
Mohon perhatiannya sebentar, Sebelum kalian membaca di harapkan Menarik Nafas Dalam-dalam, Karena di Chapter ini Penuh dengan Adegan Yang menguras Emosi.
🌷🌷🌷
Rumah Sakit AISE_HUSADA
Rima menatap Nanar pada Damar Yang belum juga siuman, Beberapa kabel Begitu semeraut menempel pada Dada Bidang Damar. Begitu juga dengan Selang infus yang menusuk Tangannya.
"Kira-kira kapan Damar siuman Ya pah...,Mama Tidak tega melihatnya seperti ini." lirih Rima Sambil bersandar pada Dada Suaminya, Menatap pada putranya yang Masih terbaring tak sadarkan diri.
"Mama harus kuat, Papah tahu mama sedih, Alangkah lebih baiknya mamah berdoa untuk kesembuhan Damar ya mah." Timpal Adhi sambil mengelus punggung istrinya.
"Ini semua karena Hendry dan Rania, Kalau saja Hendry tidak mengusik kehidupan Ayana lagi, semua ini tidak Akan Terjadi." Gumam Rima Yang Sangat marah.
Kemudian Rima menyeka Air matanya, Terbesit dalam fikirannya Untuk menelpon Ayana Calon menantu idamannya Yang berprofesi seorang Artis itu.
"Mama ke Toilet dulu Ya pah." Ucap Rima meminta ijin Pada Adhi. Padahal sebenarnya bukan untuk ke Toilet melainkan Ia ingin menghubungi Ayana.
Rima berjalan menjauh dari Adhi, Ia segera bergegas menuju Toilet. Kemudian merogoh sakunya, Mengambil ponsel dan menelpon Ayana Namun Sayangnya Ayana Tidak bisa di hubungi.
"Kenapa Ayana susah sekali di hubungi, Di mana Sebenarnya Dia sekarang. Bukannya menemani Tunangannya Yang sedang Sakit. Ia malah tidak Tahu dimana Keberadaan nya. Heuhhh... Siallllll." Ucap Rima Mengumpat.
Kemudian Rima kembali ketempat Dimana Suaminya menunggu.
"Pah..., Mama pulang dulu yah." Ucap Rima terhadap suaminya.
"Mau ngapain Mama pulang !" Balas Adhi sambil menoleh.
"Mama Mau ngambil Bajunya Damar, Sekalian mama Mau Ke Apartemen nya Ayana pah, Kita harus kasih tahu kalau keadaan Damar sedang tidak baik-baik Saja." Sahut Rima Terhadap Suaminya.
"Untuk apa Mah..., Sudah Tidak usah. Lagian Ayana bukan calon menantu kita lagi." Ucap Adhi melarang Rima untuk memberitahu Ayana Mengenai kondisi Damar.
"Papah gimana sih," Ayana itu Calon menantu kita pah. Pokoknya Mama akan tetap pergi..., Sudah Papah tidak usah ikut campur Urusan Mamah." Rima Marah terhadap Adhi dan memaksa pergi untuk menemui Ayana.
Rima beranjak pergi meninggalkan Rumah sakit untuk mengambil Pakaian Damar dan setelah itu berniat mencari Ayana, Namun Adhi tidak bisa melarang Istrinya Karena pendirian Rima Yang kuat dan Sangat keras kepala Adhi hanya bisa menatap kepergian Istrinya.
"Mama...,Mamah. Kapan sih mama ini Sadar kalau Ayana itu hanya memanfaatkan Keluarga kita saja," Hanya demi ketenaran Ayana itu mampuh mempengaruhi mama hingga seperti ini." Gumam Adhi menatap Kepergian Istrinya.
Kini Rima Telah berada di Lobby Rumah Sakit, Menatap Pada Empat Anak buahnya Yang berjaga di Depan Rumah Sakit.
"Boy...,Cepat kasih tahu Calvin Untuk segera menjemput Saya." Ucap Rima memerintah Salah satu Anak buahnya, Yang di tugaskan suaminya untuk berjaga di depan gedung Rumah Sakit Aise_Husada.
"Baik Nyonya Saya akan secepatnya Menelpon Calvin."
"Bilang Padanya Jangan lama-lama." Bentak Rima Dingin.
"Baik Nyonya."
Tidak Berapa Lama Mobil Audy R13 Berwarna Hitam Berhenti Tepat di hadapannya.
"Lama Sekali kamu ini, Calvin. Habis Darimana Sih! " Gerutu Rima Terhadap Sopir nya.
Kemudian Rima memasuki Mobilnya.
"Maaf Nyonya Tadi Jalanan Macet."
"Halahhh...,Alasan saja, Cepat jalan." Ucap Rima Dingin.
"Kita Mau kemana Nyonya,"
"Antarkan Saya pulang, Untuk mengambil Baju Tuan Muda (Damar). Setelah itu kita ke Apartemen Ayana." Timpal Rima.
Kemudian Mobil R13 itu pun keluar Dari Area Rumah Sakit Aise_Husada. menuju perjalan pulang.
Namun di dalam perjalanan Rima Tak sengaja melihat Ayana sedang duduk di Cafetaria bersama Hendry, Mereka terlihat Saling berpegangan Tangan Dan saling menatap.
Deg...Deg...Deg...
"Berhenti Sebentar Calvin," Perintah Rima pada sopirnya.
Kemudian Rima menurunkan Kaca mobilnya, Berusaha memastikan Kalau yang di seberang jalan, Adalah Ayana Calon menantunya. Terlihat Sedang bermesraan Dengan Suaminya Rania Yaitu Hendry.
