
Khaizan mengetuk jarinya dimeja. Ia tengah memikirkan sesuatu dikepalanya. Bahkan sekretarisnya terus berulang kali menjelaskan hasil rapat tadi, ia sama sekali tidak menyimaknya.
"Khaizan monyet!" umpatnya membuat siempunya nama melotot kearahnya.
"Apa?!" tanyanya membuat Galen seketika menciut, tetapi pria itu duduk dihadapan Khaizan dengan muka kusutnya.
"Lo mikirin apa sih? Gue dah koar-koar jelasin lo memghalu. Lo mikirin istri lo huh?" gerutu Galen.
"Ck, ngapain juga mikirin dia. Nggak penting juga, apa yang mau lo bilang huh?"
"Huft, proyek kemarin dah jalan, rekan bisnis kita ada yang mau nambah investasi disana." jelas Galen.
"Itu aja?"
"Ya nggaklah, masih ada cuma gue capek jelasinnya. Dah berbusa mulut gue, lo malah asyik melamun sendiri."
"Bodo amat." ucap Khaizan.
Galen memicingkan mata melihat sahabatnya beranjak dari tempatnya. Pria itu langsung berlari menghadang pintu keluar.
"Awas, lo ngapa huh?"
"Jangan kabur lah woi, masa gue trus yang maju hadapi semua klien. Lo lah lagi!"
"Disini siapa bosnya huh? Gue apa lo?"
"Elo, tapi ya setidaknya absen wajah kek didepan karyawan,"
"Huft, yalah...yalah. Apa jadwal gue hari ini?"
"Kan gue dah sebut—"
"Baca lagi!"
"Ck," gerutunya mengeluarkan tabletnya, ia membacakan lagi jadwal kegiatan Khaizan hari ini.
"Buset, sebanyak itu?"
"Iya, tuh makanya jangan sering pergi tanpa kasih tau gue. Mampus lo hadapi tuh hari ini!" Ledeknya langsung berlari sebelum Khaizan melemparnya dengan buku diatas meja.
Sementara Azza tengah menikmati es jeruknya ditemani dengan buku-buku diatas mejanya. sebentar lagi, ia akan memasuki ujian akhir semester dan menyambut libur panjang. "Yuhuu demi liburan nggak papa gue mati-matian belajar." serunya meringkas materi yang akan diujiankan nantinya.
"Widiih semangat sekali nyonya yang satu ini." seru Lulu ikut nimbrung dengan Azza. Azza terkekeh pelan, dapat ia lihat tubuh sahabatnya mulai berisi. Tetapi, perutnya tidak terlalu keliatan buncit.
"Iya dong, gue mau liburan. Dah capek belajar trus."
"Ajarin dong yang ini!" tunjuk Lulu pada materi yang tengah diringkas Azza. Dengan senang hati, ia mengajarkan sahabatnya dengan rumus cepat, supaya ibu hamil yang satu itu paham apa yang ia jelaskan.
"Dah paham sekarang?" tanyanya.
"Hmm dah, thanks. Aduh perut gue lapar Za."
"Buset, lo masih lapar? Daritadi lo ngemil aja kerja lo Lulu, biasanya nggak sebanyak ini lo makan."
"Faktor hamil keknya nih, akhir-akhir ini gue makan banyak. Bakso, miso, sate, martabak mesir, steak daging, nasi goreng, pangsit, banyaklah pokoknya. Dan itu gue habisin dalam sehari."
"What? Sehari? Gila...gila, ngeri juga ponakan gue makannya banyak kek gitu."
"Biarinlah, biar dia sehat. Oh iya lo bawa mobil nggak hari ini?"
"Bawa kenapa emangnya?"
Deg.
"Kapan terakhir nelpon dia?"
"Semalam, aturannya malam nih mau acara tunangan. Huft, kemana sih dia!?" gerutunya memandang ponselnya.
Azza menatap kasihan, ia takut prasangka tentang cowok Lulu sesuai ekspektasi. Zaman sekarang cowok-cowok mana ada yang mau bertanggung jawab setelah melakukan dosa besar itu. Tetap, ia berharap semoga ayah dari ponakan dadakannya itu segera menikahi Lulu.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang, ia dan Lulu berjalan menuju mobilnya. Azza melajukan mobilnya keluar dari parkiran kampus menuju alamat rumah Sean.
