Always Be Yours

Always Be Yours
Bab 9



Mata Khaizan melirik kearah kalimat yang ditulis Algha paling bawah.


...She is mine, I don't want to involve her in danger. She better not know anything about me....


"Huh, sok gentle lo. Astaga apasih hebatnya gadis tuh?!" Khaizan tidak habis pikir, kenapa adiknya ini terlalu tertarik dengan gadis itu. Gadis yang menjengkelkan itu bisa-bisanya membuat adiknya jatuh cinta bahkan sampai mau menikahinya. Khaizan melirik foto dua manusia itu cukup lama, entah apa yang dipikirkannya hanya pria itu yang tahu. Setelah itu Khaizan meletakkan kembali catatan itu ketempat semula lalu melenggang keluar dari kamar Algha.


Khaizan menyambar kunci motornya diatas meja lalu melenggang keluar. Cuaca saat itu sedikit mendung, tetapi ia tidak peduli. Acuh tak acuh dengan sekeliling, ia menancap gas keluar dari perkarangan rumah. Khaizan menambah kecepatan motor besarnya menuju suatu tempat. Tidak peduli jika kecepatannya saat ini bisa saja merenggut nyawanya. Khaizan masih penasaran tentang kematian Algha saat itu, yang hanya bisa ia yakini saat ini adalah kecelakaan itu disengaja dan selebihnya masih samar untuk dipecahkan masalah itu. Motornya akhirnya berhenti disamping jalan, ia melirik ombak pantai yang terlihat pasang saat ini.


"Kecelakaan.Algha.pernikahan. Hmm kenapa harus dihari itu?" gumamnya lagi menyadari sesuatu yang janggal. Pria itu mengeluarkan mancis dari sakunya, ia terus memainkan mancis itu sambil menyalakan rokoknya.


"Waktu itu video call jam dua malam, itu artinya enam jam sebelum Algha kecelakaan." gumamnya lagi sambil menyembulkan asap rokoknya.


"Sial, nasib lo buruk Al, lo tau apa yang harusnya lo nggak boleh tau,"


"Lo tau penyesalan gue adalah nggak peka kalah lo dalam bahaya Al." sesalnya.


***


Azza berjalan pelan menuju kelasnya. Lulu terkejut dengan kedatangan Azza langsung menghampiri gadis itu. " Ya ampun Za, lo ke kampus?" tanyanya panik.


"Kenapa sih? Nggak boleh gue ke kampus?" tanyanya bingung. Apalagi banyak pasang mata melirik kearahnya.


"Ck, lo nggak baca pesan gue?" tanyanya lagi dan Azza hanya menggeleng pelan. Lulu menepuk jidatnya.


"Lah hp lo kemana Za?"


"Kecebur kolam kemarin, emangnya kenapa sih?"


"Sini ikut gue!" ajaknya menarik tangan Azza keluar dari kelas. Gadis itu tampak tergesa-gesa menarik tangan Azza menuju kamar mandi.


"Apasih Lu, lo mau ngomong apa?" tanyanya jengkel ditarik-tarik. Ia sama sekali bingung dengan sahabatnya yang satu ini ditambah banyak tatapan orang sinis kearahnya yang membuathya penasaran.


"Gue ada buat salah?" tanya Azza langsung dianggukan Lulu.


"Ya bego, lo ada salah anjiir. Bisa-bisa lo viral!"


"Huh? Apa nih? Viral kenapa?" tanyanya lagi.


"Nih liat," Lulu memperlihatkan video di ponselnya, Azza terkejut bukan main. Ini bukan seperti yang ada di video itu.


"Anjir apa maksudnya nih? Itu bukan gue!"


"Ya itu makanya, ngapain juga lo ke kampus sih. Lo tau nggak orang-orang disini banyak yang ghibahin lo tau, mending lo pulang."


"Ngapain gue pulang? Kan orang yang dalam situ bukan gue, lagian siapa sih yang ngedit tuh, nggak ada otak tuh orang!"


"Ya elah mana bisa Azza comel, lo tau sendiri orang-orang nggak bakalan percaya sama lo. Mereka percaya sama video tuh, berbusa pun mulut lo jelasin semuanya nggak bakalan didengarin!"


"Udah deh, percaya sama gue. Lo harus pulang sekarang, ini demi kebaikan lo. Urusan absen biar gue yang urus, gue nggak mau liat lo sedih Azza." lirihnya memeluk sahabatnya itu. Benar-benar Azza selalu diuji dengan berbagai rintangan dalam hidupnya, ia sendiri bingung mengapa gadis secantik ini harus menghadapi kenyataan pahit? Kenapa orang seperti dia tidak boleh bahagia?


Azza terkekeh pelan membalas pelukan sahabatnya. "Makasih bestie, gue hargain usaha lo. Ya udah gue bolos dulu ya, tolong bilangin sama yang lain kalau gue bukan orang kayak gitu. Percaya atau nggak ya sudah, itu bukan urusan gue. Gue anggap aja mereka lagi menggonggong sekarang." ucapnya menepuk pundak Lulu berkali-kali.


Azza pun melambaikan tangannya berjalan meninggalkan Lulu disana. Ia merenggangkan ototnya sambil berjalan menuju mobilnya. "Huft, sekarang gue harus kemana? Kalau pulang kerumah dicurigai. Ya udah deh, mending gue me time di Mall." gumamnya melajukan mobil menuju Mall.


