
"Ma-maafkan Ayana mah, Bukan seperti itu maksud saya." Gugup.
"Sial kenapa tante Artha tiba-tiba saja kembali ke indo sih! Kalau seperti ini bisa-bisa aku tersingkir dari hidupnya Hendry." Gumam Ayana.
Sedangkan Artha masih menatap, Pada Keberadaan Ayana yang berdiri di halaman rumah.
"Masuk mbok...,Tolong buatkan saya teh hangat! Dan kamu Nana, Ikut saya ! Saya butuh penjelasan dari kamu." Nyonya Artha menatap tajam Ayana.
"Iya ma...,Saya akan jelaskan semuanya!"
"Bagus, Begini lebih baik. Karena cepat atau lambat kamu harus pergi dari rumah ini! Saya tak sudi menampung wanita pemburu harta sepertimu." Dingin.
Perlahan Artha melangkah masuk, Kemudian terduduk di sopa ruang keluarga sambil menyilang kakinya.
"Mom's ..., Aku pergi dulu yah! Diana ada urusan sebentar."
"Kamu tidak capek nak...,Baru saja kamu datang ke rumah. Sudah ingin pergi lagi, Memangnya urusan apa yang membuat putri mommy ini ingin segera pergi."
"Biasalah Mom's urusan anak muda." Sahut Diana menyalami ibunya.
Sedangkan Ayana berada di dapur, Ia berniat mengambil teh hangat dari pembantunya. Dan membawakannya untuk ibu mertuanya. Yang sudah menunggunya di ruang keluarga.
"Biar saya saja yang membawakan teh untuk mamah, Mbok! Ini semua gara-gara kamu coba saja mulut kamu itu sedikit bisa menjaga rahasia." Pasti semuanya tak akan seperti ini. Kau mau saya pecat."
"Maafkan saya non, Saya tidak bermaksud seperti ini. Tolong jangan pecat saya non."
Sang pembantu menundukkan kepalanya, Memohon agar Ayana tak memecatnya dari pekerjaan. Dengan tidak sengaja Diana berlalu di depan dapur, Ia mendengar percakapan Ayana dengan pembantunya. Ayana memaki dan mengancam pembantu tersebut.
"Ada apa ini! Kenapa Kamu akan memecat mbok surti, Memang salah apa dia!" Tanya Diana berada di ambang pintu.
Seketika Ayana menoleh ia sangat kaget karena kepergok sedang memarahi pembantunya.
"Ehh..., Diana enggak! Siapa yang akan memecat mbok surti, Kamu salah denger kali Dee."
"Mbak Nana fikir aku tuli apa, Jelas-jelas tadi itu aku mendengar nya. Ingat ya mbak kamu jangan berlagak sok nyonya di rumah ini." Umpat Diana terhadap Ayana Iparnya.
"Diana kamu kok gitu sih sama mbak, Inget loh kita ini Keluarga Dee, Jangan judes gitu dong sama mbak."
"Heh...,Dasar ular. Jelas-jelas baru saja dia menampakkan sifat aslinya. Dan sekarang berubah lagi berpura-Pura baik." Gumam Diana berbicara dalam hatinya, Menatap sinis kepada Ayana.
"Sudahlah aku mau pergi, Bikin gaduh suasana rumah saja mbak Ayana ini." Gerutu Diana berjalan keluar dari rumahnya.
Sedangkan Ayana kini berada di posisi terjepit, Jika salah melanggkah bisa-bisa dia tersingkir dari rumah kediaman nya sekarang.
"Sial sungguh sial...,Kenapa dua wanita ini selalu saja tak berhenti mengganggu ku." Gumam Ayana sambil memijat keningnya.
kemudian ia menoleh pada si mbok. Yang masih membuatkan teh untuk Artha. "Ya tuhan mbok...,Lama banget sih kamu ini. Padahal cuman bikin teh satu cangkir saja. Sini...,Sini, Biar saya saja yang membuat."
Ayana mengambil alih sendok dan cangkir dari tangan si mbok dengan penuh amarah. Setelah itu Ayana mengantarkan teh hangat, Yang diminta oleh mertuanya.
Sementara Artha menatap dingin pada Ayana, Yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Sambil membawa secangkir teh hangat.
"Ma...,Silahkan di minum teh nya." Sambil menyunggingkan senyum.
"Kau ..., Siapa yang meminta teh padamu! Oh ..., Jangan-jangan kamu meracuni teh nya yah." Ucap Artha dingin.
