
Rania terlonjak kaget, terbangun dari tidur pulas saat Damar memanggilnya dari depan kontrakan. Namun, Rania hanya mengintip dari balik jendela ia enggan untuk membuka pintu.
"Rania!" Damar berseru kembali, "Aku mohon buka pintunya," mohon Damar pada kekasihnya.
'Maafkan aku Damar, aku tidak mau membuat hubungan kau dengan keluargamu hancur hanya karena aku,' batin Rania kembali berbaring di atas ranjang.
Namun, Damar tetap bertahan di sana. Dia terus berusaha meluluhkan Rania agar mau menemuinya.
JLEGAR!!!
Tiba-tiba saja suara petir menggelegar, langit pun tiba-tiba saja menurunkan hujan malam itu.
rintik hujan terdengar menggelitik ditelinga Rania, ia tahu kalau saat ini Damar masih bertahan diluar sana menunggunya. Bahkan, Rania tidak tenang saat mendengar bunyi hujan dan suara petir yang saling bersahutan itu.
"Rania buka pintunya, aku tahu kau mendengarkan aku kan?" pinta Damar dengan memelas.
Rania merasa tidak tenang karena Damar tidak kunjung pergi, sedangkan di luar sedang terjadi cuaca yang tidak bagus.
Byurr!!!
Hujan semakin deras, begitu juga petir terus menggelegar membuat Rania semakin mengkhawatirkan Damar, ia terus mondar-mandir di dalam sana.
Semakin lama Rania, malah semakin khawatir pada Damar yang masih berada di luar kontrakannya karena merasa tak tega Rania pun membuka pintu kontrakan, dan dia tercengang saat melihat Damar dalam keadaan basah kuyup.
"Apa yang kau lakukan di sini, ini sudah malam?" Rania bertanya dengan perasaan tidak tega melihat pria yang dicintainya basah kuyup seperti ini.
Damar tersenyum melihat Rania yang akhirnya membuka pintu untuknya, "Aku senang kau masih mau menerimaku Rania, tolong jangan menghindar lagi dariku, aku mohon," lirih Damar menghampirinya.
"Berhenti disitu! Jangan dekati aku Damar, aku merasa tidak pantas--,"
"Kenapa Rania? Kenapa kau seperti ini?" Damar memohon pada Rania.
"Kita berbeda Damar, kau Pria kaya raya tidak pantas mencintaiku begitu pun sebaliknya," ujar Rania dengan suara sumbang.
"Apa yang membuat kita berbeda Rania, dan sebutkan alasan mengapa aku tidak pantas untukmu?"
"Bukan kau yang tak pantas untukku Damar, tapi aku yang tak pantas untukmu," lirihnya, "Aku Perempuan miskin, di mata Ibumu aku rendahan,"
"Kau sangat pantas Rania, kau sangat pantas untukku! Kalau aku tidak pantas untukmu mengapa Tuhan menciptakan rasa ini?" ucap Damar terus meyakinkannya.
Namun, Rania tetap memegang prinsipnya jika dia telah berjanji maka harus menepatinya.
"Bagaimana kalau aku tidak mencintai Damar!" tegas Rania berbohong.
"Kau bohong Rania, aku tidak percaya apa yang kau ucapkan. Aku tahu kau mencintaiku, iyakan?"
Damar terus meyakinkan Rania agar mau menjalin hubungan dengannya.
Dengan berat Rania mengatakan kalau dia sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Damar. "A--aku sama sekali tidak memiliki perasaan padamu, bahkan sedikitpun sama sekali tidak ada!"
DEG!!!
Damar termenung dan buliran air matanya mulai menetes dibarengi rintik hujan yang turun membasahi tubuhnya.
Damar menengadahkan kepalanya menatap langit yang menjatuhkan partikel air hujan, tidak percaya atas apa yang di dengarnya.
"Aku tahu kau bohong, kau mencintaiku dan aku harap kau bisa memperjuangkan cinta ini, cinta kita Rania,"
Rania menggeleng kepalanya, ia pun ikut meneteskan air mata. Hatinya mencintai Damar, tapi terlanjur berjanji pada Rima untuk tidak menerima cintanya Damar.
"Harus berapa kali aku mengatakan, aku tidak mencintaimu!" tegas Rania kembali berbalik masuk kontrakannya.