Sampai di Mall, gadis itu berjalan berkeliling melihat berbagai aneka ragam macam yang tertera disana. Azza sedikit kikuk menikmati perjalanannya, rasanya ada yang aneh. Ia tidak biasanya berjalan sendirian di Mall tanpa orang yang ia kenal, langkah kakinya berjalan menuju bioskop. Tempat favoritnya setiap pergi ke Mall.


"Selamat datang Mbak, mau nonton apa?" tanya kasir bioskopnya. Azza menggaruk tengkuknya tidak gatal, ia bingung melihat judul film yang tayang hari ini.


"Halo mbak, kalau bengong aja nggak usah ngantri disini!"


"Iya, cepat kalau mau pesan tiketnya!"


Ih sialan nih orang nggak sabar banget. "Iya Bu...iya bentar yaa..." Azza menghela napas panjang lalu memutuskan untuk menonton sesuatu. "Ya udah mbak, saya nonton film ini aja."


Azza hanya tersenyum tipis. "Hehehe satu mbak."


"Oh, baiklah anda mau duduk dimana. Tersisa paling depan sih mbak, masih mau?"


Ya ampun, gini amat dah. Kepala gue auto pegal. "Hmm nggak jadi deh mbak, ya sudah makasih." ucapnya keluar dari barisan antrian. Azza berjalan menuju restoran untuk mengisi perutnya yang tiba-tiba keroncongan.


"Selamat datang mbak, berapa orang?"


Huft, nggak liat gue berjalan sendirian? Azza menghela napas sejenak. "Sendiri mbak,"


"Oh, kalau begitu mari saya antarkan mbak ke meja sana."


"Oke," Azza mengikuti pelayan itu membawanya ketempat mejanya. Azza duduk ditempatnya sambil membaca menu. Ia menyadari banyak pasang mata melirik kearahnya dengan tatapan berbagai ekspresi. Azza sebenarnya tidak nyaman tetapi berusaha untuk tidak peduli dengan mereka. Sampai pesanannya sampai, tatapan dan cibiran mulai menganggu kenyamanannya. Cepat-cepat ia menghabiskan makanannya, langsung bayar dikasir. Ia pun langsung melesat keluar dengan cepat.


"Huft, sialan pasti gara-gara video itu! Gue nggak bisa tinggal diam kayak gini!"


"Eh, itu bukannya cewek yang godain om-om tuh ya," cibir seseorang.


"Iya, nggak tau malu tuh orang."


"Iyalah dia tuh yang ada di video itu loh!"


Kesabaran Azza mulai habis, ia geram dengan orang-orang yang selalu mencibirnya sepanjang jalan. Merasa sesak, ia pun memutuskan pergi dari Mall, dengan langkah cepat-cepat ia tidak memperdulikan apapun. Tetap berjalan lurus, tanpa melihat apapun didepannya. Matanya menyipit saat melihat cahaya yang menyilau pandangannya, tubuhnya mendadak kaku melihat mobil melaju kearahnya. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dari belakang dan terjungkal mengenai aspal. Azza mengumpat kasar sambil meringis memegang tangan kaki kirinya.


"Huh, mau mati lo?" sarkas seseorang membuatnya mendongak tajam kearah orang itu.


"Sial, ngapain lo disini?" desisnya.


"Bukannya berterimakasih, lo benar-benar nggak tau diri banget ya," ledeknya lalu menatap kaki kiri Azza.


"Kaki lo luka, bawa kerumah sakit!" serunya tanpa berniat membantu Azza naik.


"Ya setidaknya bantuin gue tegak kek, nggak nampak kaki gue luka?!"


"Idih malas banget gue bantuin lo. Lo orangnya mandiri kan, gue heran kenapa juga adek gue suka sama orang pecicilan kayak lo? Manalagi berniat mau mati tadi tuh,"


"Cih, jangan bawa-bawa Algha. Lo nggak usah ikut campur, udah lah mending lo pergi dari sini!"


Khaizan tersenyum miring, lalu melirik sekitarnya tampak dikelilingi beberapa orang yang tengah memperhatikan mereka. Pria itu menggendong Azza membuat semua bersorak padanya.


"Apa yang lo lakuin? Turunin gue!" pekiknya.


"Diam lo, kalau mau cepat keluar dari sini, jangan banyak gerak!" sentaknya membuat Azza akhirnya pasrah menurut. Pria itu berjalan menuju mobil Azza membuat gadis itu terheran-heran menatapnya.


"Kok lo—"


"Mana kunci lo?"


"Tapi ba—"


"Ck, cepatlah minta kuncinya!" gerutunya kesal. Azza langsung memberikan kunci mobilnya pada pria itu, dan tanpa basa-basi pria itu membawanya ketempat duduk disebelah kursi kemudi. Setelah itu ia melajukan mobilnya keluar dari parkiran.


"Wait...wait, lo kok bisa tau ini mobil gue?" tanyanya menatap curiga. Khaizan melirik gadis itu sebentar, lalu fokus mengemudi lagi.


"Khaizan!"


"Berisik, jangan banyak bicara!"


Azza mengumpat kesal, ia memalingkan wajahnya kearah luar. Keduanya hening hingga sampai ke rumah sakit. Ia masih penasaran mengapa pria ini bisa ada disekitarnya?