"Ya tuhan ma...,Jangan berburuk sangka begitu mah! Aku sayang sama mama, Mana mungkin aku tega meracuni mama." Dusta Ayana terhadap Artha.
Kemudian Artha mengambil secangkir teh hangatnya, Serta meminumnya. Dengan refleks Artha menyemburkan teh nya, Di hadapan Ayana. Seketika Ayana terlonjak kaget.
"Byurrr."
Mata Ayana membulat sempurna, Ia basah kuyup kena semburan air teh dari mulut Artha, Ibu mertuanya.
"Kau mau membunuh saya secara perlahan." Bentak Artha.
"Ke-kenapa mah, Apa yang salah memang dengan teh yang saya buatkan."
"Kamu coba saja teh nya." Menatap dingin, Sambil menyerahkan secangkir teh kepada Ayana. Lalu Ayana meminumnya.
"Iya manis dan saya tidak suka teh manis, Makannya kalau tak tahu kesukaan saya. Tak usah sok-sok an perhatian pada saya."
"I-iya ma...,Maafkan Ayana." Sambil menunduk dengan rasa sesalnya, Karena telah membuatkan teh untuk mertuanya.
"Tunggu apalagi, Cepat rapikan bekas tumpahan nya! Kau ini menyebalkan, Tidak Seperti Rania yang selalu bisa membuat saya senang." Dengan sangat marah Artha bangkit dari sopa dan pergi meninggalkan Ayana.
Ayana menatap nanar terhadap mertuanya, perlahan melanggkah pergi dari ruang keluarga.
"Mbook...,Mbok surti." Teriak Ayana kesal.
Dengan sekejap si mbok, Menghampiri Ayana yang tengah kesal.
"Iya nona, Ada apa?"
"Bereskan tumpahan teh ini." Dengan kesal nya Ayana membentak si pembantu Tersebut.
Sedangkan Rania, Bersama Damar dan Arel. Telah sampai di Mansion mewah milik keluarga Damar.
Arel menepikan mobilnya, Kemudian Damar dan Rania tutun dari mobil tersebut. Mereka disambut oleh kedua orang tua Damar, Yaitu Rima dan Adhi Nugroho.
"Damar..., Mommy kangen banget sama kamu sayang...,Gimana liburan nya seru?"
"Iya mah bahkan lebih seru, Karena Damar kini telah jadian dengan Rania. Bahkan sudah melamar Rania meski belum di resmikan."
Deg...
Seketika Rima terdiam, Sedangkan Adhi ikut berbahagia setelah mendengar ucapan dari putra nya.
"O ho ho...,oyah. Kapan itu kamu melamar nya?" Senyum samar terukir dari bibir Rima.
"Aku harus segera memikirkan rencana untuk menjauhkan Rania dari Damar." Gumam Rima dalam hati.
"Selamat anakku...,Daddy bangga dengan kamu nak...,Semoga hubungan kalian berlanjut ke jenjang pernikahan." Ucap Adhi tersenyum. Memeluk putranya.
Sedangkan Rania harap-harap cemas, Karena kesan dirinya di mata Rima tak sebaik yang nampak.
Sekilas Damar menoleh kepada kekasihnya, Dan memanggilnya untuk bergabung dengan kedua orangtuanya.
"Rania...,ke marilah." Daddy dan mommy sudah merestui kita." Sambil melambaikan tangannya.
perlahan Rania mendekat, Kemudian menyalim kedua orangtuanya Damar.
"Terimakasih om..., Terimakasih tante." Sambil menyalim tangan Adhi dan Rima.
"Heh..., kau fikir aku menyetujui mu Rania." lihat saja aku akan menyingkirkan mu dari hidup putraku." Gumam Rima dalam hatinya.
"Iya Rania sama-sama. Justru seharusnya om yang berterimakasih pada kamu nak!" Seru Adhi Nugroho mengelus pundak calon menantunya.
"Terimakasih yah Rania..., Maafkan tante selama ini yah. Telah salah sangka terhadap kamu." Rima berpura-pura baik di hadapan suami dan putranya.
Damar terlihat bahagia melihat kedua orang tuanya, Menerima kekasihnya dengan sangat baik. Padahal kenyataannya mommy nya sangat tak menyukai Rania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Happy reading...
Sampai ketemu di part berikutnya...
Tinggalkan jejak kalian yah, Jangan lupa like,komen dan vote ...
Tambahkan ke kolom favorit kalian, Agar tak ketinggalan update ...
semoga terhibur**...