A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 38 : kenyataan tak seindah khayalan



Kini Artha dan Diana telah kembali ke indo, Begitu juga dengan Rania dan Damar yang baru saja terbang dari Korea Selatan.


"Mom's ...,Diana sudah gak sabar kepingin cepet ketemu sama Kak Ra, dan Bang Hend." Diana sangat antusias ingin segera bertemu dengan Rania sang kakak ipar.


Namun kenyataannya berbanding terbalik, Karena Hendry telah menceraikan Rania, Dan sudah kembali menikah dengan Ayana.


"Iya Dee ..., Mommy juga pengin cepet ketemu sama kakakmu." Sambil berjalan menarik koper.


Sedangkan dari arah berlawanan Rania dan Damar. Terlihat bergandengan mereka sangat bahagia karena pada akhirnya, Mereka tahu bahwa saling mencintai.


"Ra...,Aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin lagi berpisah dengan kamu." Ucap Damar sambil memeluk Rania.


Artha yang melihat mereka berpelukan, Ia sebagai seorang ibu merasa sangat sakit hati. Karena merasa anaknya telah di selingkuhi. Dengan Sangat marah Artha menghampiri, Serta menegur Damar dan Rania.


"Mom's, Mau kemana ..., Mom's." Diana heran dengan ibunya yang berlalu begitu saja di hadapan nya.


"Rania...,Oh Jadi begini kelakuan kamu di belakang Hendry! Siapa laki-laki ini." Bentak Artha yang sedang di kuasai Emosi. Seketika tangan Rania reflek melepaskan pelukannya dari Damar.


"Mamah,"


"Jangan panggil saya mamah. Saya tak sudi mempunyai menantu yang telah mengkhianati anak saya."


"Mah...,Dengar penjelasan Rania dulu mah. Apakah mamah belum tahu kalau sebenarnya Rania sudah berpisah dengan mas hendry."


Deg...


"Berpisah,? Maksud kamu apa Rania.!" Artha mulai bingung atas ucapan yang terlontar dari mulut Rania.


"Iya mah..., Rania sudah bercerai dari mas Hendry. Apakah mas Hendry tidak menceritakan ini semua pada mamah,?"


Diana yang kaget dengan luar biasa atas perceraian kakaknya dengan Rania, Ia langsung menghampiri Ibunya yang sedang memarahi iparnya itu.


"Maksud Kak Ra, Apa,? Kapan kalian bercerai nya kak. Ada masalah apa memangnya kalian, Sampai harus bercerai kak."


"Maafkan kak Rania Dee, Maafkan Rania mah. Rania tak perlu menjelaskan mungkin kalian juga akan tahu sendiri jika setelah bertemu dengan mas Hendry." Lirih Rania dengan mata berkaca-kaca.


Artha yang mengenal baik Rania sebagai menantunya, Ia langsung berhenti menghakimi Rania. Ia lebih memilih mengajak Diana putrinya untuk segera pulang kerumah, Untuk mempertanyakan kebenaran dari semua yang telah terjadi.


"Ayo Dee kita pulang sayang...,Kita tanyakan langsung pada abang mu." Kata Artha datar.


Lalu Artha melanggkah pergi dan di ikuti oleh Diana yang mengekor di belakangnya. Sedangkan Rania hanya bisa mengelus dada untuk menabahkan hatinya.


"Rania...,Siapa orang yang tadi,,?" Kok sepertinya aku sangat familiar yah." Tanya Damar berusaha mengingat, Tapi sayangnya Damar saat ini sedang kehilangan ingatannya.


"Bukan siapa-siapa Mar, Dia salah orang." Balas Rania sengaja merahasiakannya dari Damar, Demi menjaga kesehatan kekasihnya itu.


"Aku kira siapa, Sudah ayo cepat kita pulang, Arel sepertinya sudah menunggu kita di parkiran." Sahut Damar menangkup wajah cantik Rania.


Kemudian Rania di gandeng oleh Damar, Untuk menuju ke parkirkan. Dimana disana sudah terlihat Arel sedang menunggu.


••••


Kini Artha dan Diana telah sampai ke Mansion nya. Ia di sambut hangat oleh pembantunya.


"Nyonya...,Saya senang akhirnya nyonya dan Non Diana pulang juga."


"Bagaimana kabar Rania dengan Hendry selama saya tinggal di luar negeri mbok." Tanya Artha tanpa terduga.


Seketika si mbok terdiam dan tak menjawab pertanyaan dari nyonya besarnya itu.


