Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 38



Azza kasak-kusuk duduk dihadapan mereka semua termasuk Alman. Gadis itu tadi sempat meleraikan mereka berdua lantaran status Azza dikoarkan oleh Khaizan yang lagi jengkel membuat Alman tidak percaya dengan ucapan suaminya itu. Hingga mereka terjadi baku hantam yang membuat mereka semua berakhir duduk disini.


"Kalian sudah menganggu fasilitasi umum!" seru petugas keamanan yang berhasil menenangkan suasana disini.


"Saya nggak salah apa-apa Pak, ini cowok udah rada gila. Masa sahabat saya dibilang istri dia, ngigau dia nih Pak!" cerca Alman menggebu-gebu, ia menatap sinis kearah Khaizan.


Khaizan yang hendak protes langsung bungkam saat melihat istrinya menggeleng kepalanya. "Jangan." serunya tanpa bersuara.


"Benar itu Pak? Apa anda mengakui jika saudari adalah istri Anda?"


"Iya, dia memang istri saya." tegasnya membuat Alman tertawa terbahak-bahak.


"Lo jangan ngelantur, lo kira dia istri lo huh? Lo nggak pantas jadi suami dia, ngomong lo kasar, terus lo nggak peduli sekitar, trus baju yang lo kena—"


"Al!" seru Azza tidak suka dengan ucapan Alman yang satu ini. Alman tidak percaya jika Azza lebih membela pria didepannya ini.


"Azza, otak lo kayaknya udah di cuci sama si brengsek tuh!"


"Alman, dia suami gue!" sentaknya kesal membuat Alman terdiam setelah mendengar ucapannya barusan.


Deg.


"Apa lo bilang?"


"Gue udah nikah Al, dia suami gue." lirihnya pelan membuat Khaizan diam-diam tersenyum puas mendengarnya. Walaupun pria ini menyebalkan tetapi ia tidak pernah main tangan dengannya, apalagi menyuruh menjadi pembantu juga tidak ada.


Alman tertawa renyah sambil memainkan kertas yang ada ditangannya. "Lo nggak bercanda kan Za?" tawanya lirih, hatinya mendadak ngilu saat melihat wajah Azza terlihat serius. Itu artinya Azza tidak berbohong.


Azza menghela napas kasar, lalu menarik suaminya pergi dari tempat itu. "Maaf, gue nggak ada ngasih tau lo tentang status gue. Lain kali, gue kenalin suami gue dengan cara yang baik, sampai jumpa." pamitnya meninggalkan Alman yang menatap lirih kearahnya.


Alman menggertak rahangnya keras, ia tidak terima. Sama sekali tidak terima dengan pengakuan Azza barusan. Okelah, ia mengikhlaskan Azza pada Algha. Setelah mengetahui kematian Algha, ia senang bukan main, bukankah ini adalah kesempatan dari Tuhan menjodohkannya dengan Azza? Sialnya, kenapa ia selalu saja ketinggalan satu langkah meraih gadis itu. "Kali ini gue nggak mau lagi mengalah. Cukup Algha sialan itu yang buat gue rela mengalah!" geramnya langsung berjalan menuju mobilnya.


Sementara dua sejoli tadi, berhenti didepan sebuah toko pernak-pernik. Khaizan hanya menurut mengikuti istrinya menariknya masuk kedalam toko itu. Ia tidak ingin menanyakan perihal sikap Alman tadi pada Azza, mengingat saat ini suasana hati Azza sangat buruk.


Daripada diam tidak karuan, ia memilih melihat gantungan kunci yang terpajang cantik disana, Khaizan melirik Azza yang sibuk memilih tas-tas unik tepat diseberangnya. Pria itu mengambil gantungan kunci berinisial A, sambil tersenyum tipis memandang istrinya. "Azza!"


Azza menoleh, dahinya mengerut saat Khaizan memintanya menuju ketempat pria itu. "Kenapa?" tanya Azza masih dengan nada ketusnya.


"Buat lo." serunya memberikan gantungan kunci cantik itu pada Azza. Azza mengambilnya, seketika senyum tipisnya muncul.


"Ternyata selera lo lumayan juga Khai, jadi ceritanya gue ditraktir gitu?"


Khaizan tersenyum gemas, ia mengacak-acak rambut istrinya. "Iya, pilih apa yang lo suka. Nanti gue bayar, gue mau merokok dulu diluar, kalau udah panggil."


Azza menggembungkan pipinya, bukan cemberut karena ditraktir Khaizan, tetapi ia tidak suka kebiasaan merokok pria itu masih melekat. "Jangan merokok!"


"Gue nggak bisa berhenti, walaupun lo berbuih-buih larang gue, gue nggak bisa." jawab Khaizan berjalan keluar.


