
Azza merinding ketakutan saat dibawa oleh pria itu masuk kedalam rumah. Haruskah ia mempercayai pria ini? Kenapa pula harus kerumah tua yang sudah tidak berpenghuni lagi?
Berusaha berpikir positif, ia tetap mengikuti pria ini dibelakang dengan patuh. Sesampai diruang tengah rumah itu, ia langsung disuruh duduk disofa yang penuh dengan debu. "Khai, lo lagi nggak bercanda kan sekarang?" tanyanya berusaha menghilangkan kegugupan yang mulai melandanya.
Khaizan melirik jendela lalu menoleh kearah gadis yang terlihat ketakutan itu. Ia mengedus pelan lalu menghampiri Azza. "Huft, lo takut?"
"Ng-nggak, siapa juga yang takut."
Khaizan menyipit matanya menatap dengan curiga. "Yakin?"
"Cih, ngapain juga kita disini sih? Siapa yang lo tunggu huh?"
"Musuh lo."
"Apa?"
"Gue pancing dia kesini, sorry aja kalau tempatnya nggak nyaman. Tapi, tempat yang bagus untuk memancing mereka kehadapan kita.'
"Tunggu...tunggu, apa maksudnya? Lo bawa mereka kesini? Lo udah gila?!" Azza begitu syok mendengar penurutan pria itu.
"Udah jangan bawel, lo duduk aja tenang disini," ucapnya kembali mengintip dijendela. Pria itu terkekeh pelan sambil menutup gordennya lagi. "Mereka disini."
"Eh?"
"Duduk diam jangan bergerak dari tempat sedikitpun!" serunya memperingati gadis itu, ia mengeluarkan senjata tajam membuat Azza langsung melotot menatapnya. Khaizan memasang silencer pada pistol ditangannya, setelah itu pria itu berjalan kearah Azza dan duduk disamping gadis itu.
"Wait for them."
"Lo benar-benar gila Khai...Lo mau bunuh mereka huh?" bisiknya menekan, ia menelan saliva saat melihat benda berbahaya itu ada ditangan pria ini untuk pertama kalinya.
Gila...gila, rasanya gue kayak difilm-film!
Azza ketakutan sekaligus penasaran, ini pertunjukan yang sangat langka baginya. Ketakutannya mulai perlahan hilang lantaran pria itu mungkin dapat ia percayai saat ini.
Saat pintu mulai terbuka, Khaizan langsung bersiap diposisinya. Azza bingung harus melakukan apa, ia hanya bisa duduk manis menyaksikan semua itu. "Yakin nih aman? Gue nggak sembunyi gitu?"
"Nggak perlu." jawabnya, Azza berdecak pelan mengikuti arahan pria itu.
"Ck, trus gue ngapain?"
"Damn! Bisa nggak sih diam dulu?!" kesalnya menatap tajam kearah gadis itu, sedetik kemudian ia menghela napas pelan. "Maaf."
Khaizan melirik kearah pintu yang mulai terbuka, lalu ia menodong pistol dan menembak kearah orang itu.
Dor!
Setelah membunuh pria itu, ia pun menarik masuk dan menunggu musuh yang lainnya.
"Dimana dia? Kenapa lama sekali mencarinya?" tanya seseorang diujung sana.
"Tunggu...tunggu, hati-hati!"
Khaizan tersenyum miring melihat Azza begitu ketakutan melihatnya. Tetapi, ia hanya diam menunggu sampai pintu itu kembali terbuka.
"Ck, dia lama kali nyarinya. Apa sih susahnya emncari wanita itu?!"
"Ingat jangan sampai bunuh dia, dia milik tuan Ansel!"
Deg.
Azza terdiam mendengar penuturan pria-pria diluar sana. Apa gue salah dengar? gumamnya masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Azza menoleh kearah Khaizan yang juga menatapnya, apa benar Ansel yang dimaksud orang itu adalah Ansel temannya? Ia yakin itu orang yang berbeda.
"Dia orang yang lo pikirkan." ucap Khaizan mematahkan pikiran positif Azza tentang Ansel, ia menggeleng-geleng kepalanya.
"Dia teman gue, dia bukan orang kayak gitu. Gue udah kenal lama."
"Huh, lo terlalu polos. Kalau nggak percaya liat sendiri nanti, dia ada disini."
"Apa?"
Azza menanti seseorang yang akan segera berjalan kearah ruangan yang ditempati mereka saat ini. Suara derap kaki itu kian mendekat membuat Azza cemas. Saat pintu terbuka, Khaizan langsung menodong pistolnya pada orang itu.
"Lo tembak dia, gue tembak balik lo!" ancam seseorang dibelakang pria yang ada didepan Khaizan. Pria itu mendorong pria didepannya agar masuk kedalam ruangan yang ditempati Azza. Mata Azza membulat lebar sempurna, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Sayang sekali Azza, kita harus bertemu dengan suasana seperti ini." ucapnya menoleh kearah Azza. Azza mengepal tangannya menatap tajam kearah Ansel.
"Ansel apa maksud semua ini huh?"
"Hmm apa ya?" gumamnya menodong pistol kearah pria yang sepertinya anak buahnya.
"Ansel jangan lakukan itu!"
"Apa gue harus dengarin kata-kata lo?" tanyanya sambil memukul keras pria itu didepan mata Azza.
Bugh.
"Ansel!"
Bugh.
"Brengsek, sudah cukup! Lo mau bunuh dia huh?!"
Bugh.
Ansel sama sekali tidak mendengarkan Azza, ia tertawa sibuk memukul anak buahnya dengan semangat. Sedangkan Khaizan hanya melirik diam tanpa enggan menghentikan aksi Ansel.
"Khai hentikan dia!" seru Azza, sumpah demi apapun Azza rasanya ingin menangis, tidak tega melihat seorang pria itu dihajar habis-habisan. Azza mengumpat pelan dalam hatinya menatap tajam kearah Khaizan.
Pria sialan! Ck, apa yang harus gue lakuin? Ansel lo benar-benar keterlaluan!