Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 20



Khaizan tersenyum tipis saat melihat dari kejauhan Azza tengah bercanda ria dengan sahabatnya. Baru kali ini ia melihat senyuman itu terlihat cantik dimatanya. Khaizan tersadar langsung menggeleng-geleng kepalanya, menyadarkan pada dunia nyata.


"Huft, kenapa wajah gadis itu yang trus muncul dikepala gue?!" kesalnya memukul stir mobilnya. Perasaannya bercampur aduk, sejak hari itu. Mau dilupakan juga kilasan itu tetap hadir menari-nari dikepalanya.


Lamunan Khaizan buyar saat mendengar suara klakson mobil disampingnya, ia melirik kearah tempat Azza tadi berdiri, namun gadis itu sudah tidak ada lagi disana. "Sial, dimana dia?"


***


Azza memainkan pena ditangannya, suasana di perpustakaan membuat pikirannya tenang dari semua masalah. Azza membaca buku yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Sungguh keajaiban seorang Azza memegang buku tebal itu.


"Lo nggak sakit kan Za?" tanya Lulu heran menatap sahabatnya yang satu ini.


Azza mendongak sambil menyengir pelan. "Kenapa? Kan gue udah sering juga ke perpus." jawabnya santai sambil mengikat cepol rambutnya.


"Ya...lo ke perpus cuma buat tugas doang Azza, nggak baca buku tebal ditangan lo tuh, astaga sejak kapan lo tertarik dengan falsafah?" gemasnya.


Azza tersadar, ia merutuki dirinya dalam hati. Namun, bukan tanpa alasan ia berjalan kemari kalau saja bukan ada seseorang yang harus ia hindari. Tadi, Azza sekilas mengenal mobil yang terparkir di parkiran kampus, entah instingnya atau kebetulan ia yakin mobil itu milik Khaizan.


Mau apa lagi sih si brengsek tuh?!


"Azza, sumpah gue bosen disini, nggak mau pergi ketempat lain gitu? Ini lo serius mau baca buku tuh atau lo ada menghindari seseorang?"


Deg.


Astaga, Lulu bisa aja baca pikiran gue. Pikirkan jawabannya Azza, untuk saat ini jangan beritahu dia dulu yang sebenarnya.


"Gue penasaran dengan falsafah nih Lu," ucapnya lalu menutup buku tebal menjengkelkan itu.


"Kenapa ditutup?" tanya Lulu lagi.


Azza menyengir pelan. "Gue laper."


"Nah tuh kan! Gue nggak percaya lo tiba-tiba rajin gini, yok pergi!" ajaknya langsung menarik tangan Azza keluar dari perpustakaan.


Lulu menarik tangan Azza sampai didepan mobil Azza, setelah itu ia berlari masuk kedalam mobil. Azza hanya menghela napas lalu berjalan ke kursi kemudi. "Sialan!" umpatnya malah disambut gelak tawa Lulu.


"Go! Go!" Seru Lulu bersorak.


Azza menggeleng-geleng, melajukan mobilnya menuju restoran langganan mereka. Tanpa menyadari jika ada seseorang tersenyum miring mengikuti mereka dari belakang.


"Ternyata lo disana." gumamnya mengikuti mobil Azza.


Sampai disana, Azza dan Lulu mengambil tempat didekat jendela, agar bisa melihat pemandangan diluar. Restoran yang mereha singgahi ini tempat cukup jauh dari daerah perkotaan, nuansa tempatnya berada diperbukitan hingga, siapapun bisa dimanjakan dengan pemandangan hijau yang segar.


"Lo mau pesan apa Lu?" tanyanya sambil melirik menu makanan.


"Lah ngapain nanya lagi, gue mah seperti biasanya."


"Yaelah nggak bosan? Gue ganti menulah." serunya memanggil pelayan restoran itu.


"Ya kak Za? Kakak mau pesan apa?"


"Na, gue mau mie goreng basah, kalau Lulu seperti biasa." serunya menyebutkan pesanannya.


"Yang lain ada lagi nggak kak? Minuman masih sama?" tanya Dena—Pelayan restoran langganan mereka.


Keduanya mengangguk. "Oke, tunggu ya." sahut Dena langsung berjalan kearah dapur.


"Omg ganteng banget!" seru pelanggan disamping Azza, Azza sempat melirik kearah orang disebelahnya lalu kembali menatap pemandangan yang justru lebih indah dibandingkan apapun.


"Gila...gila ganteng banget!"


Deg.


Mata Lulu membulat sempurna, bukankah pria itu pernah ia lihat sebelumnya? Lirikannya menoleh kearah Azza yang masih setia memandang jendela tanpa menyadari jika pria tampan itu berjalan kearah mejanya.


"Azza..."


Lulu menyenggol tangan Azza, hingga gadis itu berdecak kesal menatapnya. "Kenapa?"


