
"Kikkkk..., Brakkk..., Brakkk."
Rima terlonjak kaget saat sedang menyantap sarapan nya, Bersama dengan Adhi Nugraha di Meja makan.
"Suara apa itu ma?" Ucap Adhi meletakan secangkir tehnya.
"Entahlah pa...,Yang jelas itu bukan suara tabrakan kan!" Sahut Rima seketika ia teringat dengan putranya. "Jangan-jangan itu Damar pa...,Dia kembali pulang." Rima yang mulai memutar otak mencari-cari alasan, Pasalnya Rima harus antisipasi, Jika Damar mengetahui kalau Rania tidak tinggal di apartemen.
Damar turun dari mobilnya, Berjalan dengan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Sambil berteriak-teriak memanggil ibunya.
"Maa...,Maa." Teriak Damar.
Adhi heran dengan tingkah putranya yang teramat marah pada ibunya. kemudian berniat menghampiri putranya yang sedang marah itu, Akan tetapi Rima malah menahan suaminya.
"Papa mau kemana? Biarkan Damar yang datang kemari pah!"Ucap Rima menahan lengan suaminya.
Lalu Adhi kembali duduk di kursinya. Dan benar saja perkataan Rima, Damar menghampiri nya ke meja tempat makan bersama, Keluarga kaya itu.
"Ma...,Aku mau tanya sama mama! Tolong...,jawab aku dengan jujur ya mah?" Damar mengepalkan tangannya, Di hadapan kedua orangtuanya.
"Iya sayang...,Kamu mau tanya apa sama mamah! Mamah pasti jujur sama kamu." Ucap Rima, Ia berusaha bersikap tenang ketika berhadapan dengan putra semata wayangnya.
"Tolong mama kasih tahu, Dimana Rania tinggal sekarang." Membentak.
"Bukannya Rania tinggal di apartemen, Kenapa kamu bertanya seperti itu pada mamah, Memangnya kemana Rania." Sahut Rima.
"Tolong jawab jujur ma...,Mama pasti bohong kan!" Damar mengeram marah terhadap ibunya.
"Kalau Rania tidak ada di apartemen, Lalu kemana dia perginya. Mama sama sekali tidak mengetahui keberadaan nya nak...,Mamah berani bersumpah." Ucap Rima bersikukuh tak mau berbicara jujur pada putranya.
Sementara Adhi melihat adanya kejanggalan dari perkataan istrinya. Yang terlihat sedikit gugup.
Kemudian Adhi berusaha menenangkan Damar putranya. "Damar..., Papa mohon, Kamu tenang yah! Mari kita bicarakan dengan kepala dingin." Pinta Adhi mengajak anaknya untuk duduk.
Rima mengelus dadanya, Merasa lega. Karena berhasil mengelabuhi putranya. "Aku harus segera menemui Rania...,Aku harus membuat perjanjian dengannya. Agar dia mau meninggalkan Damar selamanya." Gumam Rima masih berdiri di hadapan putranya.
"Ma...,Jika mama ketahuan berbohong. Jangan harap Damar akan memaafkan mama." Ucap Damar menarik kursi yang berada di depannya, Lalu ia duduk bersama kedua orangtuanya.
"Tenangkan dirimu nak..., Ceritakan pada papa. Apa sebenarnya yeng terjadi?" Ucap Adhi.
"Rania tidak ada di apartemennya, Lalu apa yang harus aku lakukan pa." Kemana aku harus mencari nya. Sedangkan mama pun tidak mengetahui keberadaan Rania." Sahut Damar terhadap ayahnya.
Sedangkan Rima hanya diam, Ia enggan bicara soal Rania. Bahkan ia tidak akan memberitahu keberadaan Rania, Pada putranya itu.
Kemudian Adhi menoleh pada istrinya, Lalu menanyakan keberadaan Rania pada istrinya itu.
"Ma..., Terakhir waktu mama mengantarkan Rania, Apakah mama melihat Rania pergi lagi dari apartemen. Atau dia pergi dengan orang lain." Tanya Adhi meneliti wajah istrinya.
Rima menelan saliva nya , Menarik nafas dalam-dalam, Kemudian menjawab pertanyaan suami nya.
"Mama sama sekali tidak tahu pah...,Kenapa kalian terus menyudutkan mama sih. Memangnya siapa kalian sih Rania." Gerutu Rima karena terus di tanyai soal Rania.
"Baiklah...,Kalau itu jawaban mamah. Satu-satunya orang yang harus kita tanya lagi Arel, Jika Arel juga tidak mengetahui keberadaan Rania, Maka kita harus meminta keamanan pihak apartemen untuk memberikan rekaman Cctv di malam mama mengantarkan Rania." Ucap Adhi menatap lagi pada istrinya.