"Tapi gue nggak mau lo sakit Khai," lirih gadis itu sukses membuat Khaizan berhenti ditempat. Ia berbalik menatap istrinya dengan raut yang susah diartikan.


"Kamu suami aku, aku nggak mau suami aku kenapa-kenapa." ucap gadis itu langsung menjauh dari pandangan Khaizan.


***


Khaizan duduk disofa sambil menonton TV. Pandangannya menoleh kearah kamar saat mendengar suara kasak-kusuk disana. Merasa curiga, ia melangkahkan kakinya cepat menuju kamar dan tertegun melihat Azza tengah meringis memegang kakinya. Tapi, yang lebih membuat Khaizan terdiam karena istrinya hanya memakai bathrobe yang dapat menggoyahkan imannya.


Sial, menyingkirlah pikiran kotor!


Khaizan menghiraukan pikirannya, pandangannya Kiki tertuju pada kaki gadis itu yang terlihat memar. "Kenapa?"


"Shhh gue terpeleset." lirihnya masih memegang kakinya. Khaizan jongkok memegang pelan kaki Azza.


"Bisa berdiri sendiri?" tanyanya pelan. Azza hanya menunduk lalu menggeleng. Kini yang Azza cemaskan ada dua satu kakinya yang satu lagi, ia hanya menggunakan bathrobe.


Khaizan menghela napas, selanjutnya apa yang harus ia lakukan? Menggendong istrinya ke atas kasur? Tapi, tapi istrinya ini terlihat ketakutan. Tunggu, apa Azza takut dirinya khilaf ? Tapi kan Khaizan suaminya? Bukannya berhak meminta hak? Ah, sialnya waktu dan kondisi sekarang sangatlah tidak tepat! Apalagi keduanya menikah bukan karena saling mencintai, ini Khaizan lakukan sekedar melindungi gadis ini sesuai permintaan Algha.


"Azza, gue boleh gendong lo ke kasur?" Tujuan pertamanya harus mengobati kaki istrinya dulu. Azza tampak diam sejenak. Sepertinya ia sedikit terkejut, Khaizan tiba-tiba meminta izin padanya.


"Boleh,"


Khaizan langsung menggendong Azza ala bride style menuju kasur dengan hati-hati. Setelah itu, ia mengambil salep dan mengolesi lebam kaki Azza.


"Makasih Khai," cicitnya sambil tersenyum tipis. Khaizan terdiam, cukup lama ia memandang wajah Azza hingga membuat gadis itu salah tingkah.


"Apa ada sesuatu di wajah gue Khai?"


"Nggak ada, istirahat lah." jawabnya singkat, setelah itu melangkah masuk kedalam kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun kearah Azza. Ia dibuat bingung dengan sikap Khaizan barusan, tetapi dirinya diam-diam mengulum senyum mengingat perhatian suaminya tadi.


Azza termenung, ia melihat seluruh sudut kamar ini. Sudah empat bulan ia menempati dan tidur bersama Khaizan, suaminya. Hubungannya pun juga hanya sebatas ya begitulah tanpa ada peningkatan seperti pasangan suami istri pada umumnya. Teringat tujuan utamanya setuju menikah dengan Khaizan karena ingin menggali informasi tentang suaminya itu. Namun sampai sekarang, ia malah berleha-leha seolah sudah menikmati apa yang sudah terjadi pada hidupnya. Jujur, ia mulai menyukai Khaizan.


"Astaga apa yang gue pikirkan, ya ampun Azza lo udah benaran move on dari Algha??" gerutunya pelan. Ia sendiri terkejut tidak banyak teringat tentang Algha.


Ceklek.


Lamunannya buyar, ia langsung menoleh kearah Khaizan yang kini sedang mengeringkan rambutnya. Beruntung pria itu masih berpakaian lengkap membuat Azza lega seketika.


Deg.


Wah parah lo Za, mikir apa lo barusan huh?!


Tidak ingin membayangkan yang tidak-tidak, ia langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut,. Baru sedetik memejamkan mata, ia langsung tersentak mengingat dirinya belum mengenakan pakaian. Anjir gue gila banget nggak pakai baju!


Pelan-pelan ia menuruni kasur, melangkah tertatih-tatih menuju lemari untuk mengambil pakaian. Saat ia ingin mengambil bajunya, tiba-tiba tubuhnya berputar kebelakang. Matanya langsung membelalak saat Khaizan langsung mencium bibirnya.


Deg.


Deg.


Deg.


Jantungnya berdetak sangat cepat, sekarang ia tahu sebentar lagi, ia akan menjadi milik Khaizan seutuhnya.