
"Hah ..., Kau ini ngomong apa!" Sahut Hendry menekan tombol, Menaikan kaca mobilnya.
"Baguslah ..., Jika kau punya fikiran seperti itu. Ingat ya mas, Kamu itu sudah menjadi suamiku." Sambung Ayana.
Sementara Damar masih mendekap Rania ,Di pinggir jalan raya yang semakin terlihat ramai. oleh orang yang berlalu lalang, Menyaksikan kemesraan sepasang kekasih itu.
"Aku takut kehilanganmu Rania ..., Jangan pernah pergi dariku lagi yah." Ucap Damar , Melepaskan pelukannya.
"Aku tidak akan pernah pergi darimu, Selama kau masih menginginkan ku tetap tinggal." Timpal Rania membalas pelukan Damar.
Sedangkan Diam-diam Rima mengikuti putranya, Menatap dari balik jendela kaca mobilnya.
"Perempuan ini rupanya sangat berbahaya. Aku harus memperingatkan nya, Agar menjaga jarak dari putraku." Gumam Rima, Geram terhadap sikap Rania yang terus menempel pada putranya.
"Ayo jalan ..., Antarkan saya ke kantor." Ucap Rima terhadap sopirnya.
Kemudian sang sopir menyalakan mobilnya, Segera menuju ke kantor perusahaan milik putranya itu.
Sementara Diana kini dalam perjalanan nya , Menuju rumah sakit Aise husada. Tempat dimana dia membuka praktek saat ini.
Kurang lebih memakan waktu perjalanan, Lima belas menit Diana sudah datang di rumah sakit Aise husada.
Diana terlihat cantik dengan stelan jas kerjanya berwarna putih. Ciri khas seorang dokter. Ia berjalan gontai di koridor rumah sakit itu, Memasuki ruangannya.
"Halo dokter Diana , Selamat pagi!" Sapa dokter Aisyah terhadap Diana yang baru sampai di rumah sakit.
"Eh ya ..., Dok." Selamat pagi juga."Sahut Diana, Menyunggingkan senyuman. Sambil membuka pintu ruangan nya.
Setelah Aisyah menyapa Diana, Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ruangannya.
Sedangkan Fachry kini sedang menangani, pasien gawat darurat yang membutuhkan dokter spesialis bedah.
"Cepat lakukan yang terbaik dok ..., Tolong selamatkan putra saya." Lirih ibu si pasien, Yang memohon kepada Fachri.
"Nyonya anda harus tenang, Saya dan tim akan berusaha semaksimal mungkin agar putra anda terselamatkan, lebih baik anda berdoa saja." Sahut Fachri kepada ibu si pasien tersebut.
Kemudian Fachri bergegas memasuki ruangan ICU, Menangani pasien gawat darurat itu.
"Suster ..., Tolong cepat panggilkan dokter Diana. Minta dia agar datang membantu saya!" Ucap Fachri dengan suara menekan.
"Baik dok." Sahut suster yang diperintah oleh Fachri.
Kemudian suster itu segera bergegas menuju ruangan Diana, Memintanya untuk membantu dokter Fachri.
Tok ..., Tok ..., Tok ..., Suara ketukan pintu ruangan Diana.
Seketika Diana bangkit, berjalan membuka pintu ruangan nya.
"Ada apa sus?" Tanya Diana terhadap sang perawat wanita.
"Dok ..., Anda diminta dokter Fachri agar segera membantunya, Menangani pasien yang sedang sekarat." Sahut perawat tersebut.
"Baiklah saya akan segera kesana." Balas Diana.
Diana segera bergegas menyusul sang suster, Yang telah berjalan lebih dulu darinya.
Setelah sampai ke ruang ICU, Diana menggapai handle pintu ruangan ICU itu. "Klek" Terlihat keringat bercucuran dari wajah tampan Fachri.
Bukannya Diana segera membantu Fachri untuk mengoperasi pasiennya, Ia malah mengelap keringat Fachri dengan saputangan nya.
Seketika Fachri terkejut, Mereka saling bertatapan dengan posisi tangan Diana masih mengelap keringat di wajah tampan Fachri.
Hening ...
Kemudian Diana tersadar bahwa tindakannya salah." Ma-maafkan aku dok." Ucap Diana gugup.
Sedangkan Fachri masih heran dengan sikap Diana terhadap nya.
"Dok tekanan darah pasien menurun." Ucap salah satu suster yang ikut terlibat dalam operasi itu. Menyadarkan Fachri.
"Cepat periksa tensi darahnya, Sus." Sambung Fachri .
"Suster tolong ambilkan alat bedah, Untuk ku." Pinta Diana.
