A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 55: Meminta Restu dan Di Restui



Rima menyambut kedatangan putranya yang membawa Rania ke rumah, ia sudah mengetahui apa yang akan putranya lakukan saat ini, ia pun telah menyiapkan jika Damar meminta restunya.


TAK!! TAK!! TAK!!


Suara langkah kaki saling beradu di lantai bergantian semakin mendekat ke ruangan tamu, di sana Rima telah menunggu kedatangannya.


Rania yang berjalan dengan Damar semakin mengeratkan pegangan tangannya. Kakinya terlihat gemetar saat semakin mendekat ke arah rumah megah itu.


"Akhirnya kalian sampai juga, sudah lama Mami menunggu kalian," Rima menatap dengan kesal pada Rania.


"Tante, lama kita tidak bertemu. Apa kabar?" sapa Rania dengan tersenyum.


Namun, Rima sama sekali tidak menggubris. "Kalian mau masuk kan?" Rima kembali bertanya.


"Tentu saja Mam," Damar lantas masuk dalam rumah mengikuti langkah ibunya.


"Silakan duduk," pinta Rima pada Damar dan Radisha setelah menyilang kaki di sofa. "Apa tujuan kamu membawa Perempuan ini ke Rumah kita?" tanya Rima tidak berbasa-basi.


DEG!!!


Degup jantung terasa seperti mau copot saat Rima menanyakan maksud dan tujuan mereka berdua, sedangkan Rania benar-benar terlihat gusar takut dengan penolakan Rima untuk ke sekian kalinya meminta restu.


Damar menatap pada Rania, ia tahu saat ini Rania sedang di selimuti rasa takut akan penolakan dari ibunya. Tidak mau melihat Rania gelisah, ia pun menangkup tangannya berusaha meyakinkan.


"Jadi kalian tidak mau mengatakan maksud dan tujuan kalian?" Rima mengulang pertanyaan.


Dengan penuh keyakinan Damar mencoba bicara pada ibunya, "Mam, maksud dan tujuan aku membawa Rania ke Rumah, tentunya Mami sudah paham dengan apa yang akan Damar sampaikan, untuk itu Damar mohon restui kami untuk menikah, Mama mau kan memberikan restu Mama untuk kami?" pintanya dengan memohon.


Rima yang masih kesal dengan sikap Damar yang selalu membangkang padanya, hanya diam. Kemudian, bangkit dari tempat duduknya saat ini. Namun, Damar mencegah Rima yang akan pergi.


"Damar mohon, baru kali ini Damar meminta keindahan sama Mama, tolong izinkan kami menikah," mohonnya lirih.


Terharu atas apa yang dilakukan Damar, Rania pun tidak mau kalah dan berusaha berjuang bersama memperjuangkan cintanya.


"Tante... Rania memang bukan Perempuan kaya, Rania bukan lagi Perawan. Tapi, Rania mohon sudilah Tante memberikan Putra Tante menjadi pendamping Rania, itu pun jika Tante mengizinkan!" Rania bersimpuh di hadapan Rima memegangi kakinya.


"Apa yang kau lakukan Rania?"


"Aku harus memperjuangkan Cinta kita Damar, karena selama ini hanya kau yang berjuang,"


Dibawah kaki Rima mereka saling berinteraksi saling berkorban satu sama lain, sementara hati Rima yang beku hanya diam tidak memberikan keputusan apapun.


"Apa kamu tidak melihat ketulusan di antara mereka Istriku," Adhi Nugraha berjalan menuruni tangga saat itu, "Kasihan mereka selama ini saling mencintai, apa kau tega menjadi penghalang kebahagiaan Putramu?" ujar Adhi lagi.


Kini tatapan semuanya beralih pada Adhi yang mulai berjalan mendekati mereka.


"Sudahi keegoisan kamu, jika kamu memang menyayangi Putra kita," bujuk Adhi meraih tangan Rima--istrinya.


Rima menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha mengambil keputusan. "Huhhhh,"


Kemudian, Rima kembali menatap pada sepasang kekasih yang memohon restu darinya. Hatinya mulai tersentuh, dan membayangkan berapa besar pengaruh Rania untuk Damar yang sempat patah hati karena telah di khianati tunangannya.


"Baik, Mama memberikan restu untuk kalian. Tapi, Mama tidak ingin Rania hidup di kontrakan karena itu semua dapat mencoreng nama baik keluarga ini," ucap Rima memberikan restunya.


