut baru didalam lemarinya dan menyelimuti pria itu.


"Kalau lo tenang gini, lo tampan Khai," gumamnya mengagumi ketampanan Khaizan lebih jauh dibandingkan Algha. Azza merutuki dirinya sendiri, padahal ia sendiri yang bilang sudah move on dengan pria itu, tetapi mengapa ia masih saja terus teringat dengan Algha?"


Azza tersentak saat ada tangan yang menyeka air matanya, ia mendongak menatap Khaizan yang masih sayup-sayup melihat kearahnya. "Jangan menangisi hal yang tidak penting."