Kemudian Fachri dan Diana serta beberapa suter terfokus mengoperasi pasien yang sedang menghadapi mautnya.
"Hukhhh ..., Terimakasih dokter Diana. Ini semua berkat bantuan anda, Jika saja anda tak membantu kami. Pasti kami mengalami kesusahan." Ucap Fachri bersyukur, Sekaligus berterimakasih atas bantuan dari dokter Diana.
"Anda bisa saja dok ..., Justru saya berterimakasih telah memberikan pengalaman untuk saya." Sahut Diana.
Kemudian mereka berjalan bersamaan, Keluar dari ruang ICU tersebut.
Dengan segera keluarga pasien, menghampiri dokter Fachri dan Diana. Untuk menanyakan keadaan putranya.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Apakah dia baik-baik saja." Tanya keluarga pasien tersebut.
"Alhamdulillah nyonya, Anak anda berhasil terselamatkan. Satu kali dua puluh empat jam anak anda akan siuman." Sahut Fachri terhadap keluarga pasien.
"Terimakasih dokter ..., Kalian telah menyelamatkan anak ku. Sekali lagi saya berterimakasih." Ucap ibu si pasien tersebut.
"Ini semua sudah menjadi kewajiban kami nyonya ..., Saya ikut bahagia karena telah berhasil menyelamatkan putramu." Sahut Diana tersenyum.
Sedangkan Aisyah baru keluar dari ruangan nya, Ia berjalan gontai menuju ruangan suaminya. Aisyah berniat mengajak Fachri untuk makan siang bersama, Namun setelah sampai di ruangan suaminya. Aisyah melihat keberadaan Diana disana, Yang sedang terduduk di sofa yang berada di dalam ruangan Fachri.
"Klek" Suara pintu dibuka oleh Aisyah.
"Eh ada dokter Diana rupanya," Sapa Aisyah tanpa sedikitpun mencurigai Diana yang menaruh hati pada suaminya.
"Hey ..., Ia nih dok ..., kami baru saja selesai mengoperasi pasien bersama-sama." Sahut Diana sambil menatap Aisyah.
Kemudian hanya di balas senyuman oleh Aisyah. "Sayang ..., Mari kita makan dulu! Kau pasti sangat lapar kan." Ajak Aisyah terhadap dokter Fachri.
"Yasudah ayo kita makan, Dokter Diana ayo kita makan bersama." Ucap Fachri mengajak Diana.
"Tidak dok ..., Saya belum lapar. Nanti saja kebetulan saya membawa bekal dari rumah." Dusta Diana terhadap Fachri. Padahal sebenarnya Diana tak mau melihat kemesraan Aisyah dan Fachri di hadapan nya.
"Yasudah kalau begitu, Ayo mas kita berdua saja." Sambung Aisyah menggandeng lengan suaminya.
Perlahan Fachri dan Aisyah melangkah pergi dari ruangannya. Di ikuti Diana yang berniat kembali ke ruang kerjanya.
Sementara Damar kini menepikan mobilnya di halaman rumah sakit Aise husada. Kemudian Rania turun dari mobil milik kekasihnya itu.
"Rania ..., Jika urusan mu sudah selesai segera hubungi aku." Ucap Damar pada kekasihnya.
"Iya ..., Nanti aku hubungi kamu lagi ya," Sahut Rania menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Damar kembali memasuki mobilnya, Sedangkan Fachri dan Aisyah kini sedang makan bersama di kantin rumah sakit.
Rania berjalan gontai melewati kantin, Tak sengaja ia melihat Aisyah dan Fachri sedang makan di kantin tersebut.
"Dokter Aisyah ..., Dokter Fachri." Teriak Rania.
Sekilas Fachri dan Aisyah menoleh, Mereka tidak menyangka bahwa Rania sudah kembali dari Korea.
"Rania ..., Apa kabar?" Ucap Aisyah kegirangan. Ia bahagia karena Rania yang sudah di anggap nya sebagai saudari nya telah kembali.
"Kabar baik Rania, Aku merindukan mu." Kata Aisyah sambil memeluk Rania.
"Sejak kapan kau kembali dari korea Rania?" Tanya Fachri.
"Sekitar dua harian saya berada di indo Dokter." Jawab Rania.
"Bagaimana keadaan Damar, Apakah dia sudah sembuh?" Tanya kembali dokter Fachri.
"Alhamdulillah Damar sudah sembuh, Hanya saja dia kehilangan sebagian ingatannya." Jawab kembali Rania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nextpart ...
Sampai bertemu di chapter berikutnya ...
Jangan lupa tambahkan ke kolom favorit kalian yah.
Bantu like ,komen dan Vote...
Happy reading...