
"Ayo Rania tante antarkan kamu ke apartemen yah. Mari sayang." Sambil merangkul Rania, Mengajaknya segera memasuki mobil untuk mengantar ke apartemen putranya.
Sedangkan Damar hanya menatap kepergian kekasihnya, Ia tersenyum melihat ibunya dan calon istrinya berjalan bersamaan.
"Brughhh" Suara pintu mobil tertutup.
Kini Rania telah berada di dalam mobil, Duduk sejajar dengan calon mertuanya.
"Terimakasih atas semua kebaikannya tante, Saya sangat bahagia akhirnya tante berbaik hati pada Rania."
"Heuhhhh...,Jangan kepedean kamu Rania. Saya bersikap demikian hanya karena menyayangi anak saya." Batin Rima. Sesaat kemudian Rima berbicara,Berusaha bersikap baik meskipun sangat sulit baginya.
"Iya..., Sama-sama sayang, Tante akan selalu baik pada kamu jika Damar selalu bahagia bersama kamu." Dusta Rima terhadap Rania.
"A..,Apa...,Sayang! Benarkah ucapan itu untuk ku." Gumam Rania dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Ia sangat terharu atas sikap baik Rima.
Sontak saja Rania memeluk Rima, Lantaran dirinya terlalu bahagia saat ini." Terimakasih tante...,Rania sayang banget sama tante." Sambil memeluk erat pada Rima.
"I-iya sayang tante juga sayang...,banget. Sama kamu." Ucap Rima penuh kepalsuan.
"Huhhhh...,Jijik banget! Badanku di peluk oleh gadis kampung ini, Bisa gatal-gatal ini huh..."Gerutu Rima dalam hati.
"Rania ..., kamu membuat tante tidak bisa bernafas sayang." Dusta Rima agar Rania melepaskan pelukannya, Sontak saja Rania melepaskan tangannya dari Rima.
"Ma-maafkan Rania tante, Rania tidak bermaksud membuat tante kesusahan untuk bernafas." Merasa bersalah.
"Ahahahaha...,tidak apa-apa sayang! Tante memaklumi nya." Ucap Rima penuh penekanan.
Tanpa tersadar kini mereka telah sampai ke apartemen milik Damar, Apartemen yang sangat mewah terletak di pusat kota.
Arel menghentikan mobilnya,Ia segera turun membuka pintu mobil untuk Rania dan juga Rima.
"Silahkan turun nona...,Silahkan Nyonya."
Kemudian Rima dan Rania menuruni mobilnya.Rima menoleh ke kanan dan kiri, Untuk memastikan tak ada yang melihatnya, Sedang bersama dengan Rania, Gadis yang tak selevel dengan keluarga nya.
"Syukurlah...,tidak ada satu orangpun yang mengenalku disini." Gumam Rima.
"Tante, Antarkan Rania ya!"
"Tentu saja sayang..., Tante akan mengantarkan kamu, Kamu kan baru kali ini ke bangunan megah seperti ini. Kamu kan orang desa banget yah." Rima sedikit mengeram namun penuh penekanan, Akan tetapi dengan suara yang pelan.
"Makannya Rania takut, kalau harus tinggal.di apartemen..., Sebenarnya Rania ingin mencari kontrakan saja."
"O yasudah! kalau begitu mari tante antarkan kamu mencari kontrakan saja." Kamu kan tidak cocok dengan lingkungan disini."
"Sungguh...,Tante mau mengantar Rania untuk mencari kontrakan."
"Ya ..., kenapa memangnya apa tante terlihat tak meyakinkan." Ucap Rima.
"Bukan! Bukan seperti itu maksud saya tante."Yasudah ayo kita pergi cari kontrakan.Jika tante bersedia membantu saya." Kata Rania menyunggingkan senyum.
"Huhhhh..., merepotkan ku saja anak ini." Gerutu Rima dengan suara pelan,Namun masih terdengar oleh Rania.
"Kenapa tante." Sahut Rania menoleh.
"Tidak, Tidak...,bukan apa-apa." Sahut Rima gugup, mengekor di belakang Rania.
Kini Rania dan Rima telah berada di dalam mobil,meminta Arel untuk segera pergi menuju lokasi kontrakan yang di maksud oleh Rania.
"Arel, Ayo kita pergi ke tempat yang banyak kontrakan. Saya akan mencari kontrakan saja."
"Tapi nona...,tuan Damar telah meminta anda untuk tinggal di apartemen nya."
"Arel tolong jangan memaksa Rania...,Rania ini tidak betah tinggal di apartemen se mewah itu, Iyakan Rania sayang!"
