A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 52 : Tak Pantas Mencintainya



Henry terdiam tidak bisa bicara apapun lagi setelah Diana memotong ucapannya, "Diana!" panggil Henry lagi terhadap adiknya. Namun, Diana terus mengayunkan langkah menuju mobilnya.


BRUG.


Diana menutup pintu mobilnya dengan kencang, pasalnya sangat kesal.


"Sial, beraninya dia memintaku merebut Dokter Fachry dari Aisyah," gerutu Diana sambil menyalakan mobil kemudian pergi. "Aku bukan Perempuan murahan... meski aku mencintainya aku tidak akan pernah merebutnya," Diana terus melakukan kendaraan dengan kecepatan sedang pada malam itu.


Kurang lebih sekitar setengah jam, ia sampai di rumah disambut oleh Arta--mamanya.


"Itu mungkin Diana," tebak Arta yang sedang duduk di ruangan keluarga. Kemudian, memanggil pembantunya, "Mbok ... tengok di depan ada Orang, mungkin Diana baru pulang," pintanya pada si pembantu rumah.


"Baik, Nyonya,"


Namun, sebelum si mbok membuka pintu. Diana sudah lebih dulu masuk rumah.


Ceklek!!!


"Selamat malam Nona," sapa si mbok.


Diana menanggapi, "Ya, Mbok. Selamat malam juga, di mana Mama?" tanyanya seraya melambaikan senyum.


"Nyonya sedang menunggu Anda di Ruang Keluarga Nona,"


"Baiklah, saya akan segera ke sana," Diana langsung menuju ruangan keluarga untuk menghampiri ibunya.


"Malam Mam's ... kenapa Mama belum tidur Hem?" Diana beranjak duduk disebelah ibunya.


"Belum ngantuk, Mama juga khawatir sama kamu makannya Mama belum mau tidur,n" ucapnya mengubah posisi duduk sambil menatap pada putrinya itu.


"Apa yang mau di khawatirkan Mam? Sekarang kan aku sudah besar, bisa menjaga diri baik-baik," balasnya bangkit dan meminta izin ke kamarnya dahulu. "Aku ke kamar dulu ya, mau ganti baju," imbuhnya.


"Ya sudah, tapi jangan kelamaan ya... kita makan bareng, tunggu Kakakmu juga mungkin dia dalam perjalanan," ujar Arta.


Akan tetapi setelah mendengar sang Mama mengajak kakaknya untuk makan bersama Diana merasa tak ingin makan malam itu, ia malas jika berhadapan dengan Ayana--perempuan yang telah memisahkan Rania dari kakaknya.


'Mama mengajak Bang Henry makan bersama di sini, pasti Perempuan murahan itu juga ikut dengannya, malas sekali aku harus berhadapan dengan Perempuan itu,' gumamnya sambil menggapai gagang pintu kamarnya.


Benar saja tidak berselang lama Henry berkunjung ke rumah itu, bersama dengan Ayana.


TIN! TIN! TIN!


Suara klakson mobil terdengar oleh Arta dari dalam rumah, Arta lantas bangkit berniat menyambut kedatangan Henry dan istrinya.


"Henry," sambutnya dengan baik, tapi dia masih sedikit sinis pada menantunya, "Kamu juga rupanya, Mama kira kau tidak ikut Ayana!"


"Mam, kenapa sih selalu perlakukan Ayana seperti ini? Dia Menantu Mama loh!" Henry membela Ayana di hadapan orang tuanya.


"Sudah ayo masuk!" Artha mengajak Henry segera masuk rumah, dan mengabaikan Ayana.


Ayana terlihat cemberut, karena sudah hampir setahun dia menjadi menantu keluarga itu ibu mertuanya tidak kunjung memperlakukannya dengan baik.


'Huh! Sabar Ayana ... kau harus sabar, kau bergantung pada keluarga Henry maka kau harus siap dengan berbagai konsekuensinya,' batin Ayana menghibur dirinya sendiri.


Henry yang sudah masuk lebih dulu pun menyadari kalau istrinya masih berada di luar rumah, dan terlihat melamun. Henry sangat khawatir akan hal itu, dia pun lantas kembali menghampiri Ayana, dan mengajaknya untuk masuk.


"Ayana, apa yang kau lakukan di sana?"


