
Ayana menangis dan mengadu pada Hendry yang masih berada di kamarnya. Ia tak terima karena di perlakukan tak layak oleh Artha ibu mertuanya.
"Hiks...,Hiks...,Hiks." Ayana mengusap air matanya sambil memasuki kamarnya.
"Kenapa kamu menangis? Siapa yang telah membuat kamu menangis seperti ini Ayana." Tanya Hendry heran.
"Ibu kamu mas...,Ibu kamu tak pernah menyukaiku. Padahal salahnya aku ini apa mas." Ayana menangis tersedu-sedu.
"Kamu yang sabar yah! Mas yakin suatu hari nanti mama akan menerima kamu dengan baik." Sambil membawa Ayana ke pelukannya.
"Tapi kapan hari itu akan tiba mas, Aku rasa mama tak akan pernah bersikap baik padaku. Aku capek dengan semua ini, Aku capek mas." Lirih Ayana di pelukan suaminya.
"Kalau sudah begini kita bisa apa Ayana, Mas mohon kamu harus lebih bersabar lagi yah! Kamu jangan nangis, Nanti cantiknya hilang loh." Hendry berusaha menghibur Ayana yang dilanda Kesedihan.
"Kamu lakukan sesuatu mas, Agar mama kamu tak kelewatan sama aku. Mungkin sehari dua hari, Aku masih bisa bersabar. Tapi kalau selamanya begini aku tak menjamin bisa bersabar lagi." Ucap Ayana.
"Iyaa...,Iya. Mas akan coba bujuk mama, Agar menerima kamu." Sahut Hendry.
Setelah memenangkan Ayana Hendry bergegas untuk pergi ke kantor nya, Dan berusaha meminta ibunya agar bersikap baik terhadap istrinya.
"Yasudah mas berangkat kerja dulu yah, Kamu baik-baik di rumah. Mas janji akan meminta pengertian dari mama." Kata Hendry mengelus pipi Ayana.
"Hati-hati di jalannya ya mas, Ia aku tunggu janji kamu itu mas." Ucap Ayana berseringai.
Perlahan Hendry melangkah kan kakinya, Menuruni anak tangga bersamaan dengan Ayana. Sedangkan Artha terduduk di ruang keluarga membaca majalah, Sambil menatap dingin pada putranya dan menantu yang tak ia anggap.
"Ma ..., Aku berangkat kerja yah! Doakan aku ya mah." Ucap Hendry menyalim tangan ibunya, Namun di tepis oleh Artha.
"Duduk Hendry, Ada yang mama ingin tanyakan pada kamu!" Sekilas Artha menatap Ayana, Dingin.
"Kau juga duduk Ayana." Tegas Artha mengeratkan rahangnya.
"Memangnya apa yang ingin mama tanyakan padaku dan Ayana ma?" Sambil meletakan pantatnya di sopa.
"Kapan kamu dengan Rania bercerai, Dan apa alasannya. Apa kau menggoda Hendry Ayana!"
"Mah ..., Harus berapa kali Hendry katakan. Kami tak saling mencintai lalu untuk apa kami bertahan ma." Tutur Hendry.
"Kamu tahukan konsekuensinya jika menceraikan Rania! Jangan kalian fikir mama tidak tahu masalah kalian. Lihat ini berita skandal perselingkuhan kamu Hendry." Geram Artha kepada putranya. Namun yang jadi pusat amarahnya adalah Ayana.
Artha melempar selembaran koran ke meja di hadapan Hendry dan Ayana.
"Memangnya tidak ada laki-laki lain untuk kau jadikan sebagai suamimu Ayana? Kenapa harus pria yang sudah beristri seperti Hendry yang kamu goda." Bentak Artha dingin.
"Cukup mah." Mama jangan pernah sekalipun membentak Ayana, Dia tidak bersalah mah. Aku yang salah."
"Bagus! Kalau kamu mengakui kesalahanmu sendiri." Tapi segeralah perbaiki hubungan kamu dengan Rania. Ceraikan wanita ini." Umpat Artha.
Ayana sudah tak kuat menahan emosinya, Ia mengepalkan tangannya. Ia sangat marah pada Artha yang tidak pernah menyukainya.
"Cukup mah! Kenapa mama tak pernah menyetujui Hendry menikahi saya. Padahal sebelum mama menjodohkan Mas Hendry dengan Rania. Saya yang lebih dulu menjadi pacarnya mah." Sahut Ayana marah.
"Beraninya kau, Memarahi saya! Memangnya siapa kau. Kurang ngajar sekali kamu terhadap saya." Artha balik memarahi Ayana.
Artha hampir bertengkar dengan Ayana, Akan tetapi langsung di lerai oleh Hendry putranya.
"Ma ..., sudahlah. Terima saja Ayana sebagai menantu mama. Lagian apa untungnya mama memiliki menantu seperti Rania." Hendry ikut bangkit sambil menggenggam tangan Istrinya.
"Mama tidak mau tahu, Kamu harus kembali bersama dengan Rania. Atau kamu akan mama coret dalam daftar keluarga." Ancam Artha terhadap Hendry.
"Mama jangan mengancam mas Hendry begini dong mah. Mama tidak punya hati." Ucap Ayana membentak.
"Sudah-sudah mah, Hendry pusing jika seperti ini terus. Ayo Ayana kita pergi."
Hendry bangkit mengajak Ayana pergi ikut dengannya, Sedangkan Ayana malah menolak ikut pergi dengan suaminya.
