
Azza berlari kecil menuruni anak tangga. Ia terus mengumpat kesal lantaran suami iblisnya itu mengacaukan hari paginya. Bibi dibuat bingung melihat majikan barunya terburu-buru menghampirinya.
"Bi, boleh tolong buatkan aku roti selai?"
"Ya ampun Non, Bibi kira ada apa tadi. Kenapa Nona buru-buru?" tanyanya sambil menyiapkan roti yang diminta Azza.
"Entah, si Khaizan tuh ngeselin kali. Aku udah minta dia atur alarm jam enam subuh eh dibuatnya jam tujuh." kesalnya sambil mengikat rambutnya.
Bibi tertawa pelan, sungguh rumah ini mulai berwarna sejak Khaizan menikah dengan Azza. Ia bersyukur tuan mudanya itu tidak lagi pendiam seperti waktu kecil sebelum Khaizan pindah ke luar negeri. Khaizan yang sekarang lebih banyak cerewet dan keras kepala apalagi saat berdebat dengan istrinya.
"Itu tandanya tuan muda sayang sama nona." ucapnya meletakkan roti lapis itu dihadapan Azza.
"Terimakasih Bi, tapi dia itu ngeselin sampai ubun-ubun Bi, entah kenapa aku mau nerima dia jadi suami, mungkin karna dikasih pelet!"
"Ya ampun Non, jangan gitu ngomongnya. Bisa aja, Nona dan tuan muda berjodoh, kalian sering bertengkar gini seru juga liatnya. Rumah ini jadi lebih ceria,"
"Bibiii..." rengeknya, lalu pandangannya tajam saat melihat suaminya menuruni anak tangga. Khaizan tak kalah tajam menatap istrinya sinis, seolah-olah mereka mengibarkan bendera permusuhan. Pria itu melangkahkan kakinya mendekati istrinya dan sengaja menjitak kepala gadis itu.
"Ouch sakit woy!"
"Ops, sorry nggak sengaja." ucapnya santai lalu mengambil roti lapis milik Azza.
Sialan nih orang memang bikin gue naik darah!
Azza langsung mengambil saos dan dengan sengaja ia menumpahkan di jas Khaizan. "Ops, sorry gue nggak sengaja. Tangan gue licin," ucapnya tanpa merasa bersalah. Khaizan kesal menggigit kasar roti lapis yang ia rebut tadi, dan pergi begitu saja dari pandangan Azza.
"Mampus, rasain lawan juga lagi gue." serunya puas sambil mengibas tangannya. "Bibi hehehe tolong buatin lagi rotinya,"
Sementara itu, Khaizan mengoceh sepanjang jalan membuat Galen terheran-heran melihatnya. "Napa bos? Ada masalah?" tanyanya melirik Khaizan.
"Entah!" ketusnya membuat Galen mencebik pelan, entah apa yang membuat Khaizan menyebalkan seperti ini.
"Cih childish." cibirnya membuat Khaizan menatap tajam kearahnya.
"Shut up!" Khaizan menurunkan kaca jendelanya, menghirup udara segar dipagi hari yang tidak menyenangkan ini. Suasana hatinya memburuk sejak istrinya tadi dengan sengaja menumpahkan saos di jasnya.
"Oi, Khai..." panggil Galen membuat Khaizan menoleh kesal kearahnya.
"Apa?!"
"Lihat nih, ada yang bobol laptop lo!" serunya menunjukkan data yang ia dapat di laptopnya.
"Siapa?"
"Dari rumah lo bego, Bibi?"
"Bibi nggak pandai dalam teknologi bego!" kesalnya menjitak kepala Galen.
"Ck, trus siapa? Emangnya dirumah lo selain Bibi a—" Galen tiba-tiba teringat seseorang lebih tepatnya member baru dalam keluarga Khaizan. Siapa lagi kalau bukan Azza, istri Khaizan.
"Oiya gue lupa hehehe..." cengirnya menggaruk tengkuknya tidak gatal, Khaizan menghendus kesal merampas laptop yang ada ditangan Galen.
Galen melirik apa yang diketok oleh bosnya itu, pandangannya membulat sempurna saat rekaman cctv sedang memutar. "Tunggu lo..."
"Gue penasaran apa yang dikerjakan kelinci kecil itu," ucap Khaizan memperhatikan gerak-gerik Azza di dalam ruangan kerjanya.
"Apa perlu gue hack data lo biar nggak dapat sama dia?"
"Nggak perlu, kalau pun dapat juga percuma. Data gue nggak ada yang berguna disitu," ucapnya tersenyum samar.
***
"Please cepat dong, mumpung dia nggak dirumah nih!" gerutunya menunggu loading datanya terbuka. Ia berharap tidak ada satupun yang memergokinya disini, terlebih pada Bibi. Beruntung Bibi pergi ke pasar dan ia bisa leluasa mengakses data milik Khaizan.