"Benar juga yang di katakan papa, Damar harus bertanya pada Arel." Kemudian Damar bangkit, Akan tetapi di tahan oleh ibunya.
"Kamu mau kemana Damar, Jangan bilang kamu akan mencari Rania." Ucap Rima sambil memegangi lengan Damar.
"Tentu saja aku akan mencari Rania ma...,Dia kekasihku aku takut dia kenapa-kenapa di luaran sana." Sahut Damar mencemaskan Rania.
Sementara Rania kini tengah bersiap-siap,Ia akan pergi untuk menemui Fachry dan Aisyah. Orang yang selama ini telah berjasa dalam hidupnya.
Terik mentari memapar kulit putih milik Rania, Namun ia sudah terbiasa dengan semua itu. Rania berjalan di trotoar pinggir jalan raya.
Namun tiba-tiba saja ada mobil berhenti di pinggir nya. Seketika Rania menghentikan langkahnya, Ia tahu orang yang turun dari mobil tersebut, Adalah laki-laki yang sangat mencintainya.
"Damar." Rania terkejut.
Damar menghampiri nya dan memeluknya, "Aku hampir gila mencari kamu Rania...,Aku mohon jangan pergi dariku." Ucap Damar memeluknya, Erat.
Sedangkan Rania merasa heran dengan sikapnya Damar, Yang seolah tidak akan bertemu dengannya lagi.
"Kau kenapa...,Aku tidak pergi dari kamu Mar. Percayalah!" Sahut Rania membalas pelukan kekasihnya.
"Aku khawatir padamu, Aku pergi mencari mu ke apartemen, Namun setelah sampai di sana aku tidak menemukan mu. Aku kaget, Aku takut kehilanganmu." Ucap Damar.
"Maafkan aku..., jika aku tak mengabari mu, Aku merasa tak pantas saja tinggal di tempat se mewah itu." Padahal sebenarnya bukan seperti itu kenyataan nya.
Rania enggan memberitahukan kebenaran nya, Karena ia tak mau membuat hubungan Damar dengan ibunya kembali memburuk.
"Sekarang kamu tinggal dimana? Kalau tidak tinggal di apartemen!" Ucap Damar bertanya soal tempat tinggal nya.
"Aku tinggal di kontrakan Mar...,Aku rasa tempat itu sangat cocok untuk ku." Sahut Rania.
Lalu Damar melepaskan pelukannya, Ia tercengang setelah tahu jika Rania malah memilih tinggal di kontrakan, Ketimbang di apartemen miliknya.
"Lalu kenapa kau menolak untuk tinggal di apartemen ku, Jika sekarang kau malah memilih tinggal di kontrakan. Kau memang aneh Rania." Damar heran dengan sikap Rania, Ia berusaha memberinya kemewahan, Namun Rania menolaknya.
"Kenapa kau ..., menatapku seperti itu! Inilah aku, Aku tidak mau dikatakan benalu oleh keluarga mu. Memangnya siapa aku." Sahut Rania bersikukuh dengan pendiriannya.
"Kau kekasihku...,Apa harus aku mengumumkan pada semua orang agar mereka tahu kalau kita adalah sepasang kekasih. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk mu." Seru Damar.
"Dan aku tidak mau kau perlakukan Seperti wanita yang lain. Aku adalah aku, Diriku tak ingin menikmati hartamu, Sebelum aku menjadi istrimu. Karena aku mencintaimu bukan karena kamu kaya Mar." Ucap Rania.
Damar tertegun oleh ucapan Rania, Yang mampu menggetarkan hatinya. Damar menatap wajah cantik Rania. Perlahan ia mencondongkan kepalanya, Menggapai bibir milik kekasih nya.
Sesaat kemudian mereka saling berpagutan, Diantara riuhnya kendaran yang berlalu lalang di jalanan.
Tak sengaja Ayana dan Hendry lewat dijalan tersebut, Mereka menyaksikan betapa mesranya Damar dengan Rania.
Hendry menurunkan kaca mobilnya, Ia menatap pada mantan istrinya yang semakin cantik itu.
"Kenapa kau menatap mereka seperti itu Mas...,Apa kau masih menginginkannya." Ucap Ayana dingin. Menyadarkan Hendry yang menatap pada Damar dan Rania.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Halo Readers...
Ikuti terus Kisahnya yah...
Jangan lupa tambahkan ke kolom favorit kalian...
Bantu like,komen,dan Vote...
Happy reading**...