"Tidak mas...,Aku tidak akan pergi dari rumah ini." Ayana menepis tangan suaminya.
"Kenapa kau tidak ikut pergi dengannya? Owh saya tahu kau takut hidup miskin kan, Jika pergi dari rumah ini." Ucap Artha dingin.
"Karena saya berhak atas rumah ini mah. Saya memiliki tiga puluh persen saham di perusahaan Wijaya group. Jadi saya berhak atas rumah ini." Bentak Ayana terhadap Artha.
"Apa kau bilang, Jangan mimpi kamu Ayana. Bangun Ayana kau bukan siapa-siapa." Ucap Artha heran.
"Apa perlu saya panggilkan pengacara, Agar mama tahu kenyataan nya."
"Kau lupa mas...,Kamu sendiri kan yang memberikannya padaku, Pada saat malam sebelum kamu melamar ku."
"Tidak-tidak, Itu tidak mungkin aku hanya memberimu lima belas persen." Ucap Hendry.
Artha semakin marah setelah mengetahui kebenaran, Jika Hendry secara cuma-cuma memberikan sahamnya kepada Ayana, Wanita yang paling dia benci.
"Hendry." Ucap Artha penuh penekanan.
"Siapa yang mengijinkan kamu memberikan saham pada sembarang orang seperti ini." Bentak Artha semakin marah.
"Aku bisa jelaskan kesalahpahaman ini ma." Timpal Hendry Ia tak menyangka dengan kelicikan istrinya selama ini.
Sedangkan Ayana hanya tersenyum penuh kemenangan, Menatap pada Anak dan ibu yang sedang bertengkar itu.
"Sudahlah mah...,Mama terima dengan lapang dada ya mah. Aku tidak akan mengusir mama dari rumah kok. Aku hanya meminta bersikaplah baik padaku ma." Ucap Ayana setengah meledek.
"Dasar wanita materialistis, Akhirnya kau menampakan sifat aslimu juga. Ingat Ayana suatu saat kamu akan memohon di kaki saya. Dan saya akan menyeret kamu keluar dari rumah ini." Geram Artha pergi meninggalkan Ayana dan Hendry.
Sementara Rania masih berada di mansion mewah kediaman keluarga Damar. Rania berniat mencari kontrakan untuk ia tinggal sebelum ia mendapatkan pekerjaan baru.
"Om..., Tante. Kalau begitu Rania pamit pulang yah."
"Kamu mau pulang kemana Rania? Tinggallah disini bersama kita." Ucap Adhi mencegah Rania yang hendak pergi.
"Sudahlah Pah...,Kamu jangan mencegahnya. Lagian tidak bagus juga kan jika Rania tinggal satu atap dengan Damar. Mereka belum ada ikatan apa-apa." Sahut Rima.
"Benar kata Tante...,Apa kata orang nanti jika saya tinggal disini om."
"Kamu tinggal di Apartemen aku saja Rania," Ucap Damar yang ikut bicara.
"Hahhh...,Damar sayang...,Anak mommy! Rania itu bukan tipe wanita yang mengandalkan kekuasaan calon suaminya sayang." Timpal Rima yang terus berusaha menjauhkan Rania dengan Putranya.
"Iya mar, Benar kata tante Rima. Aku lebih baik cari kontrakan saja. Lagian aku tidak terbiasa tinggal di Apartemen." Ucap Rania.
"Tapi Rania."
"Sudahlah Damar, Aku tidak mau merepotkan kamu dan keluargamu." Sahut Rania berusaha menolak kebaikan Damar.
"Tidak ada yang di repot kan disini, Iya kan dad's. Aku mohon ..., Kalau kau tidak mau tinggal disini, Seenggaknya jangan menolak untuk tinggal di apartemen ku." Ucap Damar memohon.
"Benar kata Damar, Tolong kamu jangan menolak yah Rania." Timpal Adhi.
Rania tak bisa beralasan lagi untuk menolak Damar yang memintanya untuk tinggal di apartemen. Dengan berat hati Rania terpaksa menyetujui tawaran Damar, Untuk tinggal di apartemen nya.
"Aku mohon Rania, Terima permintaan aku yah." Damar memelas di hadapan Rania.
"Yasudah aku setuju. Kamu bangun dong jangan seperti ini."Balas Rania sambil menangkup tangan Damar.
"Yes..., Yasudah ayo aku antarkan kamu ke apartemen ku." Damar terlihat girang karena Rania menerima untuk tinggal di apartemen.
"Tunggu Damar, Kamu kan baru sembuh lebih baik kamu istirahat saja nak. Biarkan mommy saja yang mengantarkan Rania yah." Ucap Rima.
"Benar kata mommy kamu Mar, lebih baik kamu istirahat saja. Lagian kamu baru sembuh nak." Sahut Adhi yang menyetujui pendapat dari istrinya.
Kemudian Rania ikut angkat bicara, Memberikan pendapat kepada kekasihnya. "Iya Mar lebih baik kamu istirahat saja yah, Lagian aku akan baik-baik saja kok."
"Yasudah, Hati-hati dijalannya yah! kekasihku." Sambil mengecup kening Rania.
Rima menatap tajam pada kemesraan putranya itu, Terlihat dari raut wajahnya ia sangat menentang hubungan putranya dengan Rania si gadis desa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Halo Readers...
Ikuti terus kisahnya yah...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Like,vote,komen dan tambahkan ke kolom favorit...
Happy reading**...