Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 5



Pria itu tersenyum miring, berita kematian Papanya sudah tersebar luas diberbagai media. Khaizan merapikan dasinya, lalu berjalan menuruni anak tangga. Hal pertama yang ia lihat adalah ruangan yang begitu mewah tetapi terasa hampa, ia tersenyum ketir lalu duduk dimeja makan.


"Tuan, ini sarapan pagi anda." ucap pelayan itu dengan sopan menyajikan sarapan untuk Khaizan.


"Hm, makasih Bi." ucapnya lalu melahap sarapan itu. Dahinya mengerut, ingin rasanya ia memuntahkan kembali makanan itu tetapi saat melihat wajah pelayan yang menatapnya penuh harap membuatnya urung memuntahkannya. Yap, pelayan itu adalah pelayan Mamanya dulu, bisa dibilang orang kepercayaan Mama. Dulu bibi ini selalu menjaganya saat masih kecil, Khaizan menatap wajah pelayan itu yang sudah mulai keriput.


"Bibi nggak makan?" tanyanya sambil menelan makanan tadi. Ia meneguk air putih hingga kandas.


"Apa masakan saya kurang enak ya Tuan?" tanya Bibi menyadari raut wajah majikannya.


Khaizan tertegun, ia pun mengembalikan ekspresinya seperti semula. "sedikit, mungkin lidahku udah terbiasa makanan barat Bi, maaf." ucapnya pelan, lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan supirnya.


"Antarkan aku ke kantor sekarang!"


"Baik tuan,"


Pandangan Khaizan melirik kearah jendela, ia termenung melihat kota kelahirannya ini. Sebenarnya ia malas kembali kesini, tetapi ia berpijak disini membuat memori masa lalu terputar kembali diotaknya. Tak terasa ia sudah sampai didepan perusahaannya. Matanya memicing melihat ksryawannya dengan santai datang terlambat.


"Siapa dia?" tanya Khaizan menatap supirnya dari kaca spion.


"Saya kurang tau Tuan, sekretaris Tuan yang tau." jawabnya sekena. Khaizan mengangguk lalu merapikan jasnya. Ia melangkah keluar dan berjalan masuk kedalam. Banyak pasang mata terkejut sekaligus terpana dengan ketampanan Khaizan.


"Wow apa dia klien kita?" gumam seseorang menatap Khaizan.


"Gila tampannya!"


"Tapi tunggu...kenapa dia menoleh kearah kita?"


Pria itu berjalan kearah tiga wanita didepannya ini. "Kalian dipecat!"


"Hah?" Ketiga cengo mendengar apa yang diucapkan pria itu. Namun beberapa detik mereka langsung tergelak.


"Ya ampun ganteng-ganteng halu," ledeknya.


"Maaf ya tampan, kami bekerja disini bukan diperusahaan anda."


Khaizan berdecak kesal. "Security! Usir mereka dari sini!" Ketiga perempuan tadi diseret paksa keluar, ketiga memberontak dan terus mengumpat Khaizan. Pria itu tidak peduli, lalu menatap satu persatu karyawan yang menatapnya dengan berbagai ekspresi.


"Aku Khaizan, direktur baru di perusahaan ini. Peraturan lama akan aku ubah. Tidak ada bantahan apapun, tidak suka dengan peraturannya silahkan buat surat undur diri, paham?" jelasnya menatap dingin.


Semuanya terkejut mendengarnya, ada yang percaya dan ada yang tidak menyangka pria itu adalah pemimpin baru perusahaan tempat mereka bekerja.


"Astaga gue dengar direktur kita yang lama sudah meninggal."


"Ah iya woi, tadi gue liat di internet banyak bahas itu semua."


***


Azza membersihkan gitarnya di balkon kamarnya, ia menikmati udara segar yang menerpa wajahnya. Setelah membersihkan gitarnya, ia langsung memetik senar benda itu. "Huft," Azza bersandar pada kursinya dan tangannya menggenggam kalung berinisal A. "Udah dua tahun ya berlalu... ternyata aku masih bertahan Al, kamu bangga nggak sih?" lirihnya berbicara menatap langit, seolah-olah Algha yang berada diatas sana tengah mendengarkannya.


"Tenang, kamu nggak perlu khawatir. Aku fine disini, tau nggak berat badanku bertambah sekilo. Ya ampun, pipiku telihat tembam," ocehnya sambil mencubit pipinya sendiri, tatapan kembali sendu melirik kalung yang melingkar cantik dilehernya. "Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kenapa harus kamu yang berada disana Al?" lirihnya lagi.


Azza tersentak saat ada benda menyentuh pipinya, ia mendongak terkejut melihat Bita sudah berada didekatnya. "Kalau mau nangis, nangis aja sayang." ucapnya lembut ikut duduk disamping Azza.


Azza tersenyum tipis sambil menggeleng. "Gue harus ikhlas kak, kalau gue nangis lagi entar Algha disana nggak tenang."


"Kata siapa kita nggak boleh nangis? Gue rasa lo perlu nangis Azza, kalau dipendam trus lo yang kesakitan. Azza langsung menghamburkan pelukannya pada kakak iparnya itu. Gadis itu menangis terisak-isak meluapkan perasaan sesaknya. Memang benar, setelah menangis rasa sesaknya berkurang.


"Makasih kak," ucapnya pelan menguraikan pelukannya. Ia menggenggam kembali kalung pemberian Algha. "Gue harus ikhlas...harus!"


