Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 13



Sejak saat itu, mereka berdua tidak lagi bertemu. Bahkan Azza dan Lulu memasukkan proposal mereka perusahaan kecil. Ia sudah menduga jika tetap nekat mengajukan proposal di perusahaan pria brengsek itu, ia yakin hidupnya tidak akan baik-baik saja. Sebelum masalah terjadi, lebih baik menghindar bukan?


Azza menyesap cokelat panasnya sambil menatap jalanan basah sehabis hujan. Ia sibuk mengetik tugas dilaptopnya. Sedangkan sahabatnya itu, berkencan dengan pacar barunya. Gadis itu berjalan kembali ke kasir dan memesan waffel lagi, setelah itu ia melanjutkan kerjanya. "Yes akhirnya selesai juga nih tugas. Bye, gue nggak mau berurusan dengan lo lagi!" serunya puas lalu menutup laptopnya. Ia menghabiskan coklat panas yang entah keberapa kalinya ia memesan itu. Ia pun berjalan mendekati kasir dan membayar pesanannya.


Azza menghirup udara segar, ia berjalan kaki melewati beberapa toko yang menjual beraneka macam barang. Langkah kaki Azza berhenti tepat didepan sebuah butik, senyumnya yang terpancar tadi seketika redup. Ia menatap nanar baju pengantin yang terpajang di butik itu, Azza hanya bisa menghela napas pelan mencoba berdamai dengan kenyataan yang dialaminya. Ia kembali berjalan menuju halte bus, tanpa menyadari jika dirinya diikuti oleh seseorang memakai pakaian serba hitam.


Azza terkejut melihat Khaizan duduk di halte sambil memainkan rubik ditangannya. Pria yang menyuruhnya untuk tidak bertemu lagi waktu itu malah bertemu lagi disini. Ia heran mengapa pria itu suka sekali memainkan benda kubus itu? Apa pria itu tidak bosan? Tetapi, yang membuat ia bingung tatapan pria itu tajam kearahnya.


Apa gue ada buat salah? Gumamnya bingung, dengan berani Azza mendekati Khaizan. Azza tidak menyadari jika Khaizan sempat tersenyum tipis. Khaizan merampas tas yang dipegang Azza lalu menyuruh gadis itu duduk disampingnya.


"Hei ngapain gue ditarik-tarik huh?! Lo mau maling tas gue?!" cercanya.


Khaizan menatap malas kearah gadis itu. "Geeran banget lo, cepat duduk disini!" suruhnya sambil menepuk tempat duduk disampingnya.


"Nggak, ngapain juga gue duduk disa—"


"Gue bilang duduk, ya duduk bego!"


"Emangnya kenapa?" Khaizan berdecak kesal, tanpa basa-basi ia menarik tangan gadis itu hingga Azza akhirnya duduk disampingnya. "Apaan sih?!"


"Tutup mulut lo, lo diikuti seseorang." bisiknya dengan santai sambil memainkan rubik ditangannya. Azza terkejut, ia bingung ingin mempercayai ucapan pria ini atau tidak. Bisa jadi, pria ini mengerjainya.


"Cih, kalau nggak percaya ya sudah. Gue nggak peduli juga pun," serunya seolah-olah membaca pikiran Azza.


"Gila lo."


Khaizan tidak memperdulikan ocehan gadis itu, setelah rubiknya tersusun sempurna, ia melempar rubik itu pada Azza. Azza spontan menangkap rubik itu dan menatap tajam kearahnya. "Woi lo kalau nggak sayang barang, buat gue aja!"


"Emang, gue udah bosan mainnya. Buat lo aja," ucapnya lalu melirik bus yang sudah mulai mendekati halte mereka. "Tuh bus lo, pergi sana!" usir Khaizan. Azza menggerutu pelan, ia berjalan kearah bus. Saat hendak menaiki bus, Azza dengan sempat- sempatnya menginjak kaki Khaizan, gadis itu tersenyum puas berlari cepat masuk kedalam bus sebelum pria itu murka. Gadis itu memilih duduk disamping jendela bus, melirik pria itu yang juga kini menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


Sial nih orang jangan buat gue salting. Sampai bus bergerak pun, Khaizan masih tetap duduk dihalte. Azza mengerut keningnya. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepalanya mengenai pria itu, Azza lebih untuk tidak memikirkannya.


