Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 21



Perasaan Azza kacau, ia menangis sejadi-jadinya sambil menangkup wajahnya distir mobil. Sedangkan Lulu hanya membiarkan sahabatnya melampiaskan semua rasa sesaknya, walaupun perutnya berbunyi daritadi. Apalagi ia masih syok dengan kejadian tadi didepan matanya secara langsung. padahal biasanya ia hanya melihat adegan itu hanya di drama yang ia tonton. Penasarannya semakin menjadi-jadi dengan kisah sahabatnya ini, harusnya bahagia bukan karena Azza ternyata sudah bisa melupakan Algha dan membukakan hatinya pada pria tadi. Lalu kenapa Azza seperti marah tidak terima, pasti terjadi sesuatu diantara mereka berdua.


"Hiks sialan!" umpat Azza yang entah berapa kali keluar dari mulut cantiknya, Lulu saja langsung berucap setiap mendengar umpatan Azza.


"Azza, udah dong nangisnya sayang. Kasian mata lo bengkak gitu," lirihnya berusaha menenangkan sahabatnya.


"Hiks gue benci dia Lu! Benci! Bisa-bisanya gue cium dia didepan orang banyak sialan!"


Lah? Jadi gue harus bilang gimana ya? Lo sendiri sih yang buat boomerang Azza. ucapnya hanya bisa ia ungkapkan dalam hati, kalau sampai Azza mendengar ucapannya tadi ia yakin gadis ini akan semakin murka.


"Hiks apa yang harus gue lakuin, bodoh banget tadi tuh!" gerutunya terus membenturkan kepalanya pada stir mobil.


"Hmm gue nggak tau harus bilang kayak mana Za, lo sih nggak ada cerita sama gue, coba lo jelaskan semuanya apa hubungan lo dengan dia?"


"Gue dengan dia nggak ada hubungan apapun!" ketusnya sambil menyeka air matanya.


"Nggak mungkin, lo dengan barbar menci—"


"Stop! Jangan diperjelas, gue malu." cicitnya, sumpah demi apapun yang ia lakukan tadi sungguh diluar kendalinya. Bisa-bisanya ia mencium bibir pria itu didepan semua orang, sial sekali.


"Anjir, gue nggak tau deh mau ngomong apa. Biar gue tebak, lo sama dia pasti ada sesuatu yang kalian sembunyiin, trus lo menghindar tapi dia ngejar lo. Benar nggak?" tebaknya langsung dianggukan Azza. Lulu mengangguk pelan, ia meneguk air mineral untuk mengisi perutnya yang semakin tidak berkompromi lagi. Ia berharap dalam hatinya, sahabatnya yang satu ini peka terhadap perutnya yang terus meminta pertolongan pertama.


"Dia mau nikahin gue," ucap Azza tiba-tiba sontak membuat Lulu tersedak.


"Uhuk, apa? Lo dan dia? Nikah? Anjir gila spek calon suami lo tampan banget, gila!"


Azza memutar bola matanya malas, sahabatnya ini memihak pada siapa sih? Dia atau pria brengsek itu?


Cih, memikirkan orang gila tuh membuat gue sakit kepala!


***


Khaizan bersiul riang melewati lobi kantornya, semua karyawannya begitu tercengang melihat bosnya terlihat tidak seperti biasanya yang selalu menampakkan wajah masam. Tanpa sadar banyak kaum hawa terpukau dengan ketampanannya apalagi saat tersenyum.


Khaizan tidak memperdulikan desas-desus karyawannya, ia berdiri didepan liftnya, lalu masuk kedalam lift. Baru saja pintu itu hendak tertutup, sekretarisnya tiba-tiba menyerobot masuk sambil menggigit sandwich dimulutnya.


"Lo ngapain?" tanya Khaizan heran melihat Galen tergopoh-gopoh.


"Ish, gue bergadang tadi malam makanya telat. Eh, lo tumben datang jam segini? Nggak bi—" Galen menyadari sesuatu, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Astaga, ia mengira jika telat dua puluh menit dari jam delapan ternyata ia malah telat empat jam. Wah, ia yakin Khaizan akan menceramahinya habis-habisan.