"Tunggu, kenapa gue lari? Gue kan istrinya, aduh Azza lo bego banget." gerutunya pelan merutuki dirinya. Azza langsung mengambil ranselnya dan berlari keluar menuju mobilnya. Azza langsung melajukan mobilnya menuju kampus.
Detik-detik jam kelas mulai, Azza berhasil masuk kedalam kelas. Lulu yang melihat sahabatnya menggeleng-geleng heran. "Ya ampun Za, lo abis dari mana sih?"
"Bentar...biarkan gue bernapas dulu," ucapnya mengatur napasnya. Setelah reda barulah ia menoleh kearah sahabatnya. "Lo ngomong apa tadi?"
"Ck, darimana aja lo tadi? Untung cepat masuk, kalau nggak tuh dosen nggak bakalan toleransi ke elo!" gemasnya mencubit pipi Azza.
"Aw, sakit Lu!"
"Biarin, jawab pertanyaan gue Za."
"Itu gue abis dari rumah," jawabnya sekena tanpa menjelaskan lebih jauh.
"Ooo tumben lama?"
"Huft, cekcok dulu dengan dia." jawabnya malas. Lulu terkekeh mendengar penurutan Azza.
"Ya Ampun, kalian lucu sekali. Andai aja gue kayak kalian, pasti seru. Apalagi ada ini," ucapnya sendu sambil mengelus perutnya. Azza tersenyum tipis menepuk bahu sahabatnya.
"Gue yakin lo bisa lewatin ini semua Lu, tapi lo dan dia harus sehat ya. Oh iya, apa orang tua lo ada nanyain?"
Lulu menggeleng. "Sejauh ini masih aman, dan dia senang banget pas tau gue lagi hamil. Rencananya besok mau lamar gue," ucapnya lagi, tetapi Azza menangkap ucapan Lulu ada keraguan. Azza berharap proses pernikahannya berjalan lancar.
"Baguslah." sahut Azza, ia sebenarnya ingin sekali menceramahi panjang lebar. Sahabatnya ini begitu polos dan lugu soal percintaan. Hamil diluar nikah bukanlah pilihan yang tepat dan berita membahagiakan, melainkan semua itu adalah awal pembuka dari permasalahan besar yang akan menghantui Lulu nantinya. Azza sedih dan menyesal, kenapa dirinya tidak mencegah sahabatnya untuk terlalu jauh memiliki hubungan dengan pria itu? Pria yang sudah merenggut masa depan Lulu yang harusnya gadis itu berikan setelah menikah.
"Azza, kenapa lo melamun?" seru Lulu membuat Azza tersadar dari lamunannya, ia menggeleng pelan dan sekali lagi mengelus bahu sahabatnya.
"Lo harus kuat dan sabar Lu, apapun masalah yang akan lo hadapi nanti jangan pernah berpikir untuk bundir oke?" cemasnya langsung dianggukan Lulu.
"Iya, makasih." jawabnya tersenyum tipis.
***
Khaizan meneguk kandas air putih, sungguh rapat tadi membuatnya sedikit kesal dengan hasil kerja karyawannya yang tidak meningkat dari sebelumnya. Pria itu melonggarkan dasinya dan duduk dikursi kebesarannya.
"Wow, akhir-akhir ini lo makin emosian gue liat." ucap Galen sontak mengundang tatapan horor Khaizan.
"Hehehe bercanda bro, nggak usah melotot gitu matanya," cengirnya meletakkan berkas diatas meja Khaizan.
"Nih apa lagi?" tanyanya ketus membuka berkas tersebut.
"Ya berkaslah, lo harus tanda tangan tuh disitu." serunya menunjukkan tempat untuk tanda tangannya.
Khaizan membaca sekilas berkas itu lalu mendongak tajam kearah Galen. "Ini berkas apa?"
"Berkas cerai...eh nggak...nggak Khai, gue bercanda doang loh. Jangan gitu natap ya woi!" paniknya salah mengajak sahabatnya ini bercanda, untung saja Khaizan tidak jadi melempar gelas kaca kearahnya.
Bego lo Gal, hampir tuh gelas kena gue. gerutunya dalam hati.
"Ini nih file penjualan kita minggu kemarin." Khaizan mengangguk paham dan langsung mendatangi berkas tersebut.
"Keluar!" usirnya langsung dengan cepat Galen berlari kecil keluar dari ruangan Khaizan.
Khaizan memijit kepalanya pelan, lalu ia membuka laptopnya lagi melihat dari rekaman cctv kegiatan istrinya dirumah. Raut Khaizan mengerut melihat Azza tertawa terbahak-bahak melihat sesuatu di laptopnya.
"Dia liat apa emangnya?" gumamnya penasaran, sayangnya ia tidak bisa melihat apa isi dari laptop Azza dari sini.
"Tadi dia nyalin data gue kan? Emangnya disana ada yang lucu?"