
"Maksud tante apa yah berbicara seperti ini pada saya?!" Ucap Rania.
Kemudian Rima mengambil selembar kertas dari tas nya, lengkap dengan bolpoin nya .
"Tulislah berapa yang kau inginkan, tulis saja nominalnya," ucap Rima meletakkan selembar cek kosong ..." ... Setelah itu tinggalkan Damar, jangan pernah sekalipun kamu menampakan diri di hadapannya." Ucapnya dingin.
Seketika Rania menatap Rima, Sudut matanya terlihat menahan buliran air mata yang akan jatuh. Hatinya teriris, sakit namun tak berdarah. Itulah yang saat ini Rania rasakan.
"Beraninya tante menghinakan saya seperti ini! Saya fikir di dunia ini tak ada orang sekejam ini, Tetapi ternyata ada dan tante lah orangnya." Balas Rania mengeratkan rahangnya.
Kemudian Rania bangkit dan mengambil kertas cek yang masih kosong itu, serta menuliskan kalimat di atas kertas itu.
Rima tersenyum penuh kemenangan, saat melihat Rania menuliskan nominal di cek nya.
'Hahaha ... Dasar wanita pemburu harta, aku tak salah menduga jika wanita ini hanya mengincar kekayaan putraku,' Kata Rima dihatinya.
"Silahkan tante baca isi dari kertas yang berharga ini, dan asal tante tahu ... Saya tidak butuh harta mu tante," geram Rania bangkit meninggalkan restoran tersebut.
Sedangkan Rima menatap kertas yang bertuliskan.
" Saya hanya menginginkan putramu, dan tidak akan pernah meninggalkan nya,"
Begitulah isi dari kertas cek yang di isi Rania.
Rima meremas selembar kertas itu, Ia merasa telah di permainkan oleh Rania. Wanita yang sangat ia benci.
"kurang ... Ajar ... Kau Rania ... Beraninya dia menentang ku," Ucap Rima geram. Sambil membuang kertas yang dia remas.
Rima menatap kepergian Rania yang mulai menjauhi restoran tersebut. Kemudian ia mengambil lima lembar uang dan menaruhnya di meja, lalu ia berjalan keluar meninggalkan restoran.
"Wanita bodoh! aku beri dia uang malah tidak mau ... Kamu fikir akan dengan mudahnya mendapatkan restu dariku, jangan mimpi kau Rania." Gumam Rima menaiki mobilnya.
Sedangkan Rania berjalan di trotoar, menunggu taksi yang lewat. Namun tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.
"Lama tak bertemu ... Kau mau kemana Rania?" Tanya Ayana dari dalam mobilnya, Sambil menurunkan kaca mobilnya.
Rania menatap tajam pada wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya.
"Mau kemana pun aku, sama sekali tidak ada urusannya dengan mu." Balas Rania.
"Ternyata kau memang banyak berubah yah sekarang, kau jadi terlihat sedikit sombong untuk sekelas orang yang miskin seperti mu," sahut Ayana dari balik kaca mobilnya.
Kemudian Ayana menutup kaca jendela mobilnya, dan kembali melanjutkan perjalanan nya.
"Huhhhh," Rania menghela nafasnya ... " Sabar Rania kamu harus sadar diri, lagi pula masalahmu dengan Ayana sudah selesai," Ucap Rania pada dirinya sendiri.
Rania kembali melangkah kan kakinya, sambil menunggu taksi lewat di hadapan nya. Namun dari kejauhan Damar selalu mengawasi Rania.
'Siapa yang berbicara dengan Rania? apakah orang yang di dalam mobil itu temannya? tapi kenapa dia terlihat kesal setelah berbicara dengan orang itu,' kata Damar dalam hatinya.
Kemudian Damar menghampiri Rania dengan mobilnya.
Tin ... Tin ... Tin ... Damar menyalakan klakson terhadap Rania, akan tetapi Rania tetap berjalan berpura-pura tak mendengar sedikit pun.
Kemudian Damar menepikan mobilnya, berhenti tepat di hadapan kekasih nya.
"Rania ... Apa kau tak mendengar kalau aku membunyikan klakson untuk mu," Ucap Damar turun dari mobilnya.
"Sopan sekali dirimu ... begitu kah memperlakukan seorang wanita." Ucap Rania dingin, menatap tajam terhadap Damar.
"Maafkan aku Rania ... Maaf jika aku berlaku tak sopan terhadap mu." Sambungnya, merasa bersalah.