"Nah gitu dong, setiap manusia pasti ada mengalami kehilangan setiap hidupnya. Gue percaya lo bisa melewati semua ini." ucap Bita sambil menepuk lembut pundak adik iparnya. Sungguh, ia begitu kasihan melihatnya, gadis itu begitu tegar menerima takdir yang ia miliki saat ini. Bita berharap ada seseorang yang bisa menaklukkan hati Azza kembali. Ia ingin adik iparnya yang menggemaskan itu membuka hatinya kembali untuk pria lain.


Azza melirik jam tangannya, ia menyeka air matanya. "Oh...tidak gue hampir terlambat kak, gue pergi dulu ya!" pamitnya buru-buru memasukkan gitarnya kedalam tas gitar. Ia menyandang tas tersebut dan berlari keluar.


"Astaga anak itu." gerutu Bita menggeleng-geleng heran.


Azza berlari mencari keberadaan orang tuanya. Alze dan Sam yang tengah sibuk bermain PS menoleh heran kearah adiknya mondar-mandir layaknya setrika. "Lo mau kemana?"


"Latihan ka," jawabnya cemas. Mata Azza langsung terkunci kearah sosok yang baru saja pulang kerumah. Ia pun langsung menghampiri Mamanya.


"Pergilah, tapi pulang sebelum magrib."


"Yes, okay Mom. Aku pergi dulu ya Ma, bye..."


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Azza akhirnya sampai juga di Kampusnya, ia langsung menuju ke tempat ruangan klubnya berada. Azza tersenyum tipis melihat suasana yang berada didalam sini banyak variasi alat musik.


"Kak Azza!" seru mereka berlari kearah Azza. Azza ikut melambaikan tangannya kearah mereka.


"Hei...hei kalian udah latihan?"


"Belum kak, kami nunggu kakak."


"Loh, kok belum mulai?"


"Tuh tanya bang Ansel, dia nggak mulai-mulai!" adunya sambil menunjuk pria yang tengah memainkan gitar disudut ruangan sana. Azza menghela napas, lalu berjalan mendekati pria itu.


"Oi, lo kok belum mulai sih?"


Pria itu mendongak lalu menyengir. "Gue nunggu lo,"


"Hah? Ck, kan bisa dulu lo latih dulu anak-anak nih sebelum gue datang. Ya ampun, udah deh waktu kita nggak banyak. Ayo semuanya berkumpul!" gerutunya lalu berseru memerintah pad semuanya. Pria itu menggeleng tersenyum melihat Azza sangat disiplin mengatur anggota klubnya.


Ansel meletakkan gitarnya lalu berdiri disamping Azza. Ia sesekali melirik kearah gadis itu dengan senyuman penuh arti. "Tumben lo lama Za?"


"Hm? Itu gue ada urusan dirumah tadi." jawabnya samb mengikat rambutnya. Hal itu tak luput dari pandangan Ansel yang lekat menatapnya tanpa disadari gadis itu. Azza mengeluarkan gitar kesayangannya dari tas gitarnya, ia mulai memetik senar gitar dan memainkan sebuah lagu. Semuanya pada terpukau dengan kelihaian Azza dalam memainkan gitar ditambah lagi suaranya yang merdu membuat siapapun betah mendengarkannya. Selesai Azza meakhiri lagunya, semuanya langsung bertepuk tangan.


"Gila makin keren aja kak!"


"Ahahaha, terimakasih. Kalian juga harus pandai, harus lebih jago dari kakak, oke?"


"Siap kak!"


"Oh ya, kalian nggak ada kelas abis nih?" tanyanya.


"Nggak ada keknya kak, dosen nggak bisa masuk."


"Ooo, ya udah kalian latihan aja dulu disini oke, pertunjukan acara kita ada seminggu lagi. Lakukan yang terbaik!" pintanya.


"Siap kak!" kompak mereka. Azza tersenyum mengangguk, ia langsung merogoh sakunya dan mengerut dahi saat sahabatnya menelponnya.


"Azza!" pekiknya dari seberang sana, Azza sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia mengumpat pelan, sebelum mendekatkan kembali ponselnya dengan telinga.


"Bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak?!" kesalnya sedangkan Lulu disana terkekeh tanpa dosa.


"Gila Azza, gila!" pekiknya lagi.


"Ck, apa sih? Telinga gue berdengung setiap lo teriak-teriak!"


"Proposal kita diterima anjir!"


Azza mengerut dahinya. "Proposal apa?"


"Proposal untuk sponsor kita loh...diterima diperusahaan besar woi..."


"Hah? Loh...loh sejak kapan kita masukkan proposal tuh ke perusahaan besar??"


"Hehehe...kan gue yang kirim proposalnya, awalnya coba-coba aja kirim kesana, eh rupanya surat kita diterima." cengirnya membuat Azza menepuk jidatnya.


"Astaga Lulu, kenapa nggak ngomong sama gue dulu?" gemasnya ingin menjitak kepala sahabatnya itu.


"Lah kemarin lo bilang biar aja gue yang urus, lo yang nanti presentasi proposal kita kalau diterima."


Azza menghela napas pelan, ia tidak ingat kapan mengatakan hal itu pada sahabatnya. "Ya udahlah, trus kapan mereka minta kita ketemu?" tanyanya berusaha sabar.


"Satu jam lagi hehehe, siap-siap ya Za. Gue sharelock tempatnya, kita ketemu disana bye!" Lulu cepat-cepat mematikan ponselnya sepihak, karena ia tahu sahabatnya itu akan membentaknya.


"Lulu Sialan!" cerca Azza kesal.