Rima Sangat Marah terhadap Ayana Yang tertangkap basah sedang bermesraan dengan Hendry, Rima mengeratkan Rahangnya, Menatap Tajam kepada sepasang pengkhianat itu.
"Putar Arah Calvin, Dan kita berhenti di cafetaria di seberang Jalan sana." Ucap Rima Sambil menunjuk Cafetaria yang di maksud nya.
"Siap Nyonya."
Calvin memutar Arah mobilnya dan berhenti tepat di Cafetaria, Yang ada di pinggir Jalan Raya. Arah Rumah Sakit Aise_Husada.
Kini Rima Terlihat seperti Singa betina Yang Bersiap Menerkam Mangsanya.
Darah Rima bergejolak Saat menyaksikan Calon menantu Yang di bangga-banggakan nya tega menipunya mentah-mentah. Langkah Demi langkah Rima berjalan, Kini telah Sampai di cafetaria.
"Ayana 3×...." Teriak Rima sambil membentak Sehingga Membuat nya jadi sumber perhatian.
Alangkah terkejutnya Ayana saat melihat Calon Mertuanya berdiri di ambang pintu Cafetaria.
"Penipu kamu..., Anak saya berjuang antara hidup dan mati, Kamu malah menyelingkuhi nya..., Terlebih lagi dengan laki-laki yang telah beristri ! Dasar tidak Tahu malu kamu yah."
Ayana menelan ludahnya, Matanya membulat sempurna,Bibirnya bergemetar.
"Tan...,te."... Ia berjalan menghampiri Rima Yang terlihat penuh dengan kemarahan, Dan Tatapan kebencian.
"Ini Tidak seperti yang Tan..te, Lihat ! Ayana bisa jelaskan semua ini." Ayana bergerak Menangkup tangan Rima dengan Raut wajah ketakutan.
"Lepaskan tangan saya...,Kamu fikir saya orang bodoh. Yang bisa kamu bohongi terus menerus." Rima menepis tangan Ayana, Kemudian menghempaskan nya.
"Tolong percaya Sama Ayana Tante...,Ini semua hanya kekeliruan Tante." Lirih Ayana , Memohon pada Rima.
"Kamu sungguh tidak tahu malu...,Dulu saat kamu patah hati oleh laki-laki ini ! Kamu datang pada saya dan menangis," Inikah balasan kamu pada Saya. Ayana...,Kamu benar-benar kelewatan, Dan sekarang Anak saya sedang terbaring kaku di rumah sakit. melawan mautnya kamu malah bersenang-senang Dengan laki-laki ini, Dimana hati nurani kamu." Bentak Rima Meluapkan kekecewaan nya.
Pengunjung Cafetaria bergerumung menyaksikan Drama pertengkaran Antara calon menantu dan Calon mertua. Ada yang merasa kasihan pada Ayana ada juga yang menghujat nya.
"Tidak menyangka yah, Ternyata Artis sekelas."Ayana Natasha" ini kelakuannya jauh di bawah standar wanita pada umumnya." Umpat Para pengunjung Cafetaria, Menghujat Kelakuan Nana.
Hendry yang merasa kasihan pada Kekasihnya itu, Akhirnya melakukan pembelaan pada Ayana.
"Cukup Tante...,Tidak seharusnya tante memperlakukan Calon istri saya Sehina ini." Ucap Hendry yang merasa perbuatan Rima sudah Sangat keterlaluan.
"Ayo bangun Ayana, Tidak perlu kamu memohon pada orang Yang sombong seperti ini." Hendry kini berhadapan dengan Rima.
"Ambil saja wanita sampah seperti ini Untuk kamu, Karena putra saya tidak membutuhkan wanita seperti dia." Maki Rima terhadap Hendry sambil menatap Tajam pada Ayana.
"Pergi tante...,saya muak dengan sikap Tante.! " Bentak Hendry.
"Berani kamu membentak Saya...,Hey semuanya Dengarkan. Kalian Tahu siapa orang yang sedang berdiri di hadapan saya ini, Dia Adalah Ceo dari perusahaan " Wijaya_Group" Kekayaannya Jauh di bawah Standar keluarga Saya..., Apa kalian Tahu Putra Saya "Damar Adhi Nugroho" Yang merupakan pewaris Dari perusahaan "Adhikarya_group" Perusahaan Teratas di Negara ini, Dan terkenal Se Asia hingga Eropa.'' Dengan begitu sombongnya Rima memamerkan Derajat keluarganya di hadapan semua orang Yang menjadi saksi bisu pertengkaran nya dengan Hendry.
kemudian Rima menatap Tajam pada Hendry.
" Kamu Bukan Tandingan keluarga Saya Hendry, Saya masih sedikit bersimpati pada kamu. Dan kamu Ayana Rasakan kehancuran kamu, Karena berani mempermainkan Saya! "
Kemudian Rima berjalan meninggalkan Cafetaria itu, Setelah berhasil mempermalukan Hendry dan Ayana.
Sementara Hendry Diam tak berkutik, Seperti telah di telanjangi di depan umum, Ia hanya bisa marah Namun tak bisa membalas.
"Nenek tua itu," Akan mendapatkan balasannya! Lihat saja suatu hari nanti aku akan menghancurkan keluarga nya." Hendry mengepalkan tangannya lantaran kesal terhadap Rima, Yang telah mempermalukan nya.
Ayana Terduduk menangis lantaran merasa telah di lucuti harga Dirinya. " Hiks...hiks...hiks..." lirih Ayana Menangis,menyesali kebodohannya.
•
•
•
**Nextpart...
Sampai jumpa di Chapter Berikutnya**...