"Kenapa diam?" tanya Khaizan melihat raut Galen, Galen tersenyum kikuk, mungkin hari ini ia harus pasrah menerima siraman rohani pria itu.


"Sorry, gue telat."


"Hm, gue lagi baik sekarang. Sudahlah, apa aja jadwal gue hari ini?" tanya Khaizan sambil mengutak-atik ponselnya.


Braak.


"Khai! Khai!" Galen dengan muka paniknya berlari kearah Khaizan, dahi pria itu mengerut menatap Galen.


"Kenapa?"


"Lo gila ya, astaga foto lo trending bego!"


"Huh?" Khaizan seketika teringat, apa ini ada hubungannya dengan Azza tadi?


"Nih liat!" serunya menunjukkan foto yang ada dalam ponselnya. Mata Khaizan melebar, tidak menyangka foto yang diambil sangat bagus. Tiba-tiba ia memiliki ide yang bagus untuk membuat gadis itu mau menikah dengannya.


"Galen, gue pergi dulu!"


"Eh? Kenapa respon lo b aja? Perlu bantuan gue nggak, biar gue hack nih web?" tawarnya langsung digelengkan Khaizan.


"Biar aja kayak gitu, hmm bagus lo ikut manasin tuh web biar makin heboh!" serunya membuat Galen terngaga mendengarnya.


Ini memang Khaizan kan? Apa dia salah minum obat?


Khaizan dengan cepat menuju parkiran, rencananya sudah disiapkan dengan matang diotaknya. Tanpa babibu ia menancapkan gas menuju rumah Azza.


Sementara Azza berdiri ditengah keluarganya yang tengah mengintrogasinya. Ia lupa kalau tindakannya tadi bisa menjadi boomerang untuknya, lihat saja sekarang keluarganya pada meminta kejelasan mengenai foto yang telah tersebar di internet. Tangannya gemetaran, ia tidak sanggup menatap wajah orang tuanya begitu juga dengan para kakak-kakaknya.


"Jawab Azza, apa itu benaran kamu nak?" tanya Haura menatap sendu kearah putrinya. Ia tidak menyangka putrinya bisa melakukan itu didepan umum. Lagi-lagi Azza hanya bisa menunduk diam tanpa berniat mengklarifikasi tentang foto itu. Itu memang benar dirinya, dia melakukannya dengan sadar, dan ini semua karena pria brengsek itu.


"Azza jawab!" sentak Deon membuat Azza semakin gemetaran, ingin rasanya ia keluar dari sini dan pergi menjauh dari semuanya. Ia sudah mengecewakan kepercayaan orang tuanya begitu juga kakaknya. Bahkan Alze dan Sam hanya diam dengan tatapan penuh kekecewaan kearahnya, kalau dilihat dengan saksama memang dialah yang memulai duluan.


"Karena itu saya mau menikah dengannya," ucap Khaizan tiba-tiba muncul ditengah mereka. Sam menatap tajam kearah pria itu begitu juga dengan Alze.


"Mau apa lo? Udah puas buat adek gue nggak berdaya kayak gini?!" bentaknya membuat Khaizan menghela napas sejenak.


"Jangan bentak-bentak kak, lo kayak cewek. Gue datang kesini buat ngomong baik-baik. Niat gue memang mau nikah dengan Azza," ucapnya dengan lantang.


"Perihal foto itu, benar Azza yang mulai duluan." serunya melirik kearah Azza sambil tersenyum miring. Azza mengeram kesal, ia menginjak kaki pria itu dengan sangat kuat.


"Nggak usah ngarang, i-tu lo sendiri yang buat masalah!" serunya tidak terima terus disalahkan.


"Nggak usah mengelak trus, saya akan menikah dengan Azza besok, apa boleh Ma? Pa?" tanya Khaizan sopan menatap kedua orang tua Azza.


"What the, apa-apaan huh?!"