Khaizan tersenyum smirk, lalu pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir dipinggir jalan. Ia tahu kalau mobil itu ingin membututi gadis itu, Khaizan beranjak dari tempatnya lalu masuk kedalam mobilnya. Ia melaju membututi bus yang dinaiki Azza.


Pria itu menyadari sesuatu yang tidak beres tentang adiknya. Kenapa nyawa gadis itu dalam bahaya? Kenapa ia tidak diincar sejak kematian Algha? Harusnya ia tidak peduli bukan tentang keselamatan gadis itu? Tetapi, hatinya malah berkata lain. Disisi lain ia ingin tahu lebih detail tentang kematian adiknya disisi lain, ia mencurigai gadis itu. Kenapa kematian Algha berkaitan dengan gadis itu?


***


Azza menghela napas menatap kearah luar, ia masih bingung apa benar ia diikuti oleh seseorang. Raut wajah pria itu tampak serius tadi, jika memang benar mungkin ia harus lebih hati-hati lagi mulai sekarang.


"Azza?" seru seseorang membuat Azza menoleh kebelakang.


"Ansel? Lo disini juga?" tanyanya bingung menatap teman kelasnya sekaligus teman klub gitar mereka.


"Iyaa, lo naik bus juga? Tumben banget." serunya berpindah tempat duduk disamping Azza.


"Gue nggak ada bawa mobil tadi, lo sendiri ngapa nggak bawa mobil?"


"Ban mobil gue bocor, trus gue panggil orang buat perbaiki tuh ban."


"Emangnya lo mau kemana? Kan kelas hari ini nggak ada."


"Wow tumben, pasti untuk pacar ya?"


Ansel tergelak pelan lalu menatap Azza. "Iya, moga aja dia suka."


"Pasti suka sih, lo ngasih apa?"


"Ra.ha.si.a." seru Ansel membuat wajah Azza masam.


"Cih, yalah...yalah,"


"Nah." seru Ansel memberikan paperbag satu lagi pada Azza. Azza terkejut mendapatkan paperbag itu dari tangan Ansel.


"Eh ini apa?"


"Ada deh, nanti aja buka ya. Gue harap lo suka, tadi pas gue mau beliin hadiah ini, gue juga keingat lo. Jadi, gue kasih ajalah ya sekarang mumpung kita ketemu."


"Wih baik banget, btw makasih yaa." ucap Azza antusias memegang paperbag itu. Keduanya kembali terdiam, tidak ada topik yang ingin dibicarakan. Ansel mengeluarkan makanan miliknya lalu memberikan pada Azza. "Manatau lo lapar,"


"Wow chicken crispy. Mau dung!"


Ansel tersenyum, lalu memberikan makanan itu untuk Azza. Azza begitu menikmati makanan yang diberikan Ansel. Saat suapan terakhir tiba-tiba bus mendadak berhenti. Crispy yang ada ditangan Azza jatuh membuat gadis itu cemberut. "Crispy-ku"


"Udah, nanti gue bikinkan lagi."


"Hah? Lo bikin sendiri?" tanya Azza tidak percaya.


"Iya, lo lupa ya orang tua gue pemilik restoran. Ya gue taulah sedikit resep."


"Keren sih, gue salut sama lo. Btw, kenapa busnya nggak berjalan ya?"


Ansel melirik kearah supir, lalu ia beranjak dari tempatnya menuju supir bus itu. Tampak mereka berbincang-bincang barulah Ansel kembali.


"Kenapa?" tanya Azza penasaran.


"Ada kecelakaan didepan, jadi jalan macet." ucao Ansel duduk disamping Azza. Azza mengangguk pelan, ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul lima sore.


"Moga gue nggak telat pulangnya."


"Kenapa?"


"Gue nggak mau kena ceramah dengan kakak-kakak gue tuh." gerutunya.


"Hahaha nggak enak banget jadi lo. Padahal gue mau ngajak lo jalan-jalan."


"Sama Lulu juga kan?" serunya, tetapi entah mengapa raut Ansel sedikit berubah kesal setelah mendengar ucapannya barusan.


Apa gue salah liat ya? Tadi raut Ansel nggak suka pas gue ngajak Lulu.