
[Seoul South Korea]
kini Rania sedang menemani Tuan muda Yang Koma, Yaitu Damar Adhi Nugraha. Hari yang sangat Menyebalkan Baginya Telah di Mulai.
"Apa Kau sudah Makan Siang Nona,,?" Tiba-tiba Saja Arel Memasuki Ruangan itu Dan mengagetkan nya.
"Huhhhh...,Kau mengagetkan ku saja Tuan.!" Menghela Nafas.
"Maafkan Saya Nona, Saya hanya mengingatkan Saja. Agar Anda menjaga kesehatan diri Anda Sendiri." Apa Anda Sudah Makan,,?" Arel bertanya Pada Rania. Dan Di jawab Dengan Nada Ketus Oleh Rania.
"Apa kau Tak melihat ku di sini terus dari tadi pagi, Seharusnya kau membawakan makanan Untuk saya, Tidak usah menanyakan Saya sudah makan Atau belum." Ucap Sarkas Rania, Sekilas Ia menoleh.
Arel sedikit mengangkat tangannya yang menggenggam Sekantong, Makanan di plastik. Menyerahkannya Pada Rania. Betapa malunya Rania Setelah Melihat Arel menyerahkan Sekantong Makanan.
"Rupanya Anda Se lapar itu Yah...,Maafkan Saya jika telat membawakan Makanannya."
"Makasih." Sekilas Rania mengambil Makanan itu dari Tangan Arel.
"Selamat menikmati Makanan nya Nona." seraya Menyunggingkan Senyumnya.
Namun Rania bersikap Acuh, Yang ia pedulikan saat ini adalah mengisi perutnya hingga kenyang.
Dengan Lahapnya Rania menyantap Samyang, Dan Kimci yang di belikan Oleh Arel. Saking menikmati nya Rania Melupakan Sekitarnya.
"Surpttt ..., Hah...,Mantap. Euuuu."
"Apa kau tidak Malu, Makan sampai berbunyi seperti itu Nona." Ledek Arel.
"Untuk Apa aku malu, Lagian di sini Cuman Ada kita dan Tuan muda Mu Yang Lagi Koma." Timpal Rania Cuek.
Iya Tak tahu Bahwa di belakangnya Telah berdiri Seorang Adhi Nugraha Dan Dokter Yang akan memeriksa Damar.
"Halo Rania..., Kamu betah Kan kerjasama dengan Saya." Ucap Adhi Nugraha.
"Uhuk...,Uhuk...,Uhuk." Rania Terbatuk-batuk lantaran di kagetkan Oleh suara Yang tiba-tiba saja mengangetkan nya. " Om...,Adhi." Terkejut.
"Ya Saya...,Kenapa Memangnya."
"Eng-gak Om, Tidak Kenapa-kenapa." Ucap Rania menatap Tajam Ke Arah Arel, Karena Tak memberitahunya Bahwa Ada Ayah nya Damar di belakang nya.
"Ya Sudah Kamu Lanjut kan Saja Makannya Yah, Saya Hanya ingin meninjau Kamar Rawat Tempat Damar Saja Kok."
Adhi Melanggkah Mendekati Ranjang Anaknya, yang Terbaring Koma. Sementara Rania membereskan bekas Makanannya.
"Damar...,Cepat bangun Ya Nak! Papa membutuhkan mu. Perusahaan Kita Sangat membutuhkan kepintaran kamu Nak."
Namun Damar Sama sekali tak memberikan Respon, Bahwa dia akan Segera Siuman.
"Tuan Adhi, Dalam Kasus Yang menimpa Tuan Damar Ini, Memang Sangat membutuhkan Proses Yang Begitu Lama, Untuk sehat kembali. Saya Yakin Putra Anda Akan sehat kembali, Karena Seluruh Organ Tubuhnya Sangat sehat." Ucap Dokter Kim Yang menangani Damar.
"Saya menggantungkan Kesembuhan Putra Saya, Pada Rumah Sakit Anda Dok. Mudah-mudahan Tuhan memberikan Perantara kesembuhan Untuk Anak Saya, Di Rumah Sakit ini."
Adhi kembali meninggalkan Ruang Rawat Anaknya, Di ikuti Oleh Dokter Kim. Setelah Selesai memeriksa Keadaan Damar.
Kemudian Adhi Menghampiri Rania Yang kini Sedang Berbicara Dengan Arel.
"Rania...,Om Harap Kamu bisa merawat Damar dengan Baik disini. Om akan kembali ke Indonesia."
"Saya Akan berusaha Merawat Damar dengan Sebaik Mungkin Om, Om tenang saja Serahkan Semuanya Pada Saya & Arell."
Adhi Sangat lega hatinya, Setelah mendengar Ucapan Dari mulut Rania. "Yasudah Kalau begitu Om pamit, Arell Kamu harus benar-benar menjaga Rania dan Damar." Ucap Adhi terhadap Asisten pribadi Anaknya.
