
Azza menggumam saat merasakan ada yang berat diatas perutnya. Matanya dibuka perlahan terkejut melihat tangan kekar melingkar diperutnya. Azza mendongak dan tertegun merasakan hembusan napas Khaizan yang menerpa rambutnya. Tiba-tiba ia kembali teringat tadi malam, dimana ia benar-benar menyerahkan mahkota berharganya untuk Khaizan. Sungguh, diluar dugaan semuanya terjadi begitu saja tanpa terkendali. Azza menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membayangkannya saja membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Azza pelan-pelan memindahkan tangan Khaizan yang melingkar diperutnya, hampir saja dirinya berteriak saat merasakan tubuhnya kembali terhuyung pada Khaizan. "Hmm mau kemana?" gumam pria itu masih menutup matanya.
"A-awas aku mau ke kamar mandi. Ha-hari ini aku ada kelas!" serunya gugup berdekatan dengan Khaizan. Sialan, memori tadi malam terus menari-nari dikepala gue. Gerutunya dalam hati.
"Nggak usah kuliah hari ini, sayang." pinta pria itu membuat jantung Azza kembali berdetak cepat.
"Hahaha, detak jantung kamu kedengaran ya sayang." ledek Khaizan membuat Azza salah tingkah langsung memukul lengan pria itu dengan kesal.
"Awas!" kesalnya cepat-cepat berjalan menuju ke kamar mandi walaupun melangkah dengan tertatih-tatih. Khaizan hanya terkekeh pelan melihat tingkah istrinya, senyumannya langsung luntur saat melihat nama kontak yang menelpon di ponsel istrinya.
"Brengsek nih orang mau apa sih ganggu istri gue?!" Cercanya langsung mematikan ponsel Azza. Pria itu tersenyum smirk melangkah menyusul istrinya di kamar mandi.
"Azza! Azza!" teriaknya menggedor-gedor cepat pintu kamar mandi membuat Azza terburu-buru membukakan pintunya sedikit.
"Kenapa? Kenapa?" tanyanya panik, jarang sekali pria ini cemas tidak karuan.
Khaizan langsung menyolonong masuk membuat Azza berteriak kencang. "Khaizan!!!"
***
Azza meniup poninya keatas sambil memandang kesal kearah suaminya. Harusnya ia datang ke kampus malah berakhir menitip absen pada Lulu, ia benar-benar tidak mengerti sikap suaminya saat ini. "Kenapa liat-liat?!"
"Cantik." ucap pria itu membuat wajah Azza bersemu merah. Buru-buru ia langsung mengubah eskpresi kesalnya kembali.
"Cih, ada maunya aja." gerutunya melangkah kearah dapur. Sedangkan Khaizan hanya tersenyum tipis memandang istrinya yang begitu menggemaskan.
Azza terkejut melihat tangan kekar melingkar erat dipinggangnya. Ia tahu persis siapa orang dibelakangnya ini, yang tiba-tiba sifatnya berubah 180 derajat hanya karena kejadian semalam.
"Khai minggir, gue mau masak!"
"Mulai manggil gue gue lagi, harus aku!" protesnya tidak terima mendengar panggilan yang dilontarkan Azza.
"Ck," Azza menepis tangan suaminya, ia akhirnya bernapas lega melanjutkan aktivitasnya tanpa diganggu suaminya yang menyebalkan itu lantaran pria itu menerima telepon dari seseorang.
"Siapapun yang menelponnya, gue berterimakasih kalii."
Usai berkutat dengan urusan dapur, Azza menyajikan sarapan pagi untuk mereka berdua. Dahinya mengerut tidak melihat sosok suaminya berada disini. "Kemana dia?" gumamnya mencari Khaizan. Langkahnya berhenti saat melihat suaminya tengah berbincang serius dengan Galen di teras, tidak ingin menganggu kedua manusia itu. Ia berjalan ke kamarnya untuk mengganti bajunya.
Bugh.
Azza terkejut, buru-buru ia melangkah keluar kamar mencari sumber suara itu. Alangkah terkejutnya lagi-lagi ia melihat suaminya tengah baku hantam dengan Alman yang entah kapan pria itu datang dan tau rumah ini. "Hentikan!"
Suara Azza sontak membuat kedua orang itu menoleh kearahnya, Alman mendorong Khaizan hingga tersungkur dan berlari kearah Azza. "Azza, ayo kita pergi!" serunya menarik tangan Azza.
"Sial, sakit! Apa-apaan ini?!" ringisnya ingin menepis tangan Alman yang begitu erat mencengkram lengannya. Hal itu tentu membuat amarah Khaizan seketika memuncak, dan menghajar lagi pria brengsek itu.
Bugh.
"Hentikan Khai!" paniknya bukan main, ia tidak ingin melihat suaminya semakin babak belur lagi seperti kemarin. Khaizan tampak tidak menghiraukan seruan istrinya, ia tetap menghajar babi buta pria yang berkedok menjadi sahabat Azza. Andai saja Azza tahu maksud Alman mendekatinya selama ini, mungkin istrinya akan kecewa dan Khaizan tidak lagi ingin lagi melihat air mata Azza kembali jatuh.