Ayana yang melamun pun segera tersadar, "Ah--iya ... sayang ada apa?"


Namun, Ayana tidak berterus terang kalau saat ini dia sedang kesal pada ibu mertuanya.


"Enggak ada Sayang," kelitnya tidak mengakui.


"Ya sudah ayo masuk," ajak Henry.


Ayana segera bergegas menghampiri Henry. Tapi, tiba-tiba saja Arta kembali menyindir menantunya itu.


"Halah Henry Istrimu ini paling tersinggung dengan ucapan Mama, padahal kenyataannya kan memang begitu, dia tumben-tumbenan mau kamu ajak makan," celetuk nyonya Arta.


Ayana kembali kesal pada ibu mertuanya, dia tidak tahan berada di antara orang-orang yang tidak menyukainya, "Stop Mam, kenapa sih Mama ini tidak suka sama Ayana? Memangnya apa salah Ayana sama Mama?" kesal Ayana selalu dipandang sebelah mata.


"Jelas salahmu itu banyak Ayana, kamu itu tidak pantas mencintai Henry... bukan hanya tidak pantas mencintainya melainkan kaku juga tidak pantas menjadi Menantu di Keluarga ini, seharusnya saat ini aku berbahagia dengan Rania. Tapi malah kamu menghancurkan semuanya, 'Sial!" ketus Arta kesal.


"Mam, cukup! Hentikan!" Henry memotong perkataan ibunya agar tidak ada pertengkaran antara mereka.


"Diam kamu Henry, Mama juga tahu kapan Mama harus menghentikan ucapan Mama. Tapi, kalau sama Menantu kurang ajar ini rasanya Mama ingin terus bicara sampai dia menyadari apa kesalahannya!" tukas Arta segera berbalik menuju meja makan.


Sementara Diana yang saat ini tengah selesai membersihkan dirinya, tidak sengaja mendengar suara gaduh dari ruangan makan. Diana pun segera mencari sumber kegaduhan di rumahnya.


"Ada apa sih malam-malam kok ribut? Enggak bosan apa setiap kali bertemu bertengkar?!" tandas Diana menatap sinis pada Ayana.


Henry, Arta dan Ayana menatap pada Diana yang merasa terganggu dengan keributan yang telah mereka ciptakan itu.


"Maafkan saya Diana, kedatangan saya kemari bukan untuk ribut, jika kamu merasa terganggu aku bisa kok pulang lagi!"


"Nah, bagus kalau kamu mau pulang. Malu yah berada di sini?" cibir Diana sinis.


Alih-alih ingin mendapatkan simpati dari adik iparnya, Ayana malah mendapatkan cemoohan dari Diana.


"Stttt, kamu tidak akan pergi dari sini Ayana, ayo ikut denganku!" Henry menggenggam tangan istrinya, dan mengabaikan Diana--adiknya.


Ayana mengikuti Henry, meskipun hatinya kesal.


***


Sementara Damar kini berada di depan kontrakan Rania, ia memohon agar Rania membuka pintu untuknya.


"Riana, ini aku Ri. Tolong kau bukakan pintunya aku mohon," Damar terus berusaha membujuk Rania.


Namun, Rania yang saat ini berada di dalam kontrakannya itu pun pura-pura sudah tidur lantaran tidak mau menemui Damar. Pasalnya, dia telah berjanji pada Rima untuk menjauhi Damar.


"Maafkan aku Damar, aku merasa kita tidak jodoh. Aku tidak mau membuang waktu,al dan aku juga sadar kalau aku tidak pantas mencintaimu," lirih Rania menangis.


TOK-Tok-Tok!!!


Damar kembali mengetuk pintu, tapi tetap saja tidak ada yang menyahutinya.


"Rania, aku tahu kau berada di dalam kan? Rania aku minta maaf bila ada perkataan yang menyakitkan dariku atau dari Mama," mohon Damar agar Rania mau membuka pintu.


Namun, Rania masih tidak menggubrisnya Ia malah kembali menuju kamarnya dan memilih tidur ketimbang menemui Damar.


"Riana!" seru Damar, "Aku mohon buka pintunya!"


Tapi, Rania masih tetap pada pendiriannya, dan memegang janji yang telah dia setujui bahwa dia tidak akan pernah lagi berhubungan dengan Damar.