"Tuh!" tunjuknya kearah pria yang kini sudah berdiri didepan meja mereka. Azza mendongak dan terkejut melihat Khaizan ada disini. Tatapan langsung melotot tidak suka melihat kehadiran pria itu ada disini..


"Kenapa lo disini? Nguntit gue?" tanyanya ketus, bahkan ia tidak peduli semua orang pada menatap mereka dengan berbagai macam ekspresi, termasuk Lulu. Lulu bingung karena interaksi kedua manusia didepannya ini sangatlah tidak bersahabat.


"Hmm kalian saling kenal?" tanya Lulu memecahkan keheningan diantara keduanya. Azza menoleh kearah Lulu, ia pun mengambil tasnya.


"Lu, ayo kita pergi!" ajaknya sambil menatap dingin kearah pria itu.


Lulu ingin menolak, tetapi ia urung melihat situasi disini tidak bagus. "Oh..oke," ucapnya berat. Padahal perutnya saat ini sedang keroncongan, tetapi sahabatnya malah mengajaknya pergi lagi.


Sebenarnya ada masalah apa mereka berdua?


"Mau sampai kapan lo menghindar Azza?" tanya Khaizan tetapi tidak dihiraukan Azza. Azza meletakkan beberapa lembar uang diatas meja kasir.


"Dena, maaf gue nggak jadi makan. Tapi ini bayarannya ya!" teriaknya membuat Dena menatapnya bingung.


"Tapi kak,"


"Azza!" panggil Khaizan lagi. Azza mempercepat langkahnya keluar namun, langkahnya langsung berhenti saat pria brengsek itu mengatakan hal abstrud baginya.


"Lo sengaja menghindar karena ciuman waktu itu kan?"


Sontak Lulu terkejut mendengarnya, ia menoleh kearah sahabatnya. "Apa?"


Azza memejamkan matanya pelan, berusaha tenang untuk saat ini tanpa terbawa emosi oleh Khaizan. "Lupakan sialan!" bentaknya kesal menatap Khaizan.


"Hah? Lupakan? Lo pikir mudah? Lo sendiri yang datang menci—"


Mata Khaizan membulat sempurna. Azza tiba-tiba mencium bibirnya didepan orang banyak, walaupun sebentar.


"Ini kan yang mau lo bilang kan brengsek?! Menjauh lah dari hidup gue!" bentaknya menahan nangis, ia langsung menarik Lulu yang masih syok melihat betapa nekatnya sahabatnya itu. Tidak ingin menjadi samsak pelampiasan amarah Azza, ia pun menurut ikut dengannya.


Sedangkan para pelanggan disana langsung bersorak ria dan banyak yang memuji keberanian Azza. Bahkan tidak lupa mereka mengabadikan momen itu diponsel mereka. Namun, itu tidak berlangsung lama senyuman itu terbit. Khaizan menatap mereka dingin membuat semuanya diam.


"Hapus video itu sekarang atau gue patahkan leher kalian semua!" ancamnya membuat semuanya menunduk.


"Lo pikir gue nurut gitu aja? Ini kan hak kami!" seru pelanggan lain yang tetap mempertahankan ponsel mereka.


"Apa kalian tidak tau itu privasi orang?! Dimana otak kalian? Kalian anggap momen tadi bagus dipertonton huh?!" bentaknya namun tidak satupun dari mereka bergerak melakukan perintahnya.


Khaizan mengusap wajahnya kasar, lalu melangkah mendekati satu pelanggan yang merekam videonya tadi. Ia merampas ponsel itu dan mematahkannya hingga terbelah menjadi dua. Tanpa sungkan ia melemparkan ponsel itu pada pemiliknya, tidak lupa juga Khaizan mengeluarkan dompetnya dan meninggalkan cek disana. "Tulis disini berapa ganti rugi hape lo!"


"Cepatlah!" desaknya lagi melihat pemuda tadi ketakutan melihatnya. Sambil menggigil ia menuliskan nominal yang diinginkannya. "Dasar serakah." umpatnya memberikan cek itu pada bocah ingusan.


"Hapus sekarang, atau hape kalian seperti dia!" titahnya langsung buru-buru semuanya menghapus video itu tanpa terkecuali. Khaizan langsung melangkah keluar setelah memastikan semuanya sudah menghapus video itu walaupun ia yakin pasti ada yang masih menyimpan videonya dengan baik.


Khaizan berjalan masuk kedalam mobilnya, ia mengusap wajahnya kasar. Kejadian barusan kembali berputar dimemorinya seperti waktu itu. Jantung Khaizan berdetak lebih cepat, jujur ia enggan mengakui kalau dirinya mulai menyukai Azza.


"Sial, harusnya nggak gini bodoh! Lo nggak boleh menyukai cewek milik saudara lo!" kesalnya mengacak-ngacak rambutnya.