
Kini Ayana telah sampai di kantor suaminya, Ia berjalan lenggak-lenggok seperti berjalan di atas catwalk. Semua mata tertuju padanya, Sesekali ia melempar senyuman, Terhadap staf dan karyawan di gedung Griya Artha, Milik Keluarga Hendry suaminya.
"Hey...,Jam berapa ini! Kenapa kalian masih berada di luar ruangan seperti ini. Cepat kerja...,kerja." Ucap Ayana dengan memarahi setiap karyawan yang menatapnya.
"Baik Non." Semua karyawan menunduk padanya.
"Huhhhh..., Ternyata enak juga ya, Jadi bos besar." Seringainya.
Perlahan Ayana menuju ruangan Sang Ceo wijaya_group, yaitu ruangan Hendry suaminya.
Ayana sangat terkejut, Saat melihat wanita seksi sedang membersihkan ruangan suaminya.
"Siapa kau? ..., Berani sekali masuk ke ruangan ini! Apa kau tidak tahu, Ini ruangan siapa!"
"Maaf buk, Saya cuman membersihkan ruangan pak Hendry, Saya sudah biasa datang untuk membersihkan ruangan ini kok."
"Mulai sekarang tidak perlu cepat kamu keluar dari ruangan ini."
Ayana merasa cemburu pada office girls, Yang terlihat cantik itu. Ia merasa terancam posisinya ketika ada wanita lain di sekitar suaminya.
Dengan rasa takut, Dan tak enak hati office girls itu keluar dari ruangan Hendry.
"Tunggu!"
"Iya buk...,Kenapa?" Sambil menoleh.
"Siapa namamu?" Ayana memastikan posisi wanita cantik itu, Bukanlah ancaman untuk nya.
"Saya Tania...,Saya office girls, Yang bertugas membersihkan ruangan pak Hendry setiap hari buk."
"Owh ..., Ternyata kau ini cuman pekerja rendahan yah. Baguslah, Saya tak perlu takut padamu. Tunggu apalagi! Cepat pergi dari sini."
Dengan nada cemoohan, Ayana memandang rendah pekerja itu. Dan meminta untuk meninggalkan ruangan suaminya.
"Kalau ibu butuh bantuan saya, Telpon saja ke pantry ya buk. Saya selalu standby di pantry kok." Ucap ramah bawahannya tersebut.
Kemudian Ayana dengan kesalnya , Membentak dan memaki wanita tersebut. " Tidak usah! Dan tidak perlu." Ucap Ayana penuh penekanan.
"Owh ..., I-iya buk! Saya mengerti." Gugup.
Perempuan yang berprofesi, Sebagai office girls tersebut langsung beranjak pergi dengan tergesa-gesa. Akan tetapi Ayana masih menaruh curiga pada orang tersebut.
"Aku harus singkirkan wanita itu, Agar dia tak lagi membersihkan ruangan ini. Pasti wanita itu punya maksud terselubung pada suamiku." Ucap Ayana berbicara sendiri, Sambil duduk di kursi kebesaran milik suaminya.
Tok...,Tok...,Tok...
Sekejap Ayana menoleh ke seseorang, Yang mengetuk pintu ruangannya. Lalu ia bangkit dan membuka pintu tersebut. Ia sangat kesal karena yang dia kira adalah perempuan yang tadi. Tapi setelah ia membuka pintunya, Ternyata orang yang mengetuk itu, Adalah suaminya.
"Untuk apa kau kembali lagi." Umpat Ayana sambil membuka pintu.
"Siapa maksud kamu Ayana, Memangnya selain Tania yang datang kemari, Siapa lagi?" Hendry sangat terkejut.
"Huh...,Ya aku kira cleaning service itu yang datang lagi." Sahut Ayana merasa malu.
"Memangnya kenapa dengan Tania, Ayana?"
"Tidak kenapa-kenapa, Aku hanya ingin menggantinya saja. O yah mas...,Mulai sekarang kamu harus berbagi ruangan dengan saya yah!"
"Kenapa harus di ganti, Dia sangat rajin kerjanya. Maksud kamu apa, Berbagi ruangan segala."
"Mulai sekarang ruangan ku disini! Kamu Tahukan. Aku ini adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ini."
Kini Ayana memperjelas status nya di wijaya group. Bahkan ia ingin menjadi penasihat Direktur di perusahaan itu.
"Tidak...,Ayana! Kamu jangan bekerja yah...,Biarkan mas, yang menghandle semua pekerjaan ini."
"Tidak bisa mas...,Aku juga berhak atas perusahaan ini. Atau jangan-jangan? Kamu ada main dengan cleaning service itu yah."
Ayana terus mencurigai Hendry, Karena ia takut suaminya itu direbut oleh wanita lain. Akan tetapi Hendry tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Ayana yang kamu kenal itu sudah mati mas...,Maaf aku tidak ingin selalu mengalah padamu. Aku juga berhak ada di perusahaan ini." Ucap Ayana bersikukuh.
"Baiklah..., Jika itu yang kamu mau. Aku akan menuruti keinginan mu."
Hendry terpaksa mengikuti keinginan istrinya, Meski hatinya terpaksa untuk mengijinkan nya.
Setelah berdebat, Hendry mengadakan rapat terbatas untuk memperkenalkan Ayana sebagai penasihat dirinya. Kepada para petinggi perusahaan wijaya group.
Kini semua rencana Ayana berjalan mulus, Untuk mendapatkan keuntungan lebih dari perusahaan Hendry. Setelah rapat itu selesai, Mereka memutuskan untuk pulang, Menuju rumahnya.
Sedangkan Diana masih betah di rumah sakit Aise_Husada, Tempatnya bekerja sebagai dokter ahli bedah jantung yang baru.
Waktu menunjukkan Jam lima sore, pertanda pergantian shift di mulai. Diana keluar dari ruangan nya, Menjinjing tas mini di tangannya.
Tak sengaja ia melihat kemesraan Aisyah dengan suaminya, Yaitu Fachry. Akan tetapi Diana hanya menatap dari kejauhan, Hatinya merasa terbakar, Saat melihat Fachry merangkul pinggang Aisyah.
"Hukhhh...,Nasib jomblo. Andaikan dokter Fachry single, Pasti sudah kudekati dia." Batin Diana. Menatap pada Aisyah dan Fachry.
"Mas...,Apa kabar dengan Rania yah. Dia sudah lama tak mengabari kita." Ucap Aisyah.
"Kamu sudah menelpon nya belum, Atau menanyakan kabarnya pada om Adhi." Sahut Fachry.
"Belum mas, Nomornya sudah tidak aktif. Mungkin Rania sudah mengganti nomornya." Aku tidak enak lah mas...,Jika harus menghubungi om Adhi."
"Yasudah nanti mas yang coba bertanya pada om adhi yah!" Sambil mencolek hidung mancung Aisyah.
Kemudian Fachry dan Aisyah memasuki mobilnya, Mereka pulang bersama, Menuju rumah nya.
Sedangkan Diana masih dalam posisi menatap Fachry, Hingga mereka pergi dari Area rumah sakit itu.
"Huhhhh...,Ada apa denganmu Diana? Kenapa kau, harus merasa cemburu seperti ini, Kamu harus buang jauh-jauh perasaan ini, Fachry bukan milikmu." Batin Diana, Sambil bergegas menuju ke mobilnya.
Kini senja telah tiba, Dan di gantikan oleh gelapnya malam. Hujan turun di malam hari, Hanya menyisakan embun nya, Ketika mentari telah menyapa sang pagi.
"Hoamm." Rania menguap, Ia terbangun dari tidurnya. Kemudian ia berjalan gontai ke wastafel. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Damar telah menunggu Rania di parkiran gedung apartemen, Karena yang dia tahu Rania tinggal di apartemen nya. padahal kenyataannya, Rania tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana, Namun nyaman untuk di tinggali.
Damar hanya menunggu di dalam mobilnya, Sesekali ia melihat arloji di tangannya. Hatinya mulai risau, Karena kekasihnya tak kunjung menampakan batang hidungnya.
"Kenapa Rania lama sekali keluarnya? Apa dia masih belum bangun!" Batin Damar.
"Akhhhhh, Rasanya tak mungkin. Jika Rania masih tertidur sampai se siang ini." Bertanya-tanya dalam hati.
Perlahan rasa khawatir menjalar, Memenuhi lubang hatinya. Akhirnya Damar memutuskan untuk menyusul Rania, Ke dalam unit apartemen nya.
Beberapa saat kemudian, Damar telah sampai di unit apartemen nya, Ia menempelkan key_card miliknya, Lalu membuka pintu unit tersebut.
Setelah itu, Alangkah Terkejut nya Damar. Karena tak melihat adanya orang yang tinggal di dalam apartemen miliknya.
Hatinya mulai gusar, Ia mencoba menghubungi Rania, Namun nihil tampaknya Rania telah mengganti nomor ponselnya.
Dengan segera ia kembali, menuju mobilnya di parkiran. Ia kembali pulang ke mansion hanya untuk bertanya pada ibunya, Terkait ketidak adaan nya Rania di apartemen miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Halo Readers ...
Ikuti terus kisahnya yah...
Jangan lupa tambahkan ke kolom favorit kalian...
Silahkan like, komen dan vote...
Aku membutuhkan dukungan atau suport dari kalian...
Terimakasih**...