
"Ck, bisa diam nggak?!" sentaknya membuat Azza menatap tajam kearahnya. Siapa yang tidak kesal melihat gadis itu mondar-mandir tidak jelas didepannya hampir setengah jam. Apalagi suara sepatunya itu tentu menganggu ia bekerja.
"Lo yang harusnya diam!" balasnya membuat Khaizan ternganga.
"Hei, gue dari tadi diam aja. Lo yang ribut, kalau mau ribut keluar sana!" usirnya menunjuk kearah pintu.
"Apasih rese banget," ketusnya malah duduk di sofa ruangan Khaizan. Pria itu semakin bingung dengan sikap absurd istrinya hari ini.
"Lo pasti kesurupan, makanya aneh. Mau gue panggilkan dukun?" tawarnya gemas. Azza menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.
"Idih, bukannya lo yang kesurupan huh?"
"Astaga nih bocah, lo kalau mau ribut jangan sekarang. Gue lagi sibuk!" Khaizan melirik jam tangannya yang menunjukkan makan siang, lalu melirik kearah istrinya.
"Huft, gue nggak mau ribut. Ada yang mau gue omongin ke lo." ucapnya mendekati Khaizan.
Alis Khaizan terangkat sebelah, tumben sekali gadis ini ingin mengobrol dengannya. "Ooo bilang kek dari tadi, nggak perlu lo mondar-mandir nggak jelas. Yok pergi!"
"Kenapa pergi? Gue kan mau ngomong disini."
Khaizan menarik napas kasar. "Udah jam makan siang, lo nggak lapar?" tanyanya sambil menyisingkan kemejanya sampai siku. Tanpa menunggu respon dari Azza, ia langsung menggenggam tangan istrinya keluar ruangan.
Azza merasa risih dengan pandangan orang-orang di kantor ini menatapnya dengan berbagai ekspresi. Namun, ia melihat Khaizan tidak peduli dengan tatapan orang-orang itu membuat dirinya ikut mengabaikan mereka. Sesampai di lift, hanya keheningan yang menemani mereka sampai lantai yang mereka tuju. Azza tertegun melihat tangannya masih digenggam erat oleh suaminya, seolah-olah tidak membiarkan tangan itu terlepas.
Dia memang misterius, susah ditebak sifatnya. gumamnya sesekali melirik Khaizan.
"Kenapa? Baru tau suami lo ganteng hm?" serunya membuat Azza memutar bola matanya malas.
"Idih, lo kepedean amat." ketusnya memalingkan wajah, ia mendadak salah tingkah saat melihat senyuman Khaizan yang menawan.
Saat pintu lift terbuka, Khaizan masih menggenggam tangan Azza sampai didepan mobil. Khaizan melajukan mobilnya menuju restoran untuk makan siang mereka hari ini.
"Apa yang mau lo omongin?" tanya Khaizan sekilas melirik kearah Azza sambil mengemudikan mobilnya.
"Nggak jadi." jawabnya santai sontak membuat Khaizan langsung mengerem mendadak.
Ciiit.
"Anjiiir, ngapain lo ngerem mendadak woi?! Tuh liat mobil lain ngelakson kita bego!" cercanya menatap kesal kearah suaminya.
Khaizan membalas menatap tajam kearah istrinya. Wah, sungguh ia tidak bisa menebak apa isi pikiran istrinya yang satu ini. "Plin-plan banget."
"Bleeh biarin." ejeknya. Azza menghela napas lega karena ia tidak jadi menanyakan perihal hak untuk suami yang wajib dilaksanakan. Jujur, dalam hatinya ia masih tidak yakin menyerahkan diri sepenuhnya pada lelaki yang berhasil menikahinya. Masih terlalu takut untuk jatuh cinta lagi apalagi suaminya ini adalah orang terdekat dari kekasihnya dulu. Ia berharap semoga hubungannya dengan Khaizan stagnan seperti ini, ia tidak ingin lebih dari batas yang ia buat.
"Terserahlah." Khaizan memilih pasrah, ia pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.
***
Galen menghentakkan kakinya pelan, ia terus menggerutu kesal sambil mengurus dokumen yang ada didepan matanya ini. Sungguh, ini bukan keahliannya mengurus ini dan itu di perusahaan. Ia seorang peretas yang kerjanya hanya duduk didepan komputer.
"Sialan, mau berapa banyak lagi dokumen yang harus gue selesain? Mana sih kampret itu kabur dia!" gerutunya menatap ruangan Khaizan kosong. Ia tidak tau sama sekali kemana sahabat iblisnya pergi.
Galen memijit kepalanya pelan, perasaannya saat ini sangat buruk. Tidak ingin membuat masalah, ia pun memutuskan untuk istirahat sebentar makan siang di luar. Pria itu berjalan kaki menuju rumah makan yang tidak jauh dari tempat kerjanya.