"Brengsek, lo udah rebut Azza dari gue! Menyingkirkan setan!"
"Lo yang harusnya menjauh dari hidup istri gue! Dia istri gue sekarang!"
"Buahahaha istri lo? Istri? Gue yang suka dia duluan lo seenaknya nikah! Dia milik gue sampai kapanpun milik gue!"
Azza tertegun mendengar fakta barusan, apa ini? Kenapa sahabatnya dari SMP yang dulu sering membantunya, sekarang malah menjadi orang yang sama sekali tidak ia kenal. Pria didepannya ini bukan Alman yang dulu ceria padanya. Pria yang ia lihat saat ini adalah pria gila yang ingin memaksa membawanya pergi dari Khaizan. "Cukup!" Azza memekik membuat Khaizan menoleh kearahnya.
"Jangan sentuh dia brengsek!" cerca Alman kembali mencengkram tangan Azza. Azza meringis sambil memukul kuat tangan kekar Alman.
"Diam!" bentaknya pada Azza. Khaizan langsung kembali menghajarnya.
Bugh.
Bugh.
"Bede*** sialan!! Berani lo bentak istri gue?!"
"Pecundang, kalau lo benaran laki. Lo nggak akan pernah membentak wanita sialan!"
Bugh.
Bugh.
"Gue peringati lo sekali lagi, jangan ganggu keluarga gue!" serunya menatap nyalang kearah Alman yang kini meringis memegang lebam yang dihajar olehnya.
"Gue nggak akan menyerah, dia tetap milik gue sampai kapanpun!"
"Bermimpilah suka hati lo, buka mata lo lebar-lebar karena faktanya Azza yang lo incar adalah istri gue!"
"Hentikan! Apa-apaan ini sialan?!" teriak seseorang sontak membuat Azza langsung bernapas lega. Kebetulan sekali, kakak pertamanya datang disaat yang tepat. Azza langsung berlari menghampiri Alze.
"Kak Al!"
Alze yang memandang sinis kearah dua pria yang membuat adiknya ketakutan. Yang lebih herannya lagi, kenapa dua pria ini saling adu jotos?
"Apa ini Khai?" tanyanya dingin menatap tajam kearah adik iparnya. Khaizan menelan saliva, astaga belum selesai masalahnya dengan Alman kini ia harus berhadapan dengan kakak iparnya yang super posesif.
Mata Khaizan memicing menatap pria disebelah Khaizan, seolah-olah wajah itu tidak asing baginya. "Tunggu, lo Alman?" tebaknya.
Alman mengangguk semangat, walaupun wajahnya penuh dengan lebam. Ia akan membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi suami Azza sekaligus jadi adik ipar Alze yang baik bukan seperti pria brengsek disebelahnya. "Lo ingat gue, gu—"
"Seharusnya lo sadar posisi Al, gue emang dulunya mau menjodohkan lo dengan Azza. Tapi, gue beruntung bukan lo jodoh adik gue. Dan apa yang lo lakuin saat ini udah sangat fatal buat gue. Jadi sekarang jangan temui adik gue lagi dan jangan ganggu rumah tangga mereka." tegasnya membuat Alman mengepal tangannya kuat.
"Brengsek!"
"Sekali lo melangkah kesini, jangan harap lo bisa keluar hidup-hidup Alman!" ancam Alze menarik Azza berdiri dibelakangnya.
Alman tidak peduli, ia mendekati Alze. Hal itu tentu tidak membuat Khaizan diam, pria itu langsung mencekal leher Alman. "Jangan sentuh istri gue sialan!" Khaizan langsung memukul tengkuk leher Alman hingga membuat pria itu pingsan.
Bruuk.
"Astaga!" Azza menatap tidak percaya kearah suaminya sambil menutup mulutnya.
"Ck, kenapa lo buat dia pingsan, huh?"
"Nggak ada pilihan lain kak, muka gue udah bonyok gini capek gue hadapi si setan satu nih! Biar gue suruh satpam bawa dia jauh-jauh dari sini hehehe." cengirnya tanpa dosa. langsung menyuruh satpam mengurus Alman.
Khaizan menghampiri Azza, baru saja ia ingin memeluk istrinya, tiba-tiba Alze menghalanginya. "Enak aja lo main peluk-peluk adek gue. Azza gue bawa pulang, lo harus izinin dia. Dia dirumah sampai muka bonyok lo sembuh, bye!" serunya membawa Azza ikut bersama.
"Eh kak?"
"Nggak usah banyak protes Za, ikut gue!" seru Alze tetap kukuh membawanya. Azza hanya menurut mengikuti sang kakak setelah mendapatkan anggukan dari Khaizan yang mengizinkan pulang kerumah.
Setelah mobil yang dikendarai Alze menjauh dari pandangannya langsung membuat Khaizan mengumpat kesal. "Sial, mana bisa gue tidur tanpa Azza!"