A Word Of Love From The Traitor

A Word Of Love From The Traitor
CH 42 : Bersabar



"Mari Dokter Diana, saya antarkan anda ke ruangan anda, Kami sengaja telah menyiapkan ruangan khusus untuk anda membuka praktik di rumah sakit ini." Ucap Aisyah mengajak Diana menuju ruangannya.


"Terimakasih Dokter Aisyah, Saya sangat terharu dengan perlakuan baik anda terhadap saya."


"Saya yang berterimakasih pada anda Dokter, Karena anda mau bergabung dengan rumah sakit saya."


"Ah ya...,Kalau begitu sama-sama. Saya juga berterimakasih." Ucap Diana.


Kemudian Aisyah membuka ruangan khusus untuk Diana bertugas di rumah sakitnya.


"Selamat bergabung dengan rumah sakit kami Dokter Dee, Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya yah."


"Iya silahkan Dokter." Diana menyunggingkan senyumnya, Ramah pada Aisyah.


Kemudian Aisyah kembali ke ruangan nya, Sedangkan Diana masih mengagumi sosok Fachri. Yang sangat terlihat tampan nan hebat di matanya.


"Sayang sekali dokter tampan itu sudah beristri, Jika saja belum beristri aku bersedia menjadi istrinya." Batin Diana.


"Huhhhh...,Kau ini mikir apa Diana, Laki-laki yang belum beristri masih banyak di luaran sana." Diana kembali menetralkan fikirannya.


Sementara Rania kini telah berada di kontrakannya, Bersama dengan Rima dan Arel. Rania berjalan gontai menuju Kontrakan nya, Mengajak Rima untuk masuk, Namun Rima enggan untuk memasuki Kontrakan Rania.


"Silahkan masuk tante, Inilah kontrakan sederhana Rania."


"Ah yaa..., Lumayanlah. Untuk orang sekelas kamu Rania. Ini baru cocok untuk kamu tinggali,Oh yaa...,Saya langsung pulang saja yah."


"Tante tidak ingin masuk?"


"Tidak Rania, Lain waktu saja yah! Kamu kan tahu saya orangnya sibuk. Ayo Arel antarkan saya pulang."


"Baik Nyonya." Sahut Arel terhadap nyonya besar.


Rima berjalan lebih dulu untuk memasuki mobilnya kembali, Kemudian di ikuti oleh Arel sang asisten pribadi putranya.


"Gadis kampung tetap saja gadis kampung, Kau tak pantas bersandar dengan putraku yang seorang kaya raya." Gumam Rima bergidik, Lantaran jijik terhadap tempat tinggal Rania.


Sedangkan Rania tersenyum heran dengan Rima, Lantaran Rania menyadari ke pura-pura'an ibunya Damar itu.


"Tante Rima..., Tante Rima, Kenapa harus berpura-pura sih. Jika tak merestui ku dengan Damar. Kenapa harus membohongi diri sendiri tante." Batin Rania, Sambil menggeleng kepalanya.


"Hukhhh..., Meskipun kontrakan ini terlihat kecil, Seenggaknya aku tidak bergantung pada orang lain. Rania kamu harus berhasil di kota ini, Supaya kamu tak lagi direndahkan oleh orang seperti tante Rima." Ucap Rania menasehati dirinya sendiri.


Rania menarik koper nya, Ia membereskan Baju-baju nya. Dimasukan ke dalam lemari kecil di dalam kamarnya.


Setelah semua kegiatan nya selesai, Rania membaringkan tubuhnya di atas spring bed yang lumayan empuk.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, Rania langsung mengambil ponselnya, di nakas. Kemudian ia mengangkat panggilan tersebut, Setelah ia mengetahui jika Damar yang menghubungi nya.


"Halo Mar...,Kenapa kamu menelpon ku?" Ucap Rania via ponsel.


"Aku rindu kamu Rania...,Kamu sedang apa sekarang? Gimana apartemen nya, Kamu betah kan tinggal disana!" Sahut Damar di seberang sana.


"Ah yaa ..., Aku sangat betah sekali mar, Terimakasih yah. Atas tempat tinggalnya." Kamu bohong banget, Pake bilang rindu segala. Padahal kan kita baru saja bertemu." Timpal Rania.


"Syukurlah kalau kamu betah tinggal disana, Benar..., Rania aku sangat rindu kamu." Ucap Damar merayu.


"Gombal banget ih...,Kamu ini! Sudah dulu yah,Aku ngantuk banget." Ucap Rania mengakhiri panggilan tersebut.