"Tentu pak, Itu semua sudah menjadi kewajiban Saya." Balas Arel sambil menundukkan Kepalanya.
"Huhhhh..., Ku kira Hari menyebalkan ini akan segera berakhir. Ternyata malah Semakin lama Rupanya Aku disini." Gumam Rania Menatap Kepergian Adhi Nugraha.
Kemudian Rania kembali Memasuki Ruang perawatan Damar, Dan duduk di samping Ranjang Pria Tampan Yang kini terbujur Kaku itu.
Rania Terkekeh setelah meledek Damar yang Masih koma, Kemudian Rania bangkit dan Mondar-mandir Mencari ide Agar dia bisa keluar sejenak untuk Menenangkan Fikirannya dari kejenuhan.
"Ahaaa...,Aku Ada ide. Mumpung lagi di korea Aku jalan-jalan sebentar. mudah-mudahan Arel mengijinkan ku."
"Na...na..na.na." Rania melangkah Kan kakinya Sambil bersiul Ria.
"Kau Mau kemana Nona,,? Tanya Arel.
"Ahhhh..., Kebetulan sekali Aku bertemu kamu disini." Aku mau mencari Angin Bolehkan."
"Tidak Bisa Nona, Jika Tuan Adhi Tahu kita bisa kena Marah."
"Tapi aku jenuh berada di dalam Sini terus menerus, Apa kau tak mau ikut bersamaku. Kita bisa beli makanan yang enak di luar, Ahhhh...,Aku yakin kau sebenarnya mau kan." Goda Rania terhadap Arel, Agar Arel memberikan nya Ijin untuk keluar dari Rumah Sakit itu.
"Hemmmm...,Tidak bisa Nona." Saya Tidak lapar."
"Iya Aku tahu kau tidak lapar, Tapi Apakah kamu tahu Tuan Arel. Kalau makanan Di Korea ini katanya Enak-enak loh."
"Darimana Kau tahu Kalau makanan di korea ini enak, Memangnya Kau pernah pergi ke Sini sebelumnya. Bahkan Sepengetahuan Saya kau sama sekali belum pernah pergi ke Korea, Atau luar negeri lainnya."
"Heuhhhh..., Asisten Arel..., Kau sungguh menyebalkan. Yasudah Kalau kau tak mengijinkan, Aku juga tidak Akan memaksa. Permisi."
Rania Marah terhadap Arel yang Tak mengijinkan nya. Akhirnya Rania memutuskan Memasuki kembali Ruangan Damar.
"Huhhhh...,Kapan sebenarnya Pria sombong ini siuman. Heuhhhh..., Sungguh hariku Yang menyebalkan." Gerutu Rania.
Kemudian Ia membaringkan dirinya di Sopa, Hingga Tertidur Pulas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hendry Sangat Tidak terima Karena Orang luar telah Ikut Campur dengan Urusan nya, Terlebih lagi Urusan perceraian nya dengan Rania. Yang membuat dia Banyak di Rugikan.
"Kau Harus Ingat Fachri...,Kau dan Istrimu ini Akan membayar semuanya Atas Apa yang Telah terjadi pada Kehidupan Rumah Tangga Ku."
"Kau Harusnya Berkaca Tuan Hendry..., Rania meninggalkan Kamu. Tentu Saja Semua itu Ulah kamu sendiri, Seharusnya Kau malu dengan Apa yang kau ucapkan." Geram Fachri Terhadap Hendry yang seolah mengintimidasi nya.
Kemudian Aisyah mengajak Fachri pulang dari gedung Pengadilan, Tempat di Adakan nya sidang perceraian Rania dan Hendry.
"Ayo Mas...,Kita pulang. Tak Ada gunanya Kamu Ngeladenin Orang seperti ini."
"Benar Juga Yang kamu Katakan Istriku..,"... Hendry..., Sebelum aku Pamit Aku ucapkan Selamat Atas perceraian Kamu dengan Rania Yah.! Selamat menempuh Hidup baru." Ledek Fachri Seraya melanggkah kan Kakinya.
"Keparatttt...,Kau! Ini semua Karena Tante Rima. Nenek tua itu Seharusnya Tidak pernah ikut Campur." Gumam Hendry Menatap Tajam, Pada Fachri dan Aisyah yang pergi meninggalkan nya.
Kemudian Hendry pergi menuju Ruangan Ketua Majlis Hakim, Untuk mengambil Surat Perceraian nya dengan Rania. Sementara Di dalam Ruangan itu Sudah Ada Orang Suruhan Rima, Untuk mengambil Surat keputusan perceraian.
Tanpa Hendry Sadari ia berpapasan dengan Orang tersebut, Sehingga Orang Suruhan Rima bebas Pergi Begitu saja.
...----------------...
**Next Part...
Halo Readers Ikuti terus Yah...
Dukung saya Dengan Vote...
Karena Novel ini Saya ikutkan Kontes...
Mohon Doa dan Dukungan nya...
Bantu Like, Komen dan Tap Mawar...
Tambahkan Ke kolom favorit kalian**.