Deg...


Seketika Hening...


Kemudian Artha membentak pembantunya, Ia memaksa pembantunya untuk berterus terang, Soal kejadian yang di sembunyikan oleh Anak dan menantunya. Namun tanpa di duga Ayana keluar dari mansion, Untuk memastikan siapa yang telah bertamu ke rumahnya.


"Siapa tamu nya mbok." Ucap Ayana berdiri di ambang pintu. Sekilas Artha dan Diana menoleh ke sumber suara Ayana.


"Sedang apa kamu disini. Mana anak saya." Bentak Artha.


"Sabar mah...,Ayana bisa jelasin semuanya."


"Mamah..., Kau panggil aku mamah! Heuh..., Mimpi apa saya semalam." Ucap Artha geram sambil memijat keningnya.


"Maksud kak Nana apa,? kenapa kak Nana panggil Mom's seperti ini." Sahut Diana.


"Karena aku istri dari kakak mu Diana." Ucap Ayana terbata-bata.


"Tidak mungkin...,Kamu cuma mengada-ada kan kak,,? Kalau kamu istrinya lalu kak Rania itu apa." Bentak Diana.


"Cukup Ayana! Dari dulu saya tak pernah menyetujui kamu menikah dengan anak saya. Owh..., Rupanya kamu pura-pura menjadi sahabat nya Rania. Ternyata ini tujuan kamu yang sebenarnya." Geram Artha.


Tak berapa lama Hendry yang sudah terlihat rapi dengan stelan kerjanya, Ia menuruni tangga mencari-cari Ayana yang kini sudah menjadi istrinya.


"Ayana...,Sayang." Perlahan Hendry mendekat ke suara yang terdengar gaduh.


"Kemana Ayana,,? Siapa juga yang membuat Keributan sepagi ini di depan rumah." Ucap Hendry menghampiri sumber suara tersebut.


Betapa terkejutnya Hendry saat melihat, Ibu nya kini telah kembali dari Germand.


"Mom's."


Seketika Artha dan Diana menoleh, Mereka sangat kecewa terhadap Hendry karena telah menceraikan Rania yang sudah sangat akrab dengan mereka.


"Hendry...,Jelaskan semua ini pada mommy. Kenapa kamu menceraikan Rania!." Ucap Artha dingin.


"Aku bisa jelaskan semuanya Mom's."


"Bagus! cepat apa penjelasan kamu, Pantas saja setiap tahun kamu tak pernah mengunjungi Mommy. Ternyata ini jawaban dari kegelisahan mommy."


"Mom's maafkan aku, Aku tidak bisa hidup dengan Rania yang tak pernah mencintai ku sama sekali Mom's."


"Tapi bukan seperti ini penyelesaian nya Hendry, Pokoknya Mommy tidak mau tahu, Bawa pulang kembali Rania ke rumah ini, Dan usir perempuan ini." Ucap Artha sambil menunjuk Ayana.


"Diana Kecewa sama abang, Apa kurangnya kak Rania bang. Dia sudah banyak berkorban demi keluarga kita, Bahkan dia rela menikah dengan abang, Meskipun dia terpaksa." Diana sangat kecewa pada kakaknya dan pergi masuk ke rumahnya, Menyusul Ibunya yaitu Artha.


Bagaikan petir di siang bolong, Hati Ayana terasa seperti di cabik-cabik oleh se ekor harimau. Bahkan sakit ribuan kali dibandingkan dengan penghianatan yang di lakukannya pada Rania.


"Sial...,Kenapa Tante Artha tak pernah menyukai ku. Apa memangnya salahku pada nya." Gumam Ayana dalam hatinya.


Kemudian Hendry berusaha menguatkan Ayana, Agar tak melawan pada ibu nya.


"Ayana, Maafkan sikap mommy yah! Mas yakin lambat laun mommy akan menerima kamu."


"Iya mas...,Aku paham kok."


Lalu Ayana menoleh pada si mbok, Ia marah terhadap pembantunya itu.


"Mbok...,Kamu ini ngomong apa sama mamah. Kenapa mamah sampai se marah itu pada saya mbok." Bentak Ayana kepada pembantunya.


"Kau jangan menyalahkan orang lain Ayana, Jelas-jelas disini kamu yang salah." Ucap Artha di ambang pintu, Sambil bersedekap tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Next part...


Halo Readers...


Tambahkan ke kolom favorit kalian yah...


Jangan lupa tinggalkan like,komen dan Vote...


Happy reading 🙏🙏🙏**