Sampai disana mereka dikejutkan dengan adanya bendera putih ditambah orang-orang berbaju hitam lalu lalang didepan rumah Sean yang sesuai dengan yang diarahkan Lulu tadi. Mata Lulu berkaca-kaca, ia segera keluar dari mobil dan berlari memasuki rumah tersebut.
"Lulu tunggu! Arghh harus makir dulu gue!" gerutunya mencari lahan parkir untuk mobilnya. Saat sudah mendapatkan tempat yang layak untuk mobilnya barulah ia berlari menyusul Lulu.
"Seaaan!" pekik Lulu membuat Azza mempercepat langkahnya masuk. Ia tertegun saat melihat Lulu menangis tersedu-sedu didepan jenazah Sean.
Ya ampun maaf gue udah salah sangka, maaf Sean semoga lo tenang disana. cicitnya pelan karena menyesal memikirkan yang tidak-tidak tentang Sean. Suasana dirumah itu terlihat mencengkam dan penuh tangisan. Kehilangan anggota keluarga sangat berat bagi mereka, butuh waktu yang lama untuk mengikhlaskannya pergi dengan tenang.
"Ini semua karna kamu!" tuduh seorang wanita tua menghampiri Lulu. Lulu tersentak, ia meringis kesakitan memegang rambutnya akibat ditarik oleh wanita paruh baya itu.
"Anakku mati karna kamu! Dia mati! Mati! Gara-gara kau memaksanya menikah, jadinya dia kecelakaan!" tuduhnya lagi. Lulu hanya bisa menunduk dan terisak. Ia tidak menyangka aka ada kejadian seperti ini menimpanya.
"Maa.."
"Jangan panggil aku mama, kau bukan menantuku! Pergi dari sini sekarang juga!" usirnya mendorong Lulu hingga keluar rumah, hal itu banyak pasang mata menyaksikan perseteruan mereka. Untung Azza memegang Lulu cepat, kalau tidak sahabatnya itu bisa jatuh dan akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Lu..."
Azza langsung menyusul sahabatnya yang dengan cepat pergi dari rumah Sean. Gadis itu menghela napas pelan saat menemukan Lulu meringkuk duduk ditepi sungai yang tak jauh dari rumah Sean.
"Lulu..." lirihnya menghampiri sahabatnya.
"Kenapa hidup gue gini Za, kenapa gue nggak boleh bahagia?" lirihnya menangis sesenggukan.
Azza hanya bisa menepuk bahu sahabatnya, ia juga tidak berbuat banyak mengingat faktanya bahwa Sean, pacarnya Lulu sudah tiada. Entah karena faktor apa yang membuat pria itu mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.
Lulu menyeka air matanya, lalu ia berdiri sambil mengibas roknya. Azza heran melihat Lulu kembali ke rumah itu dengan tatapan datar membuat perasaan Azza tidak enak.
"Please Lu, lo jangan mancing emosi mereka." Azza cemas terhadap kondisi Lulu.
Lulu berjalan masuk tanpa takut akan diusir kembali, ia langsung menghampiri jenazah pacarnya dan memegang tangan Sean yang sudah terasa dingin. "Sean jangan tinggalin aku, please bangun sayang..."
"Apa-apaan kau hah? Pergi dari sini!" Wanita yang merupakan Ibu Sean emosinya kembali melonjak saat melihat pembawa sial keluarganya datang dan kini denngan lancangnya memegang tangan Sean. Buru-buru ia menyingkirkan tangan itu terlepas dari Sean.
"Jangan pegang anak saya! Kamu nih pembawa sial pergi sana!"
"Maa jangan pisahkan aku dengan Sean, beri aku waktu."
"Nggak ada, kamu emangnya siapa dia? Walaupun saya kemarin setuju dengan kamu nikah dengan Sean, saya tetap tidak akan merestui hubungan kalian berdua!"
"Pergilah dari sini, Sean udah mati. Pergi saya bilang!" bentaknya tetapi tidak membuat Lulu pergi seperti tadi. Ia kembali menangis melihat wajah Sean untuk terakhir kalinya.
"Pergi sana, siapapun usir dia!" serunya hendak mengangkat tangannya untuk menampar Lulu, namun malah meleset mengenai pipi Azza.
Plaak.
Semuanya terdiam, suara tamparan itu terasa nyaring didengar apalagi terasa sakit bagi yang kena. Azza terdiam, sudut bibirnya terluka menatap tajam kearah ibunya Sean.