
Azza menatap datar ruangan yang kini sudah tidak layak digunakan. Ruangan yang dulu tempatnya mengeluarkan hobinya kini hanya tinggal kenangan. Siapa sangka, orang yang begitu dekatnya ternyata memiliki niat busuk yang lain. Kenapa ia selalu saja diterjang masalah?
"Huft, sudahlah lupakan Azza. Tidak perlu lo ingat cowok brengsek sialan tuh!" umpatnya mengingat sosok Ansel. Ngomong-ngomong soal pria itu, ia sudah tidak menampakkan batang hidungnya sejak dihajar habis-habisan oleh Khaizan, suaminya sekarang. Pertengkaran hebat itu ternyata lebih diuntungkan pihak Khaizan, hingga membuat Ansel sekarat.
Sejak saat itu pula, Azza memblokir nomor, pesan apapun yang berkaitan dengan Ansel. Lain halnya dengan anggota klubnya yang begitu syok dan sekaligus kecewa klub ini dibubarkan dengan paksa. Azza tidak punya pilihan selain mengorbankan klubnya dibandingkan harus mempertaruhkan pendidikannya akibat kasus itu. Kasus itu berhasil ditutup cepat dengan bantuan beberapa petinggi yang bekerja sama dengan kampusnya.
Azza sejenak berhenti, ia mengernyit mendengar suara seseorang tengah muntah-muntah didalam toilet wanita tak jauh dari tempatnya berdiri. Penasaran ia melangkah mendekati pintu toilet itu. Tangan gadis itu perlahan memutar knop pintu, ia membuka pelan sambil mengintip.
"Permisi, apa ada orang disini?"
"Hoek...hoek!"
"Halo, apa anda baik-baik saja? Kebetulan saya membawa mi—"
"Hiks...hiks nggak mungkin, nggak mungkin." lirihnya terisak-isak.
Tunggu, Azza sepertinya mengenali suara ini. Matanya membulat saat menyadari jika pemilik suara itu adalah sahabatnya alias Lulu. "Lulu, lo didalam?"
Isakannya semakin kuat membuat Azza yakin jika memang ini adalah Lulu. "Lulu, ayo buka pintunya. Yok sini cerita, apa yang lo keluhkan beb?" tanyanya cemas.
"Az...Azza..." Lulu membuka pintu perlahan dan berlari cepat memeluk Azza. Azza terkejut melihat penampilan Lulu saat ini berantakan.
"Kenapa? Ada yang jahatin lo?"
Lulu menggeleng, ia kembali memeluk sahabatnya dengan erat. "Gue hamil Azza," ucapnya pelan sukses membuat Azza syok bukan main. Ia langsung melepaskan pelukan mereka dan menatap Lulu dengan tajam.
"Lo gila ya? Apa maksud lo tuh huh?"
"Gue hamil Azza, gue hamil.." lirihnya.
"Lulu, Lo kayaknya salah makan obat deh, lo kacau banget tau. Yok ikut gue!" Elaknya, ini pasti tidak benar.
Lulu menggeleng, ia merasa masa depannya sudah tidak ada lagi. Hilang begitu saja karena hanya kesalahan yang ia buat saat ini. Azza tidak ingin mendengar apapun sekarang, memilih menarik sahabatnya itu keluar. Kelas yang harusnya ia hadiri kini malah memilih bolos hanya untuk menemani sahabatnya.
"Kita kemana Za?" tanyanya tidak tahu kemana sahabatnya ini membawanya.
"Diam dulu, lo harus ikut gue bentar." serunya sambil memesan jasa mobil diaplikasinya. Tak lama kemudian, mobil yang ia pesan tadi akhirnya datang. Azza langsung meminta Lulu masuk kedalam.
"Azza jangan bilang lo mau bawa gue ke—"
"Lulu, gue ada disini, lo jangan khawatir oke? Sekarang lo tenang duduk diam, biar gue yang urus. Jalan pak!" serunya pada supir.
Sesampai disana, Azza dan Lulu menunggu antrian mereka masuk ke ruangan obygn. Azza dapat merasakan dinginnya tangan Lulu yang menggenggam tangannya kuat, pandangannya terus tertuju pada lantai. "Huft, sampai kapan lo mau nunduk trus huh?"
"Please Azza, gue nggak mau diperiksa." Bisiknya memohon. Lulu takut mengetahui fakta yang akan sebentar lagi terkuak, ia merasa malu dan menyesal telah melakukan hubungan terlarang dengan pacarnya.
"Sudahlah, jangan khawatir. Oke bentar lagi kita masuk Za,"
"Nak, kalian kenapa datang kesini?" tanya ibu hamil yang duduk diseberang mereka. Lulu hanya menunduk sedangkan Azza tersenyum menatap ibu itu.
"Ya ampun nak, usahakan jangan stres. Ibu tau ini kehidupan anak remaja masih labil, tapi tolong jaga kondisinya ya."