"I-iya tante ...," Sahut Rania.
"Tapi nyonya bagaimana jika tuan Damar, dan tuan Adhi bertanya pada saya."
"Ya kamu cari saja alasan nya sendiri." Ucap Rima dingin.
"Sudah kuduga, Ternyata tante Rima memang hanya berpura-pura merestui hubungan ku dengan Damar." Hhhhhhh...,Sabar Rania! Batin Rania, mengelus dadanya.
Jalanan kota terlihat ramai lancar, Arel mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat.Ia sangat bingung, Entah pada siapa dia harus menurut.
"Ayana...,mas perlu bicara dengan kamu."Sambil menggenggam erat tangan Istrinya.
"Untuk apa mas! Jika kamu ingin membahas soal saham yang aku miliki, Maaf aku tidak ada waktu." Ayana menghempas tangan suaminya lalu pergi menuju ke kamarnya.
"Ayana...,Tunggu mas! Ayana." Dengan suara yang mengeras.
Hendry memijat keningnya, Lantaran ia dibuat pusing oleh kelakuan Ayana, Yang selalu ingin menang darinya.
"Ayana..., Kenapa kau berubah menjadi seperti ini!" Padahal semuanya sudah mas lakukan hanya demi hidup bersama mu." Batin Hendry.
Sedangkan Diana kini dalam perjalan menuju salah satu rumah sakit, Yang dia tuju untuk melakukan praktiknya sebagai dokter ahli bedah jantung.
kini Diana telah sampai di rumah sakit Aisee_Husada, Milik Fachry dan Aisyah.
Diana berjalan melalui koridor bangunan yang bercat serba putih itu, Semua orang terlihat menatap nya, mereka mengagumi sosok cantik Diana.
"Dokter Diana yah?" Tanya seorang perempuan cantik, Seketika Diana menoleh.
"Iya...,Saya Diana. Anda siapa yah!"
"Saya Aisyah..., Sekretaris Dokter Fachri."
"O Iyah..., Kebetulan sekali saya bisa bertemu dengan dokter Aisyah. Dok...,saya harus bertemu dengan dokter Fachri sekarang."
"Yasudah kalau begitu ikut saya." Ucap Aisyah mengajak Diana, menuju ruangan Dokter Fachri.
Tok...,tok...,tok...
"Masuk" Teriak Fachri yang berada di dalam ruangannya.
Lalu Aisyah dan Diana pun memasuki ruangan Fachri. Seketika pandangan Diana terjatuh pada wajah tampan Dokter Fachri. Bahkan ia enggan berkedip saat berinteraksi dengan dokter Fachri.
"Laki-laki ini sangat tampan sekali...,Apakah dia masih singgel. Ya tuhan mungkinkah laki-laki ini jodohku." Batin Diana.
"Siapa dia sayang?" Tanya Fachri pada Istrinya.
Deg...
Seketika Diana tersadar dari khayalan nya, Setelah Fachri memanggil Aisyah dengan sebutan sayang. kemudian Diana meneliti ke jari tangan Fachri dan Aisyah dimana disana cincin kawin telah melingkar.
"Rupanya mereka sepasang suami istri." Batin Diana.
"Beliau Dokter Diana." Aisyah memperkenalkan Diana pada suaminya.
"Silahkan duduk Dokter Diana! Saya dengar anda baru menyelesaikan pendidikan anda di germand yah."
"Benar sekali dokter...,Saya juga dengar anda adalah salah satu dokter hebat di kota ini." Diana memuji Fachri sambil tersenyum menatap Fachri.
"Ahahahaha...,Kau bisa saja memuji saya. Tidak...,Tidak, Saya tidak sehebat itu Dokter." Sahut Fachri.
"O ya dokter Diana, Apa yang membuat anda mendatangi rumah sakit kami?" Tanya Aisyah memastikan.
" Tentunya dokter Fachri sudah mengetahui maksud kedatangan saya kemari dokter Aisyah." Ucap Diana sekilas.
"Iya, dia akan membuka praktik di rumah sakit kita sayang...,Kamu tidak keberatan kan."
"Tentu saja aku tidak keberatan, Selama itu semua saling menguntungkan. Dan membantu rumah sakit untuk berkembang lebih maju."
"Kalau begitu selamat bergabung dokter Diana." Ucap Fachri menyalami Diana.
"Terimakasih dok, Saya akan bekerja keras agar rumah sakit ini, Menjadi salah satu rumah sakit terbaik di kota ini." Tutur Diana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Halo Readers...
Jangan lupa like,komen,vote dan tambahkan ke kolom favorit kalian...
Ikuti terus kisah nya yah...
Happy reading**...