"Aku mohon terima cintaku Rania, bila perlu aku akan meninggalkan semua pasilitas dari Orang Tuaku demi kamu Rania," teriak Damar di tengah guyuran hujan yang terus membasahinya.
Rania tidak kuasa menahan tangisannya, ia bersandar dibalik pintu itu dan menangis sejadinya. Kesal, sedih berkecamuk dalam hati, pasalnya ingin mengajak Damar untuk masuk agar tidak sakit. Tapi, jika ia melakukan itu pasti Damar akan semakin mencintainya, dan Rania tidak ingin Damar melakukannya hanya karena dirinya.
"Aku akan tetap bertahan di sini, bila perlu sampai esok pagi Rania," ujar Damar bertahan di tengah guyuran hujan, berharap belas kasih dari Rania.
Rania berusaha tidak mendengarkan Damar, yang akan terus menunggunya. Namun, dalam hatinya diselimuti rasa khawatir akan kesehatan Damar, jika terus dibiarkan maka dia akan jatuh sakit karena bertahan di tengah guyuran hujan.
Lima menit berlalu, hujan tidak kunjung reda begitu juga dengan petir yang masih terdengar menggelegar.
Akhirnya Rania kalah, pasalnya dia tidak tega terhadap Damar.
Ceklek!!!
Rania kembali membuka pintu, dan di sambut dengan senyuman Damar. "Aku tahu kau pasti akan menemuiku lagi kan?" ucapnya seraya tersenyum dengan wajah pucat dan dengan bibir yang membiru menandakan bahwa ia kedinginan.
"Aku menerima Cintamu Damar, tapi aku mohon pulanglah. Kau bisa sakit jika seperti ini terus, dan aku tidak mau kalau kau sakit," pinta Rania agar Damar kembali ke rumah.
Damar tersenyum lebar, merasa gembira karena Rania telah menerima cintanya.
"Aku tahu kau pasti mencintaiku, aku tidak salah menduga selama ini," gelak tawa menghiasi wajah pucat itu.
Rania membalas senyuman Damar, padahal ia mengatakan hal ini agar Damar kembali ke rumahnya supaya tidak jatuh sakit karena hujan-hujanan di tengah malam seperti ini.
"Kau benar Damar, aku mencintaimu," balas Rania, "Aku minta kamu pulang sekarang,"
"Ya, tentu saja aku akan pulang. Terima kasih atas cintamu padaku Rania," Damar mengucap rasa syukur setelah diterima cintanya.
Tiba-tiba saja Damar ambruk tidak sadarkan diri.
BRUKKK!!!
Rania tercengang setelah menyaksikan Damar terkulai lemas di depan matanya.
"Damar!" pekiknya kaget. Rania langsung menghampiri Damar, dan mengguncang wajah pria yang sangat dicintainya itu.
"Bangun Damar, jangan buat aku khawatir...," panik Rania sambil mengitarkan pandangan ke sekeliling berharap ada orang disekitar sana untuk diminta bantuannya.
Namun, tidak ada satu pun orang yang berlalu lalang di sekitar sana.
"Tolong... tol-tolonggg," teriaknya meminta bantuan. Namun, tidak ada satu pun orang yang datang membantunya. Sehingga mau tidak mau Rania membawa Damar masuk ke dalam kontrakannya meskipun susah.
"Damar, bangunlah," bisiknya setelah Damar dibaringkan di atas sofa.
Rania merasa bingung harus mengganti pakaian Damar yang basah kuyup. Pasalnya, dia tidak mungkin melakukannya sendiri.
"Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" gumam Rania bingung, namun jika terus dibiarkan dengan pakaian basah ia khawatir Damar akan benar-benar sakit.
"Dingin sekali tubuhmu Damar," ucapnya berbicara sendiri.
Rania terus bergulat dengan hatinya, lantaran ragu mengganti pakaian pria yang bukan mahramnya.
"Ah sudahlah, maafkan aku jika aku lancang Damar," ucapnya lagi.
Perlahan demi perlahan Rania mulai melucuti pakaian pria itu, meskipun ia terpaksa tapi ini harus dia lakukan agar Damar tidak jatuh sakit.
Lantas, apa yang akan terjadi selanjutnya?