Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 22



Azza menggerutu kesal dalam hatinya, apalagi permainan yang akan dibuat pria brengsek disampingnya ini?


Khaizan tidak memperdulikan raut masam yang ditunjukkan Azza, kini ia berhadapan dengan kedua orang tua dari gadis ini. "Bagaimana? Apa kalian setuju?"


"Nggak, nggak ada!" tolak Sam mentah-mentah, Khaizan menghela napas berat. Ia berusaha tidak terbawa emosi menghadapi calon kakak iparnya, entah mengapa ini menjadi suatu tantangan buatnya untuk mendapatkan Azza.


"Sam, jangan kayak gitu! Ini keputusan ada ditangan Azza, sekarang kamu pilih mana Nak? Mama serahkan semuanya padamu." ucap Haura memandang lekat putrinya.


"Sam yakin Azza meno—"


"Aku setuju menikah dengannya Ma," ucap Azza membuat semuanya melongo mendengarnya, termasuk Khaizan. Ia heran bukannya tadi gadis ini menolak keras untuk menikah dengannya, kenapa tiba-tiba menyetujui pernikahan ini?


Azza yakin keluarganya akan bingung dengan keputusannya kali ini, tetapi ia terlintas sesuatu hal. Ada satu hal yang membuatnya penasaran, mengapa pria ini terus-menerus memintanya menjadi istri.


"Azza lo nggak kesambet kan? Lo serius apa yang lo omongin tadi?!" Alze berusaha menyakinkan keputusan Azza.


"Maaf kak, gue udah bulat dengan keputusan ini. Jadi untuk alasannya gue nggak bisa kasih tau sekarang." jawabnya tetapi tidak membuat dua kakaknya puas dengan jawabannya. Sedangkan Khaizan bukannya senang melainkan menaruh perasaan curiga dengan gadis ini.


Apa yang direncakan diotak kecilnya itu? Tidak mungkinkan dia tiba-tiba setuju nikah padahal tadi menolaknya mentah-mentah. gumam Khaizan.


"Gue nggak paham lagi, terserah lo aja." ucap Sam pergi dari sana, sedangkan Alze hanya diam tanpa menoleh kearah Azza.


Hati Azza sedikit terluka, kakak-kakaknya tidak akan mendukungnya lagi seperti sebelumnya. Tetapi, ia tidak boleh sedih dan lemah seperti ini. Ada hal yang harus ia ketahui tentang Khaizan maupun Algha. Jika memang iya, siapa pelaku yang membunuh Algha waktu itu? Ia lelah dipermainkan oleh kakak beradik ini, walaupun hatinya masih ada untuk Algha tetapi tidak menutup kemungkinan ia ingin tahu lebih dalam soal Algha, rahasia Algha dan kematian Algha.


***


Pernikahan Azza dan Khaizan diadakan secara mendadak yang hanya dihadiri keluarga inti. Untuk pihak keluarga Khaizan, pria itu hanya ditemani dengan sekretarisnya tanpa ada satupun keluarga inti yang datang. Seketika melihat hal itu, hati Azza sedikit kasihan dengan hidup pria ini.


Azza memandang gaun yang tengah dikenakannya, sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dari Khaizan. Keputusan gila yang ia ambil membuatnya ragu apakah tetap melanjutkan atau berhenti disini. Seperti sekarang, kedua kakak iparnya menaruh curiga padanya.


"Lo yakin dengan keputusan lo kan Za?" tanya Bita yang entah sekian berapa kali, wanita ini bertanya.


"Yakin kak, doain gue lancar pernikahan ini." ucap Azza lagi-lagi menyakinkan keduanya. Anggi dan Bita hanya mengangguk pasrah dan menyerahkan keputusan ini pada Azza, mereka berharap agar pernikahan Azza akan baik-baik saja. Usai membantu Azza berhias, mereka pun keluar dari kamar Azza.


Azza sendiri tidak yakin dengan keputusannya, tetapi ia tetap akan memilih pernikahan ini apapun resiko kedepannya. Tidak peduli jika keputusannya ini bisa saja membuat semuanya kacau, apalagi pernikahan ini mengingatkannya dengan hari sakral dimana harusnya ia sah menjadi istrinya Algha.


Entahlah, pernikahannya kali ini terasa hambar. Tidak seantusias dulu yang bahkan tidak bisa tidur karena tidak sabar menikah. "Algha maaf, aku menikah dengan kakak lo sendiri," lirihnya pelan menatap foto Algha yang tertempel rapi di dalam buku diary-nya.


Tok...tok.


Azza menoleh kearah pintu, ia menyeru agar orang itu membuka pintunya. Ia tertegun melihat dua kakaknya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia tebak, keduanya berjalan mendekatinya. Sam duduk disamping Azza sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Alze cuek duduk dikasur Azza sambil memainkan ponselnya juga.


Azza berdecak pelan, sudah sepuluh menit ia menunggu keduanya bicara tetapi tidak ada satupun yang memecahkan keheningan diantara mereka. Tanpa Azza sadari jika mereka berdua tengah berdebat sambil membalas pesan masing-masing.


Sam


Woi kak, ngomonglah tadi lo mau ngomong sama Azza!


Alze


Sam


Lah kok gue pula, lo lah!


Alze


Lo aja sialan, ntar gue traktir lo.


Sam


Nggak,nggak gue nggak percaya dengan otak licik Lo kak, cepat sana ngomong sama Azza!


"Hei kalian ini mau ngomong apa nggak sih?!" gerutu Azza membuat keduanya mendongak menatapnya. Sam menggaruk tengkuknya tidak gatal sedangkan Alze memalingkan wajahnya agar tidak melihat langsung kearah Azza.


"Kenapa kak? Kok nggak jawab?" desak Azza lagi, ia tidak ingin membuat keributan di hari pernikahannya ini.


"Lo udah bulat nikah sama dia? Udah yakin?" tanya Alze lagi, Azza tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.


"Lo nggak dipeletkan Za? Gue rasanya nggak percaya kalau lo sendiri yang mau nikah dengan dia." tuduh Sam.


"Hmm begitulah manusia kak, susah ditebak berlabuh dengan siapa. Gue udah yakin kok dengan keputusan gue, tapi gue minta kakak-kakak kesayangan gue ini mendukung gue kemanapun gue pergi. Gue ingin mengabadikan banyak moment nantinya, oke?


"Tapi Az—"


"Jangan dong ada tapi-tapian, mulai detik ini gue bakalan bertanggung jawab resikonya, oke?"


"Ish kalau ada masalah gue bakalan cerita kok dengan kalian serius," ucapnya lagi.


"Huft, terserahlah. Tapi, kalau lo diperlakukan semena-mena. Gue nggak bakalan tinggal diam menghajar suami lo Azza!"


"Okee siap kak," ucapnya dengan yakin, ia meletakkan ponselnya


"Gue percaya dengan lo Za, jangan dipendam sendirian masalahnya oke?" ucap Alze mencubit pipi Azza.


"Oke kak, jangan khawatir."


"Huh, gue nggak nyangka kalau lo udah mau nikah. Walaupun calon suami lo menjengkelkan tetapi ia masih peduli dengan orang-orang disekitarnya.


"Selamat buat lo Za, semoga langgeng." ucapnya pelan, meskipun masih tidak rela adiknya jadi milik orang lain.


Azza menatap datar, sebelum ijab qabulnya dimulai. "You can do it, Azza!"