"Siap Bu, ngomong-ngomong ibu sudah berapa bulan?" tanya Azza lagi. Ia melihat perut ibu itu lebih besar dari pasien-pasiennya lainnya. Azza teringat dengan statusnya saat ini, apakah dirinya hamil akan sebesar itu perutnya? Anak dari—Azza menggeleng-geleng cepat membuyarkan imajinasinya yang tidak-tidak.
Huft...nggak, nggak lo dengan dia nggak ada hubungan apa-apa selain menikah karna tujuan masing-masing doang, tidak lebih.
Ibu itu tersenyum. "Saya hamil anak kembar, usia kandungan saya tujuh bulan." ucapnya lembut sambil mengelus perut besarnya. Azza mengangguk senang sambil tersenyum tipis, lalu ia mendongak kearah perawat saat nama Lulu dipanggil.
"Maaf bu, saya duluan masuk ya. Yok Lu," pamitnya langsung dianggukan ibu itu. Lulu masih enggan masuk kedalam ruangan itu, tetapi Azza berbisik untuk tetap percaya padanya.
Pandangannya pertama langsung tertuju pada layar monitor USG milik pasien sebelum mereka tadi, perawat itu langsung menyuruh Lulu berbaring dikasur.
"Apa keluhannya nak? Haid kamu nggak lancar?" tanya dokter itu sambil memakai sarung tangannya.
"Bukan Bu, dia mau ngecek kehamilannya." jawab Azza mewakili Lulu. Lulu tampak hanya diam memalingkan wajahnya.
Dokter tadi terkejut menoleh kearah Azza, lalu ia melirik kearah Lulu sambil tersenyum tipis. "Ya sudah, mari kita cek ya."
"Tolong rahasiakan ini dok, saya tidak ingin orang tua saya mengetahui hal ini." pinta Lulu langsung dianggukan dokter itu.
"Baik, itu memang privasi anda. Saya tidak akan membocorkannya, nama anda siapa?"
"Lulu."
"Mbak Lulu aja ya saya panggilnya. Oke, sekarang kita akan cek kandungan mbak. Boleh diangkat bajunya ya," Dokter itu menyingkap baju Lulu keatas lalu perawat yang membantu dokter itu mengolesi gel diatas perut Lulu.
Azza dengan saksama melihat kearah monitor, tanpa menyadari jika dirinya begitu antusias melihat janin yang ada didalam perut sahabatnya. "Apa itu dok janinnya?" tanyanya sambil menunjuk janin yang bentuknya seperti kacang.
"Iya, ini masih muda sekali. Mbak harus jaga pola makan sama istirahat yang cukup ya. Agar janin mbak berkembang dengan sehat." serunya sambil menggeser alat untuk mendeteksi keberadaan janin.
Mata Lulu berkaca-kaca, ia masih tidak menyangka itu adalah anaknya. Tetapi, mengingat fakta ini apakah ia harus mempertahankan atau merelahkan anak dalam kandungannya? Ia yakin keluarganya tidak akan menerima kehadiran bayinya.
***
"Ini susu hamilnya gue letak sini ya, trus kalau lo masih morning sickness ini obatnya. Hmm apa lagi ya yang lo butuhkan?" gumamnya menatap dapur apartemen Lulu saat ini. Benar, setelah berkutat panjang dengan pikirannya, Lulu memutuskan untuk tetap mempertahankan bayi itu sampai lahir. Tetapi, konsekuensinya ia harus bersembunyi tanpa diketahui oleh siapapun termasuk keluarganya.
"Lo yakin nggak ngasih tau dia?" tanya Azza pelan. Daritadi ia sudah mati-matian menahan untuk tidak bertanya ini, rasanya ia ingin menghajar habis-habisan cowok brengsek itu yang membuat Lulu harus mengalami hal ini semua. Ia tidak setuju dengan jalan pemikiran sahabatnya untuk merawat anak itu sendirian.
Lulu menggeleng, ia sebenarnya ingin memberitahukan hal ini pada Sean, karena pria itu baru saja keluar negeri untuk mengurus perusahaan keluarganya. "Perusahaan lagi bermasalah, gue nggak mau Sean kepikiran karena ini."
Ya ampun Lu, lo terlalu polos.
"Hmm tapi gue saranin lo harus cepat kasih tau dia. Jangan sampai perut lo udah besar, baru kasih tau. Lo tau nggak, gue pernah dengar berita gitu ceweknya baru ngasih tau si cowok pas udah hamil besar, eh rupanya cowoknya nuduh dia mengandung bayi cowok lain." Ocehnya panjang, ia ingin sahabatnya ini mengerti jika dunia diluar sana tidak sebaik yang ia kira. Ia juga ragu jika pria itu bukan untuk perusahaan seperti dibilang Lulu, bisa jadi pria itu sudah melarikan diri setelah puas dengan Lulu.
Tapi ya balik lagi, moga aja firasat gue nggak benar. Gue yang sahabat lo aja baru tau, kalau nama pacar lo Sean. Ck, moga lo tetap bertahan. gumamnya merasa kasihan melihat masalah yang menimpa sahabatnya.