Sementara Damar masih heran dengan perubahan sikap Kekasihnya, Ia tak mencegahnya lantaran ia tahu jika Rania sedang dikuasai emosinya saat ini.
'Apa yang terjadi sebenarnya denganmu Rania?! kenapa kau dingin terhadap ku, Seperti menjaga jarak dariku,' Ucap Damar dihatinya. Menatap Rania yang mulai tenggelam, memasuki taksi yang berhenti.
Sedangkan Hendry masih tak menyangka, atas perubahan sikap istrinya. Perubahan Ayana sangat drastis, menampakan sikap yang sangat mendominasi nya.
"Aku harus mulai antisipasi dengan Ayana, dia mulai berani mengekang ku," ucapnya, menatap pada langit-langit ruangannya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pandangan Hendry teralihkan oleh seseorang, yang mengetuk pintu ruangannya. Lalu ia bangkit dan membuka pintu ruangan tersebut.
"Mama," ... Hendry terkejut dengan kedatangan Ibunya. " ... Saya kira siapa?" ucapnya kembali.
"Terus ... Kamu kira siapa memangnya?" Tukas Artha, perlahan melangkahkan kakinya masuk keruang kerja Hendry, lalu duduk di sofa menyimpulkan kakinya.
"Tidak ... Saya tidak mengira saja kalau mama akan mengunjungi kantor," Balasnya.
Artha mengitarkan pandangannya, ia tahu menantu yang tak di anggap nya itu sedang tidak ada di ruangan yang berukuran sangat besar itu.
"Kemana istrimu? Sejak tadi mama datang tak melihatnya, biasanya dia paling antusias menyambut mama." Tanya Artha sambil duduk, menegakkan badannya.
"Dia pergi ... Kebetulan Ayana sedang ada urusan diluar ma, aku sengaja memintanya menghadiri acara itu," dusta Hendry terhadap ibunya, Padahal ia sedang bertengkar dengan istrinya.
"Owh ... Baguslah." Daripada menghambur-hambur kan, uang perusahaan saja. Sangat pemborosan ... lebih baik begitu!" ucap Artha dingin.
"Sudahlah." Ma ... Jangan selalu perhitungan pada Ayana, dia juga kan salah satu pemegang saham di perusahaan kita." sambung Hendry.
"Yasudah, kalau begitu! Mama pergi dulu, O yah ... Tadi mama bertemu dengan Rania, dia makin cantik sekarang Hen. Mama akan senang jika kamu berniat kembali padanya." Ucap Artha menggoda puteranya.
Kemudian Artha pergi meninggalkan ruangan Hendry, ia tersenyum melihat reaksi putranya, setelah mendengar ucapan darinya tentang Rania.
Sedangkan di rumah sakit, Aisyah dan Fachri terlihat berjalan bersama menaiki mobilnya. Namun, dari kejauhan Diana terlihat sedang mengawasi mereka.
'Andaikan ... Aku yang duduk bersama denganmu Fachri,' kata Diana dalam hatinya menatap kepergian Fachri dan Aisyah.
Sesaat kemudian ia tersadar dari khayalannya, yang tak mungkin terjadi.
"Huhhhh," Diana menghela nafasnya ..." Sadarlah Diana, tak seharusnya kau membayangkan lelaki yang telah beristri, kau bukan pelakor Diana," ucapnya merutukki dirinya sendiri.
"Kau bisa mendapatkan nya jika kau mau!" ucap Ayana yang berdiri disampingnya, entah darimana datangnya wanita jahat itu. Sekilas Diana menoleh, menatap tajam pada Ayana kakak iparnya yang baru.
"Jangan samakan aku dengan dirimu Ayana, aku perempuan bermartabat tidak seperti mu. Penggoda suami yang telah beristri," ucap Diana dingin. Meninggalkan Ayana yang menatapnya.
"Huh ... Dasar sombong! suatu saat kau akan merasakan sama seperti nyang aku rasakan saat ini Diana. kau fikir mudah membohongi perasaanmu sendiri! " ucap Ayana menatap nanar pada Diana adik ipar yang tak pernah menganggap nya.
"Untuk saja kakak mu tajir, jika tidak, mungkin aku sudah membuangnya jauh-jauh." Gumam Ayana dingin, menatap Diana yang berjalan meninggalkan rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo Readers ...
Ikuti terus Kisahnya...
Jangan lupa tambahkan ke kolom favorit kalian...
Bantu like komen vote ...
Happy reading ...