Sedangkan Damar heran dengan perubahan sikap Rania, Yang kembali cuek terhadap nya.


"Halo Ran...,Rania. Halo...,Aku belum selesai bicara." Ucap Damar namun Rania sudah mematikan ponselnya.


Kemudian Damar beranjak ke kamar mandi, untuk segera membersihkan dirinya. Dan setelah itu Damar beristirahat agar di esok hari, Keadaannya semakin fresh.


Sementara Hendry masih bergulat dengan batinnya, Tak henti-hentinya ia heran dengan perubahan sikap Ayana terhadapnya.


Hendry masih terduduk di meja makan, Memikirkan Ayana yang mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Ayana kau mau kemana?" Tanya Hendry terhadap istrinya, Yang Kini berdiri dihadapan nya.


"Saya akan ke kantor..., Untuk mengisi jabatan ku Mas."


"Kantor...,Jabatan? Maksud kamu apa Ayana." Kamu di rumah saja,Biarkan mas yang bekerja yah!"


"Tidak mas...,Aku tidak mau hanya berdiam diri di rumah saja. Kamu tahu aku kan, Aku ini wanita karir mas. Jadi jangan halangi aku untuk berkarya." Tegas Ayana.


"Ayana...,Mas ingin kamu duduk manis dan terima uang saja yah." Kasihan mama jika ditinggalkan sendirian di rumah."


"Hah...,Kau ini...,Mama tidak sendirian mas. Kan banyak para Art di rumah. Jadi biarkan saya ikut bekerja di kantor bersama kamu yah." Ayana tetap berkeras hati. Ia enggan mengurungkan niatnya.


Kemudian Hendry bangkit, Ia kesal dengan tingkah Ayana yang mulai berani padanya. Ia marah kepada istrinya, Yang tak mau menuruti perintah nya.


"Cukup Ayana...,Kamu harus ikuti aturan saya! Jika kamu masih ingin tetap tinggal bersama saya." Bentak Hendry.


"Kenapa kau membentak ku...,Kamu lupa dengan perjanjiannya mas. Kamu harus ingat yah! Aku berhak atas perusahaan kamu, Dan kamu juga harus tahu, Aku ini salah satu pemegang saham terbesar wijaya group loh." Ucap Ayana tak mau kalah.


"Tapi kamu tak seharusnya pergi bekerja dan seenaknya meninggalkan rumah, Dimana tanggung jawab kamu sebagai seorang istri." Gerutu Hendry memprotes Ayana.


"Kok kamu jadi mengatur saya yah! Oh...,Atau kau punya selingkuhan baru iya begitu mas." Ucap Ayana dingin.


"Kau ini...,Terus saja berfikir buruk terhadap ku." Aku sangat mencintaimu, Mana mungkin aku mengkhianati mu Ayana."


"Heuhhhh...,Kamu fikir aku bodoh mas...,Tidak mas jangan membodohi ku. Aku bukan Rania yang mudah kamu bohongi, Sudahlah kau membuang waktu ku saja." Geram Ayana yang mulai membangkang.


Ayana tetap bersikukuh untuk pergi ke kantor wijaya_group, Perusahaan milik almarhum ayahnya Hendry, Yaitu Wisnu.


Hendry menatap nanar langkah Ayana yang mulai berjalan keluar dari rumahnya. Sedangkan Artha terlihat geram kepada Ayana, Yang semena-mena kepada putranya.


"Kamu lihat kan, Wanita pilihan kamu itu. Coba saja Rania yang menjadi istrimu. Dia tak akan membangkang padamu Hendry." Ucap Artha dingin.


"Sudahlah mah...,Jangan bahas lagi tentang Rania di hadapan ku yah!" Kesal.


"Kamu itu..., Selalu saja keras kepala. Kau persis dengan Pappy mu." Pokoknya mama tidak mau tahu, Cepat atau lambat kamu harus ceraikan wanita jahat itu, Apa kau tak melihat tingkahnya, Yang seenaknya seperti itu." Ucap Artha Sarkas.


"Sudah ma yah! Jangan pernah mamah membandingkan mereka, Jelas mereka dua orang dengan karakter yang berbeda." Timpal Hendry. Bangkit meningalkan mama nya.


"Hendry...,Hendry! Padahal mama sudah bersusah payah untuk mendapatkan wanita sebaik dan se sabar Rania. Kamu malah menyia-nyiakan nya." Batin Artha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Halo Readers...


Jangan lupa like,komen, Vote....


Serta tambahkan ke kolom favorit kalian yah...


Ikuti terus kisah para tokoh di dalam novel ku yah...


Happy reading**...