Buliran bening meluncur bebas dari sudut mata Rania, ia tidak percaya atas apa yang di katakan calon ibu mertuanya. Rania menangis tersedu-sedu pecah saat itu juga.


"M--Mam ... kau serius dengan Ucapanmu kan?" Damar memperjelas, "Mama benar-benar menerima Rania untuk jadi Menantu Mama?"


Rima tersenyum dan mengangguk, "Ya, Mama terima apa adanya Calon Istri pilihan kamu, lagi pula jika kamu yakin Rania perempuan baik-baik Mama juga yakin, maafkan Mama yang selama ini meragukannya,"


Rima mengelus lengan Damar, lalu beralih pada Rania.


"Tante mohon jangan sakiti Putra Tante, Cintai dia seperti kamu mencintai Tuhanmu!" tegas Rima menatap dengan serius pada Rania.


Rania langsung memeluk Rima dengan erat, "Terima kasih Tante, Rania berjanji tidak akan pergi kecuali Damar yang meminta," lirihnya menangis terharu.


"Jika itu terjadi, maka Tante yang akan turun tangan pertama kali menampar Putra Tante. Jika memang dia menyakitimu," Rima membalas pelukan Rania.


Adhi Nugraha tersenyum menyaksikan keputusan istrinya, pasalnya sudah lama Adhi ingin memiliki cucu dan sekarang Putranya telah mendapatkan pasangan yang seimbang dari segi hatinya yang seluas samudra.


"Nah, begini dong Mam... Papa senang Mama mengambil keputusan tepat, Mama terbaik untuk Damar, dan Papa," puji Adhi memeluk Rima istrinya.


"Terima kasih pujiannya Pah," Rima tersenyum lepas seolah melepas semua bebannya selama ini.


***


Satu Minggu berlalu, pagi hari ini Damar dan Rania serta kedua orang tuanya bertemu untuk membahas pernikahan yang akan segera digelar. Dua keluarga besar itu dipertemukan, dan saling bertukar pikiran mengurus resepsi yang akan segera dilaksanakan.


"Nyonya, apa semua ini tidak berlebihan?" seorang perempuan paruh baya bicara dengan nada lembut pada Rima.


"Apa yang menurut Anda berlebihan, sudahlah urusan uang kalian tidak perlu khawatir, serahkan pada keluarga kami," ujar Rima meminta ibunya Rania untuk tidak terlalu banyak pertimbangan.


"Jika pihak Nyonya tidak merasa keberatan, saya tidak apa-apa Nyonya. Terima kasih untuk pesta yang akan digelar nanti,"


Rania yang merasa ibunya malu atas perhatian berlebihan dari Rima calon mertuanya, ia pun berusaha mendekati sang ibu.


"Ibu, tolong jangan ambil hati ya ... Mama Rima hanya menginginkan yang terbaik untuk Putranya, Rania harap Ibu mengerti," ucapnya dengan lembut. Lalu berbalik pada Rima calon ibu mertua.


"Ma, maafkan Keluarga Rania ya. Seperti inilah kesederhanaan Ibu. Rania mohon Maaf jangan tersinggung ya," imbuhnya.


Rima berusaha mengerti, dan mulai memahami bahwa uangnya tidak akan pernah mampu membeli ketulusan hati keluarga itu. Ia merasa malu pada dirinya sendiri, selama ini begitu sombong terhadap keluarga yang sebenarnya tidak terlalu memandang uangnya.


"Mama mengerti Rania, kalian tenang saja ... maafkan saya selama ini saya selalu berpikir negatif terhadap keluarga kalian," ucapnya menyesal.


"Tidak Nyonya, saya yakin Nyonya tidak bermaksud seperti itu kan?"


"Iya, tentu saja maksud saya tidak seperti itu," ucapnya merasa malu, tidak mau terus berlanjut lantaran malu dengan kesombongannya selama ini, Rima mengalihkan perhatian mereka.


"Eh iya, Rania coba kamu pakai gaun pengantin kamu ya. Mama pikir akan lebih baik kita tahu apa yang perlu di perbaiki nanti," pintanya terhadap Rania.


"Iya Ma, Rania ke sana sebentar ya," Rania berjalan menuju fiting room, mencoba baju pengantinnya.


Saat Rania memasuki ruangan itu, tiba-tiba saja seseorang mematikan lampu di ruangan itu. Membuat Rania ketakutan.


"Hey, siapa itu?!" pekik Rania berteriak memastikan jika orang yang mematikan lampu di ruangan ganti itu bukan orang yang berniat buruk padanya.


DEG!!!