Bruuuk.
Galen terkejut ada sebuah kaleng yang menggelinding kearah kakinya, lalu ia memungut kaleng susu itu. "Ini punya siapa?"
"Maaf, itu punya saya." seru seorang wanita itu sambil memungut barang yang lainnya. Galen pun menghampirinya dan ikut membantu memungut barang-barang miliknya. Ia tertegun melihat wajah gadis itu saat mendongak menatapnya. Satu hal yang terbesit dipikiran Galen adalah gadis didepannya ini sangat cantik.
"Oh, maaf. Bagaimana kalau saya bantu membawa barangnya? Saya yakin anda kesusahan membawa ini semua." tawarnya.
Gadis itu tampak mempertimbangkannya lalu mengangguk pelan. "Boleh tolong antarkan ke mobil saya?"
"Oke." Sejenak perasaan Galen menjadi lebih baik berkat gadis disampingnya ini. Rasanya ia penasaran dengan sosok bidadari disampingnya ini, ia ingin mengenal lebih jauh.
"Ngomong-ngomong lo darimana?" tanyanya berusaha tidak formal.
Galen menoleh kearahnya. "Gue dari perusahaan sana!" tunjuknya pada bangunan pencakar langit yang tak jauh dari mereka berjalan.
Gadis itu kembali mengangguk pelan. "Keren, gue dengar perusahaan itu bagus."
"Iya, ngomong-ngomong lo dari mana?" tanya Galen.
"Gue dari Apartemen gue, tempatnya nggak jauh dari sini." jawabnya sambil membukakan pintu mobilnya. Gadis itu memasukkan barang-barangnya kedalam bagasi mobilnya.
"Makasih udah bantuin, oiya kita belum kenalan. Gue Glesy, lo siapa?"
"Galen, lo udah punya pacar?" tanyanya to do point membuat gadis itu tertegun lalu tertawa pelan.
"Belum, lo mau jadi pacar gue?" candanya langsung ditanggapi serius oleh Galen.
"Iya, kalau lo mau gas yok jadi pacar gue!" serunya. Siapa sangka langsung disetujui gadis itu.
"Oke." jawabnya sontak membuat Galen kegirangan, siapa sangka ia tiba-tiba mendapatkan pacar yang cantik seperti Glesy.
"Btw, lo belum makan siang?" tanyanya sambil melirik jam tangannya.
"Belum, makan dimana kita?" tanya gadis itu lagi.
"Lo mau makan dimana?"
***
Jantung Galen mendadak berhenti, siapa sangka mereka bertemu dengan sahabat iblisnya disini, manalagi Khaizan meliriknya dari kejauhan dengan tatapn penasaran dengan sosok gadis disebelahnya. Glesy tidak mengetahui jika mereka saling kenal.
"Kita duduk dimana?" tanyanya mengedarkan seluruh pandangan mencari tempat duduk. Galen tersadar, lalu menarik tangan gadis itu mengambil tempat tepat disamping meja bosnya. Benar, untuk apa ia takut dengan Khaizan? Toh, pria itu tidak punya hak melarangnya pacaran disini.
Azza tersenyum miring melihat Galen ketar-ketir melirik kearahnya dan juga Khaizan. "Lo buat sahabat lo takut bego, jangan diliatin kayak gitu!" serunya memukul lengan suaminya pelan.
"Tumben sekali tuh bocah makan berdua dengan cewek lain." ocehnya.
Azza memutar bola matanya malas. "Ya bisalah, toh dia juga manusia yang punya perasaan. Mungkin pacarnya saat ini tipe idealnya." jelasnya panjang lebar.
"Cih, kayak lo udah berpengalaman aja." ledeknya membuat Azza tersenyum jengkel.
"Malas gue ngomong sama lo."
"Ya udah nggak usah ngomong kan, simpel," balasnya tentu membuat emosi Azza semakin naik.
"Lah lo yang mulai duluan, kok gue yang salah??"
"Lo yang mulai duluan ngomongnya. Daritadi lo sendiri yang asik ngoceh."
"Dasar aneh!" Azza menyentak meja sontak membuat banyak pandangan kearah mereka termasuk Galen dan Glesy. Azza merampas kunci mobil Khaizan, "Gue lagi merajuk sekarang! Lo yang bayar gue tunggu dimobil!" serunya meninggalkan Khaizan yang terbengong melihat sikap istrinya yang labil.
"Merajuk bilang-bilang, lo yang salah kok gue yang nanggung malu disini sialan!" umpatnya pelan cepat-cepat beranjak dari tempatnya dan langsung membayar tagihan makanan mereka. Ia tidak mengerti isi pikiran gadis itu, karena inilah ia tidak suka berurusan dengan makhluk bernama wanita, sangat menjengkelkan.