
Helai demi helai Rania mulai membuka pakaian yang melekat pada tubuh pria yang tidak sadarkan, antara rasa takut yang bergelayut ia memberanikan diri melakukan itu semua. Pasalnya, ia tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi pada prianya itu.
"Maaf Damar, aku terpaksa mengganti pakaianmu dengan tanganku sendiri," ucapnya terus berbicara pada Damar yang memejamkan matanya.
Dengan tangan gemetar ia mencoba menetralkan segala bisikkan yang datang. Bagian atas tubuh telah berhasil diganti pakaiannya, dan sekarang tinggal bagian bawah.
Rania sangat gugup saat melihat sesuatu yang dibalut kain transparan dibawah sana, bagian basah yang paling istimewa bagi kaum lelaki terlihat menegang, Rania merasa degup jantungnya berbunyi tak karuan. Tapi, apalah dayanya mau tidak mau ia harus melihatnya, lantaran ia harus mengganti kain basah yang membalut bagian itu.
"Huh!" Rania mendesah saat mencoba membukanya. Matanya terbelalak tidak percaya ada getaran yang tidak terduga itu.
"Mau kah kau menghangatkan aku?"
DEG!!!
Rania terperangah melihat seseorang yang tidak sadarkan diri itu bicara padanya, wajahnya terlihat memerah lantaran malu tertangkap basah saat mengganti pakaian itu.
"K--kamu--,"
"Emmm,"
Damar yang sudah terduduk langsung meraup Rania yang sudah tidak kuasa menolaknya, getar-getar cinta mulai tercipta di pertengahan malam setelah hujan itu datang.
"Aku menginginkanmu, Rania ... aku tidak mungkin melewatkan kesempatan ini, seharusnya aku melakukan ini sejak dulu," bisik Damar ditelinga mungil sang suster itu.
Rania terdiam membisu, tidak bisa berontak. Tubuhnya seolah menginginkan melakukan hal itu dengannya.
"Ahhhhhhhhh," pekikan itu melesak begitu hebat dari mulutnya, dan perlahan mulai bersahutan menghiasi malam yang begitu dingin nan sunyi.
"A--apa kau melakukannya dengan rasa cinta padaku Damar?" tanya Rania ditengah permainan yang begitu hebat itu.
"Jika aku katakan apa kau akan mempercayaiku? Ataukah kamu selamanya akan menolakku?"
Rania menggeleng kepalanya, binar air mata mulai berjatuhan. Rasa takut ditinggalkan, kian berkecamuk di dasar hatinya. Pasalnya, sesuatu yang begitu istimewa telah terenggut dari dirinya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Damar mengusap dua bola mata yang mengeluarkan air mata itu.
"Aku takut kau akan meninggalkan aku setelah ini," lirihnya dengan bibir bergetar.
Damar tersenyum dan menggeleng kepalanya, "Tidak akan pernah aku meninggalkan kamu, aku akan mempertanggungjawabkan semuanya demi cinta kita," ucap Damar meyakinkan.
"Tapi Ibumu tidak merestui kita Damar, kau tahu itukan?"
"Ya, aku tahu itu. Tapi, semua itu bukan alasan untuk tidak menikahimu," ucapnya lagi.
Damar mulai meneliti setiap inci tubuh, dam kembali meraup dua kenikmatan yang berada di atas tubuh sintal itu.
"Ahhhhhhhhh," Rania kembali memekik serta menggelinjang hebat saat Damar mencoba menikmatinya.
Rasa yang begitu melesakkan, kini telah bersatu dalam sebuah kenikmatan yang tidak terbantahkan.
"Oughhhh..." desah panjang sukses meluncur dari mulut pria perkasa itu.
Tubuhnya seketika ambruk di atas tubuh perempuannya, mereka saling menautkan tangan berpelukan erat di sofa ruangan tamu itu hingga pagi menjelang.
TING!!!
Bunyi klakson penjual roti di komplek itu membuat Rania seketika membuka matanya. Dia terbangun, dan langsung memastikan kejadian semalam itu bukanlah mimpi, tubuhnya yang polos dibalut dengan selimut pagi itu.
Tapi, dia malah menangis setelah mengetahui bahwa yang telah dia lakukan itu adalah sebuah kesalahan.
Hikssss.
"Aku benci diriku seharusnya aku tidak terbawa suasana," rutuknya kesal. Rania bertambah khawatir saat melihat ke sekeliling bahwa Damar sudah tidak ada di sana.
Namun, Rania kembali teralihkan ketika mendengar suara kompor dinyalakan dari dapur.
Tidak berapa lama Damar membawa dua mangkok ramen ke ruangan itu.
"Ada apa Rania? Apa kau takut kalau aku pergi darimu? Bukankah kau tidak mencintaiku?"
"Bodoh, setelah apa yang kita lakukan kau bicara seperti itu kau keterlaluan!" sinisnya kesal.
Damar tergelak, saat melihat wajah menggemaskan itu memprotesnya. "Aku bercanda kau tak seharusnya marah seperti ini, ayolah biar aku bantu kau bangun," Damar mengulur tangannya membantu Rania agar bangkit dari sofa.
Rania mencoba mempercayai Damar meski tidak mudah, tapi dia berusaha mempercayainya.
"Kau jangan khawatir, hari ini aku akan mengajakmu ke Rumahku," ujar Damar disela menyuap makanan.
UHUK! UHUK!
Rania tersedak saat Damar berbicara akan mengajaknya berkunjung ke rumah, dan dengan sigap Damar memberikan segelas air mineral pada Rania.
"Minumlah, jangan terburu-buru kalau makan," ujar Damar memberi segelas air putih.
Glek!!
Rania meminum segelas air itu, setelahnya ia kembali bertanya pada Damar. "Untuk apa aku ke Rumahmu?" tanyanya heran.
"Kita akan meminta restu, aku akan menikahimu!" tegas Damar.
Rania tercengang setelah mendengar ucapan Damar yang begitu tiba-tiba, rasanya tidak percaya tapi ini adalah kenyataannya.
"Apa kau serius? Lalu bagaimana kalau kedua Orang Tuamu tidak merestui kita?" tanya Rania meragukan Damar.
"Ada atau tanpa restu mereka, aku akan tetap menikahimu. Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, apalagi kita telah melakukan--,"
"Stttt," Rania menempelkan jemari tangannya tepat di bibir Damar, "Jangan ungkit masalah semalam biarkan menjadi kenangan di antara kita," pintanya dan kembali beralih pada semangkuk ramen.
"Maaf," Damar menggaruk punggung lehernya, "Tapi, terima kasih kau telah menghangatkan aku semalam," ucapnya berterima kasih.
Rania merasa malu saat Damar mengungkit hal itu, pasalnya kejadian itu begitu singkat dan tidak di sangka akan melakukan hal itu dengannya.
"Sudahlah, aku akan mandi dan kau secepatnya mandi juga ya. Kita hadapi semua ini bersama-sama," ujar Damar bangkit dan menuju kamar mandi.
Rania hanya terdiam terus menatap pada Damar yang mulai menenggelamkan dirinya dibalik pintu kamar mandi, kemudian Rania pun bersiap membersihkan diri ke kamar mandi lainnya yang ada di rumah kontrakannya.
Kini Rania maupun Damar telah bersiap untuk pergi menemui kedua orang tua Damar untuk meminta restu hubungannya.
"Aku takut Mamamu tidak memberikan restu pada kita Damar," Rania begitu ragu.
"Kau tidak perlu takut, atau khawatir Rania. Kita akan menikah meski tanpa restu Mama," ucap Damar di sela mengemudikan mobilnya.
Damar menggenggam tangan Rania, dan berusaha meyakinkannya agar percaya pada ucapannya yang sungguh-sungguh.
Satu jam kemudian, Damar membelokkan mobilnya ke perumahan megah, sedangkan Rania memejamkan matanya, pasalnya ia tidak menyangka akan kembali mengunjungi rumah megah itu.
Ceklek!!!
Damar menghentikan mobilnya, "Ayo ... kita sudah sampai," ucap Damar mengulur tangan, dan langsung disambut oleh tangan Rania.
"Aku harap kau yakin padaku," ujar Damar mencoba menenangkan Rania.
Rania menghela nafasnya dalam-dalam, dan mulai melangkah bersama Damar memasuki rumah megah itu.
TING! TONG!
Suara bel mengalihkan nyonya Rima yang saat ini duduk di ruangan tamu, sambil membaca majalah.
"Itu pasti Damar?!" ucapnya